ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 217


__ADS_3

“Terimakasih ya bu..” Senyum Amira sambil memberikan belanjaan seorang ibu ibu pelanggan di toko pak Ang.


Tristan yang sedang membantu mencatat barang barang apa saja yang sudah harus dibeli lagi menoleh pada Amira. Tristan yakin Williana pasti tadi mengatakan sesuatu yang mencubit hati Amira. Tristan ingin sekali bertanya pada Amira tapi Tristan ragu. Tristan takut apa yang Williana katakan tadi akan berpengaruh buruk jika Tristan menanyakan-nya sekarang.


“Bagaimana Tristan? Sudah kamu catat semuanya?”


Suara pak Ang membuat Tristan tersentak. Pemuda tampan yang mengenakan kaos biru tua itu langsung menoleh menatap pada pemilik toko baik hati itu kemudian tersenyum tipis.


“Ah ya pak.. Sudah. Sudah saya catat semua barang yang perlu pak Ang beli lagi untuk stok. Ini pak catatan-nya.”


Tristan memberikan buku dimana dirinya mencatat stok stok barang yang mulai menipis itu pada pak Ang. Sebenarnya itu adalah tugas Amira, namun karena Tristan tidak tega melihat Amira kerja sendiri akhirnya Tristan mengambil alih pekerjaan pujaan hatinya itu.


“Oke oke.. Kamu sama Amira memang kompak. Senang saya bekerja dengan kalian.”


Tristan tersenyum mendengarnya. Tristan juga senang karena bisa membantu Amira dalam mengerjakan semua pekerjaan-nya.


“Saya harus pergi sekarang untuk membeli barang barang yang kosong. Dan ini tolong kamu berikan pada Amira ya nanti. Itu saya sekalian jadiin satu biar kalian berdua semakin kompak. Dibagi rata ya..”


“Hah?” Tristan tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh pak Ang. Namun Tristan tetap menerima amplop yang disodorkan oleh pak Ang padanya. Tristan tau itu adalah gaji dari pak Ang.


“Maksudnya gimana ya pak?” Tanya Tristan penasaran.


Pak Ang tertawa pelan. Pria dengan mata sipit itu kemudian menepuk pelan bahu Tristan. Pria itu merasa sangat terbantu dengan adanya Tristan dan Amira yang setiap pulang sekolah pasti datang untuk bekerja di toko miliknya. Pak Ang juga merasa sangat bersalah karena beberapa kali tidak memberikan gaji pada Tristan yang juga membantunya dengan telaten bersama Amira. Pak Ang tau mungkin niat Tristan adalah membantu Amira, namun pak Ang tetap merasa harus memberikan gaji pada Tristan yang juga sudah bekerja di tokonya.


“Itu gaji kamu sama Amira. Maaf ya, saya nggak pernah memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan.”


Tristan terkejut mendengarnya. Niatnya hanya membantu pekerjaan Amira, bukan untuk ikut bekerja pada pak Ang.

__ADS_1


“Ya Tuhan pak Ang tidak perlu repot repot memberikan saya gaji. Saya disini cuma membantu Amira, bukan buat ikut kerja.”


“Sudah tidak papa. Saya tau kamu bukan orang susah seperti Amira. Saya juga tau siapa kamu. Saya hanya memberikan apa yang harus saya berikan pada kamu juga Amira sebagai pekerja disini. Itu terserah kamu mau di apain uangnya. Mungkin kalau untuk Amira semua dia akan sangat senang Tristan.” Ujar pak Ang membuat Tristan terdiam.


“Ya sudah ya Tristan saya pergi dulu. Titip toko ya.. Nanti kalau sudah di tutup kamu sama Amira antarkan saja kuncinya kerumah saya.” Pak Ang menepuk pelan bahu Tristan sebelum berlalu dari toko miliknya untuk berbelanja guna menambah stok barang yang mulai menipis di toko sembako miliknya.


“Oh iya pak. Hati hati..” Senyum Tristan menganggukkan pelan kepalanya.


Tristan menatap pak Ang yang mulai masuk kedalam mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari depan toko. Setelah itu Tristan menatap amplop di tangan-nya. Amplop itu cukup tebal dan Tristan yakin isinya juga banyak.


