
Mood Stefan langsung memburuk karena penolakan Hana. Pria itu bahkan sampai beberapa kali memarahi pegawainya karena menganggap tidak becus dalam bekerja. Padahal mereka hanya melakukan kesalahan sedikit yang biasa bisa Stefan maklumi.
Suara pintu yang terbuka membuat Stefan mengangkat kepalanya. Pria itu berdecak ketika mendapati Williana yang masuk dan melangkah mendekat kearahnya.
“Hay Stefan..” Sapa Williana tersenyum manis kemudian duduk dikursi didepan Stefan tanpa Stefan persilahkan.
“Aku kebetulan lewat dan sekalian mampir. Apa kamu sedang sangat sibuk sekarang? Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Bagaimana kalau kita makan siang bersama saja.”
Stefan melirik tajam pada Williana yang tetap bersikap tenang didepan-nya. Senyuman manis terus menghiasi bibirnya membuat Stefan merasa kesal juga muak.
“Aku tidak masalah kalau harus menunggu sebentar atau makan siang disini. Biar nanti aku yang pesankan. Bagaimana Stefan?”
Stefan berdecak kesal. Williana masih saja mendekatinya padahal wanita itu tau bahwa Stefan sudah mempunyai istri yaitu Hana.
“Tolong keluar dari sini Williana. Saya sedang sibuk dan saya tidak mau siapapun mengganggu.” Tegas Stefan menatap Williana dengan kemarahan yang begitu jelas.
Williana terdiam. Ekspresi Stefan menandakan bahwa pria itu sedang sangat marah hari ini. Dan tiba tiba Williana berpikir mungkin Stefan sedang ada masalah dengan Hana, istrinya.
“Wow.. Sabar Stefan. Tidak usah marah marah seperti itu. Kalau memang kamu sedang ada masalah kamu bisa menceritakan-nya padaku. Aku siap menjadi pendengar yang baik untuk kamu.” Senyum Williana mencoba merayu Stefan.
Stefan menyipitkan kedua matanya. Williana tetap tenang dan tersenyum meskipun Stefan sudah mengusirnya dengan tegas.
“Williana dengar. Kalaupun saya sedang ada masalah, masalah saya itu adalah kamu.” Tekan Stefan.
Williana mengeryit. Senyuman dibibirnya seketika sirna mendengar apa yang Stefan katakan dengan nada penuh penekanan.
“Apa maksud kamu Stefan?” Tanya Williana tidak mengerti.
“Kamu tau siapa saya bukan? Kamu juga pasti tau bagaimana saya menyingkirkan masalah dalam hidup saya.” Ujar Stefan menatap Williana dengan tatapan tajamnya.
Williana menelan ludah. Stefan seperti sedang mengancamnya.
__ADS_1
“Stefan aku..”
“Keluar atau saya panggil satpam untuk menyeret dan melempar kamu keluar dari perusahaan saya.” Sela Stefan mengancam lagi.
Williana berdecak kesal. Stefan selalu saja menolak keberadaan-nya. Tidak ingin Stefan benar benar melakukan ancaman-nya, Williana pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangan Stefan dengan hati kesal.
“Awas saja kamu Stefan. Aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku suatu saat nanti.” Gumam Williana dalam hati.
Wanita dengan dress merah menyala yang mencetak jelas lekuk tubuh indahnya itu melangkah menjauh dari ruangan Stefan kemudian masuk kedalam lift.
Sementara Stefan, pria itu mengusap kasar wajah tampan-nya dengan menggunakan dua telapak tangan-nya. Mood Stefan yang tadinya bagus langsung berubah buruk karena Hana. Ditambah lagi dengan kedatangan Williana yang begitu tiba tiba. Itu membuat Stefan semakin merasa kesal siang ini.
Saat jam makan siang tiba, Stefan memilih untuk pulang dan tidak kembali ke perusahaan. Pria itu berencana mengerjakan pekerjaan-nya dari rumah.
Stefan tidak bisa melakukan pekerjaan-nya sedang perasaan-nya saja sedang kesal karena sikap Hana.
“Kamu handle semuanya ya Co. Saya mau pulang. Kalau ada berkas yang penting langsung kamu antar saja kerumah.” Ujar Stefan saat Rico menghadapnya.
