ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 224


__ADS_3

Ketika sampai di lantai satu rumahnya dengan Angel, Hana terkejut melihat begitu banyaknya bunga juga kado kado berukuran besar maupun sedang yang ada disana. Padahal semalam saat Hana mencari Stefan disana belum ada bunga dan kado kado tersebut.


“Loh Angel.. Ini kok jadi banyak kado kado sama bunga. Ini punya siapa?” Tanya Hana bingung pada Angel.


Angel yang juga sedang kebingungan menatap bunga dan kado kado itu hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya.


“Angel nggak tau mommy. Angel juga baru turun. Mungkin punya oma.” Jawab gadis kecil itu polos.


Hana tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya Hana menganggukkan kepalanya. Wanita itu berpikir mungkin apa yang di katakan oleh Angel benar. Semua itu punya Sera. Tapi jika tiba tiba Sera membeli atau mendapatkan itu semua tanpa sebab rasanya akan sangat aneh.


“Memangnya oma sekarang ulang tahun?” Tanya Hana lagi yang berpikir mungkin Sera sedang berulang tahun hari ini.


“Enggak mommy.. Ulang tahun-nya oma itu enggak sekarang.”


Hana menghela napas. Wanita itu benar benar merasa sangat penasaran karena ini adalah kali pertama dirinya melihat begitu banyak kado kado yang terletak di lantai dirumah mewah itu. Biasanya rumah itu selalu bersih dan tidak pernah ada satupun barang tergeletak di lantai.


“Enggak ada yang ulang tahun sayang..”


Angel juga Hana menoleh ke arah sumber suara dimana Sera muncul dari arah meja makan. Wanita cantik yang sudah tidak lagi muda itu tersenyum manis sembari melangkahkan kedua kakinya mendekat pada Hana dan Angel.


“Ini semua adalah hadiah dari rekan bisnisnya Stefan. Ada yang dari karyawan-nya juga untuk kamu dan Theo.” Ujar Sera menjelaskan.


“Hah?” Hana tidak mengerti kenapa tiba tiba begitu banyak hadiah untuknya juga Theo.


“Terus untuk Angel sama mamah juga Stefan bagaimana?”


Pertanyaan polos Hana membuat Sera tertawa. Wanita itu tidak menyangka Hana juga mempunyai sisi polos yang persis sama seperti Angel.


“Yang melahirkan dirumah ini kan cuma kamu Hana. Masa iya semua orang dirumah juga dapet hadiah.” Itu suara Stefan.

__ADS_1


Hana, Angel juga Sera menatap kearah tangga dimana Stefan sedang menuruni satu persatu anak tangga pelan menuju mereka.


“Hay dad.. Selamat pagi..” Senyum Angel menyapa Stefan begitu Stefan sudah sampai tepat didepan-nya.


“Ya.. Selamat pagi juga princess..” Balas Stefan tersenyum manis sembari membelai lembut puncak kepala Angel.


“Jadi semua ini beneran untuk aku sama Theo? Tapi ini itu banyak banget mah, Stef..”


Stefan dan Sera saling menatap kemudian tersenyum geli. Hana selalu bersikap apa adanya yang membuat orang orang di sekitarnya merasa lucu dan gemas.


“Sudah nanti saja kita bahas lagi tentang kado dan bunga itu. Mending sekarang kita sarapan dulu.” Ujar Stefan yang di setujui oleh Sera juga Hana. Pria tampan yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya itu kemudian menggiring istri, anak, juga mamahnya menuju meja makan. Stefan sudah menduga rumahnya akan di banjiri berbagai hadiah dari para rekan bisnis juga karyawan-nya setelah berita tentang kelahiran putra pertamanya itu menyebar luas karena keterangan-nya pada para pemburu berita semalam.


Stefan menarik kursi untuk Hana. Sekarang pria itu benar benar merasa tidak mempunyai beban apapun karena rahasia yang di tutupinya sudah terbuka dan Hana bisa memahaminya. Meskipun setelah ini Stefan mungkin juga harus mengatakan-nya dengan jujur pada keluarga Alan tentang dirinya yang adalah pelaku yang menabrak Alan dulu.


“Eemm.. Sayang memangnya kamu bisa makan sambil nggendong Theo?” Tanya Sera yang merasa tidak yakin Hana bisa sarapan dengan tenang karena ada Theo di gendongan-nya yang terus asik menyusu meskipun kedua matanya tertutup dengan lelap.


