ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 104


__ADS_3

“Jadi kamu yang dari tadi ngikutin aku?” Tanya Amira menatap Tristan yang tampak kebingungan didepan-nya.


“Eemm.. Amira, kamu jangan salah paham dulu. Aku bisa jelasin kok.”


Amira menghela napas kasar. Tadi dirinya sudah sangat takut. Amira takut jika yang membuntutinya adalah penjahat yang berniat buruk padanya. Hingga akhirnya Amira melihat Tristan keluar dari persembunyian-nya dan berlari menyetop tukang ojek yang sedang melaju kearahnya.


Amira melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Gadis itu benar benar sangat kesal. Tristan membuatnya lari ketakutan saat dijalanan sepi tadi.


“Ngapain sih kamu ngikutin aku? Memangnya kamu nggak punya kesibukan lain apa? Kamu nggak takut pacar kamu marah karena tau kamu mengikuti aku? Aku nggak mau ya di anggap sebagai orang ketiga antara kamu dan Putri.”


Tristan berdecak mendengar pertanyaan ketus dan sinis Amira padanya. Bahkan Amira juga mengira Tristan dan Putri punya hubungan spesial.


“Udahlah, aku mau pulang. Dan kamu, kamu juga pulang sana. Anak manja.” Sengit Amira sedikit melotot pada Tristan.


Saat Amira memutar tubuhnya dan hendak berlalu Tristan langsung mencekal pergelangan tangan Amira menahan Amira agar tidak berlalu dari hadapan-nya.


“Aku bisa jelasin Amira. Aku dan Putri itu nggak ada hubungan apa apa, apa lagi sampai pacaran.” Ujar Tristan dengan jujur.


Tristan memang tidak perduli jika teman teman-nya yang lain menganggapnya mempunyai hubungan spesial dengan Putri. Tapi Tristan tidak mau jika sampai Amira juga berpikir demikian.


Amira menelan ludah. Sejak Tristan menjauhinya, Amira selalu berusaha untuk tidak perduli dengan apapun yang berhubungan dengan Tristan. Amira selalu mencoba untuk mengabaikan apapun yang menyangkut Tristan dan Putri. Walaupun sebenarnya Amira tidak bisa tapi dengan sangat keras Amira terus berusaha.


“Amira.. Aku berani sumpah demi Tuhan, aku nggak ada hubungan apapun sama Putri. Kita hanya berteman.” Tristan kembali mencoba untuk menjelaskan.


Amira menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum miris. Amira berpikir kalau memang Tristan tidak ada hubungan apa apa dengan Putri, untuk apa Tristan menjauh darinya.


Amira menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Amira tidak ingin Tristan menyalah artikan pertanyaan-nya tadi. Karena menjauh dari Tristan juga adalah ke inginan Amira.


Amira menghempaskan tangan-nya sehingga cekalan tangan Tristan pada pergelangan tangan-nya terlepas. Setelah itu Amira memutar kembali tubuhnya menghadap pada Tristan.


“Eh Tristan. Aku tidak perduli dengan apapun yang kamu katakan. Aku tidak perduli ada atau tidak ada hubungan apapun antara kamu dan Putri. Nggak usah mikir yang aneh aneh deh. Aku juga seneng tau karena akhirnya kamu nggak lagi ganggu hidup aku.”

__ADS_1


Tristan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tristan yakin Amira sedang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan isi hatinya.


“Enggak. Aku yakin kamu sedang berbohong Amira. Kamu nggak suka kan aku dekat dengan Putri? Katakan dengan jujur Amira.”


Amira mengeryit. Gadis itu tidak mungkin mengatakan dengan jujur isi hatinya pada Tristan. Karena Amira sendiri tau menjauh dari Tristan adalah pilihan terbaik.


“Kamu gila Tristan.” Kesal Amira kemudian menjauh dengan cepat dari Tristan.


Tristan tidak membiarkan begitu saja Amira menjauh darinya. Tristan menghadang Amira membuat Amira menghentikan langkahnya.


“Kamu apaan sih Tristan?! minggir aku mau pulang.” Marah Amira pada Tristan.


“Enggak. Pokonya aku nggak akan menyingkir dari sini sebelum kamu katakan dengan jujur.” Tegas Tristan menolak untuk menyingkir dari hadapan Amira.


