
Zhang En menyaksikan Tan Lao menyerangnya dengan wajah ganas, sepertinya dia harus mengekspos kekuatan Ancient God Flamenya. Saat Zhang En bersiap untuk memanggil kekuatan apinya, suara malas namun mendominasi terdengar dari jarak jauh, "Para bencong tua tak tahu diri sialan, brengsek, hina, tak pernah mandi, siapa yang berani menggertak muridku ?!"
Suara yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan kelompok Feng Lan, Tan Lao dan lima tetua lainnya.
WUSHHHH!!!
Di depan mata mereka semua, telapak tangan raksasa itu menghantam Tan Lao Lao dari ruang hampa.
Tan Lao sekarang merasakan bahaya yang mengerikan. Orang lain mungkin tidak mengerti betapa mengerikannya telapak tangan raksasa itu, tetapi dia merasakannya dengan jelas, kekuatan menakutkan di telapak tangan raksasa itu membuat pernapasnya teras sesak.
Tan Lao tidak pernah mengalami ketidakberdayaan seperti ini, bahkan ketika menghadapi orang terkuat dari Galaksi Harimai, Master Sekte Harimau.
Tan Lao lalu membuat jarak dengan memutar tubuhnya dan melompat menjauh. Pada saat yang sama, dia berteriak, "Pilar Tapak Pembunuh!" Kedua telapak tangannya memukul terus ke atas.
Dua aura kuat terbang ke angkasa dari telapak tangan Tan Lao, berubah menjadi dua badai berbentuk pedang dan memantulkan cahaya keemasan.
DUARRRR!! Ledakan bergema diikuti saat pilar itu hancur.
RUMBLEEE!! Getaran dan gempa yang luar biasa menghantam tubuh Tan Lao berulang kali, memuntahkan banyak darah. Skarang, Tan Lao merasa organ dalamnya meledak karena serangan telapak tangan raksasa itu.
Dipengaruhi oleh gelombang gempa susulan, lima Tetua yang mengelilingi Lie Hue dikirim terbang ke arah yang berbeda. Ketika mereka jatuh ke tanah, wajah mereka terjebak dalam lumpur dengan pantat menghadap ke langit, apakah mereka hidup atau mati tidak diketahui.
Mendengar suara famikiar dan kalimat kasar yang memasuki telinganya dan masih berdengung 'bencong tua tak tahu diri sialan, brengsek, hina, tak pernah mandi,' Zhang En diam-diam merasa lega.
Area kecil ruang berfluktuasi saat Master Kun muncul di depan semua orang.
Lebih dari satu dekade berlalu, tetapi tampang Master Kun tidak berubah sedikit pun, dia masih mengenakan jubah tua dan bolong-bolong yang sama, wajhanya keriput dan kurus, serta sepasang mata kecil dan bola mata hitam lebamnya.
Melihat orang tua ini lagi, memberi Zhang En perasaan nyaman.
"He he he... Bocah sialan, apa kau baik-baik saja?" Master Kun menoleh ke arah Zhang En, tersenyum lebar, “Hehe, maaf, maaf, Gurumu yang tampan ini terjebak karena sesuatu, dan datang terlambat. Tapi untungnya, masih terlambat selangkah.”
Zhang En membalas, "Seperti yang kau lihat orang tua, aku masih belum mati."
__ADS_1
Mendengar jawaban muridnya, Master Kun terkekeh, "Ah.. Bagus Kalau begitu."
Zhang En tanpa berkata-kata hanya bisa mengalihkan pandangan matanya.
"M-Master Kun!" Feng Lan telah berhenti menyerang Master Yi, mundur ke sisi muridnya Tan Lao. Dia berseru ketika dia melihat pria tua pengemis yang baru saja muncul. Sekitar puluhan ribu tahun yang lalu, dia pernah melihat Master Kun sekali, dan meskipun hanya satu kali, wajah orang tua itu masih terukir dalam di benaknya.
Kata tirani bahkan tidak mendekati untuk menggambarkan kekuatan yang telah ditunjukkan oleh Master Kun pada saat itu, sehingga bahkan setelah ribuan tahun telah berlalu, Feng Lan tidak pernah melupakan adegan di mana orang tua itu telah melukai enam Ahli Alam Dewa tingkat tinggi sepertinya dalam satu gerakan dan terluka parah.
"Master Kun ?!" Mendengar seruan Gurunya, wajah Tan Lao langsung pucat pasi.
Meskipun dia belum pernah melihat wajah orang tua ini sebelumnya, dia tau bahwa nama Master Kun berada di daftar nomor satu di Daftar Peringkat Penguasa Dewa tigkat tinggi puluhan ribu tahun yang lalu. Dia juga tahu tentang tentang betapa mengerikannya penyandang nama Master Kun selama ini.
Selama bertahun-tahun saat dia masih muda, Gurunya Feng Lan telah menceritakan kisah itu kepadanya berkali-kali, dan setiap kali Gurunya membicarakan Master Kun, akan ada ekspresi serius dan muram di wajahnya, yang secara tidak langsung memengaruhi kesan Tan Lao tentang lelaki tua yang baru kali pertama kali dia lihat ini.
Pria tua yang tampak kurus dengan jubah lusuh di depannya ini adalah Master Kun itu! Tanpa sadar, tatapannya beralih ke arah Zhang En. Perasaan rumit muncul dalam dirinya, bercampur dengan penyesalan.
