ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 161


__ADS_3

Stefan sedang menunggu lampu hijau menyala saat ponsel yang dia letakan disamping kursi kemudinya berdering. Pria itu menoleh dan segera meraih benda pipih itu. Senyumnya mengembang ketika mendapati nama kontak Hana yang tertera disana. Hana memang sudah marah marah dan protes lewat beberapa pesan yang dikirimnya tadi. Tentu saja karena wanita itu sedang sangat tidak sabar menunggu kedatangan Stefan ditempatnya sekarang bersama Rico yang memang sebelumnya di mintai tolong oleh Sera untuk menemani Hana karena Sera harus menjemput Angel di sekolahnya.


“Halo...”


“Kamu dimana sih? Niat nggak sih buat temenin aku makan siang? Memangnya sepenting apa pekerjaan kamu itu sampai kamu tidak perduli sama aku hah?!” Semprot Hana yang membuat Stefan meringis dengan kedua mata terpejam karena suara keras Hana di seberang telepon.


“Aku sedang dijalan menuju ketempat kamu Hana.. Tolong sedikit bersabar..” Ujar Stefan merasa jengah karena sifat Hana yang sangat tidak sabaran.


“Aku nggak mau tau. Kalau dalam waktu sepuluh menit kamu tidak juga sampai. Aku akan marah sama kamu.” Ketus Hana kemudian memutuskan begitu saja sambungan telepon-nya tanpa mau mendengarkan apa yang ingin Stefan katakan.


Stefan berdecak. Pria itu kembali meletakan ponsel miliknya di tempatnya semula. Kebetulan saat itu juga lampu hijau menyala membuat semua kendaraan yang menunggu langsung melaju dengan kecepatan perlahan.


Stefan selalu saja tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan tingkah super ajaib istrinya itu. Apa lagi disana juga ada Rico yang pasti menjadi sasaran amukan kemarahan Hana. Dan mengingat itu Stefan benar benar merasa tidak enak hati pada orang kepercayaan-nya itu.


Tidak mau membuat istrinya semakin marah, Stefan pun menambah laju kecepatan mobilnya hingga akhirnya dia sampai bahkan sebelum waktu yang di tentukan oleh Hana.


Begitu sampai di restoran tempat Hana menunggunya, disana Hana sedang mengomel pada Rico yang dengan pasrah hanya bisa menundukkan kepala tidak berani membalas apapun ucapan yang keluar dari mulut Hana.


Hal itu membuat Stefan yang melihatnya merasa sangat tidak tega. Rico adalah orang yang paling bisa Stefan andalkan. Rico selalu melakukan dengan baik tugasnya sebagai orang kepercayaan Stefan. Dan sekarang hanya karena masalah sepele Rico mendapat amukan dari Hana didepan banyak orang.


“Ekhem.”


Deheman Stefan membuat Hana yang sedang ngomel ngomel pada Rico langsung menoleh begitu juga Rico yang langsung mengangkat kepalanya dan menatap Stefan yang sudah berdiri disamping kursi tempat Hana duduk.


Rico merasa terselamatkan sekarang.

__ADS_1


“Rico, kamu boleh pergi sekarang. Terimakasih sudah menemani istri saya.” Ujar Stefan pelan.


“Baik tuan. Saya permisi. Mari nyonya.” Tidak ingin berlama lama lagi berada disekitar Hana yang begitu galak, Rico pun segera berlalu dengan langkah seribunya meninggalkan Stefan dan Hana di resetoran itu.


Stefan menghela napas pelan menatap Hana yang melipat kedua tangan-nya dibawah dada enggan untuk menatapnya. Stefan sadar dirinya salah karena tidak mengangkat telepon dari Hana. Tapi Stefan punya alasan yang kuat karena tadi dirinya sedang ada pembahasan penting dengan Williana juga Boby.


Stefan kemudian mendudukan dirinya dikursi didepan Hana. Sebelum berbicara pada Hana, Stefan menatap ke sekitarnya lebih dulu. Didalam restoran itu sangat ramai pengunjung bahkan sebagian besar dari para pengunjung itu terlihat sesekali mencuri pandang ke arahnya dan Hana. Stefan yakin sikap Hana sekarang pasti sedang menjadi perbincangan hangat orang orang diluar sana.