Amira menggelengkan kepalanya tidak menyangka Tristan akan begitu keras kepala.


“Kamu benar benar udah gila ya Tristan.”


Amira tertawa sinis. Dari awal sebenarnya Amira juga sudah berpikir bahwa kedekatan-nya dengan Tristan memang salah. Apa lagi Amira sendiri tau siapa Tristan.


“Minggir atau aku bakal teriak biar semua warga disini datang buat mukulin kamu Tristan.” Ancam Amira jengkel.


“Teriak aja. Teriak sekencang kencangnya Amira. Kalau memang dengan melihat aku di keroyok warga disini kamu bisa merasa puas.”


Amira menatap Tristan yang begitu kukuh tidak ingin memberi jalan padanya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya mencari ide yang mungkin bisa membuat Tristan menyingkir dari hadapan-nya.


“Oke kalau begitu.”


Amira menghela napas kemudian menatap ke sekitarnya. Disana banyak orang berlalu lalang. Ada juga sekumpulan bapak bapak juga pemuda yang sedang nongkrong di warung kopi di seberang jalan.


Tristan yang melihat gelagat Amira menelan ludah merasa takut. Tristan berharap Amira tidak benar benar berteriak karena Tristan tidak ingin babak belur hanya karena kebodohan-nya sendiri yang mau saja di perbudak oleh cinta.

__ADS_1


Amira kemudian melirik Tristan yang terlihat tenang didepan-nya. Setelah itu Amira berjongkok, menyentuh tanah basah dan menyentuh sendiri baju putih bersihnya dengan tangan kotornya itu. Amira melakukan-nya berkali kali sehingga baju bagian depan-nya benar benar kotor oleh tanah basah tersebut.


Tristan yang melihat apa yang dilakukan Amira bingung. Tristan tidak mengerti kenapa tiba tiba Amira mengotori baju seragam sekolahnya sendiri.


Amira kembali berdiri dari berjongkoknya kemudian menatap kedua tangan-nya yang kotor oleh tanah.


“Siniin tangan kamu Tristan.” Perintah Amira.


“Buat apaan?” Tanya Tristan bingung.


Amira berdecak. Dengan sangat memaksa Amira meraih kedua tangan Tristan, mengotori kedua telapak tangan Tristan dengan tanah basah itu.


“Kalau begini orang orang bakal percaya kalau kamu berniat jahat sama aku.” Ujar Amira tersenyum miring.


Kedua mata Tristan membulat. Amira merancang dengan sangat apik rencana dadakan-nya itu hanya agar Tristan mau menyingkir dari hadapan-nya karena Tristan menghalangi jalan-nya.


“Aku beri kamu satu kesempatan Tristan. Minggir atau aku bakal teriak beneran.” Tegas Amira kembali memperingati Tristan.


Tristan menelan ludah. Takut sebenarnya, tapi Tristan tidak mungkin pergi begitu saja sedang Amira saja masih tidak mau mendengarkan penjelasan-nya.


“Enggak. Aku akan tetap disini walaupun kamu teriak dan orang orang itu datang kesini buat pukulin aku.” Kukuh Tristan.


Amira mengangguk anggukan kepalanya. Gadis itu sedikit melangkah mundur dari Tristan sebelum akhirnya benar benar berteriak sekencang kencangnya sehingga semua orang yang disana langsung berlarian mendekat kearahnya juga Tristan.


“Amira kamu..”


Tristan menggeleng tidak percaya dengan apa yang Amira lakukan. Tidak mau babak belur dengan alasan konyol, Tristan pun langsung berlari dengan gerakan cepat menjauh dari Amira yang sudah dikelilingi oleh bapak bapak juga pemuda yang pasti mengenal Amira dengan baik.


Setelah dirasa jauh dan orang orang itu tidak mengejarnya, Tristan langsung menghentikan langkahnya kemudian terduduk lemas dengan napas terengah engah karena kelelahan setelah berlari menghindar dari amukan warga.


“Dasar cewek gila. Dia beneran teriak lagi. Aku kira cuma ngancem doang.” Umpat Tristan kesal.

__ADS_1


__ADS_2