
Hana terus mengabaikan Stefan bahkan saat mereka berada diatas tempat tidur. Hana asik memainkan game di ponselnya dengan posisi memunggungi Stefan yang terus menatap nelangsa ke punggung Hana.
Stefan tidak pernah sekalipun di abaikan. Baik oleh Sera maupun yang lain-nya. Stefan selalu di perhatikan bahkan menjadi pusat perhatian. Tapi kali ini seorang Hana Larasati berani mengabaikan-nya dan Stefan merasa sangat terabaikan. Padahal biasanya Stefan merasa kesal jika menjadi pusat perhatian.
Stefan menghela napas. Kali ini Hana sepertinya benar benar marah padanya. Hana mendiamkan-nya bahkan sepertinya memang sengaja menganggap Stefan tidak ada.
Stefan tidak tau harus bagaimana sekarang. Stefan ingin menegur Hana tapi Hana pasti akan seperti tadi. Hana akan lebih galak darinya.
“Yah.. Kok baterainya lowbat sih...”
Stefan tersenyum mendengar keluhan Hana. Pria itu kemudian menoleh kearah nakas dimana charger ponsel milik Hana berada. Tidak mau terus di abaikan oleh Hana karena game di ponselnya, Stefan pun dengan cepat meraih charger milik Hana kemudian menyembunyikan-nya didalam selimut.
Stefan yakin Hana pasti akan mencarinya dan meminta bantuan-nya. Saat itu Stefan akan membalas perlakuan Hana padanya tadi. Stefan akan mengabaikan Hana dan pura pura tidak perduli.
Hana bangkit dari ranjang dan turun untuk mencari charger nya. Wanita itu mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut kamar namun charger nya tidak ada.
Hana menghela napas kemudian melangkah menuju nakas yang ada disamping Stefan. Hana mengeryit. Hana merasa menaruh charger itu disana tadi pagi.
“Kok nggak ada sih?” Gumam Hana kesal.
Hana menghela napas kemudian kembali naik keatas ranjang. Hana terus menatap ponselnya yang kehabisan baterai karena ke asikan main game dan lupa mengisi daya baterainya.
Stefan yang sejak tadi pura pura tidur tertawa dalam hati. Stefan merasa menang karena berhasil mengerjai Hana.
“Emang enak charger nya aku sembunyiin.” Batin Stefan.
Stefan yakin sebentar lagi Hana pasti akan membangunkan-nya kemudian menanyakan padanya dimana charger ponselnya berada.
__ADS_1
“Hiks hiks hiks.”
Stefan mengeryit ketika mendengar isak tangis. Pria itu membuka satu matanya untuk melihat apa yang terjadi.
“Loh, kok dia malah nangis?” Stefan panik sendiri hingga akhirnya langsung mengakhiri sandiwaranya berpura pura tidur.
Stefan bangkit dan duduk menatap khawatir pada Hana yang menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Sedangkan ponselnya dia letakan di pangkuan-nya.
Stefan berdecak pelan. Gagal sudah rencana balas dendamnya pada Hana.
“Kamu kenapa?” Tanya Stefan pelan.
Hana langsung menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Wanita itu menatap Stefan dengan wajah memerah dan basah oleh air mata.
“Handphone aku Stefan.. Handphone aku baterainya habis..” Tangis Hana menatap Stefan.
Stefan menghela napas pelan. Stefan menjadi tidak tega jika Hana sudah seperti itu.
“Ya ampun.. Cuma gara gara game aja kamu sampai nangis begini Hana. Giliran aku marah kamu balas marah bahkan lebih galak dari aku.” Batin Stefan merasa aneh dengan sikap istrinya yang mudah sekali berubah ubah.
Merasa kasihan dan tidak tega, Stefan pun akhirnya mengambil ponsel miliknya yang berada di nakas di sampingnya.
“Ini, kamu bisa pake handphone aku buat main game. Tapi jangan lama lama yah. Sudah malam soalnya, kamu harus tidur.” Ujar Stefan sambil menyodorkan ponsel miliknya.
