ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 136


__ADS_3

Amira terus menangis meskipun sekarang Tristan sudah mengajaknya ke taman. Sedangkan Edo dan Joshua, tentu saja Tristan tidak membiarkan-nya lepas begitu saja.


Tristan menyuruh keduanya untuk ikut ke taman dan duduk didepan-nya dan Amira yang masih juga belum mau menjawab pertanyaan Tristan tentang kenapa Amira tiba tiba menangis begitu melihatnya.


“Tan, kayanya Amira malu deh gara gara aku sama Joshua masih disini. Mungkin dia bakal berhenti nangis terus jawab pertanyaan kamu kalau aku sama Joshua pergi. Ya nggak Jo?” Ujar Edo yang kemudian meminta persetujuan dari Joshua.


“Iya bener banget itu. Jadi mendingan kita berdua pulang dulu aja gimana?”


Tristan melirik kesal pada dua sahabatnya itu. Tristan bukan tidak percaya pada keduanya. Tristan sendiri yakin tidak mungkin Edo dan Joshua menyakiti Amira. Jelas jelas Tristan sudah menyuruh keduanya untuk terus menjaga dan memastikan keamanan untuk Amira.


“Nggak bisa. Kalian berdua harus tetap disini sampai Amira mau jawab pertanyaan aku.” Tegas Tristan.


Joshua dan Edo meringis nelangsa. Rasanya keduanya ingin menangis karena Tristan melarangnya untuk pulang dan tetap menyuruh untuk stay di tempatnya.


“Tapi Tan, Aku sedang disuruh buat beli makanan kucing sama mamah aku. Apa lagi makanan-nya udah benar benar habis. Kan kasihan kalau sampai kucing kucing aku kelaparan.. Jadi..”


“Aku bilang enggak ya enggak. Pokoknya aku nggak mau tau, kalian berdua harus tetap disini.” Sela Tristan dengan tegas.


Edo menggigit jarinya merasa gemas sendiri. Rasanya Edo ingin sekali berteriak didepan Amira menyuruh gadis itu untuk berbicara bahwa dirinya dan Joshua tidak melakukan apa apa.


“Udah lah Do.. Percuma mau alasan bagaimanapun juga Tristan nggak bakal ngizinin kita balik..” Bisik Joshua nelangsa.


Tristan menghela napas kemudian menatap lagi pada Amira yang masih terus menangis dan menutup wajah dengan kedua tangan-nya. Tristan tidak mau Amira sampai meneteskan air mata sebenarnya. Tapi Tristan juga tidak bisa mencegah Amira menangis. Sedang saat melihatnya saja Amira langsung menangis dan menutup wajah dengan kedua tangan-nya.


Tristan dan kedua sahabatnya terus menunggu Amira sampai berhenti menangis. Edo dan Joshua bahkan sampai tertidur karena terlalu lama menunggu.

__ADS_1


“Sudah ya nangisnya.. Aku nggak mau lihat kamu seperti ini Amira..” Ujar Tristan pelan.


Amira hanya menganggukkan kepala dengan sesekali mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya. Bahkan isakan-nya masih menyisa meskipun Amira sudah tidak lagi menangis.


“Jadi.. Kenapa kamu tadi tiba tiba menangis?” Tanya Tristan kemudian.


Amira menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Amira menangis karena cerita Edo dan Joshua sebenarnya. Ditambah dengan kemunculan Tristan yang begitu tiba tiba. Padahal Amira, Edo juga Joshua sudah memutari tempat itu sampai dua kali namun mereka tidak kunjung menemukan Tristan.


Amira menoleh menatap Tristan yang duduk disampingnya. Gadis itu kemudian tersenyum. Kini Amira sudah mengetahui semuanya termasuk alasan Tristan mengajak Putri pulang bersama siang itu.


“Kamu sudah makan?” Tanya Amira membuat Tristan mengeryit bingung namu tetap menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Aku nggak punya uang. Jadi nggak bisa beli makanan.” Ujar Tristan menjawab.


Amira menggelengkan kepalanya kemudian mencubit lengan Tristan merasa gemas.


“Rasain. Kamu pantes di cubit.” Jawab Amira mendelik menatap Tristan.


