ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 213


__ADS_3

“Mommy..” Panggil Angel menatap Hana yang duduk di tepi ranjang sambil merapikan rambut panjangnya.


“Ya sayang..” Saut wanita ber dress pink lembut itu menoleh menatap pada Angel yang sedang berbaring disamping adiknya yang terlelap.


“Nama adiknya Angel siapa sih?” Tanya Angel yang membuat senyuman Hana semakin lebar. Wajar memang kalau Angel penasaran karena sampai sekarang Stefan bahkan belum memberikan nama untuk putra mereka.


“Hem.. Namanya Theo..” Jawab Hana pelan.


“Theo?” Tanya Angel menatap Hana dengan mimik wajah polosnya yang membuat Hana semakin merasa gemas pada putri cantiknya itu.


“Ya.. Untuk nama panjangnya nanti kamu bisa tanyakan sama daddy oke? Kita panggil adek nama pendeknya dulu, yaitu Theo.” Jelas Hana menjawab.


“Theo.. Namanya bagus mommy. Angel suka. Jadi sekarang kakak Angel panggilnya adek Theo ya..”


Hana mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya. Nama Theo sebenarnya sudah terbesit dalam benak Hana. Karena bagi Hana putra pertamanya dengan Stefan itu adalah anugerah yang Tuhan berikan untuknya yang sangat berharga.


Suara pintu yang dibuka dengan pelan membuat Hana menoleh begitu juga dengan Angel. Gadis kecil itu kemudian turun dari ranjang dengan sangat pelan dan hati hati. Angel melangkah mendekat pada Stefan yang sedang menutup kembali pintu kamarnya.


“Daddy..” Panggil Angel membuat Stefan langsung menoleh menatapnya.


“Kata mommy nama adik itu Theo. Siapa nama kepanjangan-nya daddy?”


Stefan mengeryit kemudian menatap pada Hana yang hanya tersenyum dalam diam.


“Theo?” Tanya Stefan menatap kembali pada Angel.


“Ya.. Siapa nama panjangnya dad? Kasih tau Angel sekarang.” Tanya Angel yang begitu antusias menuntut jawaban darinya.

__ADS_1


Stefan terdiam lagi. Pria itu menghela napas pelan menatap Angel yang begitu bawel sekarang.


“Namanya Vincent Theo Devandra.” Jawab Stefan pelan.


“Woah.. Nama yang bagus. Angel sangat suka dad, mom..” Antusias Angel tersenyum begitu lebar mendengar Stefan menyebutkan nama panjang untuk adik tampan-nya.


“Angel berjanji, Angel akan menjadi kakak yang baik. Angel akan menjaga Theo dan menyayangi Theo.”


Stefan tertawa pelan mendengarnya. Pria itu merasa seperti baru mengenal putri cantiknya sendiri. Rasanya sangat aneh karena kebawelan tidak biasa gadis kecil itu. Namun Stefan juga merasa gemas secara bersamaan.


“Baik, daddy pegang janji kamu.” Balas Stefan.


“Hem..” Senyum Angel menatap Stefan.


Hana terkekeh geli. Hana tidak menyangka Stefan sudah mempunyai nama untuk putranya. Apa lagi nama itu begitu pas disambungkan untuk nama panjang Theo, putra mereka.


Setelah tau nama adiknya, Angel langsung memberitahu Sera yang juga sangat antusias mendengarnya. Bahkan untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang Angel katakan, Sera langsung menanyakan-nya secara langsung pada Stefan dan Hana.


Hana tersenyum geli mendengarnya. Berbeda dengan Stefan yang hanya diam dengan wajah tanpa ekspresinya.


Namun meskipun begitu Stefan juga membenarkan apa yang Sera katakan. Hana berhasilkan menaklukan-nya dengan sikap apa adanya yang akhirnya lahirlah Theo, putra pertama yang Tuhan anugerahkan dari pernikahan mereka.


Selama hampir dua minggu Stefan dan keluarganya menempati rumah penuh kenangan-nya bersama mendiang papahnya. Selama itu pula suasana rumah itu mendadak berubah. Sera tidak sekalipun terlihat melamun memikirkan mendiang suaminya. Tentu saja karena wanita itu sibuk ikut mengurus Theo.


“Aku sudah mengurus semuanya. Aku juga sudah menyuruh pelayan untuk mengemasi semua barang barang kita. Tante, om juga Selena dan Gabriel juga sudah dalam perjalanan menuju kesini. Mereka ingin ikut mengantar kita sampai bandara.” Ujar Stefan menatap Hana yang sedang menyusui putra mereka.


