
Suasana di meja makan begitu hangat seperti biasanya karena celotehan Angel yang tidak hentinya menceritakan apa saja yang di lakukan-nya di sekolah dengan teman teman-nya. Angel bahkan juga menceritakan film yang baru saja di tonton-nya bersama dengan Sera kemarin malam.
Setelah menyelesaikan sarapan-nya, Angel dan Sera memilih untuk lebih dulu berangkat ke sekolah Angel. Sementara Stefan, pria itu memang sengaja berangkat lebih santai dari biasanya.
“Jagoan daddy yang pinter yah... Jagain mommy dirumah..” Ujar Stefan mengajak Theo berbicara. Pria itu berjongkok didepan baby stroller dimana Theo duduk.
“Aoo...” Saut Theo dengan suara lembut khas bayinya.
“Uuhh.. Pinternya.. Theo tau yah maksud daddy? Hem?” Tanya Stefan meraih tangan kecil Theo dan menggenggamkan jari telunjuknya pada Theo.
Hana yang baru menyelesaikan sarapan-nya tersenyum. Theo memang tidak mau jauh jauh darinya, bahkan saat Hana makan pun Theo menemani dengan duduk tenang di baby stroller nya sambil menggigiti jari jari kecilnya sendiri.
“Eh eh eh jangan di mam dong jari daddy..” Stefan menarik lembut jarinya mencegah Theo yang hendak melahapnya.
“Don't bite boy..” Kata Stefan dengan lembut dan penuh perhatian. Pria itu kemudian membelai dengan lembut pipi gembul putranya yang malah tertawa dengan apa yang Stefan katakan padanya.
“Daddy..” Panggil Hana yang memang sengaja ingin membiasakan diri tidak menyebut nama Stefan di depan putranya.
Stefan langsung beralih menatap Hana yang juga sedang menatapnya.
“Tentang apa yang tadi Angel katakan..”
“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Aku tau dan aku paham. Angel hanya anak kecil. Yang dia tau aku dan Alan juga berteman. Yah, meski sampai sekarang sebenarnya aku masih sedikit tidak menyukainya.” Sela Stefan pelan.
Hana diam. Mengingat apa yang Alan lakukan pada Stefan saat itu Hana bisa memaklumi jika Stefan marah. Tapi Hana juga memaklumi apa yang Alan lakukan pada Stefan. Di posisi itu Hana benar benar tidak ingin memihak pada siapapun antara suaminya dan sahabatnya.
“Lain kali tidak usah bahas dia yah..” Kata Stefan meminta pada Hana.
Hana tidak langsung menjawab. Membawa bawa nama pria lain saat dirinya sedang bersama Stefan memang bukan sesuatu yang baik.
__ADS_1
“Oke...” Angguk Hana kemudian dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Stefan ikut tersenyum. Terakhir kali dirinya bertemu dengan Alan, pria itu dengan lancang meminta Stefan untuk melepaskan Hana. Dan permintaan itu tidak bisa Stefan maklumi apapun alasan-nya. Karena apapun yang terjadi, Stefan tidak akan melepaskan Hana. Bahkan meski Hana yang ingin meninggalkan-nya, Stefan akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap mempertahankan Hana apapun rintangan-nya.
“Ya sudah, aku harus berangkat sekarang.” Kata Stefan sambil meraih tubuh Theo dan menggendongnya.
Hana mengangguk lagi lalu bangkit dari duduknya berniat untuk mengantar Stefan sampai teras depan rumah. Mereka berdua melangkah beriringan dengan Stefan yang menggendong Theo.
“Daddy berangkat ya sayang...” Pamit Stefan pada putranya setelah Hana menyaliminya. Hana juga mengajari Theo untuk menyalimi Stefan. Meski Theo malah berniat menggigit punggung tangan daddy tampan-nya itu jika salim.
“Hati hati daddy...” Hana melambaikan tangan-nya pada Stefan yang melangkah menuju mobilnya.
Stefan terkekeh. Hidupnya benar benar berubah 360 derajat. Jika dulu Stefan tidak punya alasan untuk tersenyum, kini sebaliknya. Stefan tidak punya alasan untuk tidak tersenyum.
------------
Di kediaman dokter Rania.
“Mbak, dokter Ranianya ada kan?” Alan bertanya pada asisten rumah tangga yang sedang mengelap meja diruang tamu.
