
Setelah mendapatkan maaf dari Stefan, Hana benar benar melakukan apa yang dia janjikan sendiri dengan sangat berhati hati saat menuruni anak tangga. Hana bahkan terus menggandeng erat tangan besar Stefan yang dengan telaten mendampingi Hana menuruni anak tangga menuju lantai dasar rumah mewah itu pagi ini untuk sarapan bersama.
“Daddy, mommy.. Selamat pagi..” Sapa Angel ceria begitu Stefan dan Hana sampai di meja makan.
Hana tertawa pelan karena sapaan formal gadis kecil itu. Begitu juga dengan Stefan yang memang hanya tersenyum tipis saja.
“Selamat pagi juga sayang..” Balas Hana menatap Angel yang duduk disamping Sera.
Setelah membalas sapaan Angel, Hana dan Stefan pun duduk dikursinya masing masing. Pagi ini Stefan benar benar merasa damai karena tidak ada hal aneh yang dilakukan oleh Hana. Meski memang sempat ada drama tangisan Hana karena menyesal telah berlarian menuruni anak tangga saat menyambut kepulangan Stefan semalam.
Sarapan pagi ini berlangsung dengan tenang seperti biasanya di selingi dengan obrolan dan candaan oleh Angel, Sera, juga Hana. Sementara Stefan, pria itu tentu hanya menjadi pendengar yang baik saja.
Selesai sarapan, Hana mengantar Angel dan Stefan sampai teras depan rumah. Satu kecupan di kening juga Angel dapatkan dari Hana sebelum masuk dan menunggu Stefan didalam mobil mewah milik pria itu.
“Hati hati ya nyetirnya.. Nggak usah ngebut ngebut. Jangan marah marah juga sama Angel. Harus banyak banyak sabar ngadepin anak..”
Stefan mengangkat sebelah alisnya mendengar apa yang Hana katakan. Kalau di pikir lagi memangnya kurang sabar sabar apa Stefan akhir akhir ini menghadapi tingkah Hana. Bahkan jika dibandingkan dengan Angel itu sangat sangat tidak pas karena pada kenyataan-nya Angel memang bukan anak yang banyak tingkah. Justru Hana yang akhir akhir ini selalu bertingkah ajaib yang tentu sangat menguji kesabaran Stefan.
“Sepertinya kamu perlu meralat ucapan kamu sayang. Angel tidak pernah menguji kesabaranku.” Ujar Stefan yang membuat Hana langsung mengeryit.
“Maksud kamu?” Tanya Hana menatap Stefan dengan tatapan galaknya.
Menyadari sesuatu yang tidak baik mulai muncul, Stefan pun segera mengalihkan pembicaraan. Pria itu tidak ingin harinya kacau karena ucapan-nya sendiri.
“Tidak, tidak apa apa. Ya sudah aku berangkat. Ingat untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan diri kamu juga anak kita.” Ujar Stefan.
Hana menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Wanita itu menyalimi Stefan kemudian mengecup singkat bibir tipis Stefan membuat si empunya mendelik terkejut dengan apa yang Hana lakukan.
__ADS_1
Stefan menatap Hana kemudian langsung menoleh pada Angel yang menunggunya di dalam mobil. Stefan menghela napas lega saat melihat Angel yang sedang fokus dengan bukunya yang artinya gadis kecil itu tidak melihat apa yang Hana lakukan tadi.
“Kamu nggak suka aku cium?” Tanya Hana melihat gelagat suaminya.
Stefan tergagap. Hana sangat sensitif. Jika Stefan salah bicara sedikit saja itu pasti akan menjadi masalah.
“Bukan, bukan begitu Hana. Hanya saja kalau sampai Angel melihat itu sangat tidak baik.” Jawab Stefan pelan.
Hana melirik Angel yang sedang menunggu Stefan didalam mobil. Wanita itu menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang Stefan katakan. Berciuman didepan anak dibawah umur memang bukan suatu yang seharusnya. Dan Hana tadi mencium Stefan karena refleks bukan niat untuk menunjukan hal intim pada Angel.