Hari ini memang Stefan berencana mengajak keluarganya untuk kembali pulang ke indonesia. Tentu saja karena Stefan tidak bisa lebih lama mengabaikan perusahaan-nya. Stefan juga tidak ingin terlalu banyak merepotkan Rico.

__ADS_1


“Ya.. Aku ikut saja apa kata kamu Stef..” Senyum Hana menatap Stefan.


Stefan menganggukkan pelan kepalanya. Hana nya yang dulu sudah benar benar kembali. Wanita itu tidak lagi manja padanya. Hana kembali mandiri dan melakukan apa apa sendiri. Jika Stefan tidak berinisiatif membantu Hana juga tidak meminta tolong padanya.


“Hana...” Panggil Stefan mendekat pada Hana kemudian mendudukan dirinya disofa tepat disamping Hana yang sedang menyusui Theo.


“Ya..” Saut Hana menatap Stefan menunggu apa yang ingin Stefan katakan padanya.


“Untuk kedepan-nya tolong jangan melakukan apa apa sendiri. Kamu bisa minta tolong sama aku. Aku tidak keberatan untuk membantu kamu mengganti pampers Theo. Aku juga tidak keberatan kalau kamu meminta aku memijit kamu atau mungkin memandikan Theo.”


Hana menyipitkan kedua matanya menatap Stefan. Pria itu berbicara seolah dirinya bisa melakukan semua yang dia katakan sendiri. Bahkan untuk menggendong pun Hana harus membantu mengangkatnya kemudian menaruhnya di kedua lengan kekar pria itu. Rasanya tidak mungkin jika Stefan bisa melakukan semua yang dia katakan seperti mengganti pampers apa lagi memandikan Theo.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Stefan merasa aneh dengan tatapan Hana padanya.


“Kamu bilang kamu bisa bantuin aku menggantikan pampers bahkan memandikan Theo? Kamu nggak salah ngomong? Kamu menggendong Theo aja masih harus aku dan mamah bantu loh Stef.. Jangan ngada ngada ah. Ngurus bayi itu nggak segampang yang kamu lihat tau. Aku aja masih suka bingung kok, apa lagi kamu.”


Stefan berdecak kemudian mengerucutkan bibir tipisnya merasa kesal dengan apa yang Hana katakan. Meskipun memang apa yang Hana katakan benar, tapi setidaknya niat Stefan sudah baik ingin membantu meringankan beban Hana yang hampir setiap malam tidak bisa tidur dengan tenang karena Theo yang sering menangis dengan berbagai keluhan yang berbeda, seperti pup di malam hari lalu menangis karena merasa tidak nyaman, dan menangis karena merasa lapar.


Stefan merasa sangat tidak tega jika melihat Hana yang sampai tertidur dengan posisi duduk atau dengan posisi dada terbuka karena terlelap saat sedang menyusui putra mereka. Stefan yakin itu semua pasti sangatlah tidak mudah.


“Tapi kalau untuk mijitin boleh juga sih. Kebetulan nih bahu aku lagi agak sedikit pegal. Tolong pijitin ya dad..” Lanjut Hana yang berhasil membuat senyuman dibibir Stefan langsung mengembang. Pria itu merasa sangat dibutuhkan sekarang. Dan Stefan senang karena itu.


“Oke.. Daddy bakal pijitin mommy sampai rasa pegal di bahu mommy hilang. Sini..”


Stefan langsung mengubah posisi duduknya menghadap pada Hana yang sedikit memiringkan tubuhnya memunggungi Stefan. Dengan sangat lembut Stefan mulai memijat kedua bahu Hana membuat Hana memejamkan kedua matanya merasakan pijatan lembut kedua tangan Stefan yang membuatnya merasa nyaman dan rileks.


“Bagaimana mommy? Enak nggak?” Tanya Stefan meminta pendapat Hana tentang pijitan-nya.

__ADS_1


“Ya dad.. Rasanya sangat nyaman.” Jawab Hana membuat Stefan merasa senang.


Siang itu keduanya menghabiskan waktu hanya berdua didalam kamar tanpa Angel maupun Sera yang memang sedang pergi membeli sesuatu yang sedang sangat di inginkan oleh Angel sebelum pulang kembali ke indonesia.


__ADS_2