
Stefan melirik Hana yang tampak begitu lahap menyantap makan siangnya. Pria itu sebenarnya berencana mengajak Hana kerumah sakit untuk menjenguk Angel yang masih dalam masa pemulihan. Namun sebelum itu Stefan ingin mengatakan sesuatu tentang Amira pada Hana. Stefan harap apa yang dikatakan-nya nanti bisa membuat Hana menuangkan amarahnya pada Williana. Dengan begitu Hana tidak akan marah padanya ataupun pada yang lain-nya.
Stefan bukan bermaksud tidak mau bertanggung jawab sebagai suami yang istrinya sedang hamil. Stefan hanya ingin Hana melampiaskan amarahnya pada Williana. Selain itu Stefan juga ingin Williana tau siapa istrinya agar Williana tidak selalu meremehkan Hana dengan terus mencoba mendekatinya.
“Hana.. Ada yang mau aku bicarakan. Ini tentang Amira.”
Hana langsung berhenti mengunyah makanan didalam mulutnya begitu mendengar apa yang Stefan katakan. Wanita itu menoleh menatap Stefan yang begitu santai menatapnya.
“Memangnya kenapa dengan Amira?” Tanya Hana penasaran.
Stefan menghela napas dan melirik piring Hana dimana makanan yang sedang di santap oleh istrinya itu hanya tinggal sedikit.
“Jadi begini Hana.. Aku bukan orang yang suka melakukan sesuatu dengan tanggung tanggung. Aku menyuruh seseorang untuk mengawasi keluarga Alan. Aku ingin keamanan mereka terjaga selama Alan masih dalam masa pemulihan. Itu aku lakukan sejak dulu sebenarnya. Dan akhir akhir ini orang suruhan aku mengatakan ada yang mengikuti Amira. Itu semua karena Amira dekat dengan Tristan Atmaja.” Cerita Stefan pada Hana.
Kedua mata Hana menyipit. Kekesalan jelas terlihat dari raut wajahnya sekarang.
“Jadi maksud kamu Williana sedang berusaha mengganggu Amira?”
Stefan merasa dirinya seperti tukang adu domba sekarang. Tapi Stefan merasa Williana adalah orang yang tepat untuk mendapat amukan Hana. Namun itu bukan berarti Stefan lepas tangan. Stefan akan tetap ekstra menjaga Hana dan orang orang yang disayanginya. Stefan hanya berniat memberikan wadah pada Hana untuk menuangkan emosinya.
“Tepat sekali. Tidak salah aku memilih kamu sebagai istriku Hana..” Jawab Stefan tersenyum.
Hana menghela napas dengan rahang mengeras. Entah kenapa emosinya selalu tidak terkendali jika Hana mendengar sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
“Nanti malam kita datangi rumahnya Stefan. Tidak ada orang yang boleh mengganggu siapapun orang yang aku sayangi.” Tegas Hana memerintah pada Stefan.
Stefan hanya menganggukkan pelan kepalanya. Posisinya dengan Hana seperti sedang tertukar. Stefan harus melakukan segala apa yang Hana mau.
“Ya sudah lebih baik sekarang kamu abisin makanan-nya setelah itu istirahat. Sore nanti baru kita kerumah sakit untuk menjenguk Angel.”
Hana hanya diam saja. Wanita itu kembali menyantap makanan-nya dengan ekspresi yang menurut Stefan cukup menyeramkan. Stefan berharap tujuan-nya berhasil untuk memberi pelajaran pada Williana dengan berhadapan langsung dengan Hana yang memang sedang sangat buas karena sedang berada di masa trimester pertama kehamilan-nya.
Setelah selesai makan siang, Stefan menemani Hana untuk istirahat. Dan setelah Hana benar benar terlelap, Stefan keluar kembali dari kamarnya. Pria itu bermaksud mencari tahu lewat para pelayan-nya tentang kemarahan Hana di dapur tadi yang juga membuat para pelayan itu sampai menangis.
Ketika sampai tidak jauh dari ruang kerjanya, Stefan melihat para pelayan-nya sudah berada di depan pintu ruangan-nya. Pria itu menghela napas pelan dan melewati mereka semua begitu saja masuk kedalam ruangan-nya.
