ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 263


__ADS_3

Stefan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena membantu Hana mengurus Theo, akhirnya Stefan baru bisa berangkat ke perusahaan menjelang siang hari ini. Pria itu juga sudah memasrahkan meeting pagi tadi pada Rico yang memang sudah biasa menghandle pekerjaan-nya.


Suara deringan ponsel yang berada dikursi samping kemudi tiba tiba membuat Stefan berdecak. Pria itu kemudian mengurangi kecepatan laju mobilnya dan menepikan-nya lalu berhenti. Setelah itu, Stefan meraih ponselnya. Keryitan muncul di kening Stefan ketika mendapati kontak nama sekolah Amira yang tertera di layar ponselnya.


Karena penasaran tiba tiba pihak sekolah Amira menelepon-nya, Stefan pun segera mengangkat telepon tersebut.


“Halo..”


“Ya tuan.. Selamat pagi menjelang siang. Maaf kalau saya mengganggu. Bagaimana kabar anda tuan?”


Stefan berdecak pelan. Stefan tau pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh kepala sekolah itu.


“Ya.. Kabar saya baik. Ada apa pak kepala sekolah?” Saut Stefan yang kemudian bertanya karena tidak ingin terlalu banyak basa basi.


“Begini tuan, maksud saya menghubungi anda adalah karena saya berniat mengundang anda untuk menghadiri acara yang akan di adakan di sekolah sekitar dua minggu lagi. Kiranya anda berkenan hadir dengan istri anda, pihak sekolah pasti akan sangat senang.”


Stefan menghela napas kasar. Malas sekali rasanya jika harus hadir dalam acara sekolah tersebut. Sedang Stefan sendiri punya kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan.


“Saya tidak tahu saya bisa hadir atau tidak. Anda tentu tau saya sangat sibuk.” Balas Stefan tenang.


“Ya tuan, kami tau. Kami hanya berniat mengundang anda. Untuk bisa atau tidaknya anda hadir itu kami serahkan kepada anda. Tapi kami benar benar akan sangat senang dan bangga jika anda bisa hadir tuan.”


Stefan bukan tidak ingin hadir sebenarnya. Hanya saja Stefan benar benar tidak ingin kehilangan waktu kebersamaan bersama istri juga anaknya. Karena memang setelah Theo lahir, Stefan selalu mengusahakan untuk sudah berada dirumah sebelum waktu makan malam tiba.

__ADS_1


“Hem ya..” Angguk Stefan kemudian segera memutuskan sambungan telepon-nya begitu saja.


Stefan juga tau Williana merupakan donatur di sekolah itu. Itu artinya Williana juga pasti akan di undang untuk menghadiri acara tersebut.


Tidak ingin terlalu memikirkan apa yang menurutnya tidak penting, Stefan pun kembali melajukan mobilnya berlalu dari tempat sepi tersebut untuk melanjutkan perjalanan menuju perusahaan-nya di pagi menjelang siang ini.


--------------


Sementara itu di tempat lain tepatnya di rumah sakit tempat dokter Rania bekerja. Dokter Rania terlihat sangat ceria dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya sejak berangkat sampai waktu makan siang hampir tiba.


“Ekhem..”


Deheman dokter Agnes berhasil menghentikan langkah dokter Rania yang siang ini baru saja memeriksa keadaan pasien-nya. Dokter cantik dengan setelan warna coklat susu itu kemudian menoleh menatap pada dokter Agnes yang tersenyum geli menatapnya.


“Aku lihat hari ini kamu begitu sangat ceria dan sumringah Ran, apa ada sesuatu yang sangat menyenangkan hari ini? Atau kamu baru saja mendapat give away sabun colek?” Ujar dokter Agnes menatap dokter Rania dengan tatapan menggodanya.


Dokter Rania tertawa pelan. Rekan seprofesinya itu memang suka sekali menggodanya.


“Apaan sih kamu Nes, perasaan aku biasa aja deh.” Balasnya.


Dokter Agnes tertawa lagi kemudian melangkah mendekat pada dokter Rania yang berdiri di tempatnya.


