
Amira terus memikirkan sikap Tristan yang sangat tidak biasa padanya. Tristan seperti sengaja menjauh darinya tanpa alasan yang Amira sendiri tidak tau karena apa.
“Apa mungkin karena pertanyaan aku waktu itu?” Gumam Amira berpikir sambil melangkahkan kakinya di koridor sekolah.
“Tapi masa sih cuma gara gara aku nanya begitu dia marah. Kan waktu itu juga Tristan sama sekali nggak nunjukin ekspresi marah.”
Amira menghela napas. Gadis itu berusaha mengingat apa saja yang dikatakan-nya pada Tristan saat waktu istirahat di taman saat itu. Tapi Amira tidak merasa menyinggung Tristan selain menanyakan hal yang memang membuat Tristan langsung meninggalkan-nya ditaman. Kemudian saat jam pulang sekolah tiba tiba Tristan pergi dengan Putri. Tristan membonceng Putri tepat didepan mata kepala Amira. Bahkan saat membonceng Putri Tristan sama sekali tidak menyapanya seolah tidak mengenal Amira.
Amira terus mencari dimana letak kesalahan-nya sehingga Tristan tiba tiba menjauhinya. Tapi Amira sedikitpun tidak merasa membuat kesalahan pada Tristan.
“Ck, sudahlah. Nggak penting juga buat aku. Mau dia sama Putri atau siapapun itu bukan urusan aku.”
Amira kesal karena tidak kunjung menemukan penyebab menjauhnya Tristan darinya. Gadis itu kemudian mempercepat langkahnya di koridor sekolah menuju kantin. Amira bermaksud mengisi perutnya yang keroncongan itu.
“Aku iri banget sama kamu Put. Kok bisa tiba tiba Tristan deket gitu sama kamu.”
Amira baru sampai di kantin saat tidak sengaja mendengar obrolan Putri dan teman-nya. Namun Amira mencoba untuk tidak perduli. Amira langsung membeli minuman dan makanan yang dia inginkan kemudian melangkah menuju meja kosong yang kebetulan tidak berada jauh dari meja Putri dan teman teman-nya.
“Aku juga nggak tau. Tapi sumpah aku seneng banget. Apa lagi saat tiba tiba Tristan nyamperin aku terus ngajak aku pulang bareng. Kalian tau nggak, Tristan bahkan sampai ngajak aku buat ketemu sama kakaknya. Dia ngenalin aku terus kita makan siang bareng. Duh.. Aku hampir pingsan saat itu saking senengnya.”
Amira terus diam mendengarkan ocehan Putri dan teman teman-nya. Mengenalkan Putri pada kakaknya itu berarti Tristan memang serius dekat dengan Putri.
“Serius? Ya ampun Put, kok kamu baru cerita sih. Gila sih ini. Aku yakin teman teman yang lain pasti bakal heboh banget kalau tau tentang ini. Mereka juga pasti bakal iri banget dan pengin ada di posisi kamu sekarang..”
Putri tertawa menanggapinya. Gadis itu terlihat sangat bahagia mendengar apa yang teman teman-nya katakan. Putri sebenarnya juga tidak menyangka dan sempat menganggap bahwa kebersamaan-nya dengan Tristan adalah mimpi tapi nyatanya saat Putri mencubit lengan-nya sendiri Putri tidak terbangun. Itu artinya semua itu nyata. Tristan mendekat padanya.
“Eh eh itu Tristan..” Tunjuk salah satu teman Putri.
Amira mengangkat kepalanya mengikuti arah tunjuk teman Putri. Amira menatap Tristan sebentar kemudian kembali fokus dengan makanan-nya sendiri. Amira tidak ingin terlihat bodoh didepan semua orang yang memang beranggapan bahwa Amira pernah menjalin hubungan spesial dengan Tristan.
Tristan yang baru sampai di kantin sempat menatap pada Amira sebelum akhirnya beralih menatap pada Putri yang memanggil dan menyuruhnya untuk mendekat.
Dan lagi lagi karena tidak ingin mempermalukan Putri, Tristan pun mau mendekat kemudian bergabung dengan Putri dan teman teman-nya.
__ADS_1
“Tristan, kenalin ini teman teman aku. Namanya Widya dan Amel.” Senyum Putri memperkenalkan Tristan pada teman teman-nya.
