
Sepanjang perjalanan, keduanya berkenalan dan saat sedang asik berbicara, mereka melihat banyak murid sekte yang memperebutkan harta karun yang mereka temukan, tetapi mereka berdua tidak berhenti atau ikut campur dalam pertempuran itu. Di dalam Istana Raja Hantu, pembunuhan dan pembantaian ada di mana-mana, bahkan jika mereka memiliki hati untuk peduli dan membantu, itu menjadi beban yang tak ada habisnya.
Zhang En memandangi mayat-mayat yang berserakan di jalan-jalan di sepanjang jalan sambil menggelengkan kepalanya. Setiap orang di dunia ini tahu bahwa hidup lebih penting dari apapun, namun di dunia ini, hanya ada berapa banyak orang yang benar-benar dapat melihat dan mengerti tentang arti sebuah kehidupan.
Ada pepatah yang mengatakan 'Burung mati untuk mendapatkan makanan dan manusia mati untuk mendapatkan kekayaan'
Sun Haoran dan Zhang En terus terbang selama dua jam lamanya, tetapi meskipun kecepatan terbang mereka bisa dibilang cepat, mereka bahkan tidak bisa mencakup sepersepuluh dari Istana Raja Hantu yang luas.
Pada saat itu, Sun Haoran tiba-tiba berhenti, mengeluarkan selembar peta dari lengan bajunya. Memeriksa peta berwarna kuning tua di tangannya, sebuah jari menunjuk ke sebuah titik di peta, “Di depan seharusnya lokasi Kuil Raja Hantu, salah satu tempat yang digunakan Raja Hantu sebagai tempat berkultivasi selama hidupnya. Saudara Zhang, haruskah kita pergi dan melihat-lihat di sana?”
Zhang En mengangguk setuju dengan ajakan Sun Haoran, "Baiklah." Bagaimanapun, dia tidak akrab dengan Istana Raja Hantu ini dan karena Kuil Hantu itu adalah salah satu tempat di mana Raja Hantu berkultivasi di masa lalu, pasti ada sesuatu yang berharga di dalamnya.
Melihat Zhang En setuju, Sun Haoran kemudian terbang, memimpin jalan ke Kuil Raja Hantu. Tidak lebih dari sepuluh menit kemudian, dari jauh, keduanya dapat melihat garis besar bangunan Kuil Hantu.
Di atas kuil Raja Hantu, aura hantu yang pekat terkondensasi menjadi bantal awan hantu. Dari jauh, orang bisa mendengar tangisan melengking yang datang dari awan hantu ini yang dapat menembus jiwa.
Ketika mereka berdua semakin dekat ke Kuil Raja Hantu, mereka mendengar gema pertempuran dan suara keras orang yang sedang marah. Sepertinya ada beberapa orang yang tiba di Kuil Raja Hantu sebelum mereka.
"Ini adalah ... Suara Kakak Senior Ketiga!" Ketika Sun Haoran mendengar salah satu suara itu, wajahnya menegang, "Kakak Senior Ketiga dalam bahaya!" Dia bergegas melesat menuju tempat kejadian dengan Zhang En.
Sesampainya di lokasi pertempuran beberapa detik kemudian, mereka melihat seorang pria paruh baya berjubah merah dengan janggut tipis yang dikepung oleh dua pria paruh baya yang mengenakan jubah biru.
__ADS_1
Di dada pria berjubah merah itu, ada pola binatang mistis berkepala dua yang mirip seperti Sun Haoran, mengidentifikasinya sebagai Kakak Senior Ketiga Sun Haoran. Selain tiga orang yang bertarung, tidak jauh dari mereka, ada sepasang pria dan wanita muda yang sedang menonton pertempuran, kelihatannya, mereka berada di pihak yang sama dengan dua pria paruh baya berjubah biru.
"Orang-orang Kota Naga Salju!" Ekspresi Sun Haoran menjadi suram begitu dia melihat dua pria paruh baya dan sepasang murid muda itu.
Mata Zhang En berkedip, melihat dengan cermat kearah kelompok yang memakai jubah biru, dia melihat lambang naga putih di lengan kedua pria paruh baya berjubah biru.
Kota Naga Salju adalah salah satu dari sepuluh kota teratas di Domain Kematian, Penguasa Kota Naga Salju dikenal dengan nama Silver Dragon Ao Gu atau Naga Perak Ao Gu yang kekuatannya mengimbangi penguasa Kota teratas lainnya.
"Sepasang orang muda itu pasti murid Penguasa Naga Perak Ao Gu" pikir Zhang En pada dirinya sendiri, sementara dua pria paruh baya lainnya mungkin adalah pengawal mereka.
Pada titik ini, Kakak Senior Ketiga Sun Haoran, Peng Feng, menerima pukulan berkekuatan penuh ke bahunya, geraman pelan keluar dari mulutnya. Tubuhnya terlempar ke belakang dan darah mengalir keluar dari sudut bibirnya.
