ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 43


__ADS_3

Tidak puas menatap wajah Hana dari dekat, Stefan pun menyusul Hana ke lantai satu rumahnya. Pria itu melangkah menuju meja makan mencari Hana yang ternyata tidak ada disana.


“Hana mana mah?” Tanya Stefan pada Sera yang sudah duduk di tempatnya.


Sera menatap Stefan bingung. Tidak biasa sekali Stefan mencari Hana pagi pagi. Biasanya pria itu langsung duduk di tempatnya tanpa memperdulikan siapa saja yang belum ada di meja makan termasuk Hana, istrinya sendiri.


“Mah... kok bengong sih? Hana mana? mamah liat nggak?” Tanya Stefan lagi tidak sabaran.


Sera mengerjapkan kedua matanya beberapa kali ketika Stefan kembali menanyakan tentang keberadaan Hana padanya.


“Mommy di dapur daddy.. Katanya mau buat kopi untuk daddy..” Ujar Angel membantu menjawab.


Stefan beralih menatap Angel yang menatapnya kemudian tersenyum samar.


Tanpa mengucapkan terimakasih pada Angel yang sudah memberitahu dimana keberadaan Hana, Stefan langsung melangkah menuju dapur. Pria itu bahkan melangkah begitu cepat tidak menghiraukan tatapan bingung putri dan juga mamahnya.


“Angel, apa tadi mommy dan Daddy berantem diatas?” Tanya Sera khawatir.


Angel menggelengkan kepalanya dengan ekspresi polos.


“Daddy hanya meminta Angel untuk keluar dulu karena ada yang mau dibicarakan dengan mommy oma. Setelah itu saat Angel hendak turun ke sini daddy langsung menutup pintu.” Jawab Angel.


Sera menganggukan kepalanya mengerti. Wanita itu kemudian menghela napas mencoba mengenyahkan pikiran pikiran buruknya pada Stefan, putranya sendiri.


“Memangnya kenapa oma?” Tanya Angel penasaran.


“Ah enggak, nggak papa sayang. Ya sudah lebih baik sekarang kamu sarapan dulu ya.. Hari ini daddy berangkat agak siang. Biar oma yang mengantar kamu ke sekolah. Oke?” Senyum Sera menatap cucu kesayangan-nya itu.


“Apa mommy bisa ikut?” Tanya Angel lagi menatap Sera penuh harap.


Sera menggelengkan pelan kepalanya.


“Tentu saja tidak bisa sayang.. Mommy harus menemani daddy dirumah.”

__ADS_1


Angel langsung terlihat murung mendengar ucapan lembut Sera. Gadis dengan seragam sekolah internasional itu padahal ingin sekali Hana yang mengantarnya ke sekolah. Angel ingin seperti teman teman-nya yang memeluk dan mencium kedua pipi mommy nya lebih dulu sebelum masuk ke area sekolah tempatnya menimba ilmu.


“Ya oma..” Tunduknya lesu.


Sera tersenyum melihatnya. Sera tau apa yang di inginkan oleh cucunya. Hanya saja menurut Sera sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengajak Hana mengantar Angel ke sekolahnya karena Stefan mungkin akan berangkat siang hari ini.


“Oma suapin ya sayang sarapan-nya?” Tanya Sera pada Angel.


Angel menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu menolak tawaran Sera.


“Enggak usah oma. Angel bisa sarapan sendiri.” Jawabnya kemudian mulai melahap makanan di piringnya.


------------


Di dapur Hana sedang mengomel sambil memasukan bubuk kopi dan gula kedalam cangkir. Wanita itu tidak menyadari Stefan yang sedang mendekat padanya kemudian akhirnya berdiri tepat dibelakangnya.


“Aku cemburu sama dia? iih amit amit deh.. Jangan sampe.” Dumel Hana dengan bibir meleot leot mengejek Stefan.


Stefan tersenyum geli mendengarnya. Dan saat seorang pelayan masuk ke dapur melihatnya dan Hana stefan langsung meletakan jari telunjuknya didepan bibir menyuruh pelayan itu diam kemudian memberi kode dengan mengibaskan pelan tangan-nya agar pelayan itu meninggalkan-nya dan Hana didapur. Pelayan itu hanya mengangguk pelan tanpa bersuara dan langsung berlalu dari dapur dengan gerakan cepat menuruti kemauan majikan-nya.