Para pelayan itu langsung mengikuti Stefan masuk kedalam ruangan kerja Stefan kemudian berdiri berjejer didepan meja kerja pria itu.
Mereka semua menoleh saling menatap satu sama lain seolah bertanya ke rekan-nya masing masing siap atau tidak untuk menjelaskan pada Stefan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Tidak kunjung ada yang berani bersuara membuat suasana semakin terasa mencekam menurut para pelayan itu. Mereka sebenarnya takut membuat Stefan semakin marah jika tau bahwa kemarahan Hana terjadi juga karena kecerobohan mereka sendiri yang bermain ponsel saat sedang bekerja.
“Kenapa kalian diam?” Tanya Stefan membuat para pelayan itu menutup kedua matanya dengan menggigit bibir bawahnya semakin merasa takut.
Mbak Titin salah satu pelayan yang memang selalu ikut kemanapun jika Stefan dan Hana pergi dengan Angel memberanikan diri mengangkat kepalanya. Sebenarnya mbak Titin tidak ikut terkena kemarahan Hana karena sejak pagi sampai siang dia berada dirumah sakit menemani Sera dan Angel dan baru kembali beberapa menit yang lalu.
“Maaf tuan, bukan-nya saya mau sok tau. Tapi tadi mereka mengatakan pada saya kemarahan nyonya itu disebabkan karena mereka yang bermain handphone saat bekerja.” Ujar mbak Titin berani.
__ADS_1
Stefan berdecak mendengarnya. Stefan juga sering sebenarnya melihat mereka bermain ponsel saat bekerja. Tapi Stefan tidak pernah mempermasalahkan-nya. Toh mereka selalu mengerjakan tugasnya dengan benar dan tepat waktu. Stefan tidak ingin terlalu mengekang kebebasan mereka. Baginya selama mereka jujur dalam bekerja dan disiplin dengan waktu, Stefan tidak keberatan.
“Seperti yang kalian tau, Hana pada dasarnya sangat baik. Saya yakin kalian juga tau itu. Tapi sekarang Hana sedang hamil. Suasana hatinya bisa berubah kapan saja. Emosinya juga sangat tidak terkontrol. Jadi untuk menjaga Hana tetap baik baik saja saya mohon kerja samanya. Jangan membuat sesuatu yang memancing emosinya. Apa kalian mengerti?”
Stefan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran-nya dengan santai sembari menatap satu persatu pelayan yang berdiri berjejer didepan meja kerjanya.
Stefan tidak ingin menyalahkan mereka, namun Stefan juga sangat tidak mungkin menyalahkan istrinya sendiri. Stefan hanya meminta agar para pelayan-nya memaklumi sikap tidak biasa Hana kali ini.
“Mengerti tuan.” Kompak mereka yang merasa lega karena ternyata Stefan tidak marah pada mereka.
“Atas nama istri saya, saya minta maaf sama kalian semua. Untuk kedepan-nya tolong bantu saya menjaga Hana dengan baik. Tidak hanya menjaga fisiknya saja, tapi juga suasana hatinya.”
“Baik tuan.” Kompak mereka lagi menyauti ucapan Stefan.
“Ya sudah, kalian boleh keluar sekarang.”
“Baik tuan. Kami permisi.”
“Hem..”
Stefan mendesah frustasi setelah para pelayan itu keluar dari ruangan-nya. Stefan sangat berharap sikap Hana tidak sampai keterlaluan pada Sera juga Angel. Karena jika sampai itu terjadi Stefan benar benar tidak tau harus berbuat apa.
Stefan memejamkan kedua matanya mencoba untuk menenangkan pikiran-nya sendiri. Stefan merasa sejak Hana hamil beban di pundaknya kembali terasa berat. Namun beban itu tidak seperti beban yang membuat hatinya perih seperti dulu. Beban itu membuat perasaan Stefan campur aduk. Antara bahagia, kesal, namun kadang juga merasa lucu karena tingkah luar biasa ajaibnya Hana.
__ADS_1