ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 223


__ADS_3

Stefan merasa sangat lega setelah semuanya terbuka. Meskipun memang Stefan merasa sangat ketakutan melihat Hana yang menangis dan menuntut penjelasan darinya tapi akhirnya Stefan merasa sangat bersyukur karena Hana bisa mengerti apa yang dia katakan.


Stefan menatap Hana yang begitu damai terlelap di sampingnya. Stefan tidak menyangka Hana bisa berpikir begitu sangat bijak. Hana bisa menahan kecewa dan amarahnya saat mendengar secara tidak sengaja pembicaraan Stefan dan Sera.


“Ya Tuhan.. Terimakasih karena sudah mempertemukan aku dengan perempuan yang begitu bijak dan bisa begitu dewasa dalam menyikapi segala sesuatu.” Batin Stefan sambil membelai lembut pipi Hana.


Stefan tidak tau apakah hatinya bisa kembali terbuka untuk mencintai wanita lain selain Lusi jika Tuhan tidak mempertemukan Hana dengan-nya. Di luar sana banyak wanita yang mencoba mendekati dan menggodanya, tapi sedikitpun Stefan tidak pernah merasa terbuai. Stefan selalu memandang wanita wanita itu sama rata. Tentu karena memang tidak ada dari mereka yang bisa menarik perhatian Stefan. Tapi Hana, dia tidak pernah menggoda apa lagi mencoba menarik perhatian Stefan. Hana juga tidak pernah menyanjung Stefan dengan kemunafikan-nya. Hana justru menggunakan kejujuran-nya yang terkadang membuat Stefan gemas karena kesal. Hana selalu bersikap apa adanya yang perlahan membuat hati Stefan terbuka hingga akhirnya benar benar mencintai Hana.


Hana juga berhasil membuat Stefan gila karena cintanya yang begitu besar padanya.


Stefan tertawa geli mengingat beberapa hal konyol yang pernah dia lakukan karena frustasi memikirkan Hana yang saat itu belum mencintainya.


Stefan menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak mau sampai kurang istirahat karena besok dirinya yang harus kembali ke perusahaan, Stefan pun meletakan kepalanya diatas bantal dan mulai mencoba untuk memejamkan kedua matanya untuk tidur.


Paginya saat terbangun Stefan mendapati Hana yang sudah duduk di sofa dengan penampilan yang sudah rapi. Setelan piyama yang semalam dikenakan-nya sudah berganti dengan dress rumahan simpel warna pink lembut. Rambutnya juga sudah di cepol tinggi yang membuat Hana terlihat begitu cantik di mata Stefan.


“Uuh.. Daddy baru bangun itu.. Selamat pagi daddy...” Ujar Hana pada Stefan yang perlahan bangkit dari berbaringnya.


Stefan tertawa pelan. Perlahan Stefan turun dari ranjang kemudian melangkah mendekat pada Hana dan duduk tepat di samping wanita yang sangat di cintainya itu.


Stefan mencium sekilas pipi Hana kemudian beralih mencium kening putranya yang memang sudah bangun sejak Hana selesai mandi.


“Bangun jam berapa? Kok udah cantik aja.” Tanya Stefan membuat Hana tersenyum merasa malu karena Stefan juga memujinya. Meskipun dengan wajah datarnya.


“Eemm.. Sweet banget pagi pagi udah muji aku cantik sih. Aku bangun sebelum subuh.” Jawab Hana.


“Oh ya? Theo nangis ya? Kok aku nggak denger sih?”


“Enggak Theo nggak nangis. Emang udah waktunya aku bangun aja.”


Sesaat Stefan terdiam. Pria itu hampir saja melupakan bahwa istrinya memang super rajin jika bangun tidur. Meskipun saat hamil memang Hana sedikit berubah kebiasaan-nya mulai dari bangun sedikit siang dan suka memainkan game online di ponselnya. Hana juga suka marah marah jika apa yang di inginkan-nya tidak segera di turuti.


“Ah ya.. Aku hampir lupa kalau mommy nya anak anak aku itu super rajin.” Senyum Stefan membuat Hana berdecak.

__ADS_1


“Apaan sih.. Udah sana mandi, katanya mau mulai kerja.”


“Cium aku dulu.” Pinta Stefan membuat Hana mengeryit meliriknya merasa aneh.


“Dih apaan sih pagi pagi udah macem macem.”


“Loh memangnya kenapa? Nggak papa dong aku minta cium ke istri aku sendiri. Dari pada minta cium sama perempuan lain?”


