
Ditempat lain tepatnya di kediaman Atmaja, Tristan sedang merenung sendiri di jendela kamarnya dengan kepala mendongak menatap langit penuh bintang malam ini. Tangan-nya bergerak perlahan memetik senar gitar yang berada pangkuan-nya. Bayangan Amira yang tersenyum manis padanya terus berada didepan matanya membuat Tristan tidak bisa melupakan sedetik saja sosok cantik Amira yang sudah berhasil menarik perhatian-nya.
“Andai saja kamu tau perasaan aku Amira. Aku nggak mau jauh jauhan sama kamu.. Tapi aku juga nggak mau membuat kamu susah apa lagi sampai menderita.” Gumam Tristan pelan.
Tristan menghela napas. Sejak membawa Putri dan mengenalkan-nya pada sang kakak Tristan memang sudah tidak lagi dekat dengan Amira. Tristan sengaja menjauh meskipun sebenarnya Tristan selalu memperhatikan Amira tanpa Amira ketahui. Dan lewat dua teman-nya Joshua dan Edo Tristan berusaha menjaga Amira.
Tristan tidak ingin sedikitpun semua itu terjadi pada hubungan-nya dan Amira. Tristan ingin tetap bisa bersama Amira, mengantar dan menemani kemanapun gadis itu mau tanpa sedikitpun ada rasa lelah. Tapi keadaan tidak mendukung Tristan untuk melakukan itu.
“Apa aku harus bayar kakak dulu biar kakak bisa menjadi kakak yang aku mau. Kakak yang tidak selalu menomor satu kan harta dan jabatan. Kakak yang benar benar sayang dan bisa ngertiin perasaan aku.” Ujar Tristan pelan.
Tristan kemudian berdecak. Williana memang selalu memastikan segala yang Tristan butuhkan terpenuhi. Mobil, motor, dan semua fasilitas lain-nya. Tapi Williana tidak pernah sedikitpun bisa mengerti perasaan Tristan yang ingin bisa bebas memilih teman. Williana selalu membatasi itu membuat Tristan merasa kesal dan terkekang. Apa lagi Williana juga tidak segan menyakiti siapa saja yang dekat dengan Tristan jika memang orang itu tidak sepadan dengan keluarganya. Seperti Amira contohnya. Tristan lebih memilih menjauh dari pada harus membuat Amira menderita dan kesusahan karenanya. Karena sebenarnya Amira bukan gadis dari kalangan bawah yang berhasil menarik perhatian Tristan. Tristan pernah menyukai gadis lain dulu saat masih SMP. Namun Tristan harus menelan kekecewaan karena ternyata gadis itu mau menjauh darinya setelah Williana memberikan-nya sejumlah uang setelah membuatnya menderita lebih dulu.
Tristan berdecak pelan. Semua itu tidak murni kesalahan gadis itu. Seharusnya Tristan saat itu langsung tanggap dan menjauh ketika kakaknya mulai beraksi. Dengan begitu Tristan pasti tidak akan merasa kecewa dan sakit hati karena berpikir gadis itu lebih memilih uang dari kakaknya dari pada dirinya.
Tristan memejamkan kedua matanya. Sejak kedua orang tuanya meninggal Tristan memang hanya tinggal dengan kakaknya. Namun Williana begitu sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk memperhatikan-nya. Williana tidak seperti kedua orang tuanya yang begitu baik, lembut, dan penuh perhatian. Orang tua mereka juga tidak pernah memandang sebelah mata pada orang lain. Bagi mereka harta bukanlah segalanya. Tapi sayangnya Tuhan lebih menyayangi keduanya sehingga Tuhan memanggil keduanya dengan cepat.
“Ayah, bunda.. Tristan kangen banget sama kalian. Kak Williana tidak seperti kalian berdua. Kakak selalu mengekang Tristan. Kakak bahkan menjauhkan orang orang yang sayang sama Tristan dengan uang.” Tristan memejamkan kedua matanya. Rasa rindu pada kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun terobati meski Tristan sudah datang berziarah ke makam keduanya. Karena Tristan ingin bisa memeluk keduanya kembali, bukan sekedar mendatangi kemudian berdo'a didepan pusara kedua orang tuanya.
