
“Kamu kenapa dokter?” Tanya Alan pada dokter Rania yang terus saja diam dan sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di depan-nya.
Alan sebenarnya sudah merasa penasaran sejak menjemput dokter Rania di rumah sakit tadi. Alan merasa dokter cantik itu tidak seperti biasanya. Dokter Rania terlihat murung dan tidak banyak bicara seperti biasanya.
“Apa ada masalah? atau makanan disini tidak enak? Apa kita pindah cari makanan di tempat lain saja dokter?” Alan kembali melontarkan serentet pertanyaan pada dokter cantik itu.
Dokter Rania menahan napas sejenak kemudian menghelanya. Wanita yang sudah tidak lagi mengenakan jas putih kebanggaan-nya itu membalas tatapan Alan dengan serius.
“Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan sama kamu Alan.”
Dokter Rania mengangkat sebelah alisnya semakin bingung karena tatapan dokter cantik itu yang begitu sangat serius padanya.
“Ini tentang kita berdua.” Lanjut dokter Rania.
Alan menelan ludah. Jantungnya mulai berdetak sangat cepat karena merasa khawatir dengan apa yang akan dokter Rania katakan padanya.
Alan menghela napas menundukan sesaat kepalanya kemudian kembali membalas tatapan dokter Rania padanya.
“Apa itu dokter?” Tanya nya pelan.
Dokter Rania tidak langsung menjawab. Wanita itu memejamkan sesaat kedua matanya menyiapkan diri juga hatinya akan kemungkinan yang mungkin saja akan bertolak belakang dengan pemikiran-nya tentang Alan yang mempunyai rasa padanya.
“Alan, kita sering meluangkan waktu bersama. Seperti sekarang ini contohnya. Tapi kita sama sekali tidak punya ikatan apa apa untuk memperjelas semuanya.”
__ADS_1
Alan terkejut mendengar apa yang di katakan oleh dokter cantik itu. Alan pikir dokter Rania tidak akan memikirkan hal itu. Alan pikir dokter Rania hanya merasa nyaman bersamanya tanpa memikirkan apa yang sebenarnya selalu Alan pikirkan.
“Aku tidak akan memaksa kamu untuk selalu berada disini kalau pada kenyataan-nya kamu merasa terpaksa Alan. Aku juga tidak menuntut kamu untuk merasa berhutang budi apa lagi merasa harus membalas semuanya dengan menyenangkan hatiku.” Dokter Rania melanjutkan.
Alan menggelengkan kepalanya dengan kedua mata sedikit melebar. Alan tidak pernah sedikitpun merasakan apa yang dokter Rania katakan. Kedekatan yang terjalin begitu natural itu memang terjadi murni karena Alan yang merasa nyaman dengan dokter cantik itu.
“Alan.. Aku tidak mau menjalin kedekatan yang tidak ada kejelasan seperti ini. Dan kalau memang pada kenyataan-nya kita memang tidak satu frekuensi, lebih baik kita menjauh dari sekarang Alan.”
Jantung Alan seakan berhenti berdetak detik itu juga mendengarnya. Alan tidak menyangka ucapan itu akan keluar begitu tenang dari mulut dokter cantik yang sudah berhasil membuat Alan melupakan Hana seutuhnya.
“Dokter aku...” Alan tidak bisa melanjutkan ucapan-nya. Pria itu bingung harus bagaimana sekarang. Perasaan-nya pada dokter Rania memang begitu kuat. Bahkan Alan sedikitpun tidak pernah berpikir akan ada jarak antara dirinya juga dokter Rania. Alan hanya selalu berpikir dan bertekad dirinya tidak boleh lagi gagal meraih wanita yang menguasai hati dan pikiran-nya. Alan tidak ingin gagal apapun alasan-nya. Alan bahkan juga tidak pernah memikirkan tentang derajatnya dan dokter Rania yang sebenarnya sangat jauh berbeda. Karena Alan percaya dokter Rania bukan wanita yang memandang segala sesuatu dengan harta.