Stefan berpikir tidak mungkin jika dirinya memberikan charger Hana yang diam diam dia sembunyikan. Hana pasti akan sangat marah jika tau. Dan Stefan, pria itu lebih memilih meminjamkan ponselnya pada Hana.
Hana menatap ponsel milik Stefan kemudian langsung menerimanya.
__ADS_1
“Tapi temenin ya main game nya. Aku mau tunjukin ke kamu kalau aku jago banget mainin game yang aku suka.” Senyum Hana dengan wajah basah oleh air mata karena menangis tadi.
Stefan meringis. Tingkah Hana benar benar sangat menyeramkan menurutnya. Dan ini adalah kali pertama Stefan menghadapi tingkah wanita yang begitu sangat ajaib. Karena dulu saat Lusi yang hamil Lusi hanya mudah sensitif saja seperti mudah marah dan menangis. Tapi Hana, wanita itu seperti memborong semua sikap aneh karena sedang hamil anak Stefan.
“Stefan. Kok malah bengong sih?” Tegur Hana dengan nada sedikit meninggi pada Stefan.
“Ah ya.. Iya aku temenin.” Jawab Stefan dengan cepat.
Stefan benar benar mulai ragu pada dirinya sendiri. Stefan tidak yakin bisa dengan tenang menghadapi sikap Hana yang sangat aneh itu.
Hana langsung mendekat pada Stefan. Hana juga menyuruh Stefan untuk menyenderkan tubuhnya di pangkal ranjang mereka. Setelah itu Hana menyenderkan kepalanya di bahu Stefan dengan tangan yang aktif memainkan game online di ponsel milik Stefan.
Stefan yakin ini adalah kali pertama dirinya melihat Hana memainkan game online. Karena sekalipun Stefan tidak pernah melihat Hana yang begitu fokus dengan ponselnya.
Stefan akui dulu saat masih duduk dibangku sekolah menengah atas dirinya memang sangat tergila gila dengan game online. Stefan bahkan sampai beberapa kali terkena amukan Sera karena terlalu asik dengan game hingga lupa makan dan waktu istirahatnya.
“Masa sih karena dia hamil anak aku tingkahnya jadi sama kaya aku dulu.” Stefan menelan ludah bertanya tanya sendiri.
Dulu Stefan memang lumayan bandel dan membuat Sera yang sebagai orang tua tunggal baginya kewalahan. Tapi lambat laun Stefan mulai meninggalkan hobi main gamenya itu hingga sekarang benar benar tidak berminat lagi dengan berbagai game yang memang semakin berkembang dengan baik.
“Yes, aku menang lagi.” Senang Hana semakin fokus dengan game di ponsel Stefan.
Stefan semakin tidak percaya. Hana tiba tiba menjadi penggila game rasanya sangat aneh.
Stefan terus menunggu sampai akhirnya Hana tertidur dengan ponsel yang masih menyala. Pelan pelan kemudian Stefan meraih ponsel miliknya meletakan-nya kembali diatas nakas. Setelah itu Stefan membenarkan posisi tidur Hana.
Stefan menatap wajah damai Hana saat terlelap. Melihat Hana seperti itu membuat Stefan merasa seperti sedang bercermin dan melihat secara langsung jiwa gilanya pada game dulu. Hanya bedanya Hana begitu cengeng sedang dirinya tidak.
__ADS_1
Tiba tiba Stefan tertawa. Hana bersikap sangat ajaib dan tidak seperti biasanya. Padahal selama bersamanya Hana adalah sosok wanita yang meskipun kadang ajaib tapi sangat dewasa. Hana bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Hana bahkan bisa menghadapi sikap Stefan dengan tenang hingga akhirnya Stefan benar benar jatuh cinta padanya.
Stefan membelai lembut pipi Hana kemudian mengecup lama kening Hana. Stefan semakin yakin bahwa kali ini dirinya tidak akan gagal dalam menjalin hubungan berumah tangga.