ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 64


__ADS_3

Stefan masuk kedalam ruangan-nya setelah bertemu dengan rekan bisnisnya untuk membahas tentang kerja sama antar perusahaan yang mereka jalin. Pria tampan itu mendudukkan dirinya dikursi kerjanya kemudian meraih ponselnya yang memang sengaja Stefan tinggalkan dimeja kerjanya agar tidak mengganggunya saat Stefan sedang berdiskusi tentang bisnis dengan rekan kerjanya tersebut.


Stefan mengeryit ketika mendapati banyak notifikasi panggilan tidak terjawab dari dokter Rania. Karena penasaran, pria tampan itu segera menghubungi balik dokter cantik itu.


“Ada apa Rania?” Tanya Stefan begitu dokter Rania mengangkat telepon darinya.


“Halo Stefan. Maaf kalau teleponku tadi mengganggumu.” Saut dokter Rania dari seberang telepon.


“Ada apa?” Tanya Stefan menuntut dengan rasa ingin tahunya yang begitu besar.


“Alan Stefan. Dia sadar. Dia membuka kedua matanya.”


DEG


Jantung Stefan terasa berhenti berdetak sesaat begitu mendengar kabar baik tentang kondisi Alan. Tiba tiba bayangan Alan membawa pergi Hana darinya kembali melintas di pandangan-nya. Padahal baru saja Stefan berniat membuka lembaran baru dengan Hana dengan mencoba menerima kehadiran Angel di hidupnya. Namun tiba tiba Alan membuka kedua matanya yang berarti pria itu cepat atau lambat pasti akan menemui Hana. Stefan khawatir pemikiran Hana berubah begitu melihat Alan. Stefan khawatir Hana akan lebih memilih Alan dari pada dirinya.


“Halo, Stefan.”


Stefan menghela napas kasar saat dokter Rania memanggilnya.


“Apa dia sudah bisa bangun dan benar benar sehat seperti semula Rania?”


Pertanyaan Stefan mengundang gelak tawa dokter Rania. Dokter cantik itu merasa geli dengan pertanyaan bodoh yang di lontarkan Stefan padanya.


“Stefan, kamu memang tidak pernah mempelajari ilmu kedokteran. Tapi aku yakin kamu tidak sebodoh itu. Bagaimana mungkin seorang yang baru sadar dari koma bisa dengan cepat begitu pulih.”


“Lalu?” Tanya Stefan tidak perduli dengan dokter Rania yang menertawakan-nya.


“Hei Stefan Devandra yang bodoh. Alan tentu saja belum bisa melakukan apa apa. Dia belum bisa mengendarai motornya lagi, ah maksudku belum bisa membenarkan motornya lagi. Dia masih tetap berbaring hanya saja kedua matanya sudah terbuka. Aku sempat berpikir untuk memberitahu Hana. Tapi setelah aku berpikir lagi mungkin akan lebih baik jika kamu yang memberitahu dia saja.”

__ADS_1


Stefan menghela napas merasa lega mendengarnya. Setidaknya Alan tidak akan langsung datang dan membawa Hana pergi darinya.


“Baiklah kalau begitu. Rania, tolong jangan biarkan mereka mendatangi Hana. Aku yang akan mengatakan sendiri pada Hana nanti.” Ujar Stefan meminta.


“Hem.. Aku tidak janji bisa menahan mereka Stefan. Tapi aku akan berusaha memberi pengertian.”


“Ya.. Terimakasih.”


Stefan memutuskan sambungan telepon-nya setelah itu. Stefan berdecak pelan dan memejamkan kedua matanya. Hubungan-nya dan Hana baru saja akan dimulai. Namun sepertinya itu tidak akan mudah untuk Stefan dan Hana lalui karena ada Alan diantara mereka.


Ponsel Stefan kembali berdering membuat Stefan kembali membuka kedua matanya. Stefan menatap layar ponselnya. Kali ini Hana yang menelepon-nya.


Perlahan seulas senyuman terukir dibibir Stefan. Sore ini Stefan memang sudah berencana menjemput Angel dengan Hana. Stefan bahkan sudah menyelesaikan semua pekerjaan-nya dan menyerahkan sisanya pada Rico, asisten yang paling dia percaya dari siapapun.


“Ya Hana...” Senyum Stefan yang entah kenapa pemikiran buruknya tentang hadirnya Alan langsung sirna begitu saja dari pikiran-nya begitu mengangkat telepon dari Hana.


