
Setelah sarapan Stefan langsung berinisiatif menghubungi Sera yang sampai sekarang masih betah di Amerika. Stefan langsung memberitahukan kabar baik tentang kehamilan Hana pada mamahnya itu tanpa basa basi. Akibatnya Sera tertawa tidak percaya dan menganggap Stefan sedang bercanda. Namun setelah Hana ikut berbicara akhirnya Sera percaya dan mengatakan akan segera pulang hari itu juga.
“Sepertinya mamah lupa kalau yang anaknya itu adalah aku, bukan kamu.” Ujar Stefan dengan wajah kesal karena Sera tidak percaya padanya dan lebih percaya pada Hana.
“Oh ayolah Stefan.. Kamu tetap yang paling mamah banggakan. Jangan merajuk begitu. Nggak baik tau daddy..” Senyum Hana pada Stefan.
Stefan mengangkat satu alisnya saat Hana memanggilnya dengan sebutan daddy. Rasanya sangat aneh namun membuatnya sedikit malu juga menyenangkan. Hana memanggilnya daddy bukan karena ada Angel diantara mereka. Tapi memang karena ada darah daging mereka diperut Hana.
“Daddy?” Tanya Stefan pada Hana.
“Ya.. Bukan-nya anak kita akan memanggil daddy sama kamu dan mommy sama aku?”
Stefan terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya setuju. Anaknya memang pasti akan memanggilnya daddy.
“Ya sudah lebih baik sekarang kamu istirahat. Aku temenin.” Ujar Stefan.
“Sebentar aku bereskan ini dulu.”
“Tidak. Biarkan saja disitu. Biar nanti pelayan yang membereskan-nya.” Sela Stefan cepat.
“Tapi Stefan ini akan memancing semut berdatangan.” Kata Hana membuat Stefan menghela napas. Istrinya memang sangat disiplin dan telaten.
“Baiklah. Biar aku yang membereskan-nya.” Ujar Stefan mengalah.
Hana terdiam mendengarnya. Wanita itu menatap Stefan yang mulai membereskan bekas sarapan-nya. Meskipun Stefan tampak kesusahan saat menumpuk piring, namun Hana tetap diam dan membiarkan-nya. Hana tidak menyangka jika Stefan mau membereskan-nya sendiri dan dengan telaten membawanya keluar dari kamar mereka.
__ADS_1
Hal itu juga membuat para pelayan yang melihat apa yang Stefan lakukan tercengang. Dan pagi ini Stefan menjadi pusat perhatian juga topik pembicaraan para pelayan dirumahnya hanya karena membereskan sendiri bekas sarapan-nya dan Hana.
---------
Hari ini Amira dan Tristan sama sekali tidak bertegur sapa. Mereka berdua bahkan sama sekali tidak saling menatap saat berpapasan di koridor sekolah. Tristan justru terlihat lebih dekat dengan Putri, primadona sekolah yang saat itu di boncengnya di jam pulang sekolah.
Amira menghela napas pelan. Sejak meninggalkan-nya di taman saat itu Tristan memang tiba tiba berubah. Kini hubungan keduanya bahkan sudah tidak lagi dekat seperti kemarin kemarin.
Amira sempat bingung dengan sikap Tristan. Namun kemudian gadis itu mencoba untuk berpikir jernih. Amira berpikir mungkin lebih baik jika mereka berjarak dari pada harus dekat.
“Amira.”
Amira berhenti melangkah saat salah satu teman sekelasnya memanggil. Gadis itu tersenyum manis pada teman sekelasnya itu.
“Eh iya, ada apa ya?” Tanya Amira dengan senyuman dibibirnya.
“Kamu sama Tristan sudah putus ya?” Tanyanya menatap Amira penasaran.
Amira mengeryit dengan senyuman bingung. Dirinya dan Tristan memang dekat kemarin kemarin. Tapi Amira tidak merasa mempunyai hubungan apapun dengan Tristan. Amira sadar dan tidak mungkin bermimpi bisa menjadi kekasih Tristan.
“Maksudnya gimana?” Tanya Amira bingung karena tiba tiba ditanyai tentang hubungan-nya dengan Tristan yang berakhir.
