
Suara Hana yang muntah muntah menjelang subuh membuat Stefan terbangun dari tidurnya. Padahal pria itu baru setengah jam memejamkan kedua matanya namun harus kembali terbangun karena mendengar Hana yang muntah muntah di dalam kamar mandi.
Merasa khawatir dengan keadaan istrinya yang terus saja muntah muntah, Stefan pun segera bergegas bangkit dari berbaringnya kemudian turun dari ranjang. Stefan melangkah dan masuk kedalam kamar mandi mendekat pada Hana yang terus saja muntah muntah.
Napas Hana tersengal setelah muntah muntah. Wanita itu membasuh bibirnya kemudian kembali menegakan tubuhnya yang mendadak melemas.
“Apa perlu kita ke dokter?” Tanya Stefan pada Hana.
Hana tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Stefan. Muntah muntah menjelang pagi memang sudah menjadi kebiasaan-nya.
“Aku nggak papa kok..”
Stefan menatap Hana sendu. Tidak tega sebenarnya setiap kali melihat istrinya muntah muntah. Tapi Stefan juga tidak bisa melakukan apa apa karena memang morning sickness adalah hal yang wajar di alami oleh wanita yang sedang hamil.
Stefan kemudian membopong tubuh Hana yang melemas. Pria itu membawa Hana keluar dari kamar mandi dan kembali membaringkan-nya diatas tempat tidur mereka.
“Aku akan panggil pelayan untuk membuatkan teh hangat.” Ujar Stefan.
Ketika Stefan hendak meraih ponselnya, Hana langsung mencegah pergerakan-nya dengan meraih tangan besar Stefan. Dan apa yang Hana lakukan membuat Stefan kembali menatap Hana.
“Kenapa?” Tanya Stefan pelan.
“Aku nggak mau teh hangat. Aku juga nggak mau susu hangat.” Geleng Hana menatap Stefan.
Stefan mengeryit bingung. Sesungguhnya Stefan sedang sangat mengantuk sekarang. Tapi pria itu tidak mungkin kembali memejamkan kedua matanya untuk tidur sementara Hana saja sedang dalam kondisi yang menurut Stefan tidak baik baik saja.
“Aku mau di peluk aja.” Senyum Hana kemudian.
Stefan ikut tersenyum mendengarnya. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang Hana mau.
Stefan pelan pelan membaringkan tubuhnya disamping Hana kemudian menarik lembut tubuh istrinya kedalam pelukan-nya. Stefan juga mengecup beberapa kali kening Hana sebelum akhirnya kembali memejamkan kedua matanya dengan tangan yang terus aktif mengusap usap lengan Hana.
Sementara Hana, dia tersenyum dalam pelukan hangat Stefan. Entah kenapa Hana merasa sangat nyaman berada dalam pelukan pria itu. Hana juga merasakan seperti mendapatkan kembali energinya yang sempat terkuras karena muntah muntah tadi.
__ADS_1
Hana mengusap lembut perut ratanya. Janin dalam kandungan-nya seakan membuatnya tidak bisa sedikitpun jauh dari Stefan. Bahkan semua yang Hana mau harus Stefan yang memenuhinya. Apa lagi Stefan juga selalu menjadi sasaran utama saat Hana marah. Dan heran-nya seorang Stefan Devandra yang terkenal dingin dan kejam itu bisa sangat sabar menghadapinya.
“Jangan terlalu menyiksa daddy ya sayang.. Mommy nggak tega.” Batin Hana terus mengusap lembut perut ratanya.
Membuat Stefan kewalahan bukanlah keinginan Hana yang sebenarnya. Tapi entah kenapa sedikit saja emosi Hana tersulut kekejaman tiba tiba muncul begitu saja. Hana seolah tidak perduli dengan apapun dan hanya perduli dengan dirinya sendiri.
Perlahan Hana kembali merasakan kantuknya hingga akhirnya Hana terlelap kembali dalam pelukan hangat dan nyaman suaminya.
Tok tok tok
Stefan mengeryit. Rasanya baru lima menit Stefan memejamkan kedua matanya namun harus kembali terbangun karena suara pintu yang di ketuk.
