
“Ya sudah pak, kalau begitu saya pulang yah..” Pamit Amira setelah membantu pemilik toko sembako tempatnya bekerja beres beres karena hari sudah malam.
“Iya neng. Hati hati dijalan ya..” Saut si bapak pemilik toko sembako tersebut.
Amira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gadis itu kemudian melangkah mendekat pada Tristan yang sudah duduk diatas motor gedenya.
Ya, Tristan memang sering membantunya meskipun tidak setiap hari. Namun pemuda itu selalu setia menjemput Amira di jam pulang kerja gadis itu.
“Udah?” Tanya Tristan pada Amira yang mendekat padanya.
“Iyah..” Angguk Amira menjawab.
Tristan kemudian segera mengenakan helm full face nya. Pemuda itu bersiap memacu kendaraan beroda duanya.
“Ya udah naik, nungguin apa lagi?” Tanya Tristan heran karena Amira yang tidak kunjung naik ke boncengan-nya.
“Eemm.. Tristan.”
Tristan mengeryit melihat gelagat kekasihnya. Pemuda itu menghela napas kemudian memusatkan perhatian-nya pada Amira yang seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Aku mau bilang makasih banget sama kamu. Kamu udah mau ngertiin aku. Kamu juga sering bantuin aku ini itu. Aku nggak tau harus bagaimana bales semua yang udah kamu lakuin buat aku..”
Tristan menghela napas mendengarnya. Pemuda itu meraih kedua tangan Amira dan sedikit menariknya membuat Amira harus lebih mendekat lagi padanya.
“Itu gunanya pacar tau nggak. Udah nggak usah bawel. Mending sekarang kita cari makan dulu. Aku laper tau nggak.” Balas Tristan menatap Amira dengan tatapan teduhnya.
Amira tertawa pelan mendengarnya. Sampai sekarang gadis itu terkadang masih menganggap apa yang di jalaninya dengan Tristan seperti mimpi. Apa lagi Williana juga tidak pernah lagi melarang Tristan dekat dengan-nya.
“Buruan naik.” Perintah Tristan.
“Iya iya... Sabar dong..”
Saat Amira mencoba menarik kedua tangan-nya yang dipegang oleh Tristan, pegangan pemuda itu justru semakin erat membuat Amira mengeryit bingung.
“Ini gimana aku naiknya Tristan kalau kamu aja nggak mau lepasin tangan aku..” Protes Amira.
“Oh iya. Maaf, lupa.” Ringis Tristan kemudian segera melepaskan genggaman tangan-nya pada tangan Amira.
“Huu.. dasar modus.” Sindir Amira kemudian naik ke boncengan Tristan.
__ADS_1
“Oke, ayo jalan.”
“Nggak pegangan nih?” Tanya Tristan karena Amira tidak langsung memeluknya.
“Dih.. Apaan sih kamu, genit banget. Udah buruan, katanya tadi laper.”
Tristan berdecak karena Amira tidak paham dengan maksudnya. Pemuda itu kemudian segera menstater motor gedenya dan berlalu dengan kecepatan sedang dari depan toko sembako tempat Amira bekerja.
Ketika sudah sedikit jauh dari toko sembako itu, Tristan pun menambah kecepatan laju motornya tanpa memberitahu Amira. Hal itu membuat Amira terkejut dan refleks langsung memeluk erat perut pacar tampan-nya itu.
Namun bukan-nya marah, Amira malah tersenyum di boncengan Tristan. Gadis itu tau apa maksud kekasih hatinya.
“Dasar laki laki.” Batin Amira tersenyum merasa malu sendiri.
Tristan mengajak Amira untuk makan malam di warung pinggir jalan. Mereka berdua tampak santai menikmati makanan-nya dengan diselingi candaan ringan.
“Oh ya Amira, sebentar lagi kan kita semester kenaikan kelas. Bisa nggak kamu kerjanya berhenti dulu. Aku nggak mau kamu kelelahan terus nanti sakit. Kan kita juga harus belajar lebih giat buat menghadapi semester.”
Amira menghela napas mendengar apa yang Tristan katakan. Amira tau maksud Tristan mengingatkan-nya baik. Meskipun memang di awal Amira bekerja di warung sembako itu Tristan sangat keberatan bahkan mereka sampai berantem. Tapi akhirnya Tristan mengerti bahkan sering membantunya di toko sembako itu.
