
Dokter Rania masih tidak habis pikir dengan sikap om dan tantenya. Dulu mereka begitu sangat semena mena menghina kedua orang tuanya. Tapi sekarang setelah tau dokter Rania sukses keduanya datang dan bersikap seolah hubungan mereka dulu sangat baik. Padahal pada kenyataan-nya mereka dulu sangat menghina keluarga dokter Rania. Mereka juga sangat tidak menghargai kedua orang tua dokter Rania dan terus saja menyalahkan kedua orang tua dokter Rania. Mereka bertingkah seolah mereka adalah penguasa didalam keluarga besar mereka dulu. Mereka juga berhasil membuat seluruh anggota keluarga membenci kedua orang tua dokter Rania dengan fitnahan-nya.
Dokter Rania menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Mengingat semua itu membuat dokter cantik itu merasa benci. Hatinya yang semula tenang dan damai merasa terusik karena kedatangan mereka lagi.
Tok tok tok
Dokter Rania mendesis kesal dengan kedua mata terpejam berusaha untuk menahan rasa kesalnya. Dokter Rania menganggap seseorang yang ada didepan pintu kamarnya saat ini pasti adalah asisten rumah tangga yang bekerja dengan-nya dan disuruh oleh om dan tantenya untuk memanggilnya. Hal itu membuat emosi dokter cantik itu semakin memuncak.
“Ya Tuhan.. Apa lagi sih maunya orang itu..” Gumam dokter cantik itu dengan gigi mengatup keras.
Dokter cantik itu bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah lebar menuju pintu dan membukanya dengan kekuatan penuh.
“Apa lagi sih?!” Ketus dokter cantik itu begitu membuka pintu.
Namun ternyata tebakan dokter cantik itu salah. Yang ada di depan pintu kamar dan mengetuknya bukanlah asisten rumah tangganya yang biasa dipanggil si mbak. Yang berdiri disana adalah Alan yang membawa undangan warna maroon di tangan-nya.
Alan mengeryit mendengar nada ketus kekasih hatinya itu. Namun Alan sudah bisa menebak kenapa dokter cantik itu bersikap demikian. Tentu karena Alan juga bertemu dengan om dan tante dari dokter Rania tadi yang juga menitipkan undangan untuk dokter Rania padanya. Mereka juga mengatakan bahwa mereka mengharapkan kedatangan dokter Rania dengan dirinya di acara pesta resepsi pernikahan anak mereka.
“Kenapa marah marah?” Tanya Alan menatap dokter Rania yang langsung menghela napas.
“Maaf, aku kira tadi kamu mbak. Om dan tante baru saja dari sini lagi.”
“Aku tau.” Senyum Alan dengan tenang.
__ADS_1
“Mereka juga menitipkan undangan ini sama aku buat kamu. Mereka bilang mereka sangat mengharapkan kehadiran kita.” Lanjut Alan yang membuat dokter Rania melengos.
“Kamu tau kan? Aku nggak akan mau datang ke acara mereka.” Katanya pelan.
Alan menghela napas pelan. Alan sudah mendengar bagaimana sikap mereka di masa lalu pada keluarga dokter Rania. Tentu karena dokter Rania sendiri yang menceritakan. Alan juga paham bagaimana perasaan dokter Rania. Memang tidak mudah melupakan hal yang tidak menyenangkan. Apa lagi sekarang om dan tantenya itu datang dan mengakui dokter Rania sebagai bagian dari keluarga setelah tau dokter Rania berhasil menggapai cita citanya menjadi dokter yang sukses.
“Aku paham bagaimana perasaan kamu Rania. Tapi kamu harus menyimpan dendam dan kebencian di hati kita hanya akan membuat hidup kita terasa tidak tenang.”
Dokter Rania menoleh menatap tidak mengerti pada Alan.
“Apa maksud kamu?” Tanyanya.
Alan menghela napas sekali lagi.
Dokter Rania menelan ludah. Menurutnya masalahnya dan Alan sangat jauh berbeda.
“Sayang..” Alan meraih kedua tangan dokter Rania dan menggenggamnya dengan sangat lembut.
Dokter Rania menatap tangan-nya yang di genggam Alan kemudian menatap kembali pada wajah tampan Alan.
“Aku mengerti kalau kamu tidak mau lagi berhubungan dengan mereka. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menampik bahwa kalian adalah keluarga. Aku tidak akan memaksa kamu untuk datang ke acara mereka. Tapi aku ingin kamu hilangkan rasa benci di hati kamu. Cobalah untuk berdamai dengan masa lalu. Kamu bisa menjauh dari mereka kalau memang kamu tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka. Karena terkadang menjauh memang pilihan yang paling baik. Tapi jangan lagi membenci karena itu hanya akan membuat hati dan pikiran kamu tidak tenang.” Ujar Alan panjang lebar.
Dokter Rania menelan ludah. Apa yang Alan katakan ada benarnya menurut dokter cantik itu. Karena sebelum kemunculan mereka, dokter Rania merasa aman dan tenang tenang saja. Tapi begitu mereka muncul di hadapan-nya dokter cantik itu kembali merasakan benci. Tentu saja itu karena ingatan masa lalu dimana om dan tantenya begitu sangat kejam memperlakukan-nya dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Kamu bisa meminta pada pak satpam untuk menolak kedatangan mereka lain kali kalau memang kamu merasa tidak nyaman.” Tambah Alan.
Dokter Rania menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Alan katakan. Dokter cantik itu yakin menjauh dari om dan tantenya adalah pilihan yang tepat.
“Ya.. Semoga saja ini memang yang terbaik.” Lirih dokter cantik itu.
Alan tersenyum mendengarnya. Pria itu merasa senang karena dokter Rania menerima saran darinya.
“Ah ya, kamu baru pulang? Tadi katanya mau lembur?” Tanya dokter Rania kemudian. Tadi saat makan siang Alan memang tidak bisa menemaninya makan siang bersama karena pekerjaan-nya yang sama sekali tidak bisa di tunda. Alan juga mengatakan lewat sambungan telepon pada dokter Rania bahwa dirinya akan pulang sedikit terlambat yang tentu juga membuat Alan tidak bisa menjemput kekasih hatinya itu di rumah sakit tempatnya bekerja.
“Nggak jadi lembur. Kerjaan aku udah selesai.” Jawab Alan terus mengukir senyum manisnya menatap kekasih hatinya.
Dokter Rania menganggukkan kepalanya mengerti.
“Jadi karena aku nggak jadi lembur bagaimana kalau kita jalan jalan terus makan malam diluar? Kebetulan aku abis gajian nih, dapet bonus juga.” Senyum lebar Alan memperlihatkan giginya yang rata.
“Yeee.. Dasar. Kalau punya uang lebih itu di tabung, bukan-nya malah boros. Gimana sih kamu.” Geleng dokter Rania.
“Ya nanti juga di tabung kok lebihnya. Cuma kan aku juga pengin membuat dokter cintanya aku seneng.” Ujar Alan yang membuat dokter Rania tersipu merasa malu.
“Apaan sih? Lebay banget.” Dokter Rania mencoba menahan senyuman di bibirnya.
“Tapi suka kan?” Tanya Alan menatap dokter Rania lembut.
__ADS_1
Dokter Rania hanya diam saja. Alan benar benar pria yang sangat romantis menurutnya.