“Stefan. Sebentar lagi Angel keluar dari area sekolahnya.” Protes Hana karena Stefan yang tidak kunjung pulang untuk menjemputnya.


Stefan langsung menutup telepon kemudian beranjak dari tempatnya duduk. Stefan melangkah cepat keluar dari ruangan-nya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan-nya menyapa dengan ramah yang hanya di balas dengan anggukan pelan kepala saja oleh Stefan.


Dengan kecepatan full Stefan melajukan mobilnya. Pria itu tidak ingin sampai membuat Hana kesal karena menunggunya terlalu lama.


Dan Stefan benar benar membuktikan ucapan-nya. Pria itu sampai tepat dihalaman rumahnya 10 menit setelah menutup telepon dari Hana.


Stefan tersenyum melihat Hana yang baru keluar dari rumah. Wanita itu mengenakan dress warna toska simpel yang memperlihatkan lekuk tubuh rampingnya. Dress toska itu membuat Stefan tidak bisa memalingkan tatapan-nya. Ditambah dengan rambut panjang yang tidak Hana ikat kali ini.


Stefan merasa sore ini Hana sengaja mempercantik dirinya.


“Apa itu untukku?” Gumam Stefan menatap Hana dari dalam mobil.

__ADS_1


Saat Hana masuk dan duduk disampingnya Stefan berusaha untuk bersikap biasa saja. Pria itu tetap memperlihatkan ekspresi datarnya didepan Hana.


“Kamu benar benar sampai dalam waktu 10 menit Stefan. Itu sangat hebat.” Ujar Hana dengan senyuman dibibirnya.


Hana memang belum pernah ke perusahaan Stefan sehingga Hana berpikir mungkin jarak dari rumah ke perusahaan memang cukup dekat.


“Kita jalan sekarang ya..”


Hana berdecak kesal. Stefan masih saja ber ekspresi begitu datar padanya. Padahal Hana sengaja berdandan secantik mungkin agar Stefan mau menatapnya. Hana bahkan berharap Stefan memujinya. Tapi nyatanya Stefan tetap saja datar dan tidak perduli dengan penampilan-nya.


Stefan mulai melajukan mobilnya berlalu dari kediaman-nya untuk menjemput Angel. Stefan tidak tau apakah dirinya bisa berada dekat dengan gadis kecil itu lama lama atau tidak. Namun Stefan akan berusaha karena Stefan juga tidak ingin terus menyakiti Angel yang tidak berdosa itu.


Dalam perjalanan menuju sekolah Angel Stefan beberapa kali melirik penampilan Hana. Stefan tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Hana memang terlihat sempurna dengan penampilan-nya yang sekarang. Namun Stefan tiba tiba merasa Hana tidak seharusnya mengenakan pakaian yang begitu mengekspos bentuk tubuhnya apa lagi mereka akan pergi keluar rumah.


“Apaan sih pake baju begitu? Kamu pikir kamu cantik dengan baju seperti itu?”


Kedua mata Hana membulat dengan sempurna mendengar apa yang Stefan katakan. Hana menoleh cepat menatap tidak menyangka pada Stefan yang malah menghinanya, bukan memujinya.


“Apa kamu bilang Stefan?” Tanya Hana dengan tangan mengepal merasa kesal.


“Nanti nggak usah turun. Biar aku aja yang turun dari mobil.” Kata Stefan mengabaikan pertanyaan kesal Hana.


“Apaan sih? Kenapa kamu jadi ngelarang ngelarang aku?”


“Aku nggak mau tau. Pokonya kamu nggak boleh lagi pake baju seperti itu. Nggak pantes tau nggak.” Tegas Stefan enggan menjawab pertanyaan Hana.


Hana ingin sekali mengunyel wajah datar Stefan saking kesalnya. Hana sudah capek berdandan demi mendapat pujian pria itu tapi yang dia dapat malah hinaan dan larangan tidak beralasan Stefan. Padahal jelas jelas yang menyiapkan semua baju baju di dalam lemari adalah pelayan yang pasti diperintah oleh Stefan. Hana juga yakin baju yang sekarang dikenakan-nya juga adalah pilihan Stefan yang secara langsung membelinya sendiri.


“Kenapa sih kamu itu nyebelin-nya selangit Stefan?” Geram Hana.

__ADS_1


Stefan tetap diam dengan tenang tidak berniat menjawab apapun pertanyaan Hana. Pria itu justru menambah kecepatan laju mobilnya agar mereka cepat sampai di sekolah Angel.


__ADS_2