Tentu saja, dia sekarang tau identitas asli Zhang En yang sudah menyebar luas.
Master Kun lau memandang Tan Lao, mendengus marah, "Nak, potong tanganmu sebagai hukuman."
Dia adalah Ahli Alam Dewa tingkat tinggi, dan tubuh fisiknya masih bisa pulih dari waktu ke waktu jika dihancurkan, tetapi bahkan jika dia bisa pulih nanti, memotong lengannya akan menyebabkan kekuatannya menurun.
"S-Senior K-Kun, a-a-aku..." Suara Tan Lao terbata-bata dan berhenti, dia berbalik untuk melihat Gurunya Feng Lan, berharap Gurunya Feng Lan akan berbicara atas namanya.
Namun, ketika Feng Lan menangkap rasa dingin di wajah Master Kun, dia memilih tetap diam sampai akhir karena dia tahu bahwa akan sangat mengerikan jika sampai Master Kun ini akan marah, bahkan jika dia memohon. Dia lalu mengangguk pada muridnya Tan Lao.
Tubuh Tan Lao gemetar dan wajahnya bahkan lebih terlihat pucat. Dengan satu gerakan tiba-tiba dari lengannya, kedua lengannya jatuh ke tanah seolah diiris oleh pedang.
"Mari kita pergi!" Nada bicara Feng Lan menjadi serius. Dengan lambaian tangannya, dia memerintahkan lima tetua lainnya, mayat Ye Li dan Biun An, dan terbang tanpa melihat kebelakang dengan Tan Lao tebang mengikuti di belakangnya.
Melihat ini, alis Zhang En terangkat dengan keraguan.
Melihat ekspresi Zhang En, Master Kun dengan singkat menjelaskan, "Aku dulu memiliki hubungan baik dan koneksi dengan master sekte sebelumnya, Guru dari Feng Lan itu. Tidak ada salahnya aku melepaskan mereka. Jika seandainya kau telah mati atau lumpuh karena ulah mereka, aku baru akan membantai mereka dan meratakan Sekte mereka."
__ADS_1
Mendengar ini, Zhang En lalu membiarkan masalah ini berlalu begitu saja dan menyahut, "Orang tua, apakah kau ingin aku mati dan lumpuh?"
"Hehee. Bukan seperti itu, tapi lagi berada dalam suasana hati yang baik saat ini. Apakah kau merindukan Gurumu yang tampan ini?"
"Rindu? Siapa juga yang merindukanmu pria tua sialan?"
"Hahahaa! Jujurlah pada Gurumu yang tampan ini, tidak apa-apa, mungkin kau malu padaku..!"
Master Kun lalu mengakhiri segalanya dengan cara ini karena yang terpenting baginya adalah keslamatan muridnya. Jika muridnya masih baik-baik saja, maka dia merasa senang dan tidak menghiraukan hal yang lainnya. Selain itu, dengan Zhang En memiliki Teratai Hitam, ini bukan tempat untuk berlama-lama.
Mereka berempat lalu meninggalkan tempat itu, langsung meninggalkan Gunung Harimau untuk kembali ke Dunia Xin.
...
Berita bahwa Zhang En memiliki Teratai Hitam berusia dua juta tahun menyebar di seluruh empat galaksi seperti badai.
Seperti yang diharapkan, tidak lama setelah kelompok Zhang En meninggalkan Gunung Harimau, berita itu sudah menyebar. Segera, banyak kekuatan dan master mencoba untuk menentukan lokasi Zhang En berada dan hasil akhirnya, mereka hanya bisa menelan kekecewaan.
...
"Apa? Kau menemukan kolam emas?! ” Dalam perjalanan, mendengar Zhang En mengatakan bahwa dia menemukan kolam emas, Master Kun berteriak kaget.
Master Yi juga ikut terkejut.
"Itu benar, Zhang En dan aku telah berkultivasi di kolam emas itu." Lie Hue mengangguk manis.
Master Kun lalu berhenti di salah satu puncak gunung, lalu memukul dadanya dan melompat-lompat seperti katak saat dia meraung kesal dan berkata kasar, "Bocah sialan, brengsek, tak tahu diri, jika aku tahu sebelumnya bahwa Dewi Keberuntungan akan selalu ada padamu, orang tua ini akan selalu bersamamu. Selama satu bulan ini, aku hanya menemukan harta, pil belaka bersama Master Yi. Sial sial sial.. !"
Melihat ini, Zhang En, Lie Hue dan Master Yi hanya bisa tertawa melihat tingkah Master Kun.
"Umurnya saja yang sudah tua, tapi tingkah masih seperti anak-anak. Cih..!" Ucap Master Yi mencibir sambil tertawa.
"A-apa yang barusan kau katakan itu, Wanita tua sialan, brengsek, apa kau ingin bertarung? Hah?" Master Kun mengomel lebih dari seribu kata sampai ludahnya menyembur kemana-mana dan membuat Lie Hue yang melihatnya tertawa terbahak-bahak, sesangkan Zhang En hanya bisa terdiam membisu karena sudah merasakan omelan dan cacian Gurunya ini.
__ADS_1
Setelah itu, mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, Master Kun masih berteriak dan berbicara seribu kata tidak ada henti-hentinya hingga sampai ke Dunia Xin.