
“Hana, boleh aku tau bagaimana perasaan kamu pada Alan sekarang?”
Hana mengeryit saat tiba tiba Stefan menanyakan perihal tentang perasaan-nya pada Alan. Hana menatap tidak mengerti pada Stefan yang sedang memangku Theo di sampingnya. Ya, saat ini mereka sedang bersantai di taman belakang rumah dengan menikmati teh hangat yang sengaja Hana buat sendiri tanpa meminta bantuan dari para pelayan.
“Apa maksud kamu?” Tanya Hana pelan.
Stefan menghela napas. Meski Stefan selalu meyakini Hana tidak memiliki rasa apapun selain perasaan sebagai sahabat pada Alan, tapi Stefan kadang juga merasa ragu mengingat lamanya hubungan keduanya terjalin.
“Tadi Alan datang ke kantor. Dia bahkan menungguku di ruangan saat aku sedang makan siang dengan client. Dan kamu tau apa yang di katakan?” Stefan menoleh menatap Hana yang juga sedang menatapnya mendengarkan.
“Dia bilang dia mencintai kamu.” Lanjut Stefan.
Kedua mata Hana melebar mendengar itu. Hana memang tidak bisa melarang siapapun mencintainya. Justru Hana berterimakasih karena ada orang yang mencintainya. Karena itu artinya Hana berarti bagi seseorang.
“Dia bilang dia marah dan merasa ingin mati saja begitu tau kamu menikah denganku.” Stefan kembali berkata.
Hana menarik napas kemudian menghembuskan-nya dengan pelan mencoba untuk tenang. Obrolan-nya dengan Stefan cukup sensitif kali ini. Dan Hana tau dirinya harus bagaimana menyikapinya karena jika sampai Hana tidak bisa bijak tentu obrolan tersebut akan memicu permasalahan antara keduanya.
Hana menarik pelan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Namun itu malah membuat Stefan melengos memalingkan pandangan-nya.
“Daddy.. Sebelumnya kita sudah sepakat untuk tidak membawa bawa nama laki laki atau perempuan lain setiap kita mengobrol. Tapi sekarang malah kamu yang membawa nama Alan. Tapi tidak apa apa. Aku maklum, semua itu karena kamu yang pasti takut kehilangan aku kan?”
Stefan mengeryit kemudian kembali menatap aneh pada Hana. Dalam benaknya Stefan bertanya tanya, sejak kapan istrinya menjadi wanita dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.
“Kamu tenang aja. Karena meskipun Alan mengatakan mencintaiku, toh aku sama sekali nggak ada rasa sama dia. Seharusnya kamu merasa beruntung karena aku yang katanya sangat di cintai oleh Alan ini malah mencintai kamu dan memilih kamu sebagai suami aku.” Lanjut Hana yang masih saja menyombongkan dirinya didepan Stefan.
Stefan tersenyum. Apa yang Hana katakan memang benar. Tidak seharusnya Stefan merasa risau karena Hana saja sudah menjadi miliknya seutuhnya. Dan Hana tidak punya sedikitpun celah untuk meninggalkan-nya.
“Dasar jelek. Pake menyombongkan diri segala.” Sindir Stefan merasa geli.
Hana merasa lega melihat Stefan tersenyum meski pria itu menyindirnya.
__ADS_1
“Eh eh jangan lupa, jodoh itu cerminan diri kita. Jadi kalau aku jelek, kamu jelek juga.” Kata Hana yang tidak terima dikatakan jelek oleh Stefan.
“Iya deh iya.. Yang penting kamu jodohnya aku.” Senyum Stefan menatap Hana penuh cinta.
Hana menutup mulutnya tertawa pelan merasa malu sendiri. Hana tidak menyangka dirinya bisa dengan begitu percaya diri berkata pada Stefan bahwa Stefan beruntung karena di pilih olehnya. Sementara menurut Hana, dirinyalah yang beruntung karena berhasil membuat Stefan jatuh cinta padanya.
“Mommy, daddy..”
Hana dan Stefan kompak menoleh ketika mendengar suara Angel. Sontak mata pasangan suami istri itu melebar melihat tubuh Angel yang kotor berlumur lumpur. Sementara di belakang Angel dua body guard berdiri dengan kepala tertunduk seperti takut di salahkan.
