
“Mommy masak apa?” Tanya Angel menghampiri Hana yang sedang berkutat didapur dengan beberapa pelayan yang membantunya.
“Hey sayang... Mommy masak ayam kecap untuk daddy. Sudah telepon oma?”Jawab Hana kemudian bertanya balik dan menatap sekilas pada Angel karena Hana yang sedang mengaduk masakan-nya di wajan.
“Sudah mom.. Angel boleh bantuin nggak?”
“Boleh boleh. Tolong ambilin mommy piring ya.. Di rak itu..” Jawab Hana kemudian menunjukan Angel rak piring yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Oke.. Sebentar Angel ambil ya mommy..”
Angel beranjak dari tempatnya dan mengambil piring untuk membantu Hana. Angel juga membantu Hana dan pelayan menyiapkan hidangan dimeja makan.
“Selesai...” Senyum Hana menatap hidangan yang sudah tertata diatas meja makan.
“Yeee...” Sorak Angel bertepuk tangan. Gadis kecil itu merasa sangat bahagia karena bisa membantu Hana menyiapkan makan malam.
“Ya sudah, tunggu sebentar ya sayang. Mommy panggil daddy dulu.”
Angel menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya. Setelah Hana berlalu menuju ruang kerja Stefan, Angel mendudukkan dirinya dikursi. Ini adalah pertama kali Angel membantu Hana dan para pelayan menyiapkan makan malam. Dan Angel merasa sangat senang karena disekolah besok bisa bercerita pada teman teman-nya bahwa dirinya juga bisa membantu orang tuanya seperti teman teman-nya.
Tidak lama menunggu, Hana kembali dengan Stefan yang mengikuti dibelakangnya. Stefan langsung mendudukkan dirinya dikursi paling ujung dimeja makan. Dan seperti biasanya Stefan sama sekali tidak memberi tanggapan apapun meskipun melihat begitu banyak hidangan diatas meja makan.
“Hay daddy.. Selamat malam..” Sapa Angel dengan sangat ceria. Angel memang tidak pernah telat menyapa Stefan dengan bahasa baku yang menurut Stefan sendiri sebenarnya sangat aneh.
Stefan menatap sebentar pada Angel. Pria itu menggeleng pelan merasa Angel sangat berlebihan bersikap padanya.
__ADS_1
Hana yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Meskipun Stefan memang belum bisa bersikap hangat pada Angel, tapi setidaknya Stefan sudah tidak terlalu mengabaikan gadis kecil itu.
“Daddy tau nggak, tadi ada yang bantuin mommy loh di dapur.” Ujar Hana mencoba membuka obrolan dimeja makan.
Stefan tetap diam. Pria itu bahkan sama sekali tidak menoleh pada Hana juga Angel. Stefan sebenarnya bingung harus bersikap bagaimana mendengar apa yang Hana katakan.
Angel tertawa sambil menutup mulutnya merasa malu karena Hana mengatakan-nya didepan Stefan. Meski memang Stefan tidak memberi tanggapan apapun atas apa yang Angel lakukan.
“Mommy beruntung banget loh punya putri cantik yang rajin dan pintar. Daddy juga pasti bahagia banget kan?”
Kali ini Hana sedikit menekan kata katanya membuat Stefan menoleh menatapnya. Hana bahkan juga memelototi Stefan memaksa agar suaminya itu memberi tanggapan bangga untuk putri mereka.
“Ah ya.. Tentu saja.” Jawab Stefan dengan sangat terpaksa.
Tanggapan Stefan membuat Angel sangat bahagia. Gadis itu bahkan terus saja berceloteh saat makan malam menceritakan segala yang terjadi di sekolahnya tadi siang.
Hana melangkah menuju kamarnya dan Stefan. Dan ketika melintasi photo Lusi dan Sera, Hana menoleh. Hana menghentikan langkahnya dan mendekat pada photo besar tersebut.
“Lusi.. Aku sudah tau semuanya dari Stefan. Aku tidak bisa menyalahkan kamu karena aku hanya yang ke dua untuk Stefan. Tapi Lusi, aku menyayangi Angel dan sudah menganggapnya seperti putriku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir. Angel akan aku jaga dengan baik. Begitu juga dengan Stefan. Meskipun dia tau Angel bukan darah dagingnya, tapi dia sangat menyayangi Angel.” Ujar Hana pelan.
