ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 281


__ADS_3

Tristan dan Williana sampai di sekolah yang memang sudah di sulap sedemikian indahnya. Disana juga ada panggung tempat untuk para siswa siswi menampilkan penampilan terbaiknya.


“Hem kak, aku cari Amira dulu ya..”


Williana yang baru saja mendudukkan dirinya di tempat yang memang sudah disediakan untuk para donatur yang hadir pun menoleh. Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, Williana menganggukkan kepalanya.


“Oke..” Katanya.


Tristan tersenyum. Tristan merasa hari ini Williana sangat berbeda. Tidak biasanya Williana bersikap begitu manis padahal Williana sendiri tau Tristan akan bersama Amira.


“Huft.. Sudahlah. Harusnya aku senang dengan sikap kak Williana sekarang. Mungkin saja kakak mulai bisa menerima dengan legowo hubungan aku dan Amira.” Gumam Tristan sembari melangkah menjauh untuk mencari Amira.


Beberapa kali Tristan bertanya pada teman teman-nya yang juga akan menampilkan keahliannya. Namun satupun dari mereka tidak ada yang tau dimana Amira berada.


“Wih.. Udah keren aja nih..”


Tristan menoleh mendengar suara Edo. Pemuda itu kemudian memutar tubuhnya menatap pada Edo dan Joshua yang tersenyum lebar padanya.


“Kalian berdua lihat Amira nggak?” Tanya Tristan menatap serius pada kedua sahabatnya.


“Amira baru aja datang. Kayanya sih tadi masuk ke ruang ganti.” Jawab Edo.


Tristan menghela napas merasa lega mendengarnya. Sebelumnya Amira mengatakan dirinya sudah akan sampai dengan Alan yang mengantarnya. Hal itu yang membuat Tristan merasa khawatir karena begitu dirinya sampai Amira belum juga terlihat.


“Ya sudah kalau begitu, aku ke Amira dulu ya..” Ujar Tristan menepuk pelan bahu Edo kemudian berlalu untuk menyusul Amira di ruang ganti.


Sementara itu, diruang ganti Amira baru saja selesai mengganti bajunya dengan gaun yang dibelikan Alan untuknya. Gaun yang memang sengaja Alan hadiahkan sebagai penyemangat agar Amira bisa menampilkan yang terbaik didepan para donatur besar sekolahnya hari ini.

__ADS_1


“Ingat ya dek, kamu harus bagus penampilan-nya. Karena nanti disekolah kamu juga akan ada tuan Stefan. Dia menjadi donatur besar karena membiayai kamu loh.. Buat dia terkesima dengan penampilan kamu dan Tristan. Oke?”


Amira menghela napas ketika ucapan Alan kembali terngiang di telinganya. Gadis itu semakin merasa gugup karena ucapan kakaknya itu.


“Aku nggak yakin kamu bisa menampilkan yang terbaik didepan banyak orang nanti.”


Suara Putri membuat Amira langsung menoleh kearahnya dimana Putri berdiri disamping pintu masuk ruang ganti.


Amira menatap penampilan Putri. Seperti biasanya, Putri selalu tampil cantik dan sempurna. Dan hari ini Putri juga akan menampilkan dance bersama teman teman-nya. Dance yang memang banyak di akui sangat bagus oleh semua teman teman seluruh sekolah.


“Aku heran sama kamu Amira, kamu kok bisa begitu percaya diri akan tampil didepan para donatur besar di sekolah kita. Sama Tristan pula. Kamu mau membuat malu Tristan ya?” Ujar Putri dengan begitu sangat angkuh. Gadis itu melangkah mendekat dengan tatapan meremehkan pada Amira.


Sementara Amira, dia hanya diam saja dengan segala rasa gugup yang menyelimuti hatinya. Amira tau jika dirinya tidak bisa tampil maksimal, dirinya bukan hanya akan membuat Tristan malu. Tapi mungkin juga akan membuat Stefan merasa malu juga. Apa lagi Williana, wanita itu tentu akan semakin tidak menyukainya.


