ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 235


__ADS_3

Setelah dokter Rania mengatakan yang sesungguhnya, suasana antara keduanya menjadi hening. Alan terus diam dengan ekspresi yang membuat dokter Rania sendiri tidak tau apa yang sedang Alan pikirkan. Dokter Rania juga khawatir Alan akan mengamuk mendatangi kediaman Stefan. Itu pasti akan menjadi masalah besar apa lagi jika sampai Alan mengatakan pada Hana sebelum Stefan jujur lebih dulu pada Hana. Stefan pasti akan sangat murka dan melakukan sesuatu yang akan menyulitkan Alan.


“Alan aku...”


Lagi lagi dokter Rania tidak tau harus berkata apa pada Alan. Dokter Rania tau bagaimana perasaan Alan sekarang. Dan dokter Rania tidak bisa memaksa untuk Alan mengerti. Tapi dokter cantik itu juga tidak mau Alan sampai melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.


Alan tiba tiba menghentikan mobilnya membuat dokter Rania mengeryit bingung.


“Loh kok..”


“Maaf dokter, aku turun disini saja.” Ujar Alan menyela apa yang ingin dikatakan dokter Rania kemudian langsung turun dari mobil dokter Rania.


“Alan..”


Dokter Rania cepat cepat melepas seatbelt yang melingkupi tubuhnya kemudian turun dari mobilnya berniat mencegah kepergian Alan.


“Alan tunggu !! Alan !!”


Dokter Rania berteriak memanggil nama Alan yang terus saja melangkah menjauh tanpa sedikitpun menoleh. Pria itu kemudian menyetop tukang ojek yang melintas di depan-nya dan memintanya di antar ke tempat tujuan-nya meninggalkan dokter Rania.


Dokter Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka Alan akan meninggalkan-nya begitu saja. Bahkan Alan sama sekali tidak menoleh saat dokter cantik itu menyerukan namanya memanggilnya.


“Kenapa aku bodoh sekali. Kenapa aku harus mengatakan itu sekarang kalau pada akhirnya Alan akan marah seperti ini.” Gumam dokter Rania penuh sesal.


Dokter Rania kemudian kembali masuk kedalam mobilnya. Wanita itu menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan pulang. Dokter Rania yakin saat ini Alan sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


“Ya Tuhan.. Semoga Alan tidak melakukan sesuatu yang membuatnya dalam bahaya.” Batin dokter Rania sambil mengemudikan mobilnya.


----------

__ADS_1


“Aku pulang..”


Ibu sedang mengaduk sup dalam pancinya ketika mendengar suara Alan. Wanita itu menoleh dan tersenyum kemudian segera mengecilkan kompornya sebelum berbalik menyambut kepulangan putra sulung kesayangan-nya yang melangkah mendekat hendak menyaliminya.


“Kok nggak kedengeran suara motornya nak?” Tanya Ibu pada Alan yang sedang menyaliminya.


Alan menghela napas. Pria itu memang tidak membawa pulang motornya karena naik ojek dan turun didepan gang yang akan menuju kerumah sederhananya.


“Iya bu.. Alan nggak bawa motor sendiri. Motornya Alan tinggal di kantor. Jadi Alan naik ojek.” Jawab Alan membuat ibu mengeryit.


“Loh kenapa? Memangnya motor kamu kenapa nak? Rusak lagi?” Tanya ibu menatap Alan.


Alan terpaksa mengukir senyuman dibibirnya agar ibu tidak khawatir. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


“Enggak bu, motor Alan nggak rusak. Cuma tadi Alan diajak pergi sebentar sama dokter Rania. Jadi motornya Alan tinggal.” Jawab Alan.


“Ya bu..” Angguk Alan menurut saja.


Alan kemudian berlalu meninggalkan ibu didapur dan masuk kedalam kamarnya. Pria itu menutup pelan pintu kamarnya kemudian menghela napas.


Apa yang dokter Rania katakan padanya tentang Stefan adalah orang yang menabraknya malam itu membuat Alan sangat sangat terkejut. Alan kemudian bertanya tanya bagaimana mungkin tiba tiba Stefan bertemu dengan Hana dan menawarkan pernikahan padanya.


