
Amira terus saja diam saat Tristan mengantarnya pulang untuk mengganti baju sebelum berangkat ke toko. Ucapan Williana benar benar berhasil mengganggu pikiran-nya.
Amira bahkan terus saja diam saat sudah mulai bekerja di toko pak Ang. Tristan yang melihat kediaman kekasihnya merasa yakin bahwa kakaknya Williana pasti mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya karena saat Tristan turun dan menghampiri Amira di ruang tamu, Amira sedang berdiri berhadapan dengan Williana yang menatapnya dengan sangat meremehkan.
Penasaran, Tristan pun menghentikan pekerjaan-nya menata barang barang di toko itu kemudian menghampiri Amira.
“Amira..” Panggil Tristan pada Amira yang sedang diam dengan kedua siku yang bertumpu pada etalase di depan-nya.
Tidak mendapat sautan karena Amira yang terus saja melamun, Tristan pun menepuk pelan pundak kekasih hatinya itu. Dan itu sukses membuat Amira tersentak kemudian menoleh pada Tristan yang sudah berdiri di sampingnya.
“Tristan, ada apa?” Tanya Amira pada Tristan.
“Yang kenapa itu kamu Amira, dari tadi kamu melamun terus.”
Amira langsung tergagap. Gadis itu memang terus memikirkan apa yang Williana katakan padanya tadi.
“Aku.. Aku hanya sedang memikirkan.. tentang rencana kita yang mau menampilkan dansa di acara dua minggu mendatang Tristan.” Senyum Amira sembari mengalihkan pandangan karena tidak ingin Tristan tau bahwa dirinya sedang berbohong sekarang.
Tristan mengeryit kemudian menggelengkan kepalanya. Dari tingkah Amira, Tristan sudah tau bahwa gadis pujaan hatinya sedang membohonginya. Tentu saja karena Amira yang sangat tidak bisa berbohong.
“Hhh.. Kamu tau tidak Amira, berbohong itu bukan sesuatu yang bisa di benarkan apapun alasan-nya.” Kata Tristan yang berhasil membuat Amira diam.
“Ini ada hubungan-nya dengan kakak aku ya? Memangnya dia ngomong apa sama kamu tadi Amira? Kamu jujur aja sama aku. Aku sendiri juga tau bagaimana batunya pemikiran kakak aku.” Tambah Tristan yang sudah bisa menebak dari awal.
Amira menoleh kembali menatap pada Tristan. Gadis itu menelan ludah. Amira tidak ingin terkesan menjelekkan kakak Tristan. Namun Amira juga tidak bisa memendam sendiri apa yang di katakan oleh Williana padanya tentang Tristan yang akan merasa bosan padanya suatu saat nanti. Itu benar benar sangat mengganggu pikiran Amira. Apa lagi Williana juga sudah dua kali mengatakan itu padanya.
__ADS_1
“Amira...” Tristan meraih kedua tangan Amira lalu menggenggamnya dengan lembut.
Amira hanya diam saja. Gadis itu menatap tangan-nya yang di genggam Tristan kemudian beralih menatap Tristan yang terus menatapnya dengan tatapan teduh.
“Aku juga tau bagaimana sikap kakak aku sama kamu. Dan aku minta maaf untuk itu. Kakak ku memang tidak bisa sembarang menyukai seseorang apa lagi kalau orang itu dari kalangan yang menurutnya tidak pantas untuk dia kenal. Tapi Amira, aku harap kamu bisa mengerti. Aku yakin suatu saat nanti kakak aku bisa menyukai dan menyayangi kamu seperti dia menyayangi aku. Aku harap kamu tidak tersinggung dengan ucapan pedas yang di lontarkan oleh kak Williana.”
Amira hanya diam saja. Amira hanya takut apa yang di ucapkan oleh Williana benar benar akan terjadi. Amira takut Tristan merasa bosan kemudian pergi meninggalkan-nya.