"Kakak Ketiga!" Teriak Sun Haoran, dia melompat ke medan pertempuran dengan melayangkan sebuah pukulan yang ditujukan ke pria paruh baya berjubah biru yang menyerang kakak ketiganya. Meskipun dia tidak tahu alasan mengapa Kakak Senior Ketiganya memiliki konflik dengan orang-orang dari Kota Naga Salju, pada situasi seperti ini, dia tidak bisa peduli dengan hal itu
"Adik Keempat, lari cepat!" Namun, Peng Feng tidak merasa senang melihat Sun Haoran muncul. Sebaliknya, dia melontarkan peringatan dengan perasaan cemas, wajahnya tampak sangat gelisah. Jika itu adalah Kakak Senior pertamanya, mungkin keduanya bisa mundur dengan aman, tetapi kekuatan Adik Keempat mereka sedikit lebih lemah darinya. Adapun pemuda berambut hitam yang datang bersama adik juniornya, Sun Haoran, meskipun Peng Feng tidak tahu siapa pemuda itu, Kekuatannya masih berada di Tahap Pendekar Dewa Bintang Satu, dan dia menganggap pemuda itu tidak dapat membantu sedikitpun dengan kekuatan yang masih jauh di bawahnya.
Kekuatan Zhang En saat ini telah berada di Tahap Pendekar Dewa Bintang empat, hanya saja dia telah menekan tingkat kultivasinya ke tahap Pendekar Dewa Bintang Satu.
"Lari? Karena mereka sudah datang di sini, jangan bermimpi mereka untuk bisa pergi!” Sepasang anak muda itu mendekat dan salah satu wanita muda dari antara sepasang muda itu mencibir. Tebakan Zhang En sebelumnya tepat sekali, pasangan pria dan wanita muda ini adalah murid-murid Penguasa Naga Perak,Kota Naga Salju Ao Gu.
Pemuda itu bernama Du Huagang dan wanita muda itu adalah Li Li, sedangakan dua orang pria paruh baya berjubah biru adalah pengawal mereka berdua. Terlepas dari itu, kekuatan mereka berempat terlihat sangat kuat, keempatnya adalah Pendekar Dewa Bintang lima.
__ADS_1
Wanita yang bernama Li Li berjalan mendekat, matanya melirik sekilas ke arah Zhang En dan Sun Haoran, dia sepertinya tidak menempatkan keduanya di matanya.
Li Li mencibir Peng Feng, berkata, "Peng Feng, di dalam Kota Hantu kali ini, Orang dari Kota Milenium seperti kalian seharusnya tidak pernah datang ke sini." Menggelengkan kepalanya dengan sedih dengan ekspresi orang yang sedang sakit hati, Li Li kemudian melanjutkan perkataanya, “Sungguh di sayangkan, Guru dan murid Penguasa Kota Mullenium akan dikuburkan di sini, di Kota Hantu! Satu bulan kemudian, nama Kota Millennium akan dihapus dari Domain Kematian, selamanya!”
Sun Haoran memucat mendengar kata-kata ini. Sebuah pikiran terlintas dibenaknya "Apakah Kota Naga Salju berencana melawan Kota Millennium? Atau… Apakah Kota Suku Dewa dan Kota Naga Salju bekerja sama dalam hal ini?"
Du Huagang berbicara, "Kalian berdua pergi dan tangani mereka berdua, serahkan bocah itu padaku."
"Baik!" Kedua pria paruh baya berjubah biru itu menjawab dengan hormat, dengan cepat melancarkan serangan ke arah Peng Feng dan Sun Haoran, sedangkan Du Huagang sedang berjalan menuju Zhang En, yang menurutnya tampaknya paling mudah untuk dihadapi.
Du Huagang berhenti tepat di depan Zhang En, menatapnya sekilas dari ujung kepala sampai ujung kaki saat dia menggelengkan kepalanya, Karena Zhang En datang bersama Sun Haoran, dan saat itu dia melihat Zhang En berdiri sedikit di belakang Sun Haoran, Du Huaguang dengan sendirinya mengira bahwa Zhang En berasal dari Kota Milenium, yang menjadi bawahan Sun Haoran. Du Huagang terkekeh melihat ekspresi Zhang En yang hanya diam.
"Jangan buang waktu dengan banyak omong kosong, segera urus bocah itu." Di samping Du Huagang, Li Li mulai tidak sabar melihat pertarungan Du Huagang. "Lalu kita berempat bisa berurusan dengan Peng Feng dan Sun Haoran."
Du Huagang mengangguk, tidak membuang waktu lagi dengan mengucapkan omong kosong. Tubuhnya berkedip dan menghilang, Siluetnya tiba di dekat Zhang En dalam sekejap sambil mengarahkan telapak tangannya mengarah langsung ke jantung Zhang En.
Dia berpikir dapat menyelesaikan Zhang En dengan mudah dan menganggap remeh kekuatannya, saat terbang di udara, Du Huagang menggelengkan kepalanya dengan jijik melihat Zhang En. Dengan kekuatannya saat ini, dia berpikir itu tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh Zhang En.
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupa Like & Vote!