Amira menghela napas pelan. Amira terus berpura pura tidak melihat dan tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Putri dan teman teman-nya.
“Ternyata Tristan sama aja dengan orang orang kaya lain-nya.” Batin Amira merasa kecewa.
Amira sadar jika dibandingkan dengan Putri dirinya tidak ada apa apanya. Apa lagi Putri bukan hanya kaya tapi juga cantik. Putri juga baik dan ramah pada siapapun. Dan pasti semua teman teman di sekolahnya mendukung kedekatan keduanya. Amira akui Tristan dan Putri memang serasi.
“Boleh nggak kita duduk disini?”
Suara Joshua membuat Amira mengangkat kepalanya. Amira menatap bergantian pada Joshua dan Edo yang berdiri dengan membawa makanan dan minuman di tangan mereka masing masing.
“Meja yang lain sudah penuh soalnya.” Ujar Joshua beralasan.
Amira menghela napas lagi kemudian menganggukan kepalanya mengizinkan kedua teman dekat Tristan duduk semeja dengan-nya.
“Makasih ya Amira.” Senyum Joshua kemudian langsung mendudukan dirinya didepan Amira, begitu juga dengan Edo.
“Iya..” Angguk Amira tersenyum tipis.
-------------
“Ini semua untuk apa?”
Hana menatap bingung para pelayan yang tiba tiba menaruh berbagai merek susu hamil diatas meja didepan-nya. Pelayan itu juga membawa masing masing segelas susu di gelas dan diletakan di samping masing masing kardus susu itu.
“Maaf nyonya, tadi tuan menyuruh kami untuk memberikan semua ini pada nyonya.” Jawab salah satu pelayan itu.
Hana mengangkat satu alisnya. Hana menatap satu persatu kardus dan segelas susu itu. Semua merek susu itu adalah merek terkenal dengan harga yang Hana tau memang tidak murah.
“Tapi kan..”
Deringan ponsel yang ada di tangan-nya berhasil menyela apa yang ingin Hana katakan pada para pelayan yang berdiri didepan-nya.
__ADS_1
Hana menghela napas. Kebetulan sekali Stefan menelepon-nya.
“Halo Stefan. Kamu apa apaan sih Stefan? masa nyuruh semua orang di rumah bawain berbagai merek susu hamil buat aku.” Protes Hana langsung pada Stefan tanpa basa basi.
“Udah nggak usah protes. Mendingan kamu cobain aja satu satu susu itu. Kamu pilih mana yang kamu suka rasanya dan tentunya tidak membuat kamu mual.”
Hana berdecak. Hana kembali menatap satu persatu segelas susu dan kardus susu diatas meja didepan-nya.
Hana malas jika harus mencicipinya satu persatu.
“Tapi kan Stefan..”
“Aku lakukan itu untuk kebaikan kamu Hana. Jadi tolong jangan banyak protes.” Sela Stefan tidak mau mendapat bantahan dari Hana.
Hana menghela napas. Jika dirinya tidak menuruti kemauan Stefan, dia pasti akan marah.
“Ayo di coba. Kamu bisa bilang langsung sama aku bagaimana rasanya.” Perintah Stefan.
“Ck iya iyaa..”
Hana bangkit dari duduknya kemudian mulai meraih satu gelas dari berbagai merek susu itu dengan Stefan yang masih menelepon-nya.
Dan setelah mencoba sedikit semua merek susu didepan-nya, Hana merasa semua rasanya tidak ada yang aneh.
“Bagaimana?” Tanya Stefan kemudian.
“Semuanya enak Stefan.” Jawab Hana.
“Pilih salah satu.” Tegas Stefan dengan nada memerintah.
“Tidak bisa. Semuanya enak. Terserah kamu mau membelikan aku susu hamil yang mana saja dari semua yang ada didepanku sekarang.” Tolak Hana kemudian langsung menutup sambungan telepon begitu saja.
Hana kemudian menatap satu persatu lima pelayan yang menundukkan kepala tidak berani menatapnya. Hana benar benar merasa kesal sekarang karena perlakuan berlebihan suaminya.
__ADS_1
Hana kemudian berlalu dari ruang keluarga meninggalkan para pelayan yang hanya diam ditempatnya berdiri.