ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 134


__ADS_3

Stefan menatap Hana yang terlelap disampingnya. Pria itu tersenyum tidak menyangka Hana bisa seberani itu pada Williana. Bahkan Hana sampai melayangkan tamparan keras pada Williana tanpa sedikitpun merasa menyesal dengan apa yang sudah di lakukan-nya dengan menampar Williana.


Tapi Stefan yakin Williana tidak akan diam saja. Wanita itu pasti tidak terima dan akan melakukan sesuatu pada Hana sebagai balasan-nya.


Stefan menghela napas. Dengan lembut Stefan membelai kening Hana. Tingkah Hana benar benar sudah diluar dari kebiasaan-nya. Hana begitu arogan, bahkan terkesan buas. Hana marah pada siapa saja yang berani membuatnya merasa tidak nyaman. Bahkan pada Stefan Hana tidak sedikitpun merasa takut. Sebaliknya, Hana malah semakin menindas Stefan seenaknya.


Merasa tidak tenang dengan apa yang sudah Hana lakukan, Stefan pun memutuskan untuk bangkit dari berbaringnya. Pria itu turun dari ranjang kemudian melangkah keluar dari kamarnya dan Hana dengan sangat hati hati.


Stefan bermaksud menemui para body guardnya yang berjaga didepan rumah. Pria itu tidak ingin lengah sedikitpun. Stefan tau bagaimana Williana. Oleh karena itu Stefan akan bersiaga menyuruh orang orangnya untuk waspada dalam menjaga Hana.


Paginya.


Hana dan Stefan sedang menyantap sarapan paginya saat tiba tiba Sera menelepon-nya. Wanita itu mengadu pada Stefan bahwa Angel terus menangis dan menolak untuk sarapan dan minum obat karena terus merengek sambil menangis ingin pulang kerumah.


Stefan yang sudah tidak tau lagi harus bagaimana menyikapi Angel memilih untuk mengalah. Stefan berniat kerumah sakit nanti untuk mengurus administrasi rumah sakit sebelum Angel pulang kerumah. Stefan juga akan menyuruh dokter dan perawat siap sedia dirumahnya untuk merawat Angel selama Angel masih dalam masa pemulihan.


“Kamu yakin Stefan?”


Pertanyaan Hana membuat Stefan menoleh padanya. Stefan sudah memikirkan semuanya dengan baik. Dan Stefan yakin apa yang dilakukan-nya sudah tepat untuk Angel.


“Kenapa tidak? Dari pada Angel nggak mau makan dan menolak untuk minum obat?”


Hana menghela napas dan berdecak pelan. Wanita itu kemudian menganggukkan pelan kepalanya. Hana tau apa yang Stefan lakukan adalah demi kebaikan Angel.


Selesai sarapan, Stefan langsung berangkat ke kantornya. Seperti pada niat awalnya, Stefan lebih dulu kerumah sakit untuk mengurus kepulangan Angel dari rumah sakit. Dan siang itu juga Angel pulang dengan dokter serta perawat yang ikut serta kedalam mobil Sera.


“Mommy....!!”


Angel langsung memekik senang saat melihat Hana yang berdiri di ambang pintu utama rumahnya menyambut kepulangan-nya. Gadis kecil itu kemudian berlari menghampiri Hana. Namun saat hendak berhambur memeluk Hana, Angel terdiam. Gadis itu tiba tiba teringat pada pesan Stefan yang menyuruhnya untuk tidak menubruk perut Hana saat hendak memeluknya.

__ADS_1


“Kenapa sayang?” Tanya Hana bingung.


Angel mendongak menatap Hana kemudian menggelengkan kepalanya. Gadis kecil itu memeluk Hana dengan sangat lembut setelah itu.


“Angel kangen banget sama mommy..” Katanya.


Hana tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu merasa sangat tergelitik mendengar Angel mengatakan rindu padanya. Tentu saja, karena setiap hari setelah Stefan pulang dari bekerjanya sejak Angel dirumah sakit, Stefan selalu mengajak Hana kesana untuk menengok Angel.


“Iya iya.. Mommy juga kangen banget sama kamu sayang.. Ya udah mending sekarang kita masuk yuk?”


Hana mengajak Angel masuk kedalam rumah dengan terus merangkul lembut bahu kecil gadis itu. Hana juga sebenarnya sangat merindukan Angel yang selalu begitu ceria saat bermain dengan-nya. Hana juga merindukan moment saat menemani Angel menyaksikan matahari terbenam di sore hari.


