ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 257


__ADS_3

Malamnya.


Hana membaringkan Theo dengan sangat pelan dan hati hati diranjang bayinya. Setelah itu Hana menoleh pada Stefan yang terlihat sangat serius berkutat dengan laptopnya diatas sofa. Sejak tadi Stefan bahkan sama sekali tidak mengatakan apapun pada Hana karena terlalu serius dengan laptopnya. Hana mengerti dan Hana sangat memahami bagaimana suaminya yang sangat sangat super sibuk itu. Maka dari itu sesibuk apapun Stefan, Hana selalu berusaha untuk tidak menuntut apapun dari pria itu. Hana tau apa yang dilakukan Stefan juga untuk kebaikan mereka.


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena Stefan yang terlihat begitu sangat serius dengan laptopnya. Hana kemudian merapikan bajunya yang sedikit berantakan setelah Theo menyusu padanya.


Pelan pelan Hana melangkah keluar dari kamarnya dan itu benar benar tidak disadari oleh Stefan. Hana memang sengaja keluar dengan mengendap ngendap dari kamar mereka. Hana berniat membuat teh hangat untuk suaminya yang meskipun hari sudah malam namun masih begitu fokus dengan pekerjaan-nya.


“Hana..”


Hana berhenti melangkah ketika sampai ditengah tengah tangga. Wanita mendongak dan mendapati Sera yang berdiri di dekat tangga di lantai dua rumah mewah itu.


“Mamah pikir kamu sudah tidur sayang..” Ujar Sera kemudian.


Hana tersenyum. Mungkin jika siang harinya dirinya tidak ikut tidur bersama Theo, sekarang dirinya sudah terlelap. Namun karena saat Theo tidur siang Hana pun ikut mengistirahatkan tubuhnya itu membuat Hana bisa bertahan dengan kedua mata segar seperti sekarang.


“Belum mah.. Aku belum ngantuk.” Senyum Hana menatap Sera.


“Lalu kamu mau kemana nak? Theo sama Stefan apa mereka juga belum tidur?” Tanya Sera kemudian.


“Theo sudah tidur mah. Untuk Stefan, dia masih fokus dengan laptopnya. Ini aku mau membuatkan teh untuk Stefan.”


“Apa Stefan memintanya?”


Hana menggelengkan kepala dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Tidak mah.. Aku sendiri yang berinisiatif.” Jawabnya.


Sera mengangguk mengerti. Stefan tidak mungkin berani meminta sesuatu pada Hana karena pria itu tau sendiri bagaimana Hana yang sudah lelah seharian mengurus sendiri bayi mereka.


“Ya sudah kalau begitu, pelan pelan saja turun-nya nak.”


“Ya mah..” Angguk Hana kemudian kembali menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Stefan.

__ADS_1


Ketika sampai di dapur Hana mendapati beberapa pelayan yang sedang makan malam bersama. Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Nyonya..” Salah satu dari pelayan itu menyapa Hana dengan penuh rasa hormat membuat beberapa teman-nya juga langsung menatap pada Hana kemudian bergegas bangkit dari duduknya.


“Maaf kalau saya mengganggu kalian. Saya hanya ingin membuat teh.” Ujar Hana merasa tidak enak hati karena menjeda obrolan para pelayan disana.


“Saya hanya mau membuat teh untuk suami saya.” Lanjut Hana.


Para pelayan itu kemudian saling menatap satu sama lain hingga salah satu di antara mereka melangkah mendekat pada Hana.


“Apa anda perlu bantuan nyonya?” Tanya pelayan tersebut pada Hana dengan sangat sopan dan penuh hormat.


“Oh tidak, itu sungguh tidak perlu. Kalian lanjutkan saja makan-nya. Saya bisa membuatnya sendiri.” Tolak Hana dengan lembut.


Hana kemudian segera membuatkan teh hangat untuk Stefan. Setelah itu Hana kembali ke lantai dua dimana kamarnya dan Stefan berada. Hana tidak ingin membuat para pelayan itu merasa terganggu dengan kehadiran-nya.


Pelan pelan Hana membuka pintu kamarnya kemudian masuk dan menutup kembali pintu tersebut dengan sangat hati hati. Hana tidak mau jika konsentrasi suaminya terganggu karena decitan pintu yang dia buka dan tutup dengan kasar.