“Tristan, kita ini masih kecil. Perjalanan kita masih sangat panjang. Dan kedepan-nya pasti banyak orang orang baru yang akan kita temui. Orang orang yang mungkin akan merubah cara pikir kita. Mungkin orang orang yang bisa membuat kita merasa bosan dengan keadaan.”
Tristan menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Amira katakan. Tristan tidak menyangka Amira akan mengatakan hal seperti itu. Hal yang bahkan tidak pernah sekalipun terbesit di benak Tristan. Karena yang selalu ada di pikiran Tristan adalah ingin selalu mengarungi semuanya bersama dengan Amira.
“Kamu ngomongnya gitu sih Amira? Aku nggak pernah loh mikir sampai begitu. Karena aku selalu yakin perasaan kita tidak akan berubah. Aku selalu bermimpi tentang hari tua bersama kamu Amira. Mungkin ini terlalu lebay, terlalu berlebihan. Tapi Amira, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin selalu sama kamu.”
Amira merasa sangat tersentuh. Ucapan Tristan membuatnya merasa bersalah karena apa yang tadi di ucapkan-nya pada Tristan.
Tanpa sadar Amira meneteskan air matanya. Gadis itu benar benar merasa sangat tersentuh dengan ketulusan Tristan. Tristan tidak hanya selalu ada disampingnya. Tapi Tristan juga selalu membantunya dalam keadaan apapun.
“Tristan.. Kamu berlebihan. Aku.. Aku merasa tidak pantas begitu di istimewakan sama kamu.” Tangis Amira.
“Sshhtt.. Kamu nggak boleh merasa tidak pantas. Karena sampai kapanpun hanya kamu satu satunya perempuan yang ada dihati aku.” Lirih Tristan tidak ingin mendengar apapun dari mulut Amira yang merasa tidak pantas menjadi orang yang dicintainya.
“Belii..”
Suara seorang anak kecil membuat Amira juga Tristan langsung menoleh ke depan etalase dimana seorang anak kecil sedang berdiri menunggu di layani oleh Amira.
__ADS_1
“Ada yang beli..” Senyum Tristan melepaskan tangan Amira.
Amira tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian buru buru mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Sebentar..” Ujar Amira pada Tristan.
“Oke.. Aku juga mau kembali menata belanjaan pak Ang yang tadi pagi.” Balas Tristan tersenyum.
“Oh iya..” Angguk Amira.
Tristan kemudian berlalu dari depan Amira menuju tempat stok barang barang yang harus di tatanya. Sementara Amira, dia melayani anak kecil yang membeli banyak belanjaan.
“Dek, ini belanjaan-nya banyak banget. Memangnya kamu bisa bawanya?” Tanya Amira merasa ragu saat akan memberikan barang belanjaan yang dia tata di dalam kantong kresek hitam dengan ukuran yang lumayan besar. Amira merasa tidak tega jika membiarkan anak kecil tersebut membawa sendiri dua kantong kresek besar berisi belanjaan-nya.
“Enggak papa kak.. Arnold bisa kok bawanya. Arnold juga nggak sendirian. Arnold di temenin sama mas Angga. Dia disana.” Tunjuk bocah tampan berambut hitam legam yang menyebut dirinya sebagai Arnold pada seorang pemuda yang sedang duduk diatas motor gede warna hitamnya.
Amira menyipitkan kedua matanya. Amira merasa familiar dengan sosok pemuda tersebut.
“Itu kakak kamu?” Tanya Amira pada anak tersebut.
“Iya kak..” Angguknya dengan senyuman.
Amira menghela napas kemudian menatap dua kantong kresek besar berisi belanjaan yang di catat di secarik kertas yang di berikan anak itu. Jarak pemuda yang disebut mas Angga oleh anak itu cukup jauh sehingga Amira merasa tidak tega membiarkan anak itu membawa sendiri belanjaan-nya.
“Ya udah deh biar kakak bantu bawa belanjaan ini ke kakak kamu ya..”
__ADS_1
“Iya kak..”
Amira kemudian pamit pada Tristan untuk membantu anak kecil itu membawa barang belanjaan yang cukup banyak tersebut pada sosok yang disebut mas Angga itu.