ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 28


__ADS_3

Hana membuka pelan pintu ruang kerja Stefan. Malam sudah larut namun Stefan belum juga masuk kedalam kamar mereka membuat Hana akhirnya menyusul Stefan ke ruang kerjanya.


Ya, setelah ajakan Sera untuk berziarah di meja makan tadi Stefan memang langsung mengurung dirinya di ruang kerjanya.


Mendengar bunyi pintu yang dibuka, Stefan pun menggerakkan bola mata coklat beningnya melirik Hana sekilas kemudian fokus kembali dengan berkas yang sedang dibacanya.


Hana menggigit bibir bawahnya melihat Stefan yang begitu fokus dengan bacaan-nya. Saat ini Stefan benar benar memancarkan aura dingin yang bahkan sampai membuat Hana bingung sendiri.


“Eemm.. Ini sudah malam Stefan.” Ujar Hana tergagap.


Hana sebenarnya berniat membicarakan kembali apa yang sudah Sera katakan pada Stefan. Dan itu Hana lakukan demi Angel.


Stefan tidak menyaut. Pria itu tetap fokus pada bacaan-nya enggan menanggapi Hana.


Hana menghela napas kemudian pelan pelan mendekati meja kerja Stefan dimana pria itu sedang duduk dengan menyenderkan punggung di kursi kerjanya.


“Eemm.. Tentang Angel..”


“Kalau kamu kesini juga untuk membahas tentang permintaan Angel lebih baik kamu keluar sekarang Hana.” Tegas Stefan menyela ucapan Hana.


Hana tersentak. Hana memejamkan kedua matanya. Stefan sepertinya memang sangat sulit di bujuk.


“Tapi ini demi Angel, Stefan.”


Meskipun tau mungkin dirinya tidak akan berhasil, tapi Hana tetap ingin mencoba. Hana tau bagaimana rasanya menjadi Angel. Hidup tanpa kasih sayang dari ibu kandung yang sudah melahirkan-nya bukan luka yang bisa sembuh begitu saja dalam waktu yang sebentar.


“Dia hanya ingin kita sama sama berziarah ke makam Lusi. Tidak salah kan?”


Stefan mengarahkan tatapan tajamnya pada Hana yang berdiri didepan meja kerjanya. Stefan sungguh tidak suka jika ada seorang yang memaksanya apa lagi jika untuk datang ke makam mendiang istri pertamanya.


“Stefan, bukan-nya kamu sangat mencintai Lusi? Dia pasti akan sangat bahagia melihat kamu datang berziarah.. Dan... Yah.. Aku tau melupakan seseorang yang di cintai itu memang tidak mudah. Tapi.. tapi ini demi Angel.”


Dengan terbata bata Hana mencoba menyampaikan maksud hatinya. Meskipun tatapan tajam Stefan seakan sedang mengulitinya.


“Aku tidak bermaksud menggurui kamu Stefan. Tapi Angel.. Bagaimanapun juga dia putri kamu terlepas apa yang sudah terjadi..”


Stefan mengangkat sebelah alisnya menatap Hana kemudian pelan pelan bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat pada Hana.


Stefan berdiri menjulang didepan Hana yang memang tingginya hanya sebatas bahu tegap nya. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Hana membuat jantung Hana langsung bekerja dua kali lebih cepat dari normalnya.


“Sefan aku... Aku cuma..” Kali ini Hana tidak bisa meneruskan ucapan-nya. Tatapan tajam Stefan membuat apa yang sudah Hana pikirkan hilang begitu saja.

__ADS_1


Stefan semakin mendekatkan wajahnya membuat Hana harus sedikit memundurkan kepalanya karena wajah pria tampan itu yang seolah ingin menyeruduknya.


“Sudah selesai ngomongnya?” Tanya Stefan dengan nada dingin-nya.


Hana menelan ludah. Aura dingin Stefan begitu terasa membuat bulu kuduknya sampai berdiri. Hana benar benar bingung harus bagaimana sekarang. Wajah Stefan terlalu dekat dengan wajahnya.


“Hana dengar. Apapun yang kamu katakan, itu tidak akan merubah pemikiran aku. Kalau kamu dan mamah mau menemani Angel ke makam dia, silahkan. Tapi jangan berharap aku mau ikut dengan kalian. Kamu mengerti?”


Bibir Hana terbuka. Hana memberanikan diri membalas tatapan tajam Stefan. Dan entah kenapa Hana merasa ada sesuatu yang sedang Stefan sembunyikan dari tatapan tajam mata coklat beningnya.


“Tapi Angel..”


“Aku tidak perduli. Dan jangan paksa aku.” Sela Stefan dengan penuh penekanan.


Hana bungkam. Hana memang tidak punya kekuatan untuk memaksa Stefan. Tapi Hana juga tidak tega melihat Angel yang begitu sedih karena penolakan Stefan di meja makan tadi.


Karena tidak ada sautan dari Hana, Stefan pun menjauhkan wajahnya namun masih berdiri menjulang didepan istri kecilnya itu.


Hana menundukkan kepalanya sesaat. Kedua matanya terpejam mencoba untuk kembali mengumpulkan keberanian-nya.