Hana menghela napas pelan kemudian mendekat pada Stefan yang masih sangat fokus dengan laptopnya. Hana yakin Stefan juga tidak menyadari kehadiran-nya yang sudah berdiri disampingnya.


Suara lembut Hana membuyarkan fokus Stefan. Pria itu menoleh pelan dan mendapati Hana yang tersenyum menawarkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap diatasnya.


“Aku lihat dari tadi kamu begitu fokus dengan benda itu.” Tambah Hana yang membuat Stefan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Ya, Stefan memang lebih sering melakukan pekerjaan-nya dikamar dari pada di ruang kerjanya akhir akhir ini. Pria itu beralasan agar bisa sekalian menemani Hana yang mengurus sendiri Theo.


Stefan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, menepuk pelan tempat disampingnya menyuruh agar Hana duduk disampingnya.


Hana yang mengerti apa maksud Stefan segera mendudukkan dirinya di sofa tepat disamping Stefan.


“Ini, minumlah.” Ujar Hana pelan sambil menyodorkan secangkir teh hangat di tangan-nya pada Stefan.


Stefan tentu dengan senang hati menyeruputnya. Dan perpaduan rasa manis juga pahit dari teh hangat tersebut berhasil merilekskan pikiran-nya begitu membasahi kerongkongan-nya.

__ADS_1


“Bagaimana daddy?” Tanya Hana meminta pendapat Stefan.


“Sepertinya ada yang sengaja mengundangku sekarang.” Ujar Stefan membuat Hana mengeryit.


Sesaat Hana tampak berpikir sebelum akhirnya mengerti dengan apa maksud suaminya.


“Tolong jangan salah paham suamiku. Aku hanya ingin melakukan tugas yang setelah hamil tidak pernah lagi aku lakukan.” Kata Hana menjelaskan.


Ya, sejak hamil Hana memang hanya fokus dengan kemauan-nya sendiri yang ingin selalu di turuti oleh Stefan.


“Begitu ya?” Tanya Stefan lirih.


Stefan kemudian mengambil alih cangkir yang di pegang Hana dan meletakkan-nya tepat di samping laptopnya yang masih menyala. Setelah itu Stefan benar benar memusatkan perhatian-nya hanya pada Hana.


“Bagaimana hari ini sayang?” Tanya Stefan dengan penuh kelembutan.


Hana tertawa pelan. Meski merasakan lelah seharian beraktivitas diluar, Stefan tidak sedikitpun mengurangi perhatian-nya pada Hana. Hana berpikir sepertinya kehadiran Theo lah yang menjadi pengaruh besar pria itu semakin peka dan mengerti.


“Seperti biasanya, aku hanya sibuk mengurusi Theo. Ah ya, hari ini Theo mulai banyak tersenyum lebar. Kamu tau Stefan, dia sangat lucu saat tersenyum karena tidak mempunyai gigi satupun.”


Stefan mendengarkan dengan seksama apa Hana katakan. Pria itu sadar sesibuk apapun dirinya dengan urusan pekerjaan, perhatian dan kasih sayangnya pada istri juga anaknya tidak boleh sedikitpun berkurang.


“Aku bahkan sampai membayangkan jika kamu yang tersenyum lebar seperti itu tanpa gigi akan bagaimana rupanya.” Tambah Hana disertai tawanya.


Ekspresi Stefan langsung berubah. Hana sedang mengejeknya.


“Tentu saja aku juga akan sangat lucu. Jangan lupakan Theo mirip siapa Hana.”


Hana tertawa geli mendengar ucapan tidak terima Stefan karena Hana meledeknya.


“Oke oke.. Baiklah, kamu lucu juga.”


Stefan ikut tertawa mendengarnya. Ucapan tidak terimanya tidak benar benar serius. Stefan hanya bercanda saja agar rasa penat juga lelah di tubuhnya sedikit berkurang. Dan benar saja, kebersamaan-nya dengan Hana seperti obat yang sangat manjur untuk tubuh juga pikiran-nya yang lelah.

__ADS_1


Stefan kemudian menarik Hana kedalam pelukan-nya. Stefan benar benar ingin tau segalanya tentang Hana. Pria itu tidak ingin melewatkan apapun dari Hana yang sudah berhasil menguasai hati juga pikiran-nya.


__ADS_2