“Aku saranin sama kamu Amira, sebelum kamu benar benar membuat Tristan malu, mending kamu mengundurkan diri dari sekarang. Nggak usah lah sok sok an mau tampil dansa segala sama Tristan. Cukup tau diri aja Amira.” Putri terus mempengaruhi Amira, mencoba mematahkan optimis Amira yang sudah dengan susah payah Tristan bangun selama mengajari Amira dansa.


Amira menelan ludah. Entah kenapa tiba tiba Amira merasa sangat gugup dan tidak percaya diri lagi. Apa lagi mendengar apa yang Putri katakan. Itu benar benar membuat Amira merasa takut.


Suara tegas Tristan membuat Putri juga Amira kompak menoleh. Saat itu juga ekspresi Putri langsung berubah. Putri berdecak pelan tidak menyangka jika Tristan akan datang keruang ganti.


Sedang Amira, dia masih diam dengan segala keraguan yang menguasai hatinya.


Tristan melangkah lebar mendekat pada Amira dan Putri yang berdiri berdampingan. Raut kekesalan jelas terlihat di wajah tampan-nya karena mendengar apa yang Putri katakan pada Amira.


“Tristan aku..”


“Udahlah nggak usah ngeles. Aku udah denger semuanya kok apa yang kamu katakan sama pacar aku ini.” Sela Tristan dengan menekan kara PACAR pada Putri.

__ADS_1


“Asal kamu tau ya Putri. Ucapan kamu itu nggak akan sedikitpun mempengaruhi Amira tau nggak. Kamu tau kenapa?”


Putri mengepalkan kedua tangan-nya mendengar Tristan yang membela Amira.


Tristan tersenyum kemudian meraih tangan Amira, menggenggamnya dan mengangkatnya menunjukkan pada Putri.


“Karena aku dan Amira akan tetap bersama apapun yang terjadi. Jelas?” Sambung Tristan menatap sinis pada Putri.


Berbeda dengan Tristan yang begitu percaya diri menunjukkan kebersamaan-nya dengan Amira pada Putri, Amira justru semakin merasa tidak yakin. Ucapan Putri kali ini berhasil mempengaruhinya.


“Ayo Amira.. Kita nggak perlu meladeni dia.” Ajak Tristan yang menarik lembut Amira berlalu meninggalkan Putri di ruang ganti.


Kepalan tangan Putri semakin erat menatap kepergian Tristan dan Amira yang meninggalkan-nya. Gadis itu masih tidak bisa menerima bahwa Tristan jauh lebih memilih Amira dari pada dirinya.


----------


Williana terus mengedarkan pandangan-nya menatap satu persatu pada donatur yang hadir. Namun dari sekian banyaknya pria tampan berbaju formal disana, sosok yang sangat Williana inginkan hadir belum juga terlihat. Siapa lagi kalau bukan Stefan.


“Stefan.. Aku yakin kamu akan datang. Aku tau siapa kamu Stefan.” Batin Williana penuh harap.


Williana menghela napas. Beberapa kali Williana mendapat sapaan ramah dari sesama donatur namun Williana hanya membalas sewajarnya saja. Saat di ajak mengobrolpun Williana hanya menyauti dengan singkat. Williana lebih memilih fokus dengan ponselnya sembari menunggu Stefan yang belum juga terlihat hadir disana padahal acara sudah di mulai.


“Ya tuan, kebetulan tuan Stefan sedang tidak bisa hadir jadi saya yang mewakilinya.”


Williana langsung menegakkan kepalanya mendengar suara yang begitu sangat dia kenali. Itu suara Rico, orang kepercayaan Stefan yang artinya hari ini Stefan tidak bisa hadir ke acara tersebut karena Rico yang datang sebagai wakilnya.


Rahang Williana mengeras. Ketidak hadiran Stefan membuatnya merasa kecewa. Williana merasa apa yang sudah dia lakukan dengan meniru gaya sederhana Hana hanya sia sia saja. Tentu karena Stefan tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Stefan tidak bisa hadir, Williana pun langsung mencoba menghubungi Stefan untuk melayangkan protes. Namun Williana harus menelan kekecewaan yang lebih dalam lagi saat menyadari bahwa Stefan memblokir nomornya.


“Kamu bahkan menutup akses komunikasi kita Stefan.” Batin Williana merasa kecewa.


__ADS_2