Hana menghela napas. Apapun alasan-nya, perselingkuhan bukan sesuatu yang baik. Dan jika memang benar Lusi mengkhianati kesetiaan Stefan dulu, Hana juga tidak bisa membenarkan-nya. Meskipun Hana juga tidak bisa menyalahkan, karena Hana sendiri juga hanya manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan.
“Awalnya aku menganggap Stefan itu orang yang kejam, arogan, dan pemaksa. Tapi perlahan aku bisa memahami bagaimana Stefan yang sebenarnya Lusi. Stefan adalah laki laki yang baik.” Senyum Hana.
Hana menoleh ketika menyadari Stefan yang sedang mendekat padanya. Seulas senyum kembali menghiasi bibirnya ketika Stefan berada tepat didepan-nya.
__ADS_1
Stefan menoleh menatap photo Sera dan Lusi yang sedang hamil besar itu. Stefan kemudian tersenyum. Untuk pertama kalinya Stefan merasa biasa saja meskipun sedang menatap photo Lusi.
“Apa kamu sedang menjelek jelekkan aku lagi Hana?” Tanya Stefan kembali menatap Hana dengan kedua mata menyipit.
Hana tertawa pelan mendengarnya. Hana masih sangat mengingat saat dirinya menjelekan Stefan. Saat itu Hana benar benar tidak menyadari Stefan berada di belakangnya. Parahnya lagi saat Stefan sedang menginterogasinya Sera tiba tiba menegurnya dan menganggap mereka berdua hendak melakukan sesuatu yang tidak pantas.
“Tidak. Aku hanya sedang mengatakan sebuah kenyataan yang baru aku ketahui selama ini.” Jawab Hana.
“Oh ya? Apa itu?” Tanya Stefan lagi merasa penasaran.
Hana menghela napas.
“Kenyataan bahwa ternyata laki laki yang tiba tiba datang menawarkan pernikahan juga uang padaku adalah laki laki arogan yang pemaksa. Tapi lambat laun aku mulai mengenal siapa dan bagaimana laki laki itu sebenarnya.”
“Memangnya bagaimana?” Stefan semakin merasa penasaran mendengarnya. Pria itu ingin tau seperti apa penilaian Hana padanya.
“Tentu saja dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia juga adalah daddy yang baik dan berhati besar mau menerima Angel sebagai putrinya.” Jawab Hana dengan senyuman dibibirnya.
Stefan terdiam. Entah kenapa Stefan tiba tiba berpikir bagaimana jika seandainya Hana tau jika ternyata Stefan adalah orang yang menabrak Alan sahabatnya. Bagaimana jika Hana juga tau alasan Stefan membiayai seluruh pengobatan Alan dan menjamin semua tanggungan Alan adalah karena Stefan merasa harus bertanggung jawab bukan karena Hana yang bersedia menjadi istrinya. Seketika Stefan merasa dirinya sangat brengsek. Stefan menipu Hana secara tidak langsung. Stefan membohongi Hana dengan embel embel akan menjamin semua yang terbaik untuk keluarga Alan.
Stefan terus menatap Hana yang tersenyum manis padanya. Stefan tau Hana pasti sedang tidak berbohong. Hana sedang berusaha meluluhkan dan menyenangkan hatinya. Tapi entah kenapa semua kata baik yang Hana lontarkan justru membuat Stefan merasa tersindir.
Tanpa mengatakan apapun pada Hana, Stefan kemudian memutar tubuhnya. Pria itu terdiam sesaat dengan posisi memunggungi Hana sebelum akhirnya melangkah menjauhi Hana dan masuk kedalam kamarnya.
Melihat itu senyuman dibibir Hana pun langsung pudar. Hana tidak tau apa yang salah dari ucapan-nya sehingga Stefan terlihat tidak senang dan kemudian berlalu meninggalkan-nya begitu saja tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
“Apa aku salah ngomong?” Gumam Hana bertanya pada dirinya sendiri.