Tok tok tok
Suara itu kembali terdengar membuat rahang Stefan mengeras. Stefan kemudian membuka kedua matanya dengan sangat terpaksa. Pria itu menghela napas kasar kemudian bangkit dari berbaringnya.
Stefan menoleh menatap Hana yang sudah lepas dari pelukan-nya. Wanita itu tertidur dengan posisi memunggunginya.
Tok tok tok
Stefan melangkah menuju pintu kemudian membukanya dengan sesekali menguap karena masih mengantuk.
“Selamat pagi daddy...” Sapa Angel melihat Stefan muncul dari balik pintu kamarnya.
Stefan berdecak pelan. Angel sudah berdiri didepan-nya dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya.
“Jam berapa sekarang?” Tanya Stefan yang akhirnya sadar bahwa pagi sudah terang.
Angel mengerjapkan beberapa kali kedua matanya menatap bingung pada Stefan yang terlihat gelagapan sendiri.
“Ini sudah jam setengah 7 daddy..” Jawab Angel pelan.
Stefan mendesis. Stefan tidak menyangka waktu tidurnya begitu cepat berlalu. Padahal Stefan masih sangat mengantuk sekarang.
__ADS_1
“Oma juga sudah menunggu daddy dan mommy di meja makan untuk sarapan.” Ujar Angel memberitahu.
“Ya ya.. Sebentar lagi daddy akan turun.” Kata Stefan kemudian kembali menutup pintu kamarnya.
Angel merengut karena itu. Padahal Angel ingin menanyakan tentang Hana pada Stefan karena pagi ini Hana belum juga keluar dari kamarnya bahkan sampai sekarang. Hana juga tidak menemani Angel menatap matahari terbit pagi ini.
Dengan langkah pelan Angel menjauh dari kamar Stefan dan Hana. Gadis kecil itu juga menjadi sangat tidak bersemangat saat menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu dimana Sera sedang menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.
“Angel, kamu kenapa sayang? Mana mommy sama daddy?” Tanya Sera dengan sangat lembut setelah Angel duduk dikursi disampingnya.
“Tadi pas Angel ketuk pintu daddy sama mommy nggak langsung buka pintunya oma. Angel harus mengetuk sampai tiga kali dan daddy baru membuka pintunya.” Cerita Angel pada Sera, omanya.
“Lalu?” Tanya Sera penasaran.
“Sepertinya daddy baru bangun mommy, karena saat membuka pintu daddy seperti masih sangat mengantuk.” Jawab Angel pelan.
Sera mengeryit. Stefan tidak biasanya bangun telat. Bahkan saat pekerjaan begitu menyita waktunya saja Stefan masih tetap bisa disiplin bangun pagi.
“Apa karena aku yang mendiamkan-nya?” Batin Sera bertanya tanya.
Sera memang masih sangat kesal sampai sekarang pada Stefan karena Stefan membohonginya. Sera juga kesal karena Stefan seolah menggunakan uang yang di milikinya untuk sesuatu yang sebenarnya memang harus Stefan lakukan tanpa syarat apapun. Yaitu bertanggung jawab dan mengakui bahwa dirinya lah yang menabrak Alan.
Tidak lama kemudian Stefan muncul dari arah tangga. Pria itu tampak sangat terburu buru dalam melangkah menghampiri Sera dan Angel yang belum sedikitpun menyantap sarapan paginya. Penampilan Stefan juga sudah rapi dengan setelan jas abu abunya.
“Mah aku buru buru sekarang dan tidak bisa mengantar Angel ke sekolah.” Ujar Stefan meraih segelas susu hangat dan menenggaknya sampai habis dengan tetap berdiri.
“Aku berangkat ya mah..” Katanya kemudian berlalu dengan cepat tanpa menatap pada Angel yang kembali merengut.
Sera menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu juga tau Stefan sangat sibuk dengan segala urusan bisnisnya.
Sera juga yakin semalam Stefan pasti tidak bisa tidur karena memikirkan-nya yang mendiamkan-nya sejak Stefan berkata jujur tentang semuanya.
“Maafin mamah Stefan. Bukan mamah tidak mengerti kamu. Tapi apapun alasan-nya kebohongan tetap bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.” Batin Sera sedih.
__ADS_1