“Kenapa kamu belum tidur Tristan?”
Tristan kembali membuka kedua matanya saat mendengar suara Williana. Tristan langsung bangkit dan turun dari duduknya di jendela.
__ADS_1
“Kakak kok masuk sih? Kan pintunya sudah Tristan kunci. Nggak sopan bnget.” Sungut Tristan merasa kesal karena sang kakak menerobos masuk begitu saja kedalam kamarnya padahal Tristan sudah menguncinya dari dalam.
Williana menghela napas kasar. Wanita itu baru saja pulang dari pekerjaan-nya. Williana bahkan belum membersihkan dirinya dan memilih untuk lebih dulu mengecek keadaan adik bungsunya.
“Kakak sudah panggil kamu berkali kali dari luar Tristan. Tapi kamu tidak menyaut.” Ujar Williana melipat kedua tangan-nya dibawah dada.
Tristan berdecak pelan. Jika memang Williana bisa berpikir positif terhadapnya, bisa saja dia berpikir Tristan sudah tidur dan tidak perlu lagi menerobos masuk kedalam kamarnya.
“Kakak lihat kamu dari depan gerbang Tristan.” Lanjut Williana.
Tristan mendesis. Pantas saja Williana tau dirinya belum tidur. Ternyata karena Williana melihatnya sedang duduk di jendela dari gerbang rumah mereka.
Kedua mata Tristan mendelik mendengar apa yang Williana katakan. Tristan tidak berpikir jika kakak nya itu akan tetap mencari tahu siapa sosok yang dekat dengan-nya.
“Maksud kakak apa?” Tanya Tristan pura pura tidak tau apa apa.
“Aku memang dari awal dekatnya sama Putri kok. Ya, nggak deket banget memang.” Lanjut Tristan beralasan.
Tristan sudah sangat takut sekarang. Tristan takut Williana akan menyakiti Amira.
“Jangan pernah kamu berpikir untuk membohongi kakak Tristan. Putri bukan gadis itu bukan?”
__ADS_1
Tristan menelan ludah. Kakaknya memang tidak mudah untuk di bohongi.
“Ingat baik baik Tristan. Jangan kamu dekat dekat dengan anak miskin itu lagi atau kakak yang akan bertindak. Kamu tau siapa dan bagaimana kakak bukan?”
Tristan hanya diam dengan genggaman tangan-nya yang semakin mengerat pada ganggang gitar yang sedang di pegangnya. Tristan sudah berusaha menutupi semuanya dengan mengenalkan Putri pada Williana. Tapi nyatanya Williana tetap saja tau bahwa sebenarnya bukan Putri gadis yang membuat Tristan tertarik.
“Sudah malam, lebih baik sekarang kamu tidur Tristan. Satu lagi, kamu lebih cocok sama Putri dari pada dengan gadis bernama Amira itu. Putri jelas asal usul dan bibit bobotnya. Tidak seperti Amira yang bahkan untuk membayar biaya sekolah saja susah.”
Tristan melengos. Harta selalu yang paling utama untuk Williana. Tristan yakin Williana bahkan tidak pernah tau apa yang bisa membuat Tristan bahagia.
“Kak, harta bukan segalanya. Harta nggak bisa dibawa mati.” Ujar Tristan berani.
Williana tertawa pelan mendengarnya. Tristan bahkan berbicara tanpa mau menatapnya.
“Ya, memang tidak pernah ada orang mati membawa harta Tristan. Tapi kita ini masih hidup. Dan didalam kehidupan ini apa apa harus dengan uang Tristan.” Balas Williana dengan tenang.
Tristan tidak bisa lagi menjawab. Dalam kehidupan keras ibu kota, uang memang adalah pemeran utama.
“Intinya kakak nggak mau tau. Jauhi gadis itu maka gadis itu akan aman Tristan. Tapi jika kamu tetap keras kepala dan tidak mau mendengarkan kakak, kamu akan tau sendiri akibatnya.” Senyum Williana tenang.
Setelah berkata demikian Williana berlalu keluar dari kamar Tristan. Sedangkan Tristan, dia berteriak marah dan memukulkan gitarnya ke tembok saking kesalnya.
__ADS_1