
Begitu mendengar kabar tentang Hana yang di operasi di Amerika dari saudara iparnya, Sera langsung menghubungi Rico sore itu juga. Sera meminta pada orang kepercayaan Stefan itu untuk menyiapkan jet pribadi yang akan segera membawanya juga Angel terbang ke Amerika. Karena tidak ingin sesuatu terjadi pada Sera dan Angel, Rico pun mengutus orang untuk menjaga dan memastikan keamanan keduanya selama dalam perjalanan.
----------
Sementara itu di tempat lain tepatnya di depan warung sembako pak Ang, Alan menghentikan motornya. Pria itu mengeryit ketika tidak mendapati Tristan dan Amira disana. Padahal sekarang belum waktunya Amira pulang dari toko sembako itu. Dan biasanya, Tristan juga Amira pasti sedang belajar jika Alan menghampiri.
“Kok berhenti sih kak? Kenapa?” Tanya Aisha yang berada di boncengan Alan.
“Oh, enggak. Nggak papa dek.” Jawab Alan.
Alan kemudian kembali melajukan motornya menuju jalan pulang. Alan yakin ibunya pasti sudah menunggu Aisha yang baru saja pulang setelah les.
Begitu sampai di rumah, Aisha juga Alan langsung menyalimi ibu yang sedang duduk sendiri di ruang tamu.
“Langsung bersih bersih ya nak.. Udah sore..” Senyum ibu pada Aisha.
“Ya bu.. Ya udah Aisha masuk yah..”
“Hem..” Angguk ibu dengan senyuman manisnya.
Alan yang memperhatikan gerak gerik ibunya tampak bingung. Meski ibunya bersikap begitu lembut dan penuh perhatian pada Aisha, namun itu tetap tidak bisa menutupi ekspresi tidak biasanya.
“Ibu kenapa? Ibu sakit?” Tanya Alan perhatian setelah Aisha berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
Ibu menghela napas kemudian menatap Alan yang duduk di sofa tunggal di samping sofa panjang yang ibu duduki. Wanita itu tau bagaimana perasaan Alan dulu pada Hana. Dan dia tidak ingin membuat Alan kembali teringat akan kasihnya yang tidak sampai pada Hana.
“Ibu nggak papa nak..” Jawabnya.
Alan tersenyum simpul. Alan tau bagaimana ibunya. Dan dari ekspresi ibunya Alan bisa menebak bahwa wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
“Ibu mungkin bisa bilang enggak papa sama Aisha, karena dia masih kecil. Tapi sama aku sama Amira, ibu nggak akan bisa bohong. Cerita sama aku bu, jangan di pendam sendiri kalau ada yang sedang ibu pikirin. Aku nggak mau ibu sakit lagi kaya dulu.” Ujar Alan dengan penuh perhatian menatap ibu.
Ibu menatap tepat pada kedua mata Alan. Putra sulungnya menatapnya dengan kedua matanya yang begitu teduh. Tatapan penuh perhatian yang dulu juga selalu ibu dapatkan dari mendiang suami tercintanya, Ayah dari Alan, Amira, dan Aisha.
Ibu menghela napas pelan kemudian menundukkan kepalanya menghindari tatapan Alan. Wanita itu memainkan cincin pernikahan peninggalan mendiang suaminya. Ibu bingung harus bagaimana memulai mencurahkan rasa tidak enak pada hatinya karena terus memikirkan Hana.
“Bu..” Panggil Alan membuat ibu kembali menatapnya.
Senyuman lembut yang menghiasi bibir Alan seketika sirna mendengar apa yang di katakan ibunya. Alan tidak menyangka jika ibunya sedang kepikiran pada sosok Hana.
“Ibu minta maaf. Ibu tidak bermaksud mengingatkan kamu pada Hana nak. Tapi ibu beneran enggak bohong. Ibu khawatir sama keadaan Hana sekarang.” Lanjut ibu menatap Alan berharap putranya bisa paham dan mengerti dengan maksudnya.
