
Setelah mendatangi Stefan dan meminta maaf secara langsung, Alan merasa sangat lega. Pria itu merasa tidak lagi punya beban pada hatinya.
“Apa aku kerumah sakit aja ya?” Alan bertanya pada dirinya sendiri. Rasanya tidak mungkin pria itu kembali ke perusahaan tempatnya bekerja sementara dirinya saja sudah izin pulang lebih awal.
“Tapi kalau aku kerumah sakit sekarang, aku pasti akan sangat mengganggu dokter Rania yang sedang bekerja.”
Alan terus memutar otak akan kemana dirinya sekarang. Pria itu juga sengaja mengurangi kecepatan laju sepeda motornya di jalanan yang sudah tidak ramai itu.
“Makan dulu saja lah. Setelah itu baru pulang. Siapa tau ibu juga sedang membutuhkan bantuan dirumah.” Putus Alan kemudian.
Alan menghentikan motornya di warung makan untuk mengisi perutnya lebih dulu. Karena cacing cacing disana terus saja berdemo sampai membuat Alan merasa sedikit gemetaran karena kelaparan. Setelah selesai menyantap makan siangnya, Alan pun bergegas pulang kerumah.
-----------
Menjelang sore, Stefan sudah berada dalam perjalanan pulang kerumah. Sebelumnya Stefan juga sudah menghubungi Sera menanyakan apakah Sera dan Angel sudah pulang atau belum. Karena jika belum Stefan sendiri yang akan menjemput keduanya.
Stefan menambah kecepatan laju mobilnya saat mengingat ucapan Alan yang dengan jujur mengatakan padanya bahwa Alan sangat mencintai Hana, istrinya. Hal itu membuat Stefan terus bertanya tanya apakah Hana tau atau tidak tentang perasaan Alan padanya. Karena sepanjang bersama Hana, Stefan tidak pernah melihat gelagat aneh Hana yang memperlihatkan kemurungan karena cintanya pada Alan yang harus terpisah setelah menikah dengan-nya.
Dalam waktu singkat mobil Stefan sampai tepat didepan teras rumah mewahnya. Dan seperti biasanya, begitu mobil Stefan tiba salah satu body guard yang selalu berjaga didepan rumah itu pasti akan berlari dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Stefan.
“Selamat sore tuan.” Sapa body guard tersebut saat Stefan turun dari mobilnya.
“Ya.. Sore.” Balas Stefan yang langsung melangkah berlalu begitu saja masuk kedalam kediaman mewahnya.
Stefan melangkah pelan namun lebar memasuki kediaman-nya. Sosok pertama yang ingin sekali ditemui Stefan adalah Hana dan Theo. Karena dengan menatap keduanya rasanya semua keruwetan yang ada di pikiran-nya sirna begitu saja. Stefan merasa tenang jika sudah bertemu dengan istri juga putra kesayangan-nya itu.
“Daddy..” Pekikan Angel dari pintu samping yang menghubungkan ke teras samping rumah membuat langkah Stefan terhenti. Pria itu tersenyum saat mendapati gadis kecil itu yang menatap penuh antusias padanya.
__ADS_1
Mengerti dengan tatapan tersebut, Stefan pun mengangkat kedua tangan-nya merentangkan-nya memberi kode pada putrinya agar mendekat dan memeluknya.
Angel dengan semangat penuh berlari kearah Stefan dan berhambur memeluk pria yang sampai sekarang belum dia ketahui bahwa Stefan bukanlah daddy kandungnya.
“Selamat sore daddy..” Sapa Angel melepaskan diri dari pelukan-nya terhadap Stefan.
“Sore juga princess. Bagaimana sekolahnya hari ini?” Balas Stefan. Dengan penuh perhatian Stefan menunduk menatap Angel yang mendongak menatapnya.
“Angel punya teman baru dad. Namanya Cio. Dia pindahan dari Amerika.”
“Oh ya? Apakah dia sangat keren? Lebih keren mana dari daddy kamu ini hem?” Stefan kembali bertanya dengan mimik wajah dibuat buat.
Angel tertawa geli melihat ekspresi daddy nya. Gadis itu merasa sangat lucu melihat wajah tampan daddy nya saat sedang merasa tersaingi rupanya.
“Dia sama seperti daddy. Sama sama keturunan Amerika. Warna rambutnya juga sama. Dan gantengnya juga sama. Tapi menurut Angel laki laki terganteng di dunia ini tentu saja hanya daddy Stefan Devandra.” Jawab Angel dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.
“Baguslah. Daddy akan protes kalau sampai ada laki laki yang lebih ganteng di hati kamu nanti princess.” Ujar Stefan membelai penuh kasih sayang rambut tergerai Angel.
“Daddy tetap laki laki yang paling ganteng untuk Angel.” Balas Angel yakin.
“Daddy percaya.” Senyum Stefan kemudian mengecup singkat kening Angel.
Angel merasa sangat bahagia dengan sikap hangat penuh kasih sayang Stefan padanya. Itulah yang selama ini sangat Angel inginkan dari Stefan, pria yang dia tau adalah daddy nya.
“Mana oma sama mommy?” Tanya Stefan kemudian.
“Oma sedang belanja bulanan dengan mbak dad. Kalau mommy, tadi sebelum Angel keluar dari kamar mommy sedang memandikan adek..” Jawab Angel.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, kamu lanjut lagi bermain-nya. Tapi tetap hati hati ya.. Daddy mau ke mommy sama adek dulu.” Kata Stefan mengusap pelan puncak kepala Angel.
“Oke daddy...” Balas Angel yang kemudian langsung berlalu dari hadapan Stefan.
Stefan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Stefan tidak menyangka jika ternyata perasaan-nya akan sangat bahagia dengan menerima keberadaan Angel dan menganggapnya seperti buah hatinya sendiri.
“Daddy udah pulang..”
Suara Hana membuat Stefan langsung menoleh kearah tangga dimana Hana sedang melangkah turun dengan Theo yang berada di gendongan-nya.
Stefan tersenyum manis dan tetap berdiri di sampingnya. Stefan menahan dirinya untuk langsung mendekat pada istri juga putranya yang sudah tertawa melihatnya.
“Hay sayang..” Sapa Stefan lembut.
“Hem.. Sebaiknya daddy mandi dulu.” Katanya kemudian.
“Oke..” Angguk Hana mengerti. Hana tidak bermaksud keterlaluan, hanya saja menurutnya tidak baik jika siapapun yang baru saja ber aktivitas dari luar langsung menyentuh Theo yang tentu masih sangat rawan sakit jika sedikit saja terkena bakteri.
Stefan menunggu sampai Hana sampai di lantai dasar. Setelah itu baru dirinya melangkah menuju tangga dan menaikinya satu persatu. Namun ternyata berlalunya Stefan membuat Theo merasa kesal. Bayi tampan itu menangis meronta ronta di gendongan Hana dengan kedua tangan yang seperti hendak menggapai sang daddy yang menjauh.
“Ushhh.. Nanti dulu ya sayang.. Daddy nya mandi dulu. Nanti adek di gendong sama daddy kok.” Ujar Hana dengan sangat lembut berusaha untuk menenangkan Theo yang menangisi Stefan.
Stefan yang mendengar dan melihat Theo menangis meronta ronta di gendongan Hana terkekeh geli. Pria itu tau betul bagaimana putranya yang begitu lengket dengan-nya. Tapi Stefan juga tidak bisa melanggar aturan yang sudah di sepakati bersama dengan Hana demi kebaikan Theo.
Tidak ingin membuat putranya semakin kesal, Stefan pun bergegas kembali melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Hana berada untuk membersihkan dirinya sebelum menggendong Theo.
Sementara Hana, wanita itu mencoba menenangkan putranya dengan menyusuinya. Dan cara itu berhasil karena Theo juga belum menyusu setelah di mandikan sore ini.
__ADS_1
Hana tersenyum geli sambil mengusap air mata di pipi gembul putranya. Theo memang tidak bisa diam jika sudah melihat daddy nya.