ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 272


__ADS_3

Paginya, Tristan langsung berangkat sekolah tanpa pamit lebih dulu pada Williana. Tristan bahkan keluar dari rumah sebelum Williana keluar dari kamarnya. Pemuda itu melajukan motor gedenya dengan kecepatan diatas rata rata membelah jalanan pagi yang belum terlalu padat seperti biasanya.


Dalam waktu singkat Tristan sampai didepan rumah sederhana keluarga Alan. Pemuda itu menghela napas kemudian melepaskan helm full face nya.


Alan yang saat itu baru saja keluar dari rumah mengeryit melihat Tristan yang sudah sampai pagi pagi sekali. Penasaran, Alan pun melangkah menghampiri Tristan.


“Loh Tan, rajin banget pagi pagi begini udah jemput Amira. Aku aja yang mau kerja belum ngapa ngapain loh. Amira juga baru lagi mandi.” Kata Alan.


“Eh iya kak.. Ini lagi pengin rajin aja. Oh iya kak, ibu udah masak kan?” Jawab Tristan kemudian bertanya dengan senyuman malu malunya. Tristan berniat ikut sarapan bersama karena sekarang sedang merasakan lapar yang amat sangat.


“Yee.. Dateng kerumah orang tua bukan-nya bawa malah mau ikut ngabisin makanan.” Sindir Alan.


Tristan meringis mendengarnya. Tristan memang sudah tidak lagi malu pada keluarga Amira. Tristan bahkan merasa seperti berada di tengah tengah keluarganya sendiri jika sedang berada diantara Amira, Alan, juga ibu dan Aisha.


“Enggak enggak. Aku cuma bercanda kok. Ibu ada di belakang kok lagi siapin sarapan. Kamu masuk aja.” Tawa pelan Alan kemudian sambil menepuk pelan bahu Tristan yang meringis malu karena sindiran candaan-nya.


“Em.. Ya udah deh kalau begitu aku masuk ya kak..”


“Oke..”


Tristan kemudian masuk kedalam rumah sederhana keluarga Alan. Pemuda itu langsung menuju meja makan yang berada di dapur. Disana Tristan langsung menyapa dan menyalimi ibu dengan sopan santun.


“Tumben pagi pagi sekali sudah kesini nak.. Lagi ngambek ya sama kakaknya?” Tebak ibu yang langsung mengenai sasaran.


Tristan hanya tertawa saja. Tristan tidak ingin menceritakan apapun juga pada siapapun jika sudah menyangkut sisi buruk kakaknya. Apa lagi pertengkaran-nya dengan Williana semalam juga ada sangkut pautnya dengan Amira.


“Biasalah bu.. Salah paham sedikit.” Angguk Tristan membenarkan tebakan ibu. Meskipun tidak ingin bercerita, Tristan juga tidak ingin berbohong untuk menutupinya.


“Ibu paham kok nak Tristan. Amira juga dulu sering banget debat sama kakaknya. Dan yah, pasti akan ada drama ngambek. Itu sudah biasa terjadi pada saudara kakak beradik. Tapi meskipun begitu ibu yakin kalian tetap saling menyayangi. Bukan begitu?”

__ADS_1


Tristan menatap punggung ibu yang sedang mengaduk nasi goreng didalam wajan. Kehangatan keluarga itu benar benar membuat Tristan merasa sangat beruntung karena bisa berada di tengah tengah mereka. Itu membuat Tristan merasa lengkap bahkan meski sedang bertengkar dengan Williana.


----------


“Selamat pagi mommy.. Selamat pagi daddy..” Sapa ceria Angel membuka pelan pintu kamar Stefan dan Hana yang saat itu sedang bekerja sama memakaikan baju pada Theo yang baru saja selesai di mandikan oleh Hana.


“Eh, anak cantiknya mommy.. Udah cantik. Selamat pagi juga kakak.. Sini sayang.” Saut Hana menoleh dan menatap Angel yang berdiri di celah pintu yang dibuka sedikit oleh gadis kecil bermata bello itu. Hana menyuruh agar Angel mendekat padanya juga Stefan.