“Amira pasti seneng.” Gumam Tristan menatap amplop tersebut penuh arti kemudian mendekat pada Amira yang beberapa kali sibuk melayani pelanggan yang membeli di toko pak Ang.


“Hey..”


Amira menoleh mendengar suara Tristan. Gadis itu tersenyum manis menatap Tristan yang berdiri disampingnya.


Ya, pak Ang memang memberi kebebasan pada Amira untuk memakan atau meminum apa saja yang ada di toko itu. Tidak perlu membayar asal tetap di hitung.


“Tapi tadi sudah aku minum sedikit.” Tawa pelan Amira.


“Boleh.. Kebetulan aku juga lagi sedikit haus.” Angguk Tristan tersenyum.


“Oke, sebentar.”


Amira kemudian meraih segelas teh hangat buatan-nya dan memberikan-nya pada Tristan yang langsung menerimanya dengan senang hati.


Tristan menyeruput pelan teh hangat tersebut kemudian menaruhnya di etalase di depan-nya dan Amira.

__ADS_1


“Oh iya Amira, tadi sebelum pak Ang pergi dia nitipin sesuatu ke aku buat kamu.” Ujar Tristan membuat Amira mengeryit.


“Nitip sesuatu buat aku?” Tanya Amira bingung.


Tristan kemudian menunjukkan amplop di tangan-nya pada Amira.


“Ini gaji kamu bulan ini Ra.. Lumayan tebel loh ini amplopnya. Pasti isinya banyak, atau nggak ini pak Ang kasih kamu gajinya uang receh kali ya..” Ujar Tristan yang disertai dengan candaan.


Amira tertawa mendengarnya. Gadis itu kemudian menerima amplop yang Tristan sodorkan padanya. Dan begitu memegang amplop berisi uang gajinya tersebut, Amira berpikir apa yang di katakan Tristan mungkin benar tentang uang yang ada di amplop itu recehan. Tapi Amira tidak mempermasalahkan-nya. Yang penting adalah uang itu bisa dia berikan pada ibunya juga untuk memenuhi kebutuhan-nya sendiri.


“Aku buka nanti aja kali yah.. Lagian sebentar lagi kan kita tutup warung. Udah sore juga.”


“Iya.. Nanti aja bukanya.” Angguk Tristan setuju.


Amira tersenyum. Gadis itu tidak tau apa jadinya jika Tristan tidak membantunya bekerja di toko sembako milik pak Ang. Karena sebenarnya pekerjaan di toko itu lumayan berat jika harus Amira sendiri yang mengerjakan-nya.


“Tristan, aku bener bener enggak tau harus bilang apa sama kamu. Kayanya makasih aja nggak cukup deh buat semua yang udah kamu lakukan untuk aku.”


Tristan menghela napas merasa jengah dengan apa yang Amira katakan. Tristan melakukan semua itu karena Tristan sayang dan perduli pada gadis itu. Tristan ingin selalu bisa membuat Amira tersenyum. Tristan ingin bisa selalu ada untuk membantu meringankan beban Amira juga melindunginya dimanapun mereka berdua berada.


“Udah nggak usah lebay. Mending sekarang kita mulai beres beresin barang barang yang ada di meja depan. Biar nanti pas tutup nggak terlalu repot. Ah ya Amira, kan hari ini kamu dapat gaji. Jadi kamu harus traktir aku mie ayam di langganan kita nanti.” Senyum Tristan pada Amira.


“Hahaha.. Iya iya tenang aja. Aku bakal traktir kamu makan mie ayam sepuasnya nanti sore.” Balas Amira menganggukkan kepalanya dengan tawa.


Tristan ikut tertawa sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Amira untuk mulai membereskan barang barang yang ada didepan toko sembako milik pak Ang.


Amira tersenyum menatap Tristan yang begitu tulus membantunya setiap hari di toko pak Ang. Hal itu membuat Amira merasa kasih sayangnya pada Tristan semakin hari semakin besar. Amira bahkan merasa tidak akan sanggup jika harus kehilangan Tristan.

__ADS_1


__ADS_2