
Hana tidak mendapati Stefan disampingnya saat membuka kedua matanya. Wanita itu melenguh kemudian bangkit dari berbaringnya.
Hana mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut kamar sampai ke pintu balkon kamar yang sudah terbuka. Saat itu juga Hana baru menyadari bahwa malam sudah berlalu berganti pagi yang begitu cerah.
Hana membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang menutupinya kemudian berjalan pelan menuju pintu balkon yang terbuka.
Hana tersenyum. Disana suami tercintanya sudah berdiri begitu gagah dengan posisi membelakanginya.
“Selamat pagi daddy..” Sapa Hana tersenyum manis.
Suara Hana berhasil mengalihkan perhatian Stefan. Pria yang mengenakan kaos pendek putih yang begitu jelas mencetak bentuk apik tubuh kekarnya itu memutar tubuhnya menghadap pada Hana yang hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya yang polos.
Stefan tersenyum samar. Pria itu menatap Hana yang masih sangat berantakan namun terlihat sexy di matanya.
“Kamu nggak kerja?” Tanya Hana kemudian.
Stefan menghela napas pelan kemudian mendekat pada Hana. Pria dengan setelan putih itu berdiri tepat didepan Hana.
“Aku berangkat siang hari ini.” Jawabnya.
Hana menganggukkan kepalanya mengerti. Stefan memang beberapa kali berangkat kerja saat hari menjelang siang sejak Hana hamil. Tapi itu juga karena permintaan Hana. Dan sekarang tiba tiba pria itu akan berangkat siang ke perusahaan tanpa sebab yang Hana tau.
“Kita ke dokter untuk mengecek kandungan kamu. Jadi lebih baik sekarang kamu mandi.” Ujar Stefan kemudian.
“Tapi kan ini belum jadwal untuk aku ke dokter Stefan.”
Stefan hanya menghela napas. Stefan terlalu mengerahkan tenaganya saat menyentuh Hana semalam. Tentu saja karena Stefan sendiri tidak bisa menahan diri saat merasakan Hana yang begitu pasrah dibawah kendalinya.
“Lebih cepat lebih baik Hana.” Kata Stefan yang tidak mungkin jujur pada Hana bahwa Stefan merasa khawatir dengan kandungan Hana setelah aktivitas panas yang mereka berdua lakukan semalam.
“Baiklah..”
__ADS_1
Sedang malas berdebat, Hana pun menyetujui saja apa yang Stefan katakan. Wanita itu kemudian memutar tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara Stefan, pria itu juga bersiap sembari menunggu Hana yang sedang membersikan dirinya dikamar mandi.
Sekitar 30 menit menunggu akhirnya Hana selesai bersiap. Mereka berdua keluar bersamaan dari kamar. Saat menuruni anak tangga Stefan bahkan menggandeng tangan Hana dengan sangat lembut.
Hana yang di perlakukan selembut itu hanya menurut saja sampai akhirnya mereka sama sama duduk di kursi di meja makan.
“Angel sama mamah mana?” Tanya Hana celingukan karena di meja makan hanya ada dirinya dan Stefan saja.
“Ini sudah hampir pukul 8 Hana. Mamah sama Angel sudah berangkat dari satu setengah jam yang lalu.” Jawab Stefan pelan.
Hana diam. Itu artinya Hana bangun terlambat pagi ini.
Hana tiba tiba berpikir tentang Angel yang sampai semalam masih merajuk padanya dan Stefan. Namun karena semalam Hana sudah tidak bisa menahan diri Hana pun mengesampingkan untuk mengajak gadis kecil itu berbicara pelan pelan.
“Tidak perlu memikirkan apapun. Angel sudah mengerti maksudku kemarin pagi.”
“Benarkah?” Tanyanya tidak percaya.
“Kamu tidak percaya pada suamimu sendiri hem?” Tanya balik Stefan membalas tatapan tidak percaya Hana dengan ekspresi datarnya.
“Eemm.. Ya, sedikit.” Jawab Hana tersenyum lebar.