“Bisa kok mah..” Senyum Hana menjawab menatap pada Sera yang duduk di seberangnya di samping kanan Stefan.


Sementara Stefan, pria itu hanya diam namun tetap berpikir seperti apa yang Sera pertanyakan pada Hana. Stefan juga merasa ragu apakah Hana bisa sarapan dengan tenang atau tidak karena ada Theo di gendongan-nya.


Saat itulah mbak Titin yang sedang menyiapkan keperluan Angel melintas. Stefan langsung memanggilnya membuat mbak Titin bergegas mendekat.


“Saya tuan..” Ujar mbak Titin sedikit menundukan kepalanya sebagai rasa hormat dan sopan santun-nya pada Stefan.


“Kamu apa sudah selesai menyiapkan semua keperluan Angel sekolah?” Tanya Stefan yang membuat Hana mengeryit bingung. Tidak biasanya Stefan menanyakan itu pada pelayan-nya karena pria itu hanya terima beres saja.


“Sudah tuan.” Jawab mbak Titin.


“Kalau begitu bisa tolong kamu jaga Theo sebentar? Hana mau sarapan.”

__ADS_1


Ucapan Stefan pada mbak Titin membuat Hana mendelik. Hana tidak ingin siapapun menggantikan-nya menggendong Theo saat ini karena bayi tampan itu masih menyusu padanya. Jika Hana melepaskan-nya, Theo pasti akan menangis.


“Enggak enggak.. Nggak usah mbak. Mbak mending sarapan sendiri aja. Sebentar lagi Angel harus berangkat ke sekolah.” Tolak Hana cepat membuat mbak Titin kebingungan harus bagaimana. Menuruti perintah Stefan atau Hana.


Stefan menoleh menatap Hana tidak mengerti. Niatnya baik dengan menyuruh mbak Titin menjaga Theo sementara agar Hana bisa sarapan dengan tenang tanpa sedikitpun merasa kesulitan karena Theo yang ada di gendongan-nya.


“Kok begitu?” Tanya Stefan sedikit kesal karena Hana menolak niat baiknya.


“Mbak Titin boleh kok kembali untuk sarapan. Nggak papa Theo sama saya saja.” Senyum Hana berkata pada mbak Titin.


“Baik nyonya..” Angguk mbak Titin kemudian berlalu dari hadapan Stefan, Hana, sera juga Angel yang sudah bersiap di meja makan untuk sarapan.


Sera yang melihat dan mendengar itu hanya diam saja. Wanita itu tidak ingin ikut berbicara untuk menengahi Stefan dan Hana yang mungkin akan berdebat setelah ini.


“Hana..”


“Daddy.. Mommy bisa. Tidak perlu khawatir berlebihan. Makan sambil menggendong bayi itu bukan hal yang sulit untuk seorang mommy. Percaya deh.” Senyum Hana menyela dengan pelan apa yang ingin Stefan katakan.


Stefan berdecak. Hana selalu saja menyanggupi segala sesuatu sendiri. Stefan bahkan kadang berpikir untuk apa dirinya menggaji para pekerjanya jika Hana saja selalu melakukan segala sesuatu sendiri tanpa ingin merepotkan orang lain.


“Terserahlah.” Balas Stefan enggan berkata panjang lebar karena merasa kesal pada Hana.


Hana tersenyum geli. Ekspresi Stefan langsung berubah datar karena Hana menolak maksud baiknya. Hana sebenarnya bukan tidak menghargai maksud baik suaminya. Hana hanya merasa dirinya mampu melakukan apa yang memang seharusnya dia lakukan.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Hana mencoba mengalihkan perasaan kesal Stefan padanya.


“Nggak usah. Aku bisa ambil sendiri.” Jawab Stefan ketus.


Sera dan Angel yang mendengar nada ketus Stefan saat menjawab pertanyaan Hana berusaha menahan tawanya. Nada ketus pria itu benar benar terdengar sangat menggelikan menurut mereka berdua.

__ADS_1


Tidak berbeda dengan Sera dan Angel, Hana pun juga merasakan hal yang sama. Wanita itu merasa geli dengan mendengar jawaban ketus suaminya.


__ADS_2