
Alan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dengan senyuman semangat yang menghiasi bibirnya. Pria dengan kemeja panjang warna putih tulang lengkap dengan dasi yang mengikat kerah kemejanya itu melangkah dengan mantap menuju motornya yang ada didepan parkiran perusahaan. Alan juga sempat membalas sapaan OB yang baru saja membuang sampah di tong sampah yang ada di dekat parkiran.
“Masih sore gini. Enaknya kemana dulu ya? Aisha juga lagi libur les.” Gumam Alan sambil meraih helmnya.
“Duh.. Gimana nih?”
Alan mengeryit ketika mendengar keluhan seseorang. Alan menoleh dan mendapati rekan kerjanya yang terlihat kebingungan sambil sesekali mencoba menghidupkan mesin motor metiknya namun motor tersebut tidak juga menyala.
Merasa kasihan dan tidak tega karena si rekan kerja itu adalah seorang wanita, Alan pun memutuskan untuk mendekat. Alan berniat membantu rekan kerjanya tersebut jika mampu.
“Kenapa Veb?” Tanya Alan pada teman kerjanya yang bernama Veby itu.
“Eh kak. Ini nggak tau kenapa dari tadi motornya susah banget di nyalain. Padahal kemarin baru aja di servis.” Jawab Veby dengan wajah sendu.
Alan mengeryit. Alan juga tau sejak tadi Veby berusaha menghidupkan mesin motornya namun motornya sama sekali tidak menyala.
“Boleh aku liat?” Tanya Alan pada Veby.
“Oh ya, tentu saja kak.” Jawab Veby sedikit menjauh dari motornya memberi tempat pada Alan.
Alan kemudian mencoba menghidupkan mesin motor Veby sampai beberapa kali namun tetap juga tidak menyala. Pria itu menghela napas. Pengetahuan-nya tentang motor tidak terlalu jauh.
“Aku nggak tau banyak tentang motor Veb. Tapi aku tau bengkel yang bagus buat benerin motor kamu. Jadi lebih baik motornya kamu bawa aja ke bengkel itu.”
Veby merengut menatap motornya.
“Tapi aku lagi buru buru banget kak, kalau naik ojek susah nunggu kan. Naik taksi juga pasti bakal kejebak macet. Aku udah di tungguin sama mami aku soalnya.”
Alan tampak berpikir sejenak. Pria itu mengenal bagaimana Veby karena mereka sudah lama kerja bareng.
“Memangnya rumah kamu dimana? Aku antar aja mau nggak? Kebetulan aku juga lagi nggak jemput adik aku les jadi pulangnya bisa sedikit santai.”
__ADS_1
“Memangnya enggak ngerepotin ya kak? Rumah aku lumayan jauh sih kalau dari sini.”
Alan tertawa pelan. Niatnya hanya ingin menolong Veby.
“Enggak, enggak ngerepotin kok. Tenang aja. Ya udah yuk, nanti aku teleponin orang bengkelnya suruh ngambil aja motor kamu disini.”
“Ini beneran kak Alan mau nganter aku? Kak, aku beneran loh nggak mau ngerepotin kak Alan.” Veby merasa sangat tidak enak hati. Wanita itu menatap Alan dengan tatapan yang Alan sendiri tidak tau apa artinya.
“Dari pada kamu pesan ojek online terus harus nunggu lagi? Apa lagi kalau naik taksi nanti malah macet mending aku yang anter aja. Gratis lagi nggak di pungut biaya apapun. Paling ya orange jus satu gelas boleh lah yah..”
Veby tertawa renyah mendengar candaan Alan di akhir kalimatnya. Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Veby pun mengikuti Alan menuju motor pria itu. Sementara motor miliknya di tinggal di parkiran dan di titipkan pada satpam yang berjaga dan sudah dia kenal disana beserta kuncinya.
“Sudah siap?” Tanya Alan pada Veby yang naik ke boncengan-nya.
“Ya kak, sudah.” Jawab Veby sedikit menganggukkan kepalanya.
“Oke, kita jalan sekarang.”
Dari kejauhan tanpa Alan ketahui ada sosok yang memperhatikan-nya dari dalam mobil. Sosok itu adalah dokter Rania. Dokter cantik itu memang sengaja pulang melewati perusahaan tempat Alan bekerja. Dia bermaksud untuk mengajak Alan pulang bersama sekaligus mengajaknya makan malam diluar. Tapi apa yang dilihatnya sekarang membuat dokter cantik itu hanya bisa menghela napas.
“Apa memang aku yang terlalu berlebihan menganggap Alan punya rasa sama aku?” Gumamnya dengan wajah sendu.
Dokter Rania memang sering kali merasa hatinya tidak karuan jika sedang bersama Alan. Apa lagi Alan juga begitu baik dan perhatian padanya.
“Sudahlah.. Mending aku pulang aja.” Putusnya kemudian.
Namun sebelum melajukan kembali mobilnya, dokter Rania menoleh kearah motor Alan melaju. Arah yang memang berlawanan dengan jalan pulang yang seharusnya Alan lewati.
Sekali lagi dokter cantik itu menghela napas. Ada rasa sesak di dadanya melihat Alan pergi dengan wanita lain.
“Mungkin itu hanya teman kerjanya Rania. Jangan dulu berburuk sangka. Alan bukan pria yang suka mempermainkan perempuan.” Batin dokter Rania yang tidak ingin berburuk sangka pada Alan.
__ADS_1
Tidak ingin terlalu panjang berpikir yang pasti akan membuat pikiran buruk menguasainya, dokter Rania pun segera melajukan mobilnya dan berlalu dari seberang jalan perusahaan tempat Alan bekerja.
--------------
Di tempat lain tepatnya di bandara Stefan, Hana, juga Sera dan Angel baru sampai di bandara. Mereka langsung menuju mobil dimana Rico dan body guard lain sudah menunggu.
“Apa kamu lelah Hana?” Tanya Stefan begitu mereka sudah masuk kedalam mobil Rico. Sedang Sera dan Hana mereka berdua berada di dalam mobil body guard yang ikut menjemput dengan Rico.
“Tidak, biasa saja Stefan.” Jawab Hana tersenyum tipis.
Hana tidak bohong. Rasa pegal memang sedikit dia rasakan di bahu juga lengan-nya, namun itu tidak Hana artikan sebagai rasa lelah karena mengurus putranya selama dalam perjalanan di udara menuju kembali ke indonesia adalah tugas wajibnya. Apa lagi Stefan juga membantunya secara langsung.
“Aku tidak suka kalau kamu tidak jujur Hana. Katakan saja yang jujur.”
Rico yang sudah siap akan menghidupkan mesin mobilnya tersenyum geli mendengar apa yang Stefan katakan pada Hana. Rico merasa Stefan sepertinya memang sudah sangat tergila gila pada sosok Hana.
“Huh baiklah, tolong gantikan aku menggendong Theo. Tanganku sedikit pegal.” Ujar Hana yang tidak ingin membuat Stefan marah. Yah, mengalah lebih baik sekarang dari pada harus berdebat apa lagi mereka berdua sedang berada di mobil Rico.
Hana kemudian memberikan Theo pada Stefan yang begitu sangat hati hati saat menerimanya. Setelah itu Hana menyandarkan punggungnya dan memejamkan sesaat kedua matanya.
Sementara Stefan, seakan tidak merasakan lelah sedikitpun pria itu mendekap tubuh mungil Theo yang terlelap setelah menyusu pada Hana. Bayi tampan itu memang sangat kecil jika berada di gendongan Stefan.
“Apa ada yang sakit Hana?” Tanya Stefan lagi.
Hana tidak langsung menjawab. Wanita itu diam dan tampak berpikir. Stefan pasti akan kembali tidak percaya jika Hana mengatakan tidak ada yang sakit. Apa lagi Stefan selalu menganggap Hana masih lemah setelah menjalani operasi.
“Bekas operasi kamu mungkin?” Stefan kembali bertanya.
Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Aku baik baik saja Stefan. Jika kamu masih tidak percaya kamu bisa panggil dokter Clara untuk memeriksaku nanti.” Jawab Hana.
__ADS_1
“Tentu saja. Tanpa kamu menyuruh pun aku akan memanggil Clara setelah ini.” Balas Stefan yang membuat Hana hanya bisa menggelengkan kepala saja. Stefan terlalu berlebihan menurut Hana.