Stefan berdecak. Pria itu kemudian mulai menyantap sarapan paginya begitu juga dengan Hana. Tidak ada percakapan apapun selama sarapan itu berlangsung hingga akhirnya selesai dan keduanya segera keluar dari rumah menuju mobil mewah Stefan yang sedang di panaskan mesin-nya oleh body guard Stefan.
“Selamat pagi tuan..” Sapa body guard yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi di teras depan rumah mewah Stefan.
“Ya..” Saut Stefan yang kemudian langsung melangkah menuju mobilnya di ikuti Hana.
Para body guard itu dengan sigap segera membukakan pintu mobil untuk Stefan juga Hana. Mereka memang jarang di perintah oleh Stefan karena tugas utamanya adalah berjaga di sekitar rumah. Tentu saja karena untuk yang berjaga diluar rumah Stefan juga sudah mempercayakan-nya pada yang lain.
__ADS_1
Stefan dan Hana masuk kedalam mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari pekarangan luas kediaman mewah keluarga Devandra.
Dalam perjalanan menuju tempat yang dimaksud Hana terus saja diam. Wanita itu tiba tiba berpikir tentang keluarga Stefan yang berada di Amerika. Karena yang Hana tau saat Sera ke Amerika, Sera juga berziarah ke makam papah Stefan, yaitu tuan Devandra.
Stefan yang melihat istrinya terus diam dengan ekspresi seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu mengeryit penasaran. Stefan yakin jika Hana sudah diam seperti itu Hana pasti akan meminta sesuatu darinya.
“Stefan...” Panggil Hana pelan.
“Ya Hana. Ada apa?” Tanya Stefan dengan pandangan terus lurus ke arah jalanan yang sedang mereka berdua lalui pagi itu.
“Tiba tiba aku berpikir aku ingin kenal dengan om dan tante kamu yang ada di Amerika.”
Stefan menghela napas. Pemikiran-nya sedikitpun tidak meleset. Hana tiba tiba menyinggung tentang keluarga Stefan yang ada di Amerika yang memang belum Stefan kenalkan secara langsung pada Hana karena saat pernikahan Stefan dan Hana berlangsung mereka tidak bisa hadir.
“Bagaimana kalau kita kesana?” Tanya Hana kemudian menatap Stefan dengan ekspresi penuh harap.
Stefan tidak langsung menjawab. Sebenarnya Stefan bisa saja mengajak Hana kesana kapanpun yang Stefan mau. Tapi mengingat Hana yang sedang hamil rasanya Stefan tidak mungkin jika mengajak Hana kesana.
“Kita mungkin memang akan kesana karena kamu juga belum resmi berkenalan dengan mereka Hana. Tapi untuk sekarang sepertinya kita belum bisa.”
“Kenapa?” Tanya Hana cepat tidak mengerti kenapa Stefan tidak mau membawanya ke Amerika untuk menemui mereka.
“Bukankah selama kita menikah kamu juga belum membawaku ke makam papah kamu untuk berziarah?”
Stefan menahan napasnya sejenak. Nada bicara Hana sudah mulai meninggi yang artinya emosi wanita itu mulai tidak terkontrol.
“Oke, baiklah. Kita akan kesana. Tapi setelah kita memeriksakan kandungan kamu dan menanyakan pada dokter apakah aman untuk kamu pergi atau tidak.” Ujar Stefan memilih mengalah.
Hana langsung tersenyum mendengarnya. Wanita itu kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Stefan katakan. Karena meskipun Hana sangat penasaran ingin bertemu dengan keluarga Stefan yang ada di Amerika yaitu tante, om, juga sepupu Stefan, Hana juga tidak akan egois dengan tidak memikirkan keadaan janin dalam kandungan-nya.
Tidak lama kemudian mobil Stefan sampai didepan parkiran rumah sakit yang begitu megah. Hana yang turun dari mobil juga tampak terkejut karena Stefan membawanya kerumah sakit yang berbeda dari rumah sakit tempat Angel di rawat saat kecelakaan. Rumah sakit itu jauh lebih megah.
__ADS_1
“Ayo...” Ajak Stefan menggandeng tangan Hana dan mengajaknya masuk kedalam rumah sakit tersebut.