ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 20


__ADS_3

Acara peresmian hotel milik Williana Atmaja berlangsung begitu ramai. Para tamu undangan yang berasal dari kalangan atas tampak menikmati semua hidangan yang ada. Apa lagi Williana juga mengadakan beberapa susunan acara yang berhasil membuat Stefan mati kebosanan.


Terakhir adalah pesta dansa yang membuat semua tamu undangan begitu antusias bersama pasangan masing masing.


“Hh.. Angel pasti sudah pulang dan akan marah padaku besok kalau tau aku pergi dengan Stefan tanpa mengajaknya.” Dumel Hana yang memilih tetap tenang duduk dikursinya.


Sementara Stefan, pria itu sedang berdansa dengan Williana yang secara khusus meminta agar Stefan menemaninya berdansa lewat pengeras suara.


Hana menghela napas. Hana tidak pernah berpikir bahwa wanita dari kalangan atas seperti Williana juga bisa merendahkan dirinya sendiri hanya karena seorang pria. Dan parahnya lagi pria yang dikejarnya adalah Stefan, pria beristri yang begitu dingin dan cuek.


“Membosankan sekali melihat perempuan genit itu.” Gumam Hana pelan.


Malas melihat Williana dan Stefan yang sedang berdansa, Hana pun bangkit dari duduknya. Hana berlalu dari ball room super luas itu dan melangkah keluar gedung. Hana menghela napas pelan kemudian mengedarkan pandangan-nya. Seluruh tamu undangan sedang menikmati pesta dansa sehingga area didepan gedung itu sepi.


Hana menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Lega sekali rasanya menjauh dari kerumunan orang orang kaya itu.


Deringan ponsel yang berada didalam tas kecilnya membuat Hana dengan segera merogoh tas tersebut mengeluarkan benda pipih berkesing hitam miliknya.


“Aisha..” Senyum Hana melihat nama Aisha tertera dilayar ponselnya.


Hana segera mengangkat telepon dari adik sahabatnya itu. Aisha memang sesekali menelepon-nya bahkan sebelum Alan kecelakaan. Gadis remaja berusia 15 tahun yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama itu memang sering menanyakan pekerjaan rumah yang kadang dirasa kurang paham.


“Halo Aisha..”


“Kak Hana.. Kakak lagi apa? Aku ganggu nggak?”


Hana tertawa pelan. Aisha sama sekali tidak mengganggunya. Hana kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapa siapa disekitarnya.


“Oh enggak, sama sekali enggak ganggu. Aku lagi sedikit bosan juga sebenarnya. Ada apa Aisha?”


Helaan napas berat terdengar dari seberang telepon membuat Hana mengeryit merasa semakin penasaran.


“Ah ya, bagaimana keadaan Alan?” Tanya Hana kemudian karena Aisha yang tidak kunjung menjawab pertanyaan-nya yang tadi.


“Keadaan kak Alan masih sama seperti itu kak.. Dokter Rania bilang akan lebih baik jika kak Alan dirawat dirumah saja.”


“Dokter Rania?”

__ADS_1


Hana tidak tau apa apa tentang dokter bernama Rania itu. Karena sepengetahuan Hana, Alan ditangani oleh dokter yang dari awal sudah menanganinya dan itu bukan dokter wanita.


“Ya kak.. Tapi ada lagi yang aku pengin ceritain sama kakak.. Ini tentang kak Amira..”


Hana mengeryit lagi. Kenapa lagi dengan gadis itu? Pikir Hana.


“Hana..”


Hana menoleh mendengar suara Stefan. Dengan cepat Hana langsung menutup telepon-nya dan memutar tubuhnya menghadap pada Stefan.


“Sudah selesai dansanya?” Tanya Hana menatap Stefan.


Stefan berdecak kemudian meraih tangan Hana. Sebenarnya pria itu sedang sangat kesal pada Hana. Bisa bisanya Hana diam saja dan tidak marah saat Williana menuntun Stefan menuju lantai dansa. Yang membuat Stefan lebih kesal lagi adalah Hana yang malah sepertinya tidak perduli sedikitpun dan tetap duduk dengan tenang dikursinya.


“Kita pulang sekarang.” Tegas Stefan menarik tangan Hana menuju mobilnya.


“Stefan pelan pelan..”


Stefan tidak perduli dengan ucapan Hana. Pria itu tetap menarik Hana menuju mobil dan membuka pintu mobil miliknya kemudian menyuruh Hana masuk.


“Stefan tunggu !!”


BRAK !!


Hana tersentak saat Stefan menutup pintu mobilnya dengan keras. Pria itu kemudian melangkah cepat memutari bagian depan mobilnya mengabaikan Williana yang berlari mengejarnya.