“Tristan, kamu tenang aja. Aku bisa jaga diri aku kok.. Dan tentang aku yang harus berhenti bekerja, kayanya itu nggak mungkin deh. Rasanya sayang banget kalau aku berhenti begitu saja. Apa lagi pak Ang juga orangnya baik banget.”
“Tapi kan..”
“Tristan please.. Aku nggak mau kita ribut hanya karena masalah ini. Kamu ngerti kan maksud aku..” Sela Amira pelan.
Tristan diam kemudian menganggukkan kepalanya. Tristan juga tau hidup Amira tidak seperti hidupnya.
“Ya udah abisin makan-nya setelah itu kita pulang. Ibu pasti khawatir nungguin kamu yang nggak pulang pulang.” Ujar Tristan enggan meneruskan topik pembicaraan tentang pekerjaan Amira.
“Hem iya..” Senyum Amira menganggukkan kepalanya.
Tristan menatap Amira sebentar kemudian kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Jika saja Tristan bisa, dirinya ingin bisa menjamin kehidupan Amira agar Amira tidak perlu susah payah bekerja. Tapi sayangnya Tristan hanyalah anak sekolah yang bahkan baru akan naik ke kelas 12 beberapa bulan lagi.
“Aku janji Amira.. Suatu saat nanti aku akan buat kamu nggak perlu lagi susah payah bekerja. Aku akan meratukan kamu di hidup aku. Aku juga akan menuruti dan memenuhi semua kebutuhan kamu.” Batin Tristan sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Tristan segera membayar dan mengajak Amira pulang. Tidak ada percakapan apapun selama dalam perjalanan menuju kediaman sederhana keluarga Alan. Tristan fokus dengan jalanan yang sedang dilewatinya. Sedangkan Amira, dia hanya diam dengan terus memeluk erat perut Tristan.
Amira segera turun dari boncengan Tristan saat motor gede milik Tristan sampai tepat dihalaman rumah keluarganya.
__ADS_1
“Makasih ya untuk hari ini..” Senyum Amira pada Tristan yang tidak melepas helm nya.
“Iya sama sama.. Ya udah sana masuk. Aku langsung pulang yah, udah malem soalnya.”
Amira menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Gadis itu melambaikan tangan-nya saat Tristan mulai melajukan kembali motor gedenya berlalu dari halaman rumah sederhananya dengan kecepatan sedang.
Setelah motor Tristan tidak lagi terlihat, Amira pun masuk kedalam rumahnya. Dan diruang tamu ibu sudah menunggu kepulangan-nya.
“Ibu..” Senyum Amira mendekat pada ibunya kemudian menyaliminya.
“Kok tumben nak pulangnya malem banget?” Tanya ibu dengan penuh perhatian menatap Amira yang mendudukan diri di sampingnya.
“Iya bu.. Tadi Tristan sekalian ngajak makan dulu soalnya. Oh iya, Aisha mana? Kok sepi banget?”
“Amira lagi belajar dikamarnya.” Senyum ibu menjawab.
Amira menganggukkan kepalanya mengerti. Adiknya itu memang sangat rajin belajar.
“Amira, boleh tidak ibu ngomong sesuatu sama kamu?”
Amira mengeryit mendengar pertanyaan ibunya. Tidak biasanya ibunya bertanya lebih dulu saat akan berbicara padanya.
“Ngomong aja bu..” Jawab Amira tersenyum meskipun kebingungan.
Ibu menghela napas pelan kemudian meraih tangan Amira dan menggenggamnya dengan sangat lembut.
“Amira.. Ibu rasa lebih baik kamu sama Tristan nggak usah pacaran dulu deh. Apa lagi Tristan itu orang kaya. Ibu takut kamu kecewa. Lagian juga kalian berdua itu masih kecil kan?”
Senyuman di bibir Amira seketika sirna mendengar apa yang ibunya katakan. Padahal selama ini ibunya tidak pernah terlihat keberatan sedikitpun dengan kedekatan-nya dan Tristan.
“Tapi bu..”
“Amira.. Ibu tau Tristan itu memang baik. Tapi kakaknya itu sangat terkenal kejam dan angkuh. Ibu takut kamu kenapa napa.” Sela ibu lagi.
“Bu.. Aku sayang sama Tristan. Maaf ya bu.. Aku nggak bisa jauh sama dia..” Lirih Amira tidak ingin membohongi dirinya sendiri.
“Tapi Amira.. Ibu takut kamu kecewa.”
Amira tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ibu tenang aja. Aku yakin Tristan nggak akan ngecewain apa lagi nyakitin aku..”