ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 201


__ADS_3

Karena penasaran dengan keadaan Hana sekarang, Amira akhirnya meminta izin pada pak Ang untuk libur kerja siang ini. Hal itu membuat Tristan mengeryit bingung karena Amira yang tidak biasanya izin tidak bekerja pada pak Ang tanpa memberitahu alasan-nya lebih dulu padanya.


“Amira, kok kamu malah izin nggak kerja sih hari ini. Memangnya ada apa? Ibu sakit?” Tanya Tristan penasaran.


Amira menggelengkan kepalanya. Gadis yang mengenakan kaos lengan panjang warna biru langit itu kemudian menghela napas. Amira tidak ingin ibunya terus merasa khawatir memikirkan Hana. Maka dari itu Amira memilih izin tidak bekerja untuk kerumah Stefan guna melihat dan memastikan sendiri bagaimana keadaan Hana.


“Tadi ibu pecahin piring didapur Tristan.” Cerita Amira dengan wajah sendu.


“Loh kok bisa sih? terus bagaimana keadaan-nya. Ibu luka? sudah dibawa kerumah sakit?” Tanya Tristan langsung menyela apa yang ingin Amira ceritakan padanya.


“Makan-nya dengerin aku dulu.. Ibu nggak papa kok. Ibu nggak luka dan ibu enggak perlu dibawa kerumah sakit. Ibu cuma lagi khawatir mikirin kak Hana..”


Tristan mengangkat sebelah alisnya. Tristan tau siapa Hana yang Amira maksud.


“Memangnya kak Hana kenapa?”


“Aku juga nggak tau. Tapi aku nggak mau ibu terus terusan merasa nggak enak perasaan-nya karena mikirin kak Hana. Jadi untuk sekarang aku memilih untuk izin nggak kerja dulu. Kamu mau kan nemenin aku buat kerumahnya tuan Stefan Devandra? Aku cuma mau ketemu sama kak Hana dan mastiin kalau kak Hana baik baik aja. Kan buat ketenangan ibu juga.”


“Gitu ya? Ya udah aku anterin ke rumah kak Stefan..” Senyum Tristan.


Amira tersenyum mendengarnya. Gadis itu merasa senang dan bersyukur karena Tristan selalu ada di sampingnya setiap saat. Mereka juga selalu melakukan apapun sama sama.


“Makasih ya Tristan. Kamu udah selalu ada buat aku..”


“Itu kan gunanya pacar.” Balas Tristan tersenyum manis.


Amira tertawa mendengarnya. Entah kenapa Amira selalu merasa geli setiap Tristan menyebut dirinya sebagai pacar.


“Ya udah ayo buruan. Keburu ke sorean nanti.”


“Oke..”

__ADS_1


Amira kemudian naik ke boncengan Tristan. Gadis itu memeluk erat pinggang Tristan bersiap karena Tristan yang sudah menghidupkan mesin motor gedenya.


Dengan kecepatan diatas rata rata Tristan membawa Amira berlalu dari depan toko sembako pak Ang. Jarak dari toko pak Ang kerumah Stefan memang cukup memakan waktu. Dan Tristan berharap sesampainya disana Hana berada di tempat sehingga izin tidak bekerja Amira pada pak Ang untuk menemui Hana tidak sia sia. Dengan begitu Amira bisa mengatakan pada ibunya bahwa Hana baik baik saja dan ibunya bisa tenang perasaan-nya.


Begitu sampai di kediaman mewah Stefan, Amira tidak bisa menemui Hana. Tentu saja karena Hana belum pulang dari Amerika bersama Stefan. Amira hanya bertemu dengan Sera itupun tidak lama karena Sera yang harus menemani Angel istirahat setelah pulang sekolah.


“Ya udah nggak usah sedih.. Kan sekarang kak Hana sama kak Stefan lagi di Amerika, itu artinya kak Hana baik baik saja. Kamu kan tinggal bilang sama ibu kalau kak Hana lagi liburan sama kak Stefan. Ibu pasti ngerti kok.” Senyum Tristan menatap Amira yang tampak murung karena tidak bisa menemui Hana secara langsung.


“Iya sih..” Angguk Amira pelan setuju dengan apa yang Tristan saran kan padanya.


“Oh iya Amira, kan sekarang kamu nggak kerja nih. Gimana kalau kita jalan jalan. Janji deh pulangnya nggak malem malem.”


Amira tampak berpikir. Amira juga akan bingung jika hanya berdiam diri dirumah saja.


“Jalan jalan kemana?” Tanya Amira bingung.