“Ya Tuhan, Angel.” Hana terkejut bukan main. Wanita itu langsung bangkit dari duduknya menghampiri Angel yang malah tersenyum lebar tanpa sedikitpun merasa kesakitan.
Stefan yang juga terkejut karena baju putrinya yang begitu kotor ikut berdiri dan mengikuti Hana menghampiri Angel.
“Kamu kenapa kak? Ya Tuhan.. Baju kamu kenapa kotor begini?” Tanya Hana khawatir.
Angel tertawa pelan. Bajunya memang kotor penuh lumpur karena dirinya yang terperosok masuk ke got saat sedang berlatih sepeda dengan di awasi oleh dua body guard Stefan.
“Apa yang terjadi pada Angel?” Tanya Stefan menatap tajam kedua body guard yang berdiri di samping kanan dan kiri Angel. Emosi Stefan langsung memuncak karena melihat putrinya bermandikan lumpur.
“Angel nggak papa dad. Jangan salahin om body guard. Ini salah Angel kok.”
Stefan langsung beralih menatap pada Angel lagi. Pria itu mengeryit tidak mengerti dengan apa yang Angel katakan.
“Jadi?” Tanya Hana meminta penjelasan pada Angel. Wanita itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Angel.
Angel tersenyum lebar.
“Angel jatuh dari sepeda mom, dad. Terus Angel kecebur ke got tidak jauh dari rumah. Om body guard yang menyelamatkan Angel.” Jelas Angel menatap bergantian pada Stefan juga Hana.
Stefan menyipitkan kedua matanya lalu kembali melayangkan tatapan tajam pada kedua pekerjanya itu.
__ADS_1
“Kalian..”
“Daddy.. Angel belum selesai ngomongnya.” Sela Angel dengan sangat pelan dan hati hati. Gadis kecil itu tidak ingin jika sampai dua body guard itu mendapat kemarahan Stefan karena kenakalan-nya.
Stefan berdecak pelan. Pria itu mulai merasa jengah sekarang.
“Sayang.. Katakan dengan jelas. Jangan membuat daddy marah. Oke?” Senyum Hana sambil mengusap lumpur yang mengotori pipi Angel.
Angel mengangguk paham.
“Angel melarang mereka menjaga Angel saat bersepeda dad.. Angel ingin bisa melaju kencang sendiri dengan sepeda Angel. Tapi mereka berdua tetap mengawasi Angel dari belakang. Angel sengaja menggoes dengan cepat supaya mereka kewalahan mengejar Angel tapi karena kecerobohan Angel, Angel malah jatuh dan masuk ke got dad.” Jelas Angel yang membuat Stefan mengerang frustasi. Putrinya mulai berulah sekarang.
Sedang Hana, wanita itu terkekeh geli. Hana tau bagaimana rasa penasaran seorang anak seusia Angel. Karena Hana sendiri sudah terbiasa dengan kenakalan kenakalan seperti itu. Sebagai mantan guru TK Hana tentu sudah berpengalaman dengan tingkah anak kecil seperti Angel.
“Ya sudah nggak papa sayang. Tapi jangan di ulangi lagi ya.. Itu berbahaya. Oke?” Senyum Hana menatap penuh sayang putrinya.
“Ya mommy.” Angguk Angel mengerti.
“Daddy, Angel minta maaf.” Angel beralih menatap pada Stefan yang menggendong Theo.
Stefan hanya diam saja. Angel hampir saja membuat Stefan memarahi dua body guardnya.
“Kalian boleh kembali dengan pekerjaan kalian.” Perintah Stefan.
“Baik tuan.” Angguk keduanya dengan tegas kemudian segera berlalu dengan helaan napas lega.
Saat itu seorang pelayan melintas yang kemudian langsung di panggil oleh Stefan.
Stefan menyuruh pelayan itu untuk membantu Angel membersihkan diri. Pria itu merasa sedikit kesal pada Angel yang tidak biasa begitu bandel.
Hana menghela napas kemudian terkekeh geli. Angel membuatnya dan Stefan khawatir. Hana kemudian bangkit berdiri dan menoleh pada Stefan yang sedang mencoba menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
“Anak se usia Angel memang sedang sangat besar rasa penasaran-nya dad.. Lebih luaskan lagi rasa sabar kamu.” Ujar Hana dengan lembut.
Stefan hanya diam saja. Pria itu tidak seperti Hana yang bisa memaklumi kenakalan anak se usia Angel.