Sementara Stefan, pria itu masih menunggu apa lagi yang akan Hana katakan padanya. Stefan ingin melihat seberapa besar usaha Hana membujuknya agar mau sama sama berziarah ke makam Lusi.


“Stefan mungkin kamu memang sedang berusaha melupakan Lusi yang begitu sangat kamu cintai. Tapi bukan begini caranya Stefan. Apa lagi Angel.. Dia sangat membutuhkan kamu dan perhatian kamu sebagai daddy nya.”


Stefan mengangkat sebelah alisnya menatap Hana yang berbicara seolah tau segalanya tentang Stefan dan Lusi.


“Kamu tidak tau apa apa tentang aku dan masa laluku Hana. Jangan sok tau.”


“Enggak. Aku tau Stefan. Aku tau semuanya dari mamah. Aku tau kamu sangat mencintai Lusi. Aku juga tau kamu tidak bisa melupakan Lusi.” Geleng Hana.


Stefan tersenyum sinis. Segala beban dan luka di hatinya tidak ada seorang pun yang tau termasuk Sera, mamahnya sendiri. Stefan sengaja menutupi semua itu karena Stefan sendiri tidak ingin ada satupun orang yang mengungkit tentang Lusi dan selingkuhan-nya itu.


“Semuanya tidak semudah itu Hana. Kalian tidak akan mengerti apa yang aku rasakan.”


Hana mengerjapkan kedua matanya. Stefan masih berusaha menghindar dengan berbagai alasan yang tidak Hana mengerti.


Hana tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat di cintai. Tapi menurut Hana cara Stefan sangat salah. Stefan menghindar dari segala sesuatu tentang Lusi bahkan sampai tega mengabaikan putrinya sendiri.


“Kamu egois Stefan.”


Membayangkan posisi Angel sekarang entah kenapa hati Hana berdenyut ngilu. Kedua matanya memanas bahkan pandangan-nya sedikit mengabur pada Stefan.

__ADS_1


“Kamu nggak tau bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua. Aku pernah merasakan itu. Aku nggak mau Angel juga sampai merasakan apa yang aku rasakan. Apa lagi Angel masih punya kamu yang harusnya bisa memposisikan diri kamu sebaik baiknya sebagai daddy nya. Kamu jahat. Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri.”


Tangis Hana pecah. Wanita itu merasakan sakit yang amat sangat dihatinya karena sikap dingin dan abai Stefan pada Angel, putrinya sendiri.


Stefan melengos tidak ingin melihat Hana menangis. Namun isak tangis wanita itu sudah terlanjur memenuhi setiap sudut ruang kerjanya membuat Stefan tetap bisa mendengarnya.


“Keluar kamu dari sini Hana.” Usir Stefan mencoba untuk tidak perduli dengan tangisan Hana.


Hana menggeleng.


“Enggak Stefan. Aku akan tetap disini sampai kamu mau pergi bersama berziarah ke makam Lusi. Bahkan kalau memang aku harus bersimpuh di kedua kaki kamu aku nggak keberatan. Aku akan lakukan demi Angel.”


Stefan tersenyum miris. Segala kesakitan itu Stefan pendam sendiri tanpa siapapun tau. Dan setiap melihat Angel tersenyum luka dihatinya terasa perih kembali. Apa lagi jika mengingat siapa Angel sebenarnya.


“Stefan..”


Tanpa bermaksud merendahkan dirinya sendiri Hana bersimpuh didepan Stefan. Anggaplah Hana sedang berjuang demi kasih sayang seorang ayah yang memang seharusnya diberikan pada putrinya sekarang.


Stefan menelan ludah membuat jakun-nya bergerak naik kemudian turun lagi. Stefan tetap berusaha abai meskipun Hana bersimpuh didepan kedua kakinya.


“Demi Angel, aku mohon..” Lirih Hana ditengah isak tangisnya.


Stefan memejamkan kedua matanya. Sekeras apapun hatinya sekarang, ternyata isak tangis Hana membuat pertahanan yang sekian lama Stefan bangun itu melemah.


Stefan menghela napas dan membuka kembali kedua matanya.


“Bangunlah Hana. Jangan merendahkan harga diri kamu sendiri untuk apa yang kamu tidak tau.” Ujar Stefan menunduk menatap Hana yang bersimpuh didepan kedua kakinya.


“Aku akan bangun asal kamu mau kita pergi sama sama.”


Stefan berdecak. Jika dirinya tetap bersikukuh menolak, Hana pasti akan terus berusaha membujuknya. Mungkin juga Hana akan menempel erat di kedua kakinya jika Stefan beranjak.


“Dengan satu syarat.” Ujar Stefan membuat Hana langsung mendongak cepat menatapnya.


“Apapun Stefan. Aku akan penuhi apapun syarat dari kamu.”


Stefan tersenyum miring kemudian menurunkan tubuhnya ikut bersimpuh didepan Hana.


Stefan mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Hana yang basah oleh air mata.


“Berikan aku satu ciuman.” Ujar Stefan lirih.

__ADS_1


__ADS_2