
Hana menatap wanita cantik bertubuh tinggi dengan setelan serba hitam yang dikenakan-nya. Wanita itu duduk dengan santai di sofa yang ada di seberang ranjang tempat Hana duduk sambil membaca majalah yang ada disana.
Hana menyipitkan kedua matanya. Apa yang Stefan katakan memang benar. Wanita itu sangat cantik. Kulitnya putih kemerahan. Hidungnya mancung dengan bentuk yang begitu sempurna. Ditambah lagi dengan sepasang mata berwarna abu abu terangnya.
Hana berdecak. Dibanding dengan dirinya, Hana tentu tidak ada apa apanya. Agen cantik itu terlihat sangat sempurna.
“Nyonya, apa anda membutuhkan sesuatu?”
Hana kembali menatap wanita bule yang tidak begitu fasih berbahasa indonesia itu. Pemikiran-nya salah. Ternyata meskipun dengan sesama wanita, jika tidak saling mengenal juga akan terasa tidak nyaman.
“Kenapa kamu bisa berbahasa indonesia?” Tanya balik Hana.
Wanita itu tersenyum kemudian menutup majalah yang sedang dibacanya. Jane, nama wanita cantik berbadan tinggi semampai itu.
“Saya merasa tidak perlu menjawab pertanyaan anda nyonya.”
Hana mengeryit. Tidak seharusnya memang Hana bertanya demikian mengingat mereka tidak saling mengenal.
“Baik, sejak kapan kamu mengenal Stefan, suamiku?” Tanya Hana lagi. Kali ini suara Hana sedikit di pertegas agar wanita itu tau bahwa Hana adalah istri satu satunya Stefan Devandra.
Jane tertawa. Perlahan Jane bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah ranjang tempat Hana duduk.
“Nyonya, nama tuan Devandra itu sudah tidak asing lagi di kalangan publik. Jangan kan saya yang sudah biasa di sewa oleh orang orang seperti tuan Devandra, pengemis di pinggiran jalan juga pasti tau siapa tuan Devandra.”
“Di sewa? Maksud kamu apa?” Tanya Hana dengan pemikiran yang mulai kemana mana.
Jane tertawa lagi. Dia tau apa yang ada di dalam kepala cantik Hana.
“Nyonya jangan salah mengerti dulu. Pekerjaan saya memang begini. Karena itu saya mempelajari banyak bahasa. Semua itu saya lakukan untuk anak saya.”
“Anak? Kamu sudah menikah?”
“Ya, dan saya juga sudah bercerai.” Jawab Jane santai.
__ADS_1
Hana diam. Itu artinya sosok Jane adalah sosok yang sangat tangguh dan kuat.
“Sudahlah, tidak perlu membahas tentang saya. Yang harus orang orang seperti nyonya tau adalah saya melakukan pekerjaan saya dengan baik tanpa menyentuh milik orang lain.”
Hana menghela napas. Prasangka nya terlalu buruk pada Jane yang memang belum dikenalnya. Hanya karena Stefan menyebutnya sebagai agen cantik pikiran Hana terus saja tertuju pada hal hal yang tidak baik.
“Ya Tuhan.. Apa yang aku pikirkan. Suamiku adalah orang baik baik.. Jane, dia juga adalah seorang wanita tangguh. Tidak seharusnya aku berpikir yang tidak tidak seperti ini.” Batin Hana menyesal karena sudah berprasangka buruk pada Stefan, suaminya sendiri juga pada Jane, seorang wanita yang berjuang sendiri untuk menghidupi anaknya.
“Jadi, apa yang anda butuhkan nyonya?” Tanya Jane kembali ke topik awal.
Hana menatap Jane lagi. Sebenarnya Hana sedang tidak membutuhkan apa apa. Hana hanya ingin Stefan kembali sekarang karena hari sudah semakin sore.
“Tidak ada.” Jawab Hana pelan.
“Anda yakin nyonya? Tidak usah ragu, katakan saja terus terang. Saya juga pernah berada di posisi seperti nyonya sekarang.”
Hana mulai kesal lagi. Jane terkesan sangat memaksa sekarang.