“Kemana aja kamu mau aku turutin deh.” Senyum Tristan membuat Amira tertawa mendengarnya.


“Eh jangan salah. Kamu satu satunya perempuan yang aku rayu tau. Berarti kamu itu beruntung Amira. Jarang jarang tau ada laki laki pengertian yang super romantis kaya aku. Yakin deh banyak yang iri sama kamu karena kamu menjadi pacarnya seorang Tristan Atmaja.” Senyum Tristan dengan bangganya.


“Dih, dia malah narsis.” Geli Amira.


“Tapi suka kan?” Tanya Tristan menaik turunkan alisnya menatap Amira.


“Dih, apaan sih? Nggak jelas banget. Udah ah ayo kalau mau jalan. Keburu aku berubah pikiran. Udah mau sore juga.” Ujar Amira kemudian naik ke boncengan Tristan.


Tristan tertawa pelan. Sejak Williana memberinya kebebasan untuk terus bersama Amira, Tristan merasa dunianya begitu sangat indah. Tristan juga merasa semakin semangat belajar dan pergi ke sekolah karena setiap saat bahkan setiap waktu Tristan bisa menghabiskan waktu bersama Amira.


“Udah?” Tanya Tristan pada Amira.


“Hem..” Jawab Amira tersenyum sambil melingkarkan kedua tangan-nya di pinggang Tristan.

__ADS_1


Tristan kemudian menghidupkan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari depan gerbang kediaman mewah Stefan.


-----------


Sementara itu di Amerika Hana sudah selesai di operasi. Dokter terpaksa harus menyarankan agar janin dalam kandungan Hana dikeluarkan karena kondisi Hana yang lemah setelah jatuh di kamar mandi. Semua itu tentu saja demi menyelamatkan nyawa keduanya.


Stefan menatap Hana dengan tatapan sedih. Setelah beberapa jam selesai di operasi Hana bahkan belum juga membuka kedua matanya. Sementara putra mereka terpaksa harus di berikan perawatan khusus karena dikeluarkan sebelum waktunya lahir.


Selena, Gabriel, juga nyonya dan tuan Smith yang berada disana hanya bisa diam. Mereka sudah berusaha meyakinkan juga menenangkan Stefan bahwa Hana akan baik baik saja. Tapi Stefan sama sekali tidak menanggapi. Pria itu hanya diam saja.


“Mom, apa mamah Sera sudah tau?” Tanya Selena pada nyonya Smith.


“Ya Tuhan, mommy lupa memberi kabar pada mamah Sera nak. Sebaiknya mommy memberi kabar sekarang.”


“Hem, ya mom. Katakan dengan tenang supaya mamah Sera tidak khawatir.” Ujar Selena mengingatkan dengan lembut.


“Ya sayang, mommy tau itu.” Senyum nyonya Smith kemudian segera melangkah keluar dari ruang rawat Hana untuk menghubungi Sera.


Selena menghela napas menatap lagi pada Stefan. Dokter mengatakan Hana sudah berhasil melewati masa kritisnya. Dokter juga sudah memastikan bahwa Hana memang akan baik baik saja karena janin dalam kandungan-nya juga sudah dikeluarkan. Tapi apa yang dokter katakan nyatanya sama sekali tidak berpengaruh pada Stefan. Pria itu tetap saja diam.


Selena menoleh ketika Gabriel menyentuh bahunya. Selena menatap Gabriel yang menyodorkan satu setel baju untuk Stefan. Gabriel menyuruh agar Selena yang memberikan pada kakak sepupu mereka.


“Baik, sebentar.” Senyum Selena menerima satu setel baju yang Gabriel sodorkan padanya kemudian membawanya mendekat pada Stefan yang terus mendampingi Hana yang begitu tenang memejamkan mata berbaring diatas brankarnya.


“Dokter bilang kak Hana sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sebaiknya kakak segera berdandan dan mengganti baju kakak yang kotor. Kakak harus tampan saat nanti kak Hana membuka kedua matanya. Dengan begitu kak Hana pasti tidak akan sedih melihat suaminya yang seperti tidak ter urus.” Ujar Selena.


Stefan menghela napas pelan. Pria itu menoleh menatap Selena yang berdiri disampingnya sembari menyodorkan baju ganti.


Stefan berpikir apa yang Selena katakan ada benarnya. Hana pasti akan sedih jika melihatnya berantakan tidak ter urus dengan baju kotor karena noda darah saat menggendong Hana.


“Hem, tolong jaga Hana sebentar.” Kata Stefan menerima baju ganti yang di sodorkan Selena lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2