“Eh tuan. Selamat pagi tuan.. Dokter Rania sedang sarapan di meja makan.” Asisten rumah tangga tersebut sempat terkejut dengan kehadiran Alan yang begitu sangat tiba tiba bahkan tanpa lebih dulu mengetuk pintu seperti biasanya. Dan karena itu Alan merasa bersalah karena sudah mengagetkan pekerja dirumah kekasih tercintanya.
“Maaf ya mbak kalau saya membuat mbak terkejut. Maklum, saya terlalu bersemangat pagi ini.” Ujar Alan merasa tidak enak hati.
“Oh iya.. Nggak papa tuan.” Balas si mbak dengan menganggukan pelan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu saya masuk ya mbak..”
“Ya tuan.. Silahkan.”
__ADS_1
Alan kemudian masuk kedalam rumah mewah dokter cantik itu. Langkahnya langsung menuju meja makan dimana dokter Rania katanya sedang menyantap sarapan paginya.
Alan tersenyum ketika melihat dokter Rania yang sedang sarapan sendiri dengan ponsel yang berada di tangan-nya. Bahkan kedua mata dokter cantik itu juga tidak berpaling dari ponselnya saat sedang menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Alan menggelengkan kepalanya kemudian segera melangkah mendekati dokter kesayangan-nya.
“Jangan di biasain makan sambil pegang handphone.”
Suara Alan berhasil mengalihkan perhatian dokter cantik itu. Dan ketika pandangan-nya bertemu dengan Alan, dokter Rania tersenyum. Wanita itu langsung meletakan ponselnya mengesampingkan berita yang sedang dibacanya lewat telepon genggamnya itu.
“Lagi chatting sama siapa sih sampe se serius itu?” Tanya Alan menarik kursi dan mendudukan dirinya di kursi tersebut yang berada di samping dokter Rania.
“Enggak lagi Chatting kok. Aku lagi baca baca berita. Ternyata banyak banget yang aku nggak tau.” Jawab dokter cantik itu tersenyum dengan gelengan pelan kepalanya.
Alan mengeryit. Karena penasaran dengan berita yang dimaksud oleh dokter Rania, Alan pun meraih ponsel milik dokter Rania untuk ikut melihatnya. Begitu tau apa yang sedang dibaca oleh dokter Rania melalui ponsel ekspresi Alan langsung berubah.
“Ini...”
“Kamu cukup berani memukul Stefan. Dan kamu beruntung karena Stefan tidak memperkarakan apa yang kamu lakukan Alan.” Sela dokter Rania menatap Alan serius.
Alan menelan ludah. Saat itu dirinya benar benar kalap. Alan bahkan tidak berpikir jernih saat itu karena di kuasai oleh emosi. Apa yang dikatakan dokter Rania benar. Dirinya beruntung karena Stefan tidak menuntutnya atas pemukulan yang dilakukan-nya saat itu.
Dokter Rania yang melihat kediaman Alan langsung menyendok nasi goreng di piringnya kemudian menyuapkan-nya dengan tiba tiba pada Alan sehingga Alan tidak sempat menghindar dan menolak suapan-nya.
“Itu artinya Stefan tidak marah. Dan karena kamu juga sudah tidak marah itu artinya masalah itu sudah selesai.” Senyum dokter Rania.
Alan tersenyum mendengarnya. Mungkin apa yang dikatakan dokter Rania benar. Tapi Alan tetap merasa salah mengingat pertemuan terakhirnya dengan Stefan yang dengan lancang memerintah Stefan agar Stefan melepaskan Hana.
“Mungkin aku harus meminta maaf nanti.” Batin Alan.
__ADS_1
“Kamu benar dokter.” Balas Alan setuju.
Dokter Rania mengangguk. Sebenarnya dokter Rania tidak tau menau tentang apa yang Alan lakukan pada Stefan. Dokter cantik itu hanya menebak asal asalan saja karena ada berita tentang luka lebam diwajah Stefan. Apa lagi luka itu tepat terdapat pada wajah Stefan setelah dirinya memberitahu tentang Stefan yang adalah pelaku penabrak Alan. Dan karena Alan yang diam dokter Rania mengartikan sendiri bahwa tebakan-nya memang benar. Alan yang memukul Stefan. Alan yang membuat luka lebam di wajah Stefan.