“Aku pesenin makanan-nya ya...” Stefan berusaha berkata setenang dan se pelan mungkin pada Hana agar Hana tidak lagi marah marah padanya. Karena jika sampai Hana mengomel lagi padanya seperti pada Rico tadi itu pasti akan semakin membuat orang orang disekitar mereka tertarik dengan sikap Hana.


“Nggak usah, aku udah nggak laper.” Jawab Hana ketus.


Stefan menelan ludah. Pria itu bukan mementingkan image nya didepan orang orang. Stefan hanya tidak ingin orang orang memandang Hana sebagai wanita dengan perangai yang tidak baik.


“Hana.. Kamu harus makan. Setelah aku baru kita pulang. Atau mungkin kamu mau kita jalan jalan sebentar hari ini..” Stefan berusaha membujuk Hana.


“Kamu boleh marah sama aku.. Tapi kamu harus tetap makan Hana. Ingat kamu tidak sendiri lagi sekarang. Ada anak kita didalam kandungan kamu.” Tambah Stefan mengingatkan Hana dengan pelan.


Hana menundukkan kepalanya menatap perutnya yang masih rata. Kehamilan-nya benar benar membuat Hana merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Emosinya selalu tidak terkontrol sehingga Hana selalu melakukan semuanya semaunya sendiri. Hana juga selalu menuntut agar orang orang di sekitarnya selalu menuruti apa yang dirinya mau.


Hana memejamkan kedua matanya sebentar kemudian membukanya dengan disertai helaan napas kasarnya. Hana menatap lagi pada Stefan yang masih menunggu jawaban-nya.


“Iya..” Angguk Hana dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.


Stefan tersenyum karena Hana mengiyakan. Pria itu bersyukur Hana tidak semakin mengamuk karena di ingatkan.

__ADS_1


Tidak mau Hana berubah pikiran, Stefan pun segera memesankan makanan untuknya juga Hana. Mereka berdua menikmati makan siang berduanya dengan tenang tanpa candaan ataupun obrolan seperti biasanya.


Setelah selesai makan siang, Stefan mengajak Hana berlalu dari restoran itu dan benar benar membawa Hana jalan jalan sebentar siang ini.


“Mau ice cream?” Tanya Stefan saat keduanya sedang berjalan pelan beriringan ditaman.


Hana yang sejak tadi diam hanya menggelengkan kepala menolak tawaran ice cream dari Stefan.


Melihat istrinya yang tampak murung dan tidak semangat, Stefan pun merasa sangat penasaran. Pria itu yakin Hana pasti sedang memikirkan sesuatu.


Stefan menghentikan langkahnya membuat Hana ikut berhenti. Pria itu kemudian mengajak Hana untuk duduk dikursi panjang yang berada tidak jauh dari tempatnya dan Hana berdiri. Stefan berniat menanyakan apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya itu.


“Ada apa hem?” Tanya Stefan pelan.


Hana menatap Stefan dengan wajah sendunya kemudian menghela napas lagi.


“Aku minta maaf..” Katanya lirih.


Stefan mengeryit mendengarnya. Entah permintaan maaf apa yang sedang dimaksud oleh istrinya pria itu benar benar tidak tau.


“Aku selalu berusaha menahan semuanya Stefan. Tapi aku tidak bisa. Aku juga bingung ada apa dengan diriku sendiri. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Aku selalu merasa marah kalau apa yang aku mau tidak dengan segera di turuti. Aku selalu sadar apa yang aku lakukan itu salah tapi nanti aku akan terus mengulanginya lagi dan lagi.” Lanjut Hana dengan suara bergetar menahan tangis.


“Udah nggak papa.. Aku ngerti kok kenapa kamu begitu. Nggak usah terlalu di pikirin ya.. Yang penting kamu bersikap seperti itunya sama aku aja. Jangan sama yang lain.” Senyum Stefan membelai lembut pipi chuby Hana.


Hana meneteskan air mata mendengarnya. Namun dengan segera Stefan mengusapnya menggunakan ibu jarinya. Stefan kemudian menarik Hana kedalam pelukan-nya.

__ADS_1


“Jangan menangis. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai kamu menangis karena hal sepele seperti ini.” Bisik Stefan yang malah membuat air mata Hana semakin deras menetes dalam pelukan-nya.


__ADS_2