
Feng Gong melompat ke udara, kedua tangannya berbentuk cakar, melancarkan serangan ke arah Zhang En, mirip dengan kalajengking iblis raksasa.
Melihat ini, Zhang En tidak berani untuk meremehkan lawan, dengan cepat dia melakukan transformasi jiwa naga dengan menggunakan teknik Naga Dewa iblis. Sayap naga memanjang dari punggungnya dan siluetnya menghilang saat dia mengeluarkan Qi nya. Juga membentuk tangannya menjadi cakar, Zhang En menghadapi musuh dengan serangan yang sama.
Seketika area itu dipenuhi dengan udara iblis yang bergelombang, mengembun menjadi banyak hantu yang melolong, Langkah pertama Seni Dewa Naga Iblis, Ratapan Penyiksaan!
Setelah kekuatannya meningkat pesat selama in, Seni Dewa Naga Iblis dapat membentuk entitas yang solid, mewujudkan lima puluh hingga enam puluh hantu sekaligus. Tekananya seratus kali lebih dahsyat daripada sebelumnya..
Mendengarkan raungan hantu yang datang dari berbagai arah, Feng Gong merasakan hawa dingin yang menyelimuti hatinya.
Namun, pada saat ini, cakar Kalajengking Iblis dan Cakar Naga Dewa Naga Iblis Zhang En bertabrakan. Kekuatan pantulannya terasa seperti tsunami, memaksa Feng Gong terhuyung mundur. Memanfaatkan kesempatan ini, Zhang En kembali mengirim telapak tangan lain ke arah Feng Gong, kekuatan telapak tangan itu menjadi berlipat ganda, mengirimkan lingkaran cahaya emas yang menyebar terus menerus, menjulang di atas langit.
Telapak Tangan Buddha Mengikat Dewa!
Feng Gong terkejut saat melihat lingkaran cahaya emas keluar dari telapak tangan Zhang En. Hampir secara bersamaan, dia merasakan aliran udara di sekitarnya sedang disedot, sementara anggota badan dan tubuhnya dibelenggu oleh banyak rantai tak terlihat.
Ketakutan meningkat pesat di hati Feng Gong. Dia mendorong Qu pertempurannya dengan gila keluar dari tubuhnya, ingin membebaskan dirinya dari belenggu yang tak terlihat ini, tetapi yang membuatnya panik adalah semakin dia berjuang, semakin erat rantai ini sepertinya mengikatnya.
Melihat Zhang En semakin dekat dengannta, dia merasa takut, panik, dan marah.
“Ledakan Qi Tanpa Batas!” Mata Feng Gong memerah, Qi-nya tiba-tiba bergema dan serangkaian ledakan terdengar di udara. Tepat ketika Zhang En hendak menyerang lagi, Feng Gong akhirnya berhasil lolos, dengan cepat mengangkat kedua lengannya untuk memblokir telapak tangan Zhang En.
Sekali lagi Feng Gong dipukul mundur, karena merasa malu, wajahnya berubah menjadi lebih pucat. Pada saat dia berhenti, dia telah mundur beberapa ratus meter, sambil terengah-engah, dia memandang Zhang En dengan keterkejutan dan seakan teror yang hebat menyelimuti hatinya.
"Barusan, apa tekniknya itu?!"
Jika bukan karena dia menggunakan metode rahasia, dengan paksa mengeksekusi Ledakan Qi Tanpa Batas, mungkin sekarang, dia sudah akan…!
Namun, ketika Zhang En bersiap untuk kembali menyerang, Feng Gong berteriak dengan cemas, "Berhenti!"
__ADS_1
Feng Gong memandang Zhang En, kedua lengannya mati rasa karena kesakitan. Meskipun total waktu mereka benar-benar bertukar gerakan hanya beberapa napas, sekarang dia sudah benar-benar merasa takut. Ketakutan seolah-olah dia sedang melawan ahli Pertapa Dewa yang sebenarnya dan melilit hatinya.
Tapi Zhang En bertindak seperti dia tidak mendengar apa-apa, dia lalu melompat ke udara bersamaaan kekuatan kedua tinjunya meledak. Bayangan tinjunya menutupi langit, terlihat tidak berwujud dan nyata.
Tinju Dewa Illahi!
Ini adalah pertama kalinya Zhang En menggunakan jurus ini untuk melawan musuh.
Menyaksikan jejak tinju raksasa memenuhi langit, Feng Gong melompat mundur untuk menghindar. Pada saat yang sama, telapak tangannya membentur langit, ledakan dan ledakan terdengar satu demi satu memenuhi tempat itu. Meskipun begitu, Tinju Dewa llahi masih mendarat di dada Feng Gong.
Mengeluarkan geraman tak terdengar, darah muncrat dari mulut Feng Gong dalam jumlah yang banyak, sementara tubuhnya terlempar ke belakang seperti layang-layang patah. Ketika dia berhasil merangkak untuk berdiri, dia melihat Zhang En sedang memegang sebuah tombak panjang di tangannya. Dengan satu gerakan, tombak panjang itu menusuknya, menimbulkan lapisan gelombang besar yang mirip dengan laut yang terbalik. Karena gagal menghindar, Feng Gong ditarik ke dalam gelombang energi yang menerjang, meledakkan jubahnya berkeping-keping.