Sedang Stefan, pria itu hanya tersenyum saja menatap putri pertamanya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


“Kemarilah.” Perintahnya pada Angel.


Angel tersenyum kemudian masuk kedalam kamar kedua orang tuanya. Gadis cantik itu mendekat pada Stefan dan Hana.


“Adek baru selesai mandi ya mom?” Tanya Angel pada Hana.


“Angel senang mommy.. Tapi kayanya Angel akan lebih senang lagi kalau jalan jalan-nya sama mommy sama daddy juga. Adek Theo juga.”


Hana tertawa pelan mendengarnya. Theo memang jarak di ajak keluar secara langsung oleh Hana yang merasa lebih betah dirumah sejak Theo lahir.


“Iya deh.. Nanti kalau daddy nya nggak sibuk kita semua jalan jalan sama sama yah..” Ujar Hana yang kemudian melirik Stefan meminta persetujuan dengan alasan yang di lontarkan-nya.


Stefan mengeryit. Sejak ada Theo, Stefan benar benar mengurangi kesibukan-nya. Stefan juga selalu berusaha sebaik mungkin membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga kecilnya. Dan Stefan merasa jika hanya untuk jalan jalan bersama saja itu bukan hal yang sulit. Stefan bisa mengatur waktu karena Stefan juga punya Rico yang bisa menghandle semua pekerjaan-nya dengan baik.


“Beneran mommy?” Tanya Angel antusias.


“He'em..” Angguk Hana mengiyakan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Stefan tersenyum samar. Hana beralasan dengan cukup baik agar Angel tidak merasa kecewa meski sebenarnya sedikit menyudutkan Stefan. Tapi Stefan tidak mempermasalahkan. Baginya selama Hana dan putranya Theo merasa nyaman itu sudah sangat sangat cukup.

__ADS_1


“Iya.. Nanti kalau daddy ada waktu dan nggak sibuk, kita bisa jalan jalan. Sama oma juga. Bahkan sama mbak mbak, terus om body guard pada ikut juga boleh. Biar rame.” Senyum Stefan menatap Hana dan Angel bergantian.


Angel tertawa mendengarnya.


“Daddy ada yang kelupaan.”


“Oh ya? Siapa?” Tanya Stefan mengeryit penasaran menatap Angel.


“Pak satpam. Kan kasihan kalau nggak di ajak.” Jawab Angel.


Stefan terkekeh mendengarnya. Pria itu benar benar tidak serius mengatakan-nya.


“Dan juga om Alan. Bukankah dia teman mommy sama daddy?”


Kekehan Stefan langsung sirna begitu mendengar Angel menyebut nama Alan. Wajahnya yang semula begitu hangat kini langsung berganti menjadi datar dan penuh dengan aura dingin.


Hana yang merasakan perubahan drastis Stefan karena Angel menyebut nama Alan langsung diam. Hana tidak menyangka Angel akan menyebut nama Alan.


“Om Alan kan juga orang baik dad.. Dia yang nolongin Angel kan?” Tanya Angel lagi yang tidak bisa mengerti perubahan mimik wajah tampan daddy nya.


Stefan melirik pada Hana sekilas. Pria itu tau Hana juga terkejut karena Angel yang tiba tiba menyebut nama Alan.


“Hem.. Ya, om Alan orang yang baik. Dia teman baik daddy juga. Tidak masalah kalau kamu ingin jalan jalan dengan dia juga. Bahkan kak Aisha dan kak Amira ikut juga tidak masalah. Semuanya boleh ikut. Asal kamu senang, apapun akan daddy lakukan.” Jawab Stefan kembali mengukir senyuman di bibir tipisnya. Stefan merasa dirinya harus pandai menahan diri di depan istri juga anaknya sekarang.


“Yeee.. Makasih daddy, Angel sayang banget sama daddy..” Senang Angel bersorak.


Stefan kemudian merentangkan kedua tangan-nya membuat Angel langsung berhambur memeluknya.


Hana yang melihat itu menghela napas lega. Hana tidak menyangka suaminya akan bisa begitu bijak menjawab pertanyaan Angel meski sebenarnya perasaan-nya tidak seperti apa yang di katakan-nya pada Angel.

__ADS_1


__ADS_2