Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara
Ch. 384 - Kemarahan Semua Orang


__ADS_3

Begitu kata-kata Zhang En terdengar, arena menjadi gempar.


“Apa yang dikatakan Zhang En?! Dia ingin Wang Biao dan Du Leng menyerang bersama? Ini adalah hal yang paling gila!"


"Dia benar-benar berpikir dia tak terkalahkan?"


Reaksi pertama orang banyak adalah berteriak bahwa Zhang En ini melebih-lebihkan dirinya sendiri.


Di atas panggung, Tetua Zhang Huan mengerutkan kening. Tetap saja, dia merasa bahwa Zhang En ini bukanlah orang yang mengucapkan kata-kata arogan tanpa kekuatan untuk mendukung perkataannya. Dalam hati, Tetua Zhang Huan menggelengkan kepalanya.


Sementara semua orang berteriak-teriak di bawah arena dan disekitarnya, kemarahan Wang Biao melonjak setelah beberapa saat. Kemarahan bercampur kebencian meletus seperti gunung berapi dalam dirinya.


"Zhang En, kau!" Kemarahannya tak tertahankan, matanya merah karena marah saat dia meraung, “Kau pikir hanya karena kau mengalahkan mereka di ranah Kaisar Dewa Binntang dua tahap awal, kau merasa dirimu pantas menempati peringkat pertama?! Aku akan memberi tahumu siapa jenius luar biasa yang sebenarnya, siapa yang akan menjadi pemegang tempat pertama turnament ini!."


Pada saat kata-katanya berakhir, momentum yang datang dari tubuhnya telah mencapai puncaknya, ledakan udara yang teredam bisa terdengar di sekelilingnya.


Sinar cahaya yang menusuk mata bersinar dari tubuh Wang Biao, menyebabkan rasa sakit di mata semua orang.


"Ini, a-adalah, ranah Kiasar Dewa Bintang Dua tahap akhir. ?!"


"Ya Tuhan, Wang Biao bukan berada di ranah Kaisar Dewa Bintang Dua tahap menengah, tetapi tahap akhir dari Kaisar Dewa Bintang Dua...!"


Dalam hitungan detik, kerumunan itu tercengang merasakan kekuatan Wang Biao, mengoceh tidak jelas. Kerumunan tenggelam dalam kejutan dan kegembiraan. Bahkan Du Leng yang dari tadi terlihat tenang pun merasakan kelopak matanya berkedut.

__ADS_1


Wang Biao memancarkan tekanan penuh dari tubuhnya tanpa ada niat untuk menahan diri, dia ingin menggetarkan semua orang, membuat semua orang kagum padanya.


Armor emas bercahaya melindungi tubuh Wang Biao, dia menyerupai seoerti dewa perang. Kekuatan garis keturunan Tubuh Buddha Emasnya yang tidak dapat dihancurkan telah sepenuhnya terbangun, memancarkan aura tajam yang tidak bisa dihancurkan yang bisa menembus langit.


"Zhang En, jika kau berlutut dan memohon belas kasihan sekarang, aku masih bisa memberimu sedikit wajah, sehingga kekalahanmu tidak terlalu buruk." Wang Biao memelototi Zhang En dengan tatapan dingin.


Tidak seperti orang lain di sekitarnya, Zhang En tampak tetlihat biasa-biasa saja setelah melihat kekuatan Wang Biao. Perbedaan kecil yang tidak terdeteksi