ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 29


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu berhasil membuat Aisha terbangun dari tidur lelapnya. Aisha mengeryit kemudian menatap jam beker yang ada diatas meja disamping ranjang kecilnya. Ranjang yang hanya muat di tiduri olehnya saja.


“Sudah larut.. Apa ibu sakitnya kambuh?” Aisha mengucek kedua matanya kemudian bangkit dari berbaringnya dan turun dari ranjangnya.


Dengan langkah sempoyongan menahan kantuk Aisha menuju pintu kemudian membukanya.


“Kakak..”


Aisha menutup mulutnya karena menguap. Gadis itu menatap bingung pada Amira yang berdiri didepan-nya dengan tatapan seperti orang yang sedang menahan kekesalan.


“Kakak belum tidur?” Tanya Aisha.


Amira menelan ludah mencoba menahan emosinya yang hampir saja membludak. Amira kemudian meraih tangan Aisha dan membawanya masuk kembali kedalam kamar gadis imut itu dengan sedikit kasar.


“Awh kak, sakit..” Aisha meringis karena cekalan tangan Amira yang begitu kuat di pergelangan tangan-nya.


Amira menghempaskan kasar tangan Aisha membuat Aisha hampir saja jatuh.


“Kak, kakak kenapa?” Tanya Aisha dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca. Aisha tidak tau apa salahnya sehingga Amira terlihat begitu sangat emosi padanya.


“Nggak usah pura pura bodoh kamu Aisha. Kamu pikir kakak nggak tau darimana kamu hari ini sampai kamu pulang telat?”


Aisha menundukan kepalanya tidak berani menatap tatapan tajam Amira padanya.

__ADS_1


“Kamu menemui kak Hana kan? Kamu ngemis ngemis apa sama dia hah? Kamu mau keluarga kita semakin direndahkan oleh Stefan Devandra? iya?!”


Nada pertanyaan Amira tiba tiba meninggi membuat Aisha menangis dan menutup kedua matanya takut dengan amarah kakaknya itu. Amira memang tidak seperti kakak pertamanya Alan yang begitu sabar dan penuh kelembutan bahkan saat sedang marah sekalipun.


“Kamu mikir nggak sih Aisha? Kak Hana menukar dirinya untuk kita. Kak Hana disana pasti di tindas dan direndahkan oleh keluarga kaya raya itu. Kamu nggak usah nambahin beban kak Hana deh. Dia itu orang lain. Dia bukan siapa siapa kita !”


Aisha mulai terisak karena amarah Amira padanya. Gadis itu sedikitpun tidak bermaksud membuat Hana tertindas. Aisha hanya mengikuti ucapan Rico yang mengatakan bahwa Hana ingin bertemu dengan-nya. Rico bahkan menjemputnya di sekolah membuat Aisha menjadi pusat perhatian di seluruh sudut sekolah.


“Aku.. Aku nggak ngemis kak..” Geleng Aisha berusaha membela diri.


Aisha benar benar takut pada kakaknya itu. Amira sangat menyeramkan jika sedang marah.


“Lalu ngapain? Ngapain kamu nemuin kak Hana? kamu mau keluarga kita semakin di remehkan hah?!” Teriak Amira yang benar benar sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Aisha langsung berlari dan memeluk ibunya begitu wanita bertubuh ringkih itu muncul di ambang pintu kamarnya. Aisha menangis terisak dalam pelukan ibunya tanpa berani melawan Amira.


Amira melengos. Gadis itu tau ibunya pasti akan menyalahkan-nya sekarang.


“Kenapa Aisha menangis? Dan kenapa kamu teriak malam malam begini?” Tanya ibu menatap tajam pada Amira.


Wanita itu sebenarnya bukan wanita yang kasar dan gampang terpancing emosi. Tapi tingkah Amira akhir akhir ini memang selalu menguji kesabaran-nya. Selain tidak mau sekolah, Amira selalu bersikap tidak baik pada dokter Rania yang menangani Alan. Amira juga selalu ngeyel ingin mencari pekerjaan dan bertekad untuk mengganti semua uang yang sudah mereka pakai pada Hana dan Stefan.


“Ibu mau nyalahin aku lagi?” Tanya Amira tidak berani menatap ibunya secara langsung.


