
Ditempat lain tepatnya di Amerika Stefan dan Hana baru saja sampai didepan rumah mewah berlantai dua milik adik dari papah Stefan, tuan Devandra dengan menggunakan taksi dari bandara.
Stefan segera mengajak Hana turun dari taksi yang membawanya dari bandara ke kediaman om dan tantenya itu. Stefan juga meminta tolong pada supir taksi yang mengantarnya itu untuk mengambil barang miliknya dan Hana di bagasi dan meletakan-nya di teras depan rumah mewah itu. Setelah itu Stefan segera membayar ongkos tidak lupa dengan tipsnya.
Hana menatap kesekitar rumah mewah itu. Disana juga ada beberapa mobil mewah yang berderet di halaman luas kediaman mewah tersebut. Itu semakin menegaskan bahwa om dan tante Stefan juga bukan orang sembarangan.
“Jadi ini rumahnya?” Tanya Hana pada Stefan.
Stefan menganggukkan kepalanya menjawab. Pria itu menatap bangunan berlantai dua didepan-nya kemudian menghela napas. Stefan harus benar benar menjaga Hana dengan ekstra selama disana.
Hana kembali menatap ke sekitarnya. Kediaman om dan tante Stefan tidak seperti kediaman Stefan di indonesia yang disertai gerbang tinggi menjulang juga di penuhi para body guard yang berlalu lalang. Rumah mewah itu begitu sepi namun terlihat sangat asri suasananya.
“Apa mereka tau kita datang hari ini Stefan?” Tanya Hana lagi.
“Tidak, aku tidak memberitahu mereka Hana.” Jawab Stefan menatap Hana yang berdiri disampingnya.
“Kenapa?” Tanya Hana bingung. Hana berpikir jika Stefan memberitahukan lebih dulu mungkin mereka tidak akan merepotkan secara mendadak.
Stefan hanya menggeleng dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Pria tampan dengan kaos lengan panjang warna hitam itu kemudian meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat.
“Ayo..” Ajaknya yang di angguki oleh Hana.
Hana menurut saja saat Stefan menggandengnya melangkah menuju pintu utama bercat putih mengkilat itu. Mereka berdua berdiri didepan pintu tersebut kemudian Stefan segera menekan bel.
Sembari menunggu Hana kembali melihat suasana di sekitar. Ini adalah kali pertama bagi Hana datang ke Amerika. Rasanya sangat asing karena suasananya memang sangat berbeda dengan suasana di jakarta.
Hana menyipitkan kedua matanya ketika menyadari banyak CCTV disana. Bahkan di teras depan rumah mewah itu ada sekitar tiga CCTV yang Hana lihat.
“Stefan..” Panggil Hana pelan membuat Stefan langsung menoleh padanya.
__ADS_1
“Ya, ada apa Hana?”
Hana sudah membuka mulutnya hendak berucap saat tiba tiba pintu didepan-nya dibuka. Dan dari balik pintu itu muncul gadis cantik berambut coklat keriting yang terlihat terkejut dengan kedatangan Stefan dan Hana.
“Kak Stefan..” Lirih gadis itu.
Stefan menatap gadis itu dengan tatapan datarnya. Namanya Gabriella Smith, putri kedua dari om dan tante Stefan. Nyonya dan tuan Smith.
“Dimana om dan tante?” Tanya Stefan to the poin.
Gabriel melirik sekilas pada Hana yang berdiri disamping Stefan sebelum menjawab pertanyaan Stefan.
“Mommy dan Daddy masih diluar kak.” Jawabnya pelan.
Stefan mengangguk pelan. Genggaman tangan-nya pada tangan Hana semakin erat membuat Hana mengeryit bingung. Stefan seperti sedang menyuruhnya untuk waspada pada gadis cantik didepan mereka secara tersirat.
“Apa ini kak Hana?” Tanya Gabriel kemudian menatap sepenuhnya pada Hana.
Gabriel menganggukkan kepalanya. Gadis berambut keriting itu kemudian menyodorkan tangan-nya pada Hana berniat untuk memperkenalkan diri.
“Hay kak Hana.. Nama aku Gabriella Smith. Kakak bisa panggil aku Gabriel saja.” Senyum Gabriel dengan begitu lancarnya berbahasa indonesia.
Hana balas tersenyum kemudian segera menjabat tangan Gabriel.