“Apa mungkin sebenarnya Stefan memang mengincar Hana dan sengaja membuatku celaka agar aku tidak bisa bersama dengan Hana?” Alan menelan ludahnya membayangkan kemungkinan kemungkinan yang tiba tiba hinggap di benaknya.


“Tapi kalau memang begitu kenapa Stefan membiayai semua pengobatanku? Apa maksudnya? Apa kemauan-nya sebenarnya?”


Alan terus bertanya tanya. Emosi bercampur bingung menjadi satu menguasai hati dan pikiran-nya. Alan juga sangat penasaran kenapa tiba tiba Stefan mengajukan syarat sedang memberikan pengobatan padanya juga adalah tanggung jawabnya sebagai seorang pelaku yang telah menabrak Alan.


“Aku nggak bisa begini terus. Aku harus mendatangi Stefan dan menanyakan apa maksudnya malam ini juga. Aku juga harus memberitahu Hana bahwa Stefan bukan laki laki yang baik. Dia adalah pembohong. Aku nggak rela Hana hidup dengan seorang pembohong seperti keparat itu.” Ujar Alan menggebu gebu.

__ADS_1


Alan kemudian meraih handuk dan segera keluar kembali dari kamarnya menuju kamar mandi. Alan bergegas membersihkan dirinya untuk kemudian bersiap siap karena berniat menemui Hana untuk memberitahu apa yang baru saja Alan tau dari dokter Rania.


Ibu yang melihat Alan tampak sangat buru buru masuk ke kamar mandi melewatinya terlihat kebingungan. Ibu kemudian menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak ingin berpikir terlalu panjang dan menganggap mungkin putranya memang sedang buru buru karena tidak betah padan-nya lengket oleh keringat setelah seharian beraktivitas diluar.


“Bu...”


Suara Amira membuat ibu yang hendak mengambil teh popok menoleh. Ibu tersenyum dan mengurungkan niatnya kemudian memutar tubuhnya menunggu Amira dan Tristan yang sedang melangkah mendekat padanya.


“Baru pulang nak?” Tanya Ibu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Iya bu..” Jawab Amira sambil menyalimi ibunya yang kemudian bergantian dengan Tristan yang juga menyalimi ibu.


“Mau ibu bikinin teh juga? Kebetulan ibu juga mau membuatkan teh untuk kakak kamu.” Tawar ibu menatap Amira dan Tristan bergantian.


“Ah nggak usah deh bu.. Biar aku aja yang bikin teh nya. Ibu duduk aja, jangan terlalu kelelahan. Nanti sakit loh.” Tolak Amira dengan halus.


Ibu tertawa mendengarnya. Putrinya meskipun memang keras kepala tapi juga sangat penuh perhatian padanya. Amira bahkan bekerja juga untuk membantunya memenuhi kebutuhan sehari hari dengan memberikan separuh gajinya pada ibu. Namun ibu tidak pernah sedikitpun memakai uang pemberian Amira. Ibu selalu menyimpan uang itu diam diam karena memang semua kebutuhan-nya sehari hari sudah di jamin oleh Stefan.


“Mending sekarang ibu duduk aja sama Tristan didepan. Biar Amira yang buatin tehnya buat kakak juga buat ibu dan Tristan. Oke?”


Amira merangkul lembut bahu ibunya dan mengajaknya ke ruang tamu dengan Tristan yang mengikuti dari belakang. Amira kemudian mendudukan ibu dengan lembut di sofa.


“Udah ibu ngobrol aja disini sama Tristan. Tristan temenin ibu yah..” Senyum Amira berkata pada ibu kemudian beralih pada Tristan.


“Oke..” Angguk Tristan mantap.


Amira kemudian berlalu menuju dapur lagi. Ketika hendak meraih gelas, pintu kamar mandi dibuka oleh Tristan. Pria itu sama sekali tidak menyapa Amira dan melangkah dengan cepat menuju ke kamarnya. Amira yang melihat itu kebingungan karena tingkah kakaknya yang sangat tidak biasa menurutnya.


“Kakak kenapa? kok aneh banget.” Gumam Amira pelan.

__ADS_1


__ADS_2