“Kamu memang salah Amira. Dan sekarang kamu masih ingin di anggap benar? ibu benar benar nggak tau apa yang ada di kepala kamu. Kamu terus menyalahkan orang yang sudah begitu baik membantu keluarga kita. Apa pernah ibu mengajarkan kamu begini Amira? Apa ibu tidak pernah mengajarkan kamu bagaimana caranya berterimakasih pada orang yang sudah membantu kita Amira?” Tanya ibu dengan suara bergetar. Wanita itu benar benar tidak tau lagi harus bagaimana menyikapi Amira, putri keduanya yang mendadak berubah selalu memberontak sejak Alan di operasi.

__ADS_1


Amira hanya diam dengan rahang mengeras. Air mata sudah menggenangi kelopak matanya.


Amira tidak ingin melawan ibunya, Tapi Amira juga tidak ingin terlalu mempercayakan semuanya pada Hana. Karena Amira sendiri tau apa yang dilakukan Hana dengan menukar dirinya demi uang dan biaya pengobatan Alan pasti akan sangat menyakiti Alan. Alan bahkan mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri nanti jika sadar dan tau apa yang Hana lakukan.


“Apa kamu tidak pernah berpikir Amira? Hana itu siapa? Dia adalah teman kakak kamu tapi dia begitu baik dan sangat perduli pada keluarga kita bahkan sampai rela mengorbankan dirinya sendiri. Kalau Hana tidak melakukan itu apa kamu pikir kakak kamu masih ada sekarang? Apa kakak kamu bisa mendapat penanganan yang bagus seperti sekarang? Ibu nggak habis pikir sama kamu Amira.. Bahkan pada dokter Rania kamu begitu tidak sopan.”


Amira tidak bisa menjawab. Bersikap tidak baik pada orang orang yang perduli padanya bukan maksudnya. Amira hanya bingung harus bagaimana mengungkapkan perasaan-nya. Amira tidak tau harus bagaimana mengatakan pada Hana bahwa Alan diam diam memendam cinta padanya. Apa lagi Alan juga sudah memintanya untuk berjanji agar Amira merahasiakan tentang rasa cinta yang Alan pendam untuk Hana.


“Ibu kecewa sama kamu Amira..” Tangis ibu membalas pelukan erat Aisha yang masih menangis karena dimarahi oleh Amira.


“Ayo nak.. Kamu tidur sama ibu.. Biarkan kakak kamu berpikir tentang apa yang dia lakukan akhir akhir ini.”


Aisha hanya menganggukan kepalanya. Gadis itu menurut saat ibunya menuntun-nya berlalu dari depan kamarnya.


Setelah adik dan ibunya berlalu tangis Amira pecah. Buliran air mata menetes menyeberangi kedua pipinya yang semakin hari semakin terlihat tirus. Amira juga tidak mau seperti itu, tapi Amira tidak mau membuat kakaknya kecewa. Amira ingin bisa berbuat sesuatu untuk kakaknya. Amira ingin bisa membuat Hana lepas dari jerat Stefan dan bisa kembali lagi bersamanya, kemudian bahagia bersama Alan.


“Maafin aku kak.. Aku nggak bisa berbuat apa apa.. Stefan Devandra terlalu kuat..”


Tubuh Amira meluruh dan terduduk dilantai. Kedua bahunya bergetar dengan isak tangisnya yang memenuhi ruangan sempit kamar Aisha.


Amira juga tidak bermaksud memarahi Aisha, adiknya. Amira hanya merasa kecewa pada Aisha yang diam diam menemui Hana. Amira menganggap Aisha meminta sesuatu pada Hana yang kemudian akan dengan gampangnya Hana berikan.


“Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini kak.. Kenapa kakak harus mengalami kecelakaan itu. Kenapa? Aku kangen banget sama kakak..”


Amira memukul mukul dadanya sendiri sambil menangis. Namun rasa sesak itu tidak juga hilang dari dadanya yang terasa terhimpit dua batu besar di kanan dan kirinya. Amira tidak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti sekarang. Kakaknya koma dan wanita yang kakaknya cintai menikah dengan pria lain. Kebahagiaan yang dulu Amira rasakan rasanya benar benar lenyap begitu saja setelah kecelakaan yang di alami sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2