“Aku Hana, istri Stefan.” Jawab Hana senang karena Gabriel begitu ramah dan baik padanya.
Stefan menatap Gabriel tajam. Stefan yakin senyuman gadis itu tidak benar benar tulus dari hatinya. Stefan juga yakin dalam kepala gadis itu sedang tersusun rencana tidak baik untuknya juga Hana.
“Ah ya Tuhan.. Aku sampai lupa menyuruh kalian masuk. Kak Stefan, kak Hana mari masuk. Kita tunggu mommy sama daddy pulang sambil mengobrol.” Senyum gadis itu lagi mengajak Hana dan Stefan untuk masuk.
__ADS_1
“Ah ya Gabriel, terimakasih.” Balas Hana tersenyum manis juga lebar.
“Biar aku yang bawakan barang barang kalian. Silahkan masuk duluan..”
Stefan menghela napas kemudian segera menarik tangan Hana lembut untuk masuk kedalam rumah itu meninggalkan Gabriel yang sedang membawakan koper dan tas mereka.
“Stefan.. Koper dan tas kita berat loh, kamu tega biarin Gabriel bawa itu sendiri?” Protes Hana berhenti melangkah karena merasa sikap suaminya tidak seharusnya seperti itu. Hana tau mungkin Stefan juga lelah. Tapi membiarkan seorang gadis seperti Gabriel membawa barang barang yang begitu berat bukan sikap yang seharusnya menurut Hana.
Stefan berdecak. Menjelaskan sekarang pada Hana bukanlah waktu yang tepat. Selain Hana yang pasti tidak akan percaya karena ke ramah tamahan Gabriel tadi, Stefan juga yakin Hana pasti akan menganggapnya terlalu berlebihan dengan prasangka buruknya.
“Kak, sebaiknya ajak kak Hana untuk istirahat dulu. Kasihan kak Hana, dia pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan kesini !!” Seru Gabriel dari teras rumah dengan suara seperti orang yang sangat kesusahan mengangkat beban berat. Tentu saja, barang bawaan Stefan dan Hana bukan hanya koper saja, tapi juga tas besar yang pasti Gabriel tidak akan mudah untuk membawanya.
Sekali lagi Stefan berdecak. Gadis berambut keriting warna coklat terang itu memang sangat pandai memanipulasi orang orang disekitarnya dengan keramahan palsunya. Bahkan kedua orang tuanya saja sampai sering tertipu.
“Ikut aku..” Ujar Stefan menarik lembut tangan Hana namun Hana menahan-nya enggan untuk menuruti ajakan suaminya.
“Stefan..” Panggil Hana pelan. Yang Hana tau meskipun Stefan kejam dan dingin, tapi dia juga punya hati yang baik dan tidak tega pada sesama. Tapi sekarang pada adik sepupunya sendiri Stefan tampak acuh dan tidak perduli sedikitpun.
“Hana aku mohon.. Aku akan jelaskan nanti.” Lirih Stefan menatap Hana serius.
Hana mengeryit bingung. Stefan bersikap seolah ada sesuatu pada Gabriel yang memang sebaiknya Hana hindari. Tapi melihat ramah dan manisnya gadis itu Hana merasa itu sangat tidak perlu. Karena dari tatapan gadis cantik berhidung mancung itu Hana bisa melihat ketulusan dari setiap ucapan-nya.
“Hana, ayoo..” Ajak Stefan lagi.
Tidak mau berdebat, Hana pun akhirnya mengangguk dan menurut saja saat Stefan mengajaknya semakin masuk kerumah itu menuju kamar yang akan mereka berdua tempati selama menginap disana.
Begitu sampai didalam kamar itu, Stefan langsung menutup dan mengunci pintunya. Hana yang melihat tingkah suaminya merasa sangat penasaran. Stefan seperti takut pada Gabriel.
“Stefan, ada apa sebenarnya?” Tanya Hana yang semakin penasaran karena tingkah suaminya itu.
__ADS_1
Stefan menghela napas kemudian menatap Hana dengan sangat serius. Pria itu meraih kedua pundak Hana memberi kode agar Hana benar benar mendengarkan apa yang akan di katakan-nya.
“Dengar Hana, Kamu harus selalu waspada dan hati hati selama berada disini. Karena Gabriel, dia tidak seperti apa yang kamu lihat tadi.” Ujar Stefan serius.