ISTRI KE 2 TUAN STEFAN

ISTRI KE 2 TUAN STEFAN
EPISODE 117


__ADS_3

“Tapi kan kamu nggak boleh kelelahan sayang.. Bukan-nya aku nggak mau ngajak kamu ke kantor.”


Stefan berusaha memberi pengertian pada Hana yang kembali marah dan merajuk padanya karena Stefan yang tidak mengizinkan-nya untuk ikut ke perusahaan.


“Udahlah aku tau. Kamu nggak mau kan semua orang tau kalau aku ini istri kamu. Kamu takut semua perempuan diluar sana tau kalau kamu sudah menikah.”


Stefan menggelengkan kepalanya. Seluruh publik bahkan sudah tau tentang pernikahan-nya sejak dulu dengan Hana. Tapi sekarang Hana mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal karena kemarahan-nya. Tidak mungkin bukan publik lupa status Stefan yang sudah menikah.


“Hana kamu..”


“Udahlah sana kamu berangkat. Aku males sama kamu.” Sela Hana marah kemudian menutup dengan keras pintu kamarnya tepat didepan wajah Stefan.


Stefan hanya bisa menghela napas menghadapi tingkah Hana begitu juga dengan Sera dan Angel yang juga melihatnya.


“Sabar ya nak...” Ujar Sera merasa kasihan pada Stefan yang selalu menjadi sasaran kemarahan Hana.


-----------


Pagi ini Tristan sengaja menunggu kedatangan Amira di parkiran sekolah. Dia duduk di jok motor besarnya dengan pandangan yang terus menyapu ke seluruh halaman luas sekolah yang bisa di jangkau oleh pandangan-nya.


“Ck, Amira mana sih? Udah jam segini belum dateng juga.” Dumel Tristan merasa kesal karena Amira yang tidak kunjung datang.


Tristan mengangkat tangan kirinya menilik waktu di jam tangan yang melingkar dengan manis disana. Waktu bel sekolah sebentar lagi akan tiba, tapi sejak tadi Amira belum juga kelihatan masuk ke area sekolah.


“Masa sih dia nggak masuk hari ini? Apa dia sakit?” Tristan mulai bertanya tanya sendiri dengan perasaan khawatir yang mulai menghampirinya.


“Tristan.”


Tristan menoleh mendengar suara Putri yang memanggilnya. Tristan segera bangkit dari duduknya di jok motor gede berwarna merah miliknya.


“Eh, kamu..”


Tristan menelan ludah. Tristan tidak bermaksud memainkan perasaan Putri. Tapi Tristan juga tidak mungkin jujur begitu saja tanpa memikirkan alasan-nya.


Putri mengedarkan pandangan-nya ke seluruh halaman luas sekolah tempat pandangan Tristan terus tertuju tadi.

__ADS_1


“Kamu lagi nungguin siapa sih?” Tanya Putri penasaran.


Tristan diam sebentar. Tidak mungkin jika Tristan jujur pada Putri bahwa dirinya sedang menunggu kedatangan Amira pagi ini.


“Emm.. Aku lagi nungguin Joshua sama Edo.” Jawab Tristan berbohong.


Jawaban Tristan membuat Putri mengeryit kemudian tertawa pelan. Pasalnya Putri melihat sendiri Joshua dan Edo yang sudah berada di kelas dan sekarang Tristan malah mengatakan sedang menunggu mereka berdua. Lebih lucunya lagi motor Tristan jelas jelas berada di tengah antara motor Edo dan Joshua yang membuat siapa saja pasti akan langsung tau bahwa Tristan hanya sedang mencari alasan dengan berbohong.


“Itu kan motornya Edo dan Joshua yang ada di kanan dan kiri motor kamu Tristan.”


Tristan menatap pada motor Joshua dan Edo. Dia berdecak. Putri pasti langsung tau dirinya berbohong menjawab pertanyaan-nya tadi.


“Oh emm.. Ya, mereka memang sudah berangkat. Tapi tadi aku menyuruh mereka untuk membeli pulpen di warung depan sekolah tadi.” Tristan berusaha mencari alasan lagi dengan kembali berbohong pada Putri.


“Oh ya? Berarti Edo dan Joshua sudah kembali tapi kamu tidak menyadarinya. Mereka sudah ada di kelas sekarang Tristan.”


Tristan meringis. Sekarang dirinya benar benar seperti orang bodoh. Tristan berusaha mencari alasan namun lagi lagi Putri tau yang sebenarnya.


“Ah ya.. Mungkin begitu. Ya sudah kalau begitu aku ke kelas dulu ya..”