“Tapi aku nggak bodoh. Pokonya sekali lagi aku lihat Stefan berduaan dan bermesraan dengan dokter cantik itu aku akan merekamnya dan menunjukan videonya pada mamah. Biarin aja, aku nggak perduli mau dia di marahin mamah atau bahkan di tenggelamkan ke kolam renang sekalian. Biar tau rasa dia. Dasar suami enggak setia.” Omel Hana kemudian meraih panci yang sudah di isi air dan memanaskan air matang dalam panci tersebut diatas kompor listrik yang ada didepan-nya.


Sekitar 3 menit menunggu, air tersebut mendidih dan Hana langsung menuangkan kedalam cangkir berisi gula dan kopi racikan-nya.


“Bilangnya nggak suka kopi tapi minta di bikinin. Udah mintanya maksa lagi. Hih, orang kok nyebelin-nya selangit.”


Karena terus mengomel, Hana sampai tidak memperhatikan apa yang dipegangnya dan melepaskan begitu saja panci berisi air panas tersebut di tepi meja pantry sehingga panci tersebut jatuh ke lantai.


“KYAAAAAA !!”


Hana yang terkejut memekik dan refleks melompat pada Stefan yang berdiri dibelakang. Dan Stefan tentu saja dengan sigap langsung menggendong Hana.


Pekikan Hana juga suara benda jatuh ke lantai yang begitu nyaring membuat semua penghuni rumah itu langsung berlarian ke dapur. Namun mereka semua termasuk Sera dan Angel sama sekali tidak mendekat karena melihat ada Stefan yang menggendong Hana.

__ADS_1


Sera kemudian menyuruh semuanya bubar setelah yakin tidak ada apapun yang terjadi.


“Makan-nya jangan suka jelek jelekin suami sendiri. Jadi kena batunya kan?”


Hana berdecak dan langsung melepaskan kedua tangan-nya yang melingkar di leher Stefan. Wanita itu kemudian turun dengan pelan dari gendongan Stefan dan menapakkan kakinya di lantai yang tidak terkena air panas yang tumpah dari wadahnya karena kecerobohan-nya sendiri tadi.


“Aku begini juga karena kamu Stefan. Coba kalau kamu enggak minta di bikinin kopi, aku pasti nggak akan jatuhin panci itu.” Omel Hana pada Stefan.


Stefan menggelengkan kepalanya kemudian meraih pinggang Hana menarik tubuh Hana sehingga tubuh Hana menempel dengan sempurna di tubuhnya.


Stefan menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Hana yang terdiam dan mematung karena pelukan mesra Stefan di pinggangnya.


“Stefan..”


“Harus berapa kali aku bilang sama kamu Hana, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Rania. Kami hanya berteman.” Bisik Stefan menatap Hana dalam.


Hana hanya diam dengan detak jantung yang tidak beraturan. Di tatap sebegitu intens dan dekat oleh Stefan membuat tubuh Hana selalu terasa kaku dan sulit untuk di gerakan.


“Kamu tidak perlu berpikir macem macem. Karena hanya kamu satu satunya perempuan bodoh didunia ini yang aku mau.” Tambah Stefan masih dengan bisikan.


Setelah mengatakan hal itu, Stefan kemudian mengecup lama kening Hana membuat napas Hana tiba tiba tersengal.


“Jangan ngomel ngomel lagi ya.. Nanti tambah jelek.” Senyum Stefan kemudian setelah mencium kening Hana.


Stefan melepaskan Hana kemudian meraih secangkir kopi yang sudah diseduh Hana. Stefan juga meraih sendok kecil untuk mengaduk kopi tersebut kemudian berlalu meninggalkan Hana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Jangan lupa di pel. Kasihan kalau mbaknya kerja dua kali.” Ujar Stefan mengingatkan sebelum benar benar berlalu dari dapur meninggalkan Hana.


Hana merasakan seluruh wajah bahkan sampai telinganya memanas. Untuk pertama kalinya Stefan memeluk mesra pinggangnya bahkan mencium keningnya lama.


“Ya Tuhan.. Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa malu dan senang secara bersamaan?”


Hana tersenyum sendiri didapur karena Stefan memeluk dan menciumnya. Apa lagi pria itu juga menjelaskan sekali lagi tentang hubungan-nya dengan dokter Rania. Karena Stefan memang tidak mau Hana salah memahami hubungan pertemanan-nya dengan dokter Rania.

__ADS_1


__ADS_2