“Ya sudah, aku berangkat.” Pamit Stefan sambil mengecup singkat kening Hana.
“Ya...” Angguk Hana menjawab.
Stefan kemudian melangkah menjauh dari Hana. Pria itu masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Stefan kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan-nya berlalu keluar dari pekarangan luas rumahnya.
Hana melangkah sambil memikirkan apa yang akan dilakukan-nya hari ini karena Hana pasti akan merasa sangat bosan jika hanya berdiam diri saja.
“Main game terus bosan. Terus aku harus ngapain dong? Stefan nggak ngebolehin aku buat melakukan hal hal yang melelahkan.” Gumam Hana menghentikan langkahnya.
Hana kemudian mengedarkan pandangan-nya ke seluruh sudut rumah mewah yang bisa dia jangkau dengan pandangan-nya itu.
Hana tidak biasa diam dan mendapat apa yang dia mau tanpa melakukan sesuatu. Hana harus bekerja lebih dulu untuk mendapatkan apa yang Hana inginkan. Tapi sejak menikah dengan Stefan, semua yang Hana inginkan bahkan sampai sesuatu yang tidak Hana inginkan pun Stefan berikan untuknya. Pria itu membuat hidup Hana serasa di surga karena semuanya seolah mendekat pada Hana begitu saja.
“Kamu kenapa Hana?”
Tepukan pelan Sera dibahu Hana membuat lamunan Hana buyar seketika. Hana menoleh dan mendapati Sera yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
“Eh mamah..” Senyum Hana membalas tatapan Sera.
“Kamu kenapa nak? Kok dari tadi mamah perhatiin kaya lagi bingung begitu?” Tanya Sera penasaran.
“Ah enggak mah, nggak papa kok. Oh iya mamah mau kemana?” Jawab Hana kemudian bertanya pada Sera yang memang sudah terlihat rapi penampilan-nya.
Sera diam sesaat menatap Hana tidak percaya. Sera yakin Hana pasti sedang memikirkan sesuatu tadi. Hanya saja Hana tidak mau terbuka padanya.
“Mamah mau pergi sebentar. Ada beberapa keperluan untuk Angel yang harus mamah beli.” Jawab Sera dengan senyuman dibibirnya.
“Hana boleh ikut nggak mah? Soalnya Hana bingung harus melakukan apa dirumah sendirian.”
“Tentu saja. Mamah akan sangat senang kalau kamu mau ikut menemani mamah mencari semua kebutuhan Angel.” Senyum Sera menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu aku akan bersiap.”
Dengan sangat antusias Hana melangkah menjauh dari Sera. Wanita itu melangkah menuju tangga. Dan begitu sampai didepan anak tangga pertama Hana terdiam sesaat. Hana ingat akan janjinya sendiri untuk berhati hati saat melakukan sesuatu termasuk saat menaiki atau menuruni tangga pada Stefan.
Sera yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Sera sendiri merasa sangat tidak biasa dengan tingkah Hana akhir akhir ini. Hana benar benar sangat berubah dan seperti bukan Hana. Tapi Sera bisa maklum mengingat Hana sekarang berada di masa dimana suasana hatinya gampang sekali berubah. Dan itu adalah bawaan dari janin yang sedang di kandungnya.
Sera kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas yang dibawanya. Sera bermaksud menghubungi Stefan dan mengatakan bahwa Hana akan ikut serta dengan-nya. Sera tentu tidak mau Stefan marah dan menganggap Hana mengabaikan aturan-nya untuk tetap dirumah agar tidak kelelahan.
Tidak menunggu lama, Hana kembali mendekat pada Sera dengan mengenakan gaun tanpa lengan yang panjangnya hanya selutut berwarna pink lembut yang begitu sangat pas membalut tubuhnya yang mulai berisi.
“Aku sudah siap mamah..” Senyum Hana lebar.
“Ah ya sayang.. Kalau begitu kita jalan sekarang.” Ujar Sera yang di angguki oleh Hana. Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari kediaman mewah Devandra dengan kompak.
__ADS_1