Tanpa menunggu balasan dari Putri, Tristan segera berlalu dari parkiran. Tristan menghela napas dan berdecak merasa kesal karena Putri seakan tau semuanya.


Langkah Tristan terhenti begitu mendengar suara Amira dengan nada memohon. Tristan langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara yaitu di gerbang sekolah dimana Amira sedang memohon diluar gerbang pada pak satpam yang sudah menutup gerbang pagi ini.


Tristan menyipitkan kedua matanya. Tidak biasanya Amira telat datang ke sekolah.


Tanpa berpikir panjang Tristan kemudian melangkah menuju gerbang sekolah mendekat pada Amira dan satpam penjaga gerbang sekolah.


“Maaf non, tapi non Amira sudah telat 30 menit. Dan peraturan di sekolah ini adalah jika ada siswa yang telat lebih dari 15 menit dia tidak di izinkan masuk karena di anggap tidak disiplin dengan waktu.”


Amira menatap sendu satpam tersebut. Tadi dirinya ketinggalan angkot karena Amira memang bangun sedikit telat sehingga Amira ketinggalan angkot yang biasa membawanya ke arah sekolah. Dan Amira terpaksa harus naik ojek dan menghabiskan uang sakunya hari ini untuk ongkos ojek tersebut.


“Buka saja pak gerbangnya.”


Suara Tristan membuat Amira juga satpam penjaga gerbang sekolah langsung menatapnya. Amira berdecak pelan menatap Tristan yang begitu santai melangkah mendekat dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana abu abunya.

__ADS_1


“Tapi den..”


“Bapak tenang aja, kepala sekolah nggak akan marah sama bapak.” Sela Tristan.


Amira menatap kesal pada Tristan yang begitu angkuh dan sombong saat menyela ucapan satpam tersebut.


“Baik den...”


“Udah udah nggak usah pak. Saya pulang saja. Saya nggak papa kok bolos sekolah dulu hari ini.” Cegah Amira saat satpam tersebut hendak membukakan pintu gerbang untuknya.


Tristan mendelik mendengarnya. Amira menolak pertolongan-nya.


Amira melirik Tristan sebelum akhirnya memutar tubuh hendak melangkah menjauh dari gerbang berniat untuk kembali pulang kerumahnya saja. Amira tidak ingin lagi berhutang pertolongan Tristan. Apa lagi setelah apa yang Williana, kakak Tristan tawarkan padanya. Amira merasa sangat terhina dan direndahkan karena hal itu.


“Hari ini ada ulangan Amira. Kamu yakin tidak mau masuk?”


Pertanyaan Tristan membuat Amira terdiam. Gadis itu urung melangkah menjauh dari gerbang.


“Buka sekarang pak gerbangnya.” Perintah Tristan lagi pada satpam sekolah itu.


“Baik den..” Jawab pak satpam segera membukakan pintu gerbang untuk Amira.


Setelah pintu gerbang dibuka, Amira masih saja memunggungi Tristan dan satpam sekolah itu. Gadis itu benar benar tidak ingin lagi berhutang apapun pada Tristan.


“Ayo buruan masuk. Sebelum bu Eka tau kamu telat. Atau kamu mau berdiri di depan tiang bendera sampai jam pulang sekolah selesai?”


Amira berdecak lagi. Dengan gerakan cepat kemudian gadis itu memutar tubuhnya dan masuk nyelonong begitu saja ke area sekolah melewati satpam dan Tristan tanpa mengatakan apapun.


Tristan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman samar. Meskipun Amira sekarang begitu jutek padanya namun Tristan tidak mempermasalahkan-nya. Bagi Tristan asalkan setiap hari dirinya bisa melihat Amira baik baik saja itu sudah cukup.


“Sudah pak tutup lagi gerbangnya.”


“Oh iya den..” Angguk satpam tersebut kemudian segera menutup dan mengunci kembali pintu gerbang sekolah.


Sementara Tristan, dia langsung melangkah menyusul Amira yang begitu cepat melangkah menjauh darinya.

__ADS_1


Dari parkiran tepatnya di belakang motor Tristan Putri melihat semuanya. Gadis cantik dengan bandana putih itu menatap kesal pemandangan tersebut. Putri pikir selama dekat dengan-nya hubungan Tristan dan Amira sudah benar benar selesai. Tapi sekarang Putri melihat sendiri Tristan yang menolong Amira yang telat datang ke sekolah.


“Aku harus kasih tau kak Williana tentang ini.” Gumam Putri sinis.


__ADS_2