
“Apa tidak bisa kamu saja yang hadir Rico? Kamu tau kan saya harus pulang sekarang?” Stefan bertanya pada Rico dengan nada kesal karena Rico yang tidak bisa menggantikan-nya menghadiri suatu acara. Padahal biasanya Rico selalu sigap dan selalu bisa menghandle segala urusan Stefan dalam masalah pekerjaan.
“Maaf tuan, tapi untuk kali ini harus anda sendiri yang benar benar hadir. Karena memang tidak ada satupun perusahaan yang boleh mengutus perwakilan dari pimpinan teratasnya.” Jawab Rico dengan kepala sedikit tertunduk. Rico tau bagaimana usaha keras Stefan membagi waktu antara pekerjaan dan waktu bersama keluarga. Dan sebagai orang yang sangat Stefan percaya juga orang yang tau bagaimana Stefan, Rico merasa sangat takjub dengan hal tersebut. Stefan mengutamakan keluarganya.
Stefan menghela napas kasar. Ini kali pertama Stefan merasa tidak puas dengan cara kerja Rico. Namun Stefan juga tidak bisa menyalahkan Rico karena aturan dari acara penting itu memang seperti apa yang Rico katakan. Stefan harus hadir langsung ke acara dimana memang akan banyak CEO dari beberapa perusahaan terkenal yang lain-nya yang hadir disana.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh keluar.” Ujar Stefan memerintah dengan nada kesal yang tentu sangat di maklumi oleh Rico.
“Ya tuan. Kalau begitu saya permisi.” Angguk Rico yang kemudian keluar dari ruangan Stefan.
Stefan menghela napas frustasi. Pria itu memijat pelan keningnya. Stefan tidak ingin sedikitpun menghadiri acara itu karena itu artinya Stefan pasti akan bertemu dengan Williana. Malas sekali jika harus berada satu ruangan dengan wanita itu yang pasti akan mencari kesempatan untuk mendekatinya di depan banyak orang.
Tidak punya pilihan lain, Stefan pun menghubungi Hana dan memberitahukan bahwa dirinya akan pulang sedikit terlambat. Acara itu memang tidak bisa Stefan abaikan mengingat perusahaan-nya juga sangat berpengaruh.
Setelah memberitahu Hana, Stefan pun bangkit dari duduknya. Acara akan di mulai sekitar dua jam lagi. Dan tempat di adakan-nya acara tersebut juga lumayan jauh. Karena tidak ingin terlambat menghadiri acara tersebut, Stefan segera bergegas menuju tempat akan di adakan-nya acara tersebut.
__ADS_1
“Semoga saja dia nggak bisa hadir.” Gumam Stefan.
Stefan bukan takut pada Williana sebenarnya. Stefan hanya takut dirinya kalap karena tingkah menyebalkan wanita itu. Stefan tidak berbuat kasar pada wanita apa lagi didepan banyak orang. Selain hal itu akan mencoreng nama baik dan kehormatan seorang wanita, Stefan juga pasti akan mendapat protes dari Hana. Tentu saja Hana akan tau karena acara itu juga akan di liput oleh beberapa media.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu, Stefan pun sampai disebuah hotel bintang lima. Disana sudah banyak para pengusaha yang berlalu lalang. Bahkan begitu Stefan turun dari mobil, Stefan sudah di todong beberapa pertanyaan oleh para pemburu berita. Mereka juga sempat menanyakan tentang Hana dan Theo yang memang sengaja tidak Stefan ajak karena Stefan tidak ingin istri dan putranya kelelahan setelah menghadiri acara yang akan berlangsung lumayan lama itu.
Setelah selesai di wawancarai, Stefan pun melangkah masuk kedalam hotel dengan kamera yang terus mengawasi. Begitu ada didalam hotel tepatnya di sebuah ballroom yang begitu luas dan mewah, Stefan bertemu dengan Boby juga para pembisnis lain. Mereka saling menyapa dan bersalaman.
“Apa kabar tuan Stefan?” Tanya Boby dengan ramah pada Stefan.