“Kok...”


“Lagian kamu itu ngapain coba pake kabur kaburan segala dari rumah. Udah nggak bawa handphone. Nggak bawa motor. Lah ini nggak bawa uang juga. Kamu pasti belum makan kan dari pagi hari ini. Terus tadi malem kamu tidur dimana?” Amuk Amira.


Tristan berdecak kemudian menghela napasnya pelan.


“Kamu tau nggak sih Amira, aku itu pergi dari rumah sebagai bentuk protes aku karena apa yang kakak aku lakukan sama kamu tau nggak? Aku nggak mau di larang dekat sama kamu. Makanya aku terpaksa berani beraniin pergi dari rumah tanpa membawa apa apa seperti apa yang kakak aku mau. Harusnya kamu kasihan, kamu iba sama aku bukan malah di cubitin begini.”

__ADS_1


Tristan mengatakan-nya dengan bibir tipisnya yang sedikit mengerucut. Pemuda tampan dengan jaket coklat susu serta ransel hitam yang di gendongnya itu memang melakukan semua itu untuk Amira. Tristan ingin bisa dekat dengan Amira tanpa hambatan apapun dari kakaknya Williana.


Amira meraih tangan Tristan dan menggenggamnya lembut. Gadis itu kemudian tersenyum pada Tristan yang kembali menatapnya karena sentuhan lembut Amira di tangan-nya.


“Tristan, kamu nggak perlu melakukan apapun untuk kamu. Kamu sudah baik sama aku itu saja udah cukup kok. Kalaupun kakak kamu menganggap aku ini perempuan matre yang mengincar uang kamu aku nggak perduli. Yang penting aku nggak melakukan itu. Aku akan buktiin sama kakak kamu kalau aku ini bukan perempuan yang hanya mengincar uang kamu.”


Tristan tersenyum mendengar apa yang Amira katakan. Tristan kemudian meraih tangan Amira yang menggenggam satu tangan-nya. Tristan berganti menggenggam kedua tangan Amira dengan lembut.


“Jadi kita bisa kembali dekat seperti dulu kan?” Tanya Tristan kemudian.


Amira menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Amira tidak ingin ada seorang pun yang mengaturnya kecuali ibu dan kakaknya. Dan Amira tidak dengan apapun ancaman Williana. Toh niatnya baik hanya ingin berteman dengan Tristan tanpa sedikitpun terbesit dalam hatinya untuk mengakali Tristan.


Tristan tersenyum lebar. Tristan merasa sangat lega juga bahagia karena akhirnya Amira tidak lagi cuek dan jutek kepadanya. Tristan hanya harus berpikir bagaimana cara dirinya meyakinkan kakaknya.


“Jadi lebih baik nanti kamu pulang. Kamu nggak boleh lama lama diluar Tristan. Kamu itu nggak biasa hidup susah. Kan nggak lucu kalau tiba tiba ada gosip si bungsu Atmaja mati di jalan karena kelaparan.” Ujar Amira di sertai candaan.


“Enggak. Aku nggak akan pulang sampai kakak mengizinkan aku buat selalu dekat sama kamu. Aku akan buktiin sama kakak aku kalau aku bisa bertahan tanpa uang yang dia berikan sama aku. Kamu nggak perlu khawatir. Hari ini mungkin aku nggak bisa makan. Tapi besok, besok aku sudah bisa sekolah lagi bahkan bisa beliin kamu minuman dengan uang yang aku punya dan aku hasilkan sendiri dengan jerih payah aku.”


Amira mengeryit penasaran dengan apa yang Tristan katakan.


“Maksud kamu apa?” Tanya Amira tidak mengerti.


“Aku udah dapat kerjaan. Aku juga udah dapat tempat tinggal. Dan aku, aku akan buktikan sama kakak aku kalau aku bukan lagi anak kecil yang bisa di kekang seenaknya.” Senyum Tristan menjawab.


“Kerjaan? Tapi kerjaan apa?” Tanya Amira semakin tidak mengerti.

__ADS_1


“Kuli bangunan.” Senyum Tristan dengan bangganya.


__ADS_2