Alan menghela napas pelan. Jika sampai saat ini perasaan itu masih ada untuk Hana mungkin Alan akan merasa sangat sedih. Tapi sekarang tidak. Alan sama sekali tidak merasakan apa apa pada hatinya. Alan hanya terkejut karena tiba tiba ibunya menyinggung tentang Hana.
“Ibu minta maaf Alan..” Lirih ibu menatap Alan dengan kedua mata berkaca kaca. Ibu merasa sangat bersalah karena sudah membuat Alan kembali mengingat Hana. Wanita yang tidak bisa Alan raih meski cintanya begitu besar.
“Enggak papa kok bu.. Aku paham kalau ibu khawatir sama Hana. Aku juga tau ibu sangat menyayangi Hana. Apa lagi Hana juga sudah sangat berjasa di keluarga kita. Hana mempermudah apa yang sekarang kita jalani. Aku juga berhutang nyawa sama Hana.” Ujar Alan dengan tenang. Sedikitpun Alan tidak merasakan apapun di hatinya. Alan merasa biasa saja.
__ADS_1
“Aku juga sempat kepikiran Hana bu. Dan aku meminta pada dokter Rania untuk menemani aku kerumah Stefan Devandra. Itu aku lakukan supaya Stefan tidak salah memahami maksudku. Tapi begitu sampai disana aku dan dokter Rania hanya bertemu dengan nyonya Sera, mamahnya Stefan. Nyonya Sera bilang kalau Stefan dan Hana sedang pergi ke Amerika. Itu artinya Hana baik baik saja bu.. Kita nggak perlu mengkhawatirkan Hana. Dia pasti akan selalu bahagia dan baik baik saja bersama Stefan Devandra. Apa lagi Hana adalah orang yang baik. Tuhan pasti akan selalu menyertai kebaikan pada Hana. Kita do'akan saja yang terbaik.” Senyum Alan panjang lebar.
Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju. Meski sudah mendengar bahwa Hana sedang berlibur bersama Stefan di Amerika, namun wanita itu tetap belum bisa menghilangkan rasa khawatir yang menguasai hatinya terhadap Hana. Rasanya wanita itu ingin sekali memastikan sendiri bahwa Hana memang baik baik saja sekarang.
“Ya udah bu kalau begitu aku ke kamar yah.. Pokonya ibu tenang aja. Ibu juga nggak perlu khawatir. Hana pasti akan baik baik saja sama Stefan Devandra.” Senyum Alan berkata lagi.
“Ya nak..” Angguk ibu tersenyum membalasnya.
Alan kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar meninggalkan ibu yang tetap duduk di tempatnya. Alan ingin sekali bertanya pada ibunya apakah Amira sudah pulang atau belum kerumah karena Alan tidak mendapati Amira di tempat kerjanya di toko pak Ang. Namun melihat ibunya yang seperti sedang bimbang Alan pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Alan yakin Amira pasti sedang bersama Tristan sekarang. Lagi pula Alan juga tidak mau membuat ibunya khawatir.
Alan menutup pelan pintu kamarnya kemudian meletakan tas ranselnya diatas ranjang. Pria itu merogoh saku celana bahan warna hitamnya meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi adiknya Amira guna menanyakan sedang berada dimana gadis cantik itu sekarang.
Tidak menunggu lama Amira langsung mengangkat telepon dari Alan.
“Halo Amira, kamu dimana sekarang? kenapa tadi nggak ada di warung sembako pak Ang?” Tanya Alan begitu Amira mengangkat telepon darinya.
“Ah ya kak.. Tentang itu nanti aku akan jelaskan. Untuk sekarang aku sedang bersama Tristan. Kami hanya jalan jalan sebentar. Aku janji nggak akan pulang malam malam.”
Alan menghela napas pelan. Jika sekarang dirinya menuntut untuk Amira pulang, gadis itu pasti akan marah padanya mengingat bagaimana keras kepalanya seorang Amira.
“Ya sudah kalau begitu. Usahakan pulang sebelum waktu makan malam tiba.” Ujar Alan akhirnya.
“Ya kak...” Balas Amira dari seberang telepon.
__ADS_1
Setelah itu Alan langsung menyudahi telepon-nya. Alan tidak ingin mengganggu Amira dan Tristan yang sedang bersama.