“Kabar saya baik. Kamu sendiri bagaimana Boby?” Jawab Stefan kemudian bertanya balik pada Boby.
Stefan hanya tersenyum tipis. Imbas dari kebohongan Williana padanya memang juga mengenai Boby. Stefan sengaja melakukan pembatalan kontrak kerja sama secara sepihak karena rasa kesalnya pada Williana. Stefan juga ingin mempertegas Williana bahwa dirinya tidak akan selalu diam karena perlakuan tidak menyenangkan Williana padanya.
Stefan menghela napas. Boby memang rekan bisnis yang menyenangkan. Namun mengingat bagaimana cara Boby menegur para karyawan bawah membuat Stefan merasa sedikit malas. Boby terlalu semena mena pada orang kecil menurut Stefan.
__ADS_1
Stefan mengedarkan pandangan-nya ke seluruh ruangan. Disana banyak sekali para pembisnis kelas atas yang hadir. Bahkan beberapa dari mereka ada juga yang berasal dari kalangan selebriti.
Saat sedang memandang ke segala arah, pandangan Stefan tidak sengaja bertemu dengan Williana. Stefan menatap sebentar pada Williana yang berpenampilan cukup terbuka malam ini. Williana juga sempat menatapnya namun hanya sebentar karena saat itu Williana sedang mengobrol dengan seseorang.
Hal itu berhasil membuat Stefan terheran heran. Tidak biasanya Williana bersikap cuek padanya. Biasanya wanita itu akan langsung menghampirinya kemudian mengganggunya dengan berbagai taktik untuk menarik perhatian-nya.
Stefan kembali menatap pada Williana. Wanita itu semakin asik mengobrol dan seperti tidak memperdulikan kehadiran-nya.
Sesaat Stefan berpikir. Williana adalah wanita keras kepala. Dia selalu melakukan berbagai cara untuk memikat Stefan walaupun memang sekalipun tidak pernah berhasil. Stefan selalu menolaknya. Hingga kemudian Stefan berpikir mungkin Williana sudah lelah kemudian menyerah karena Stefan yang terus mengabaikan-nya.
“Ini benar benar sebuah kejutan yang mengesankan.” Gumam Stefan merasa sangat lega karena Williana tidak lagi mengusiknya.
Sepanjang acara Williana benar benar tidak mendekat ataupun menyapa Stefan. Wanita itu asik dengan teman teman bisnisnya yang lain dan berusaha untuk mengabaikan Stefan. Meski sebenarnya Williana sendiri merasa tidak tahan tidak mendekat pada Stefan, namun sebisa mungkin Williana berusaha menekan keinginan hatinya itu. Williana tidak ingin mengulangi lagi kesalahan-nya dengan gegabah mengganggu Stefan karena bisa saja perusahaan keluarga yang menjadi taruhan-nya. Dan jika sampai hal buruk menimpa perusahaan keluarga yang sudah dengan susah payah Williana bangun dengan mengerahkan kemampuan berpikirnya, Williana pasti akan sangat sangat menyesal. Sebelum itu terjadi, Williana berusaha untuk mencegahnya karena perusahaan-nya bukan hanya miliknya, tapi juga milik Tristan adiknya.
“Tetap tenang dan fokus Williana. Abaikan Stefan. Kamu bisa. Masih banyak laki laki lain yang tentu lebih baik dari Stefan untuk kamu.” Batin Williana terus berusaha menutupi apa yang di rasakan-nya sekarang. Williana yakin melupakan Stefan adalah pilihan terbaik. Seperti apa yang di katakan adiknya, Tuhan pasti sudah menyiapkan pria yang tepat untuknya. Dan Williana akan menunggu sampai Williana menemukan pria itu kemudian bisa melupakan Stefan seutuhnya.
__ADS_1
Saat itu tiba, Williana akan menunjukan pada dunia bahwa dirinya bisa hidup tenang dan bahagia dengan pria terbaik yang tentu itu bukan Stefan.
Williana tau melupakan Stefan yang sudah di cintainya begitu lama tidaklah mudah. Tapi Williana akan terus mengusahakan-nya.