------------


Amira menatap bangku Tristan yang kosong. Hari ini Tristan tidak masuk tanpa izin apapun pada guru. Edo dan Joshua bahkan sepertinya tidak tau kenapa Tristan tidak masuk sekolah hari ini.


“Apa mungkin dia sakit? Atau sedang malas sekolah?”


Amira terus membatin bertanya tanya sendiri kenapa Tristan tidak masuk sekolah hari ini. Karena tidak biasanya Tristan sampai tidak masuk tanpa izin bahkan sampai kedua teman dekat Tristan saja menjawab tidak tau saat guru bertanya kemana Tristan sampai tidak masuk sekolah.


Bel istirahat berbunyi menggema di seluruh sudut sekolah. Para siswa siswi keluar dari kelas mereka masing masing untuk sekedar mengisi perutnya yang keroncongan atau membasahi tenggorokan-nya yang kering setelah berkutat serius dengan pelajaran.


Namun tidak dengan Amira. Gadis itu tetap duduk di bangkunya memikirkan kemana Tristan sebenarnya sampai Edo dan Joshua tidak tau.


“Apa mungkin Tristan nggak boleh masuk sekolah sama kakaknya?” Amira kembali bertanya tanya.


Amira juga kembali mengingat saat Williana menawarkan uang padanya tepat didepan Tristan. Amira yakin Tristan juga mendengar apa yang dirinya katakan pada Williana, kakak Tristan. Dan Amira berharap dengan penolakan-nya itu baik Williana maupun Tristan tau bahwa harga diri Amira jauh lebih tinggi nilainya dari uang.


“Apa aku coba telepon aja?”

__ADS_1


Dengan ragu Amira merogoh tasnya mengeluarkan benda pipih miliknya. Amira tidak tau apakah nomor Tristan bisa dihubungi atau tidak. Karena Amira benar benar sangat penasaran kenapa Tristan sampai tidak masuk sekolah hari ini.


“Amira.”


Suara Putri membuat Amira mengangkat kepalanya dengan cepat. Amira mengeryit bingung melihat Putri yang sudah berdiri diambang pintu kelasnya dengan dua teman-nya yang berdiri disamping kanan dan kiri Putri.


Amira tidak tau kenapa tiba tiba Putri memanggilnya. Apa lagi Putri juga menatapnya dengan tatapan kesal.


Putri melangkah lebar mendekat pada Amira yang masih duduk diam di bangkunya. Gadis dengan rambut yang digerai panjang itu dengan kasar menggebrak meja Amira membuat Amira tersentak kaget.


“Kamu apa apaan sih Put? Kenapa tiba tiba mukul meja aku begitu? Bikin kaget tau nggak?!” Marah Amira yang langsung berdiri dari duduknya tidak terima karena Putri membuatnya kaget.


Putri menyipitkan kedua matanya menatap kesal pada Amira yang menurutnya bersikap seolah tidak terjadi apa apa.


Ya, Putri memang tau tentang kepergian Tristan semalam dari Williana. Putri juga semalam ikut mencari Tristan memutari kota sampai larut malam. Namun Putri sama sekali tidak menemui Tristan dimanapun.


“Hebat banget ya kamu Amira. Kamu pikir kamu siapa sampai berani membuat Tristan kabur dari rumah?” Tanya Putri dengan emosi yang menguasai dirinya. Image gadis baik dan lembut bahkan sekarang sudah tidak lagi terlihat pada dirinya.


Amira terkejut mendengar apa yang Putri katakan. Tristan pergi dari rumah karena dirinya benar benar sesuatu yang sangat mustahil.


“Tristan pergi dari rumah?” Tanya Amira lirih.


“Nggak usah pura pura nggak tau kamu. Kamu sudah membawa pengaruh buruk untuk Tristan. Kamu membuat Tristan berani melawan sama kak Williana.”


Amira diam. Amira sudah berusaha menjauh dari Tristan. Amira juga tidak pernah lagi bertegur sapa dengan Tristan.


“Pokonya kamu harus tanggung jawab kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Tristan. Atau aku akan tuntut keluarga kamu.”


Amira tidak tau harus bagaimana. Perasaan khawatir juga takut langsung menguasainya sekarang. Tristan tidak biasa hidup tanpa kemewahan. Amira yakin Tristan pasti mengalami kesulitan diluar sana.

__ADS_1


__ADS_2