“Ya.. Akhir akhir ini kamu dan Tristan terlihat diam diaman. Tristan bahkan sering sekali loh bersama Putri.”
Amira tertawa mendengarnya. Amira juga tau dan sering melihat Tristan mengobrol dengan Putri si primadona sekolah itu. Tapi Amira mencoba untuk tidak perduli. Amira juga tidak keberatan dengan kedekatan mereka. Tristan berhak berteman dengan siapa saja yang Tristan mau.
__ADS_1
“Helena. Aku sama Tristan itu nggak pernah ada apa apa. Kami hanya berteman. Dan tentang Tristan yang dekat dengan Putri aku juga tau. Aku bahkan sering melihatnya. Itu enggak papa. Dan yah.. Mereka berdua memang serasi bukan?”
Helena menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Amira katakan. Seluruh sekolah juga tau jika Tristan menaruh perhatian lebih pada Amira. Itu sebabnya Helena bertanya pada Amira.
“Oh ya sudah kalau begitu. Mereka memang sangat cocok dan serasi sih.” Ujar Helena kemudian berlalu meninggalkan Amira yang tersenyum geli menatap punggungnya.
Jika boleh jujur Amira memang merasa ada yang tidak biasa setelah hubungan-nya dan Tristan renggang. Amira merasa ada yang kurang bahkan seperti ada yang hilang. Tapi Amira tidak ingin berpikir macam macam. Amira merasa mungkin dirinya hanya belum terbiasa tanpa Tristan yang memang selalu berada disampingnya.
Amira kembali menghela napas kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas karena sebentar lagi waktu istirahat akan segera habis.
Saat jam pelajaran kembali berlangsung, Tristan diam diam memperhatikan Amira. Tristan tidak bisa lagi selalu berada disamping Amira karena kakaknya yang pasti tidak akan diam saja jika sampai tau Tristan menyukai Amira. Kakaknya pasti melakukan berbagai cara untuk menjauhkan Amira darinya. Dan sebelum itu benar benar terjadi Tristan memilih untuk menjauh. Tristan tidak ingin Amira mengalami kesulitan karena dekat dengan-nya. Walaupun sebenarnya sampai saat ini Tristan juga merasa sangat kehilangan Amira. Tapi Tristan tidak masalah karena masih bisa melihat Amira baik baik saja. Tristan tidak mau jika sampai sang kakak berbuat sesuatu yang tidak baik demi menjauhkan Amira darinya. Apa lagi kakaknya juga adalah salah satu donatur besar disekolahnya yang mempunyai kuasa melakukan apa saja yang dia inginkan.
“Yang baru putus masih belum bisa move on..” Ledek teman sebangku Tristan.
Tristan berdecak dan melirik kesal pada teman sebangkunya itu.
“Apaan sih?! nggak lucu tau nggak.” Ketus Tristan.
“Iya iya.. Maaf..” Sesal teman sebangku Tristan yang memang sudah seperti body guard Tristan itu.
Tidak terasa waktu jam pulang sekolah tiba. Tristan diam diam mengikuti Amira. Tristan bahkan sampai rela menyamar dengan meminjam jaket salah satu teman sekelasnya, mengenakan kaca mata hitam, kemudian mengikuti Amira menaiki angkot untuk memastikan gadis itu aman dan baik baik saja.
“Kalau bukan demi kamu, aku nggak mau desak desakkan di angkot begini Amira. Aku juga nggak mau terus berada didalam kendaraan bau seperti ini.” Batin Tristan sesekali menatap Amira yang sedikitpun tidak menyadari kehadiran-nya.
Saat Amira turun dari angkot, Tristan pun ikut turun juga. Tristan mengikuti Amira diam diam dari belakang untuk kembali memastikan keamanan gadis itu sampai di kediaman-nya.
__ADS_1
“Syukurlah kamu baik baik saja sampai pulang kerumah Amira. Maafin aku ya yang tiba tiba harus menjauh dari kamu.. Aku cuma nggak mau membuat kamu mengalami hal sulit karena kakak pasti nggak akan ngizinin aku dekat sama kamu..” Gumam Tristan yang bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari kediaman sederhana keluarga Alan.