Setelah Rico menjawab, Stefan segera bangkit dari duduknya di kursi kemudian berlalu keluar dari ruangan-nya dengan langkah lebar.
---------
Siang ini Hana sedang menikmati semilir angin yang membuatnya merasa damai. Sakit kepala dan perutnya sudah tidak lagi dia rasakan setelah Stefan membelikan vitamin juga obat yang disarankan oleh dokter.
Hana memejamkan kedua matanya saat angin dengan lembut membelai kulit wajahnya juga menerbangkan rambut panjangnya yang memang sengaja dia gerai.
Hana tau Stefan mungkin akan marah karena penolakan-nya tadi. Apa lagi Hana juga menutup telepon begitu saja. Tapi Hana tidak perduli. Hana hanya merasa tidak suka dengan cara Stefan yang terlalu berlebihan.
“Dasar Stefan. Masa cuma mau beliin susu hamil aja aku harus cobain satu satu semua rasa dari berbagai merek sih. Nggak sekalian aja dibeli juga pabriknya.” Dumel Hana dengan kedua mata terus terpejam.
Tintiiin... !!
__ADS_1
Suara klakson mobil berhasil membuat Hana membuka kembali kedua matanya. Saat itu juga Hana terkejut melihat mobil mewah Stefan yang sudah mulai memasuki area luas kediaman-nya.
“Ya ampun. Dia pulang?”
Hana menelan ludah. Stefan pasti akan marah marah padanya karena penolakan-nya tadi.
“Aku harus cari akal...” Gumam Hana yang langsung berlari masuk kedalam kamarnya.
Hana sempat kebingungan tidak tau harus bagaimana. Stefan adalah tipe orang yang tidak suka di tolak. Dan pria itu pasti akan sangat marah padanya kali ini.
“Tidur.. Aku pura pura tidur aja. Stefan pasti nggak mungkin kan bangunin aku hanya untuk marah marah.”
Sebelum Stefan masuk ke dalam kamar, Hana dengan segera membaringkan tubuhnya menutupinya dengan selimut hingga batas dada. Hana memejamkan kedua matanya dengan tenang berpura pura terlelap siang ini.
Beberapa menit setelah Hana membaringkan tubuhnya, Stefan membuka pintu kamar mereka. Stefan menghela napas pelan melihat Hana yang sedang terlelap damai diatas tempat tidur.
“Dia sedang tidur ternyata.” Gumam Stefan pelan.
Stefan pelan pelan melangkahkan kakinya menuju ranjang mereka setelah menutup kembali pintu kamarnya dan Hana. Pria itu mendudukan dirinya di tepi ranjang dan tersenyum menatap Hana yang begitu damai memejamkan kedua matanya.
Stefan membelai lembut pipi Hana. Setau Stefan Hana jarang tidur siang. Tapi kali ini wanita itu tampak terlelap damai dan tenang.
“Bagaimana mungkin aku berpikir akan memarahi kamu Hana.. Sedang aku sendiri tau kamu sedang hamil. Mood kamu pasti gampang sekali berubah. Dan tubuh kamu pasti sangat lemas juga capek meskipun tidak melakukan apa apa.” Batin Stefan tidak tega membayangkan istrinya yang pasti mengalami banyak perbedaan di tubuhnya.
Stefan kemudian mengecup lama kening Hana. Stefan hampir saja kalap dan marah pada Hana yang menolak perintahnya saat Stefan menelepon-nya tadi.
Tidak ingin mengganggu waktu istirahat siang Hana, Stefan pun bangkit dari duduknya ditepi ranjang kemudian melangkah pelan menuju pintu. Stefan bahkan membuka dan menutup pintu kamar mereka dengan sangat pelan karena tidak mau tidur lelap Hana terganggu oleh suara pintu.
Hana membuka matanya setelah memastikan Stefan kembali keluar dari kamarnya. Hana menghela napas merasa lega kemudian tersenyum karena Stefan mencium keningnya tadi. Hana sebenarnya tidak bermaksud membohongi Stefan. Hana hanya sedang tidak ingin berdebat dengan suaminya itu hanya karena masalah sepele.
“Maafin aku ya Stefan. Aku nggak niat buat bohongin kamu sebenarnya. Aku cuma nggak mau kita ribut.” Gumam Hana pelan dengan helaan napas.
__ADS_1