Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch 102. Gurun Kematian


__ADS_3

Dua hari kemudian Zhang En berangkat menuju Kota Dewa Segudang Dewa sendirian. Dia meninggalkan Jiang Tianhua, Chen Xiaotian, dan Su Meimei untuk mempertahankan Kota Kematian selama kepergiannya.


Sosok berkedip terlihat terbang di udara melesat dengan kecepatan tinggi. Sosok itu adalah Zhang En yang sedang melakukan perjalanan menuju Kota Dewa Segudang.


Zhang En mengamati gurun yang terlihat du bawah kemudian mengambil peta dari balik lengan bajunya.


“Daerah ini harusnya Tanah Gurun Kematian.” Zhang En mempelajari peta itu, berbicara pada dirinya sendiri.


Peta Domain seluruh Tanah Kematian ini adalah sesuatu yang diminta Zhang En untuk dipersiapkan oleh Jiang Tianhua dan meskipun tidak terlalu detail, peta itu menandai sebagian besar lokasi penting. Di antara mereka adalah Tanah Gurun Kematian.


Tanah Gurun Kematian adalah salah satu tempat asing yang ada di wilayah Domain Tanah Kematuan. Menurut legenda, puluhan ribu tahun yang lalu, terdapat sebuah kota besar di tanah ini, tetapi dua ahli Pertapa Dewa saling bertempur di sini, menyebabkan kota ini mengalami kehancuran. Dalam seratus ribu tahun terakhir, tidak ada satupun daun rumput yang bisa tumbuh di sini.


Menaruh kembali peta di balik lengan bajunya, Zhang En memandang langit yang semakin gelap dan kemudian mendarat di sebuah bukit kecil. Hari sudah larut, jadi dia memutuskan untuk tinggal di sini untuk bermalam sebelum melanjutkan perjalanan besok harinya.


Tepat pada saat dia sedang memulihkan kekuatannya, suara angin yang menusuk sampai ke telinga Zhang En. Dia kemudian berbalik untuk melihat sekitarnya, dia melihat terlihat dua orang sosok terbang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Ketika kedua orang itu cukup dekat tempat Zhang En beristirahat, dia melihat dapat mereka dengan jelas dan terkejut. Kedua irang itu terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, jika Zhang En ingat dengan benar, wanita itu adalah murid dari Sekte Hantu Bayangan. 


Zhang En pernah bertemu dengan wanita itu sekali ketika dia pertama kali tiba di Kota Kematian. Pada saat itu, Penatua Sekte Penyihir Langit Deng Guangliang memberitahunya bahwa wanita ini kemungkinan besar adalah murid Patriark Sekte Hantu Bayangan.


"Kakak Magang Senior Kedua, ada seseorang di sana." Pria itu terdengar berkata kepada wanita itu, dengan jarinya menunjuk ke arah Zhang En.

__ADS_1


Meskipun malam sudah gelap dengan kabut berwarna darah mengaburkan penglihatan, Zhang En yang sudah menyalakan api unggun, membuat lokasinya jelas terlihat.


Wanita itu melihat ke arah Zhang En, tetapi tampaknya penglihatannya sedikit lebih buruk daripada Zhang En, karena tidak dapat membedakan sekitarnya dengan jelas. Setelah ragu-ragu sebentar, dia berkata, "Mari kita pergi dan melihat-lihat." dan terbang langsung menuju ke arah Zhang En berada.


Kurang dari seratus meter dari Zhang En, wanita itu akhirnya melihat wajahnya dengan jelas, dan menunjukkan ekspresi terkejut, "Dia?" Rupanya, wanita itu juga mengingat Zhang En, meskipun dia hanya melihatnya sekali.


“Kakak Magang Senior Kedua, kamu kenal orang ini?” Pria itu bertanya, bingung dengan reaksinya wanita itu.


Wanita itu menganggukkan kepalanya, menjelaskan, "Beberapa bulan yang lalu, aku melihat orang ini di Kota Kematian, dia bersama dengan Tetua Sekte Penyihir Langit, Deng Guangliang dan Du Xin."


Pada saat itu juga, keduanya mendarat tidak terlalu jauh di depan Zhang En.