“Ah ya Ran, tidak jauh dari sini ada restoran jepang yang baru di buka. Ada banyak promo juga diskon disana. Makan siang nanti bagaimana kalau kita berdua makan disana saja?”

__ADS_1


Dokter Rania meringis sambil menggaruk pelan pipinya tanda dirinya sedang kebingungan. Dan melihat ekspresi itu dokter Agnes sudah bisa menyimpulkan bahwa dokter Rania pasti akan menolak ajakan-nya karena sudah mempunyai janji dengan teman spesialnya yaitu Alan.


“Hemm.. Sudah tau aku kalau begini. Ya sudah kalau memang nggak bisa aku pergi sama Dea saja. Tapi Ran.. Kayanya status kalian itu perlu di perjelas deh. Dekat dekat doang nggak ada ikatan kan sama aja bohong. Apa lagi kalian berdua juga sudah sama sama dewasa. Ya kan?”


Dokter Rania menelan ludah. Dalam benaknya dokter cantik itu membenarkan apa yang dikatakan dokter Agnes padanya. Status kedekatan-nya dengan Alan memang belum jelas. Meski mereka sering menghabiskan waktu bersama dan sama sama merasa nyaman, namun hubungan mereka masih samar. Bahkan dokter Rania sendiri juga bingung apa arti kedekatan yang dia jalin dengan Alan selama ini. Apakah hanya sebatas kedekatan sebagai teman atau sebagai dokter dan mantan pasien yang merasa berhutang jasa. Tapi yang jelas dokter Rania berharap kedekatan tersebut jauh lebih berarti dari dua kedekatan yang bersarang di benaknya itu.


“Yee... Dia malah ngelamun.” Decak dokter Agnes karena dokter Rania yang malah fokus dengan pemikiran-nya sendiri.


“Oy, jangan ngelamun.” Tegur dokter Agnes menepuk pelan bahu dokter Rania.


Karena tepukan pelan di bahunya, dokter Rania pun tersadar dari semua pemikiran-nya tentang kedekatan-nya dengan Alan. Wanita itu kemudian tersenyum menatap rekan kerjanya yang menggeleng tidak habis pikir.


“Ya sudah kalau begitu. Aku ke ruanganku dulu ya.. Selamat bersenang senang bersama teman spesial kamu nanti ya Rania..” Ledek dokter Agnes yang kemudian berlalu dari hadapan dokter Rania.


“Dih.. Apaan sih, lebay banget.” Senyum dokter Rania tersipu malu.


Setelah dokter Agnes berlalu, dokter Rania pun menghela napas pelan. Wanita yang mengenakan jas putih kebanggaan-nya itu tiba tiba terpikirkan dengan apa yang dokter Agnes katakan tentang kedekatan-nya dengan Alan. Kedekatan yang begitu lekat namun tidak ada status jelas. Padahal Alan juga sering sekali memberinya bunga namun pria itu tidak pernah sekalipun membahas tentang perasaan-nya.


“Apa aku memang harus bertanya langsung pada Alan bagaimana perasaan dia sebenarnya sama aku? Tapi bagaimana kalau seandainya memang Alan tidak mempunyai perasaan apa apa sama aku? Apa aku siap kecewa lalu sakit hati? Apa aku juga siap menjauh dari Alan? Apa aku bisa melupakan kebersamaan yang sudah begitu sering di lalui bersama?” Batin dokter Rania bertanya tanya sendiri.


Dokter Rania menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan lewat mulut. Jika memang Alan tidak memiliki perasaan apapun padanya Alan tidak mungkin begitu perhatian padanya. Alan bahkan sampai dua kali mengurusi dokter Rania saat dokter Rania sakit.


“Sepertinya aku memang harus memastikan semuanya supaya jelas. Aku nggak mau terus mengharapkan sesuatu yang belum tentu bisa aku raih. Lebih baik aku bertanya langsung pada Alan nanti. Yah... Aku yakin aku bisa menjauh jika memang Alan sama sekali tidak memiliki rasa apapun padaku.” Gumam dokter Rania penuh tekad.

__ADS_1


__ADS_2