Sebelum Feng Gong jatuh ke tanah, tombak panjang itu kembali muncul entah dari mana, menembus dadanya dengan ujung keluar dari belakang, rasa sakit yang tajam menyembur dari dadanya. Feng Gong menatap dengan bodoh pada tombak panjang yang tertancap di dadanya, matanya bergerak sepanjang ujung tombak, di mana Zhang En berdiri.
Keduanya mendarat di tanah. Dan Zhang En menarik tombak emas nya.
Feng Gong terhuyung-huyung dengan goyah lebih dari sepuluh langkah, nyaris tidak bisa menahan tubuhnya agar tidak bergoyang. Darah mengalir tanpa henti dari lubang dadanya bahkan saat tangannya menggenggamnya. Merasa darahnya sendiri merembes tak terkendali, Feng Gong tiba-tiba tersenyum, senyuman yang menyimpan keputusasaan.
"Zhang En". Zhang En menjawab dengan dingin.
"Zhang En?" Suara lemah Feng Gong mengulang nama itu, ujung-ujungnya badannya jatuh bersamaan dengan suaranya.
"Aku lupa memberitahumu, aku juga mendapatkan Tombak Emas Raja Dewa Kuno di bawah lembah." Zhang En berkata sambil menatap Feng Gong dengan sinis.
Mata Feng Gong perlahan meredup dan terpejam. Feng Gong akhirnya mendapat kematian.
Di kejauhan, menyaksikan kematian Gurunya, Dai Li menjadi bisu. Sebenarnya, pertarungan Zhang En dengan Feng Gong, dari awal sampai akhir, hanya berlangsung lebih dari dua puluh helaan nafas. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga Dai Li kesulitan memproses apa yang terjadi tepat di depan matanya.
Zhang En melangkah ke arah Dai Li, membuat Dai Li tersentak dari keterkejutannya terhadap situasinya yang gawat.
__ADS_1
"Kau!" Yang ada hanya teror di matanya selain ketakutan. Kakinya bergerak mundur, Dai Li tiba-tiba bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.
Sementara Dai Li masih linglung, tombak panjang Zhang En meliuk ke depan, menusuk dada Dai Li dalam satu serangan cepat sebelum ditarik keluar.
Saat itu, tepat tengah hari, dan di bawah sinar matahari yang cerah, Tombak Emas Raja Dewa Kuno berkilau dengan lingkaran cahaya yang terlihat agung, tidak ada setetes darah pun di sepanjang bilahnya.
Sesaat kemudian, Zhang En telah melepaskan dua cincin spasial yang ada di tubuh kedua lawannya dan membakar kedua tubuh itu. Menghilang dalam sekejap mata, dia segera kembali menuju ke Kota Suku Dewa.
"Sudah tujuh bulan, aku tidak tahu apakah Zhao Chen masih berada di Kota Suku Dewa." Sebuah cahaya tajam berkilauan di mata Zhang En saat memikirkan Zhao Chen.
Namun, Zhang En meragukan sesuatu hal. Dia sangat yakin bahwa dia tidak menyinggung Zhao Chen sebelumnya, jadi tidak ada dendam untuk dibicarakan. Tapi, mengapa Zhao Chen ingin berurusan dengannya? Selain itu, seolah-olah Zhao Chen ini mengenalnya.
Zhang En melesat di udara, tampak seperti garis cahaya biru melintasi angkasa. Satu jam kemudian, Zhang En tiba di Kota Suku Dewa.
Kembali ke Kota Suku Dewa, Zhang En langsung menuju ke halaman tempat penginapan Qin Yang dan yang lainnya berada.
Saat Zhang En muncul di gerbang kota, di dalam manor di sisi selatan, Zhao Chen adalah orang pertama yang menerima berita tentang Zhang En terlihat disana. Mendengar laporan bawahannya, Zhao Chen menatap dingin ke arah Pelayan Feng, berkata, “Bukankah kau mengatakan kita memiliki orang-orang yang mengawasi penginapan itu dua puluh empat jam sehari, dan Zhang En belum pernah melangkah keluar dari tempat itu sekalipun?! Sekarang setelah dia kembali dari luar kota, bagaimana kau menjelaskan hal ini?!”
Sebuah lapisan keringat dingin menghiasi dahi Pelayan Feng, dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
Zhang En meninggalkan Kota sejak kapan, dia benar-benar tidak tahu.
Zhao Chen mencibir, “Aku tidak menyangka anak itu kembali lagi setelah dia pergi. Karena dia berani untuk kembali, maka kali ini, dia bahkan tidak akan bisa bermimpi untuk bisa meninggalkan Kota Suku Dewa lagi! Setelah berurusan dengannya, saatnya melakukan perjalanan menuju ke Kota Hantu.”
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa Like & Vote!