“Tidak Jane, saya tidak sedang menginginkan apapun.” Tegas Hana.
Sementara Hana, dia memilih untuk turun dari ranjang dan melangkah menuju balkon kamar hotel tempatnya dan Stefan menginap. Wanita dengan dress model simpel warna coklat susu selutut itu menatap pemandangan kota dari balkon.
Hana menghela napas. Suasana disana benar benar sangat berbeda dengan kota tempatnya tinggal.
Hana mengeryit ketika tiba tiba terdengar suara deringan ponsel miliknya yang begitu nyaring. Hana langsung menoleh dan terkejut ketika mendapati Jane yang sudah berdiri di ambang pintu balkon dengan menyodorkan ponsel milik Hana.
“Handphone anda terus berdering nyonya.” Katanya.
Hana berdecak, Jane membuatnya sangat terkejut. Hana kemudian meraih ponsel miliknya yang di sodorkan oleh Jane.
Hana tersenyum begitu mendapati nama kontak Stefan yang terdapat dilayar ponselnya. Dengan segera Hana mengangkat telepon tersebut.
“Halo, Stefan. Kenapa lama sekali? ini sudah sore bahkan sebentar lagi malam. Kamu dimana sekarang?”
__ADS_1
Jane yang mendengar pertanyaan Hana pada Stefan hanya menggelengkan kepalanya saja. Wanita cantik itu kemudian memilih untuk duduk dikursi yang ada di balkon kamar hotel itu. Bukan bermaksud menguping pembicaraan Hana dan Stefan lewat telepon. Hanya saja Jane sedang melaksanakan tugasnya untuk benar benar menjaga Hana seperti apa yang Stefan percayakan padanya.
“Aku sudah mau kembali ke hotel Hana. Apa yang ingin kamu beli?”
Hana berdecak. Dirinya sama sekali tidak tau jenis jenis makanan di Amerika bagaimana mungkin dirinya bisa meminta pada Stefan untuk membelikannya.
“Apa ada mie ayam atau siomay? Kalau ada aku mau Stefan. Tapi yang di pinggir jalan yah jangan yang di restoran. Rasanya lebih sedap yang di warung pinggiran jalan soalnya.”
Jane yang mendengar itu berada disitu dan mendengar dengan jelas apa yang Hana katakan berusaha menahan tawanya. Jane tidak ingin membuat istri dari client nya itu tersinggung.
“Ya Tuhan Hana... Ini di Amerika, bukan di indonesia. Mana mungkin ada mie ayam atau siomay di pinggir jalan..” Balas Stefan dengan lembut dari seberang telepon. Stefan maklum jika memang Hana tidak tau karena ini adalah kali pertama bagi Hana pergi ke Amerika.
“Oh nggak ada ya? Ya udah belikan apa aja yang pedas ya. Jangan yang ada sayurnya.” Ringis Hana kemudian.
“Baiklah. Tunggu aku.”
Setelah itu sambungan telepon disudahi oleh Stefan. Hana menoleh pada Jane yang duduk dengan santai dikursi tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Hana memperhatikan penampilan Jane. Wanita itu begitu cantik dan terlihat sempurna. Tubuhnya begitu langsing dan indah. Kakinya juga begitu jenjang membuat Hana sedikit merasa iri.
Jane yang menyadari sedang di perhatikan oleh Hana langsung menatap pada Hana dengan sebelah alis terangkat.
“Apa ada yang salah dengan saya nyonya?” Tanya Jane yang langsung mendapat jawaban dari Hana dengan menggelengkan pelan kepalanya.
“Lalu kenapa? Anda tidak sedang menganggap saya sebagai perempuan pemuas nafsu para laki laki beristri kan?” Tanya Jane dengan santai.
“Tidak. Saya yakin kamu perempuan baik baik.”
“Lalu?”
“Eemm.. Berapa anak kamu?” Tanya Hana penasaran.
“Aku punya dua anak nyonya. Mereka kembar. laki laki dan perempuan.” Jawab Jane.
__ADS_1
“Oh ya? Mereka kembar? pasti mereka sangat lucu.”
Detik berikutnya mereka larut dengan obrolan yang akhirnya membuat mereka berdua akrab tanpa sadar.