“Kenapa Alan? Apa yang ingin kamu katakan, katakan saja sekarang. Aku akan mendengarkan.” Kata dokter Rania berusaha untuk tetap tenang.
“Kenapa kamu diam Alan? Katakan saja sekarang. Aku ingin mendengarnya.” Dokter cantik itu mulai merasa tidak sabar menunggu hingga akhirnya menuntut Alan untuk mengungkapkan segala apa yang di rasakan-nya terhadap dirinya.
Alan menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan. Pria itu mencoba untuk menenangkan diri dari rasa gugup juga takutnya.
“Dokter, aku tidak tau harus mengatakan apa sama kamu. Tapi satu yang aku tau. Aku tidak ingin ada jarak di antara kita berdua. Aku ingin tetap seperti sekarang. Aku ingin kita tetap dekat dan terus sama sama seperti ini.”
Dokter Rania tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Hanya terus bersama saja tidak akan membuat hubungan mereka berdua jelas menurutnya.
“Jadi sebenarnya kamu menganggap aku seperti apa? Teman atau hanya sebatas dokter dan mantan pasien yang dekat karena kamu merasa berhutang budi sama aku? atau mungkin karena..”
__ADS_1
“Tidak, bukan begitu dokter. Tolong jangan berasumsi sendiri. Aku mungkin tidak bisa menjelaskan-nya sekarang. Tapi sungguh, aku merasa tidak sanggup jika kita harus berjarak dokter. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu dokter.” Ujar Alan menyela ucapan dokter Rania.
Dokter Rania terkejut. Semua pemikiran buruknya tentang Alan seketika sirna begitu mendengar ungkapan cinta dari mulut pria itu secara langsung.
“Aku tidak ingin mengungkapkan semuanya dalam keadaan sangat sangat biasa seperti sekarang sebenarnya dokter. Tapi aku juga tidak ingin jika sampai dokter menjauh. Aku tidak ingin kehilangan semangat seperti saat itu karena tidak berkomunikasi dengan kamu.” Lanjut Alan menjelaskan.
“Dokter, aku memang bukan laki laki kaya raya seperti tuan Stefan Devandra. Aku juga bukan laki laki romantis yang pandai berkata manis. Tapi aku janji dokter, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk dokter. Aku janji aku akan menjadi orang yang akan selalu menjaga kamu semampu dan sebisaku.” Alan meraih kedua tangan dokter Rania dan menggenggamnya dengan sangat lembut disertai tatapan penuh cinta pada dokter cantik itu.
Wajah dokter Rania memerah mendengarnya. Dokter cantik itu tidak menyangka jika Alan akan langsung mengungkapkan cinta padanya. Itu memang hal yang sangat dokter Rania inginkan. Tapi itu juga sangat sangat mengejutkan-nya.
“Dokter, kamu mau kan menjadi satu satunya perempuan yang akan selalu ada buat aku dalam suka maupun duka?” Tanya Alan penuh harap pada dokter Rania.
Dokter Rania menundukan sebentar kepalanya kemudian menatap Alan dengan rasa malu juga gugup bahkan senang yang bercampur menjadi satu. Dokter Rania tidak menyangka bahwa ternyata Alan juga memiliki rasa yang sama seperti dirinya. Yaitu sama sama takut kehilangan juga sama sama ingin selalu bersama.
“Mau kan dokter jadi pacar aku?” Tanya Alan lagi, kali ini dengan bahasa yang jelas dan mudah di mengerti oleh siapapun.
Dokter Rania tidak bisa berkata kata saking gugup dan bahagianya. Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepala dalam diamnya. Namun ternyata anggukan kepalanya tidak membuat Alan merasa puas. Pria itu menyipitkan kedua matanya menatap dokter Rania.
“Jadi?” Tanya Alan ingin mendengar jawaban dari mulut dokter Rania.
“Iyaa...” Jawab dokter Rania malu malu.
Alan tersenyum lebar merasa sangat bahagia karena perasaan-nya terbalaskan. Cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1