Stefan masuk kedalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobilnya menghindari Williana yang terus berusaha mengejarnya.


Hana mengeryit penasaran. Padahal mereka berdua tadi berdansa begitu mesra dan akrab. Tapi sekarang bahkan ekspresi Stefan seperti sedang menahan rasa kesal.


Tidak ingin mendapat amukan Stefan, Hana pun memilih diam enggan berkomentar. Hana kembali berkutat pada ponselnya dimana Aisha mengiriminya beberapa pesan tentang Amira.


Hana berdecak pelan. Hana tidak tau harus mengatakan apa pada Amira agar gadis itu mengerti maksud baiknya.


Stefan melirik Hana yang tidak memperdulikan-nya saat ini. Semakin merasa kesal, Stefan pun menepikan mobilnya dijalanan yang cukup ramai saat itu. Stefan kemudian merebut ponsel milik Hana dan membawanya keluar dari mobil.


“Handphone ku..” Lirih Hana terkejut dengan apa yang baru saja Stefan lakukan.

__ADS_1


“Stefan !!” Pekik Hana kemudian turun dari mobil mengikuti Stefan.


Hana mendekat pada Stefan yang sedang mengecek ponsel miliknya. Hana tidak menyangka ternyata Stefan juga begitu lancang mengambil ponselnya dengan merebutnya saat Hana sedang menggunakan-nya.


“Apa apaan kamu Stefan?” Tanya Hana kesal.


Stefan melirik Hana tajam kemudian memusatkan perhatian-nya pada Hana yang langsung ciut begitu melihat tatapan tajam pria tampan itu.


“Ternyata keluarga pacar kamu itu memang tidak tau diri ya? Mereka tidak tau bagaimana caranya berterimakasih.”


Hana menelan ludah. Stefan pasti membaca pesan dari Aisha tentang Amira.


“Mulai sekarang aku mau kamu jauhi keluarga Alan. Kamu nggak perlu lagi berhubungan dengan keluarga mereka. Atau aku akan cabut semua yang sudah aku berikan pada mereka.”


Bibir Hana terbuka mendengar ancaman yang Stefan lontarkan. Wanita itu benar benar tidak menyangka hanya karena pesan dari Aisha tentang Amira Stefan sampai begitu marah.


“Kamu nggak bisa mengancam aku Stefan. Kamu juga nggak berhak melarang aku buat berhubungan dengan keluarga Alan. Mereka sudah aku anggap keluargaku sendiri.” Ujar Hana berani. Hana tidak mau Stefan terlalu mencampuri semua urusan-nya. Bagi Hana, keberadaan dirinya disamping Stefan hanya untuk memenuhi syarat yang Stefan ajukan.


“Kenapa nggak bisa? Kamu istriku.” Tekan Stefan tajam.


Hana diam. Hana mengakui dirinya adalah istri sah Stefan. Tapi hatinya dan hati Stefan tidak saling terpaut. Status mereka mungkin memang suami istri. Tapi bagi Hana, dirinya dan Stefan tetap saja orang asing.


Stefan tersenyum sinis melihat kediaman Hana. Pria itu kemudian dengan gampangnya membanting ponsel Hana sampai benda pipih itu hancur tidak berbentuk.


“Ya Tuhan...” Lirih Hana terkejut dengan apa yang Stefan lakukan. Hana bersimpuh didepan ponselnya yang hancur itu. Air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya melihat alat komunikasi satu satunya miliknya itu tidak akan bisa lagi digunakan.


“Aku bisa membelikan kamu handphone yang lebih bagus dari itu.” Kata Stefan kemudian berlalu dan masuk kembali kedalam mobilnya.


Hana menggeleng dan menangis menatap ponselnya yang begitu malang. Ponsel yang Hana beli dari gaji yang sedikit demi sedikit dia sisihkan setiap bulan-nya. Ponsel yang Hana beli dengan Alan yang menemaninya. Ponsel yang juga banyak menyimpan kenangan indahnya bersama Alan, sahabat terbaiknya.


Tintiiinn...


Hana mengusap kasar air matanya saat Stefan membunyikan klakson mobilnya dengan begitu keras. Wanita itu kemudian bangkit dari bersimpuhnya menatap marah pada Stefan yang juga menatapnya dari dalam mobil.


Tidak mau pulang bersama Stefan, Hana pun memilih untuk menghentikan taksi kemudian masuk kedalam mobil warna biru muda itu dan berlalu mendahului mobil Stefan.


“Dasar suami nggak punya hati. Dia pikir aku mau apa semobil sama dia setelah apa yang dia lakukan.” Omel Hana.

__ADS_1


__ADS_2