“Ya tapi kan ada Theo Stefan. Memangnya kamu nggak malu begitu didepan anak kamu sendiri?”


Stefan menghela napas karena Hana yang tidak kunjung menuruti permintaan-nya. Stefan kemudian langsung mendekatkan wajahnya pada Hana membuat Hana langsung diam.


“Jadi, kamu pilih aku yang cium kamu atau kamu yang cium aku?” Tanya Stefan menatap Hana dengan wajah seriusnya.


Hana menelan ludah. Jika Stefan yang menciumnya sudah bisa di pastikan ciuman itu bukan di pipi.


“Oke oke Stefan.. Aku yang cium kamu.” Jawab Hana yang akhirnya mengalah.


Stefan tersenyum senang mendengarnya. Pria itu kemudian menjauhkan sedikit wajahnya dari Hana.


“Ck, iya iyaa.. Sabar dong.”


Hana kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada pipi Stefan. Ketika bibirnya hampir menyentuh pipi Stefan, Stefan langsung menoleh membuat Hana akhirnya mencium bibirnya. Dan bukan Stefan jika tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Pria itu langsung menahan tengkuk Hana guna memperdalam ciuman itu.


Tidak mau membuat Hana kehabisan napas, Stefan pun melepaskan ciuman-nya namun masih menahan tengkuk Hana membuat kening mereka saling bersentuhan.


“I Love you.. I Love you so much Hana..” Bisik Stefan.


Hana hanya bisa diam. Hana tidak pernah merasa bosan meskipun hampir setiap hari Stefan mengungkapkan cinta padanya.


“Aku mandi dulu..” Ujar Stefan kemudian melepaskan tengkuk Hana dan menjauhkan wajahnya dari wajah Hana.


“Oke...” Angguk Hana.

__ADS_1


Stefan bangkit dari duduknya dan melangkah pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum Angel mengetuk pintu untuk membangunkan-nya.


Hana menghela napas pelan setelah Stefan masuk kedalam kamar mandi. Wanita itu kemudian menatap wajah putranya yang sudah kembali terlelap dengan masih menyusu padanya. Hana mengeryit ketika menyadari sesuatu. Theo benar benar sangat mirip dengan Stefan. Bahkan mereka berdua tidak pantas di katakan mirip karena memang wajah keduanya benar benar sama. Hidung mancung dengan bentuk yang begitu sempurna serta rambut coklat yang kontras dengan kulit putih kemerahan.


Hana tertawa sendiri. Dari rupa tampan Theo, sedikitpun bayi tampan itu tidak mempunyai kemiripan dengan-nya.


“Apa mungkin saat bayi daddy kamu juga seperti kamu Theo?” Gumam Hana bertanya pada putranya yang tentu tidak bisa menjawabnya. Hana membelai sayang puncak kepala putra pertamanya itu kemudian mengecup keningnya. Statusnya sebagai seorang mommy benar benar sempurna sekarang dengan kelahiran Theo.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Hana mengalihkan perhatian-nya dari Theo ke pintu. Wanita itu pelan pelan bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu untuk membukanya dengan Theo yang terus berada di gendongan-nya.


“Mommy.. Selamat pagi..” Senyum Angel menyapa begitu Hana membukakan pintu untuknya.


“Selamat pagi juga sayang.. Wah kakak Angel udah rapi mau ke sekolah.. Udah wangi kayanya. Coba sini mommy cium.”


Angel dengan senang hati mendekat pada Hana yang kemudian mencium pipi chuby nya.


“Wah.. Iya, udah wangi banget kakak Angel nya.” Ujar Hana dengan suara di buat buat.


Angel tertawa merasa senang dengan pujian Hana. Gadis kecil yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya itu kemudian mencium pelan pipi Theo yang begitu tenang terlelap dalam dekapan Hana.


“Kok adek belum bangun mommy?” Tanya Angel penasaran.


“Theo sudah bangun tadi sayang, Tapi mungkin karena ngantuk akhirnya Theo tidur lagi.”


Angel menganggukkan kepalanya mengerti. Gadis kecil itu kemudian mencari keberadaan Stefan yang sama sekali tidak terlihat didalam kamar.


“Daddy mana mom?”


“Daddy lagi mandi. Sedikit telat bangun daddy pagi ini.” Jawab Hana.


“Mungkin karena daddy kelelahan mommy. Angel juga semalem langsung tidur setelah makan. Ngantuk banget.” Cerita gadis kecil itu.

__ADS_1


Hana tertawa geli mendengarnya. Wanita itu kemudian mengajak untuk Angel menunggu Stefan di meja makan saja.


__ADS_2