Tetua Deng Guangliang ternyata benar ketika dia mengatakan wanita ini kemungkinan besar adalah murid Patriak Sekte Hantu Bayangan, tidak hanya itu, dia adalah murid yang paling disayangi oleh Patriak. Namanya adalah Lifei.


Saat Zhou Cheng mendengar tentang Tetua Sekte Penyihir Langit Deng Guangliang dan Du Xin, niat membunuh berkilauan di matanya. Dua tahun lalu, jari manis dan telunjuk di tangan kirinya dipatahkan oleh Deng Guangliang dan Du Xin.


“Hei, apa hubunganmu dengan Deng Guangliang dan Du Xin dari Sekte Penyihir Langit?” Zhou Cheng mendekati Zhang En dengan wajahnya yang terlihat membeku.


Zhang En dengan acuh tak acuh menjawab, "Apa hubunganku dengan Deng Guangliang dan Du Xin? Aku tidak ada kewajiban untuk memberitahumu."


Mata Zhou Cheng menyipit mendengar jawaban Zhang En, tidak ada kata-kata yang dia ucapkan saat cahaya merah tua tiba-tiba muncul dari tubuhnya. Saat cahaya meredup, pedang besar melayang di atas kepala Zhou Cheng dengan penampilan pedang besar, kilatan seperti baja keperakan menyelimuti tubuh Zhou Cheng. Pedang itu melesat berputar lurus ke arah Zhang En.

__ADS_1


Lifei tidak menyangka Zhou Cheng akan menyerang Zhang En begitu tiba-tiba, mulutnya terbuka ingin menghentikan saudara laki-lakinya, akan tetapi sudah terlambat, dia hanya bisa melihat cahaya pedang Zhou Cheng menelan tubuh Zhang En. 


Lifei menghela nafas dan menggelengkan kepalanya saat dia melihat apa yang terjadi di depan matanya. Semangat bela diri Zhou Cheng memiliki kekuatan menyerang yang sangat kuat, Pedang Raksasa Bumi, dikombinasikan dengan keterampilan Teknik pedang tingkat tinggi, Taktik Pedang Angin Puyuh. Dia sudah bisa membayangkan adegan di mana Zhang En akan terbelah menjadi dua oleh pedang raksasa milik Zhou Cheng.


Padahal, di sebenarnya ingin mencari tahu dari Zhang En, tentang bagaimana Sekte Penyihir Langit dan Sekolah Penjilat Darah bersekutu untuk mengalahkan Hu Han, dan akhirnya mengambil alih Sekte Sembilan Iblis. 


Ketika dia pertama kali bertemu dengan Zhang En di dalam Kota Kematian, Deng Guangliang dan Du Xin berjalan di belakangnya, membuktikan bahwa statusnya seharusnya cukup tinggi, mungkin Zhang En ini pasti memiliki informasi dari dalam.


Saat cahaya pedang menyelimuti seluruh tubuh Zhang En, Zhou Cheng sebenarnya agak terkejut bahwa sangat mudah untuk membunuh Zhang En. Zhou Cheng menyadari bahwa pemuda ini pasti memiliki beberapa keahlian karena dia berani datang ke tempat seperti Tanah Gurun Kematian sendirian. Dia tidak menyangka Zhang En tidak dapat menerima satu gerakan darinya.


“Menyedihkan, ternyata kau hanyalah orang lemah!” Zhou Cheng mencibir dengan dingin.


Tapi hanya saat mengakhiri ucapannya, tiba-tuba seberkas cahaya pedang yang menyilaukan melonjak ke atas langit, memancarkan aura tirani yang saat itu langsung menghancurkan cahaya pedang Zhou Cheng, Taktik Pedang Angin Puyuh dan meledak seperti gelembung dan menghilang di udara.


Lifei yang sedang berdiri di samping Zhou Cheng tercengang saat melihat Zhang En yang memegang pedang di tangannya.


Energi berwarna hitam-merah tua yang mengelilingi Zhang En, saat itu melonjak ke segala arah seperti gelombang tsunami, memancarkan aura pembantaian yang sangat menakutkan.


-


-

__ADS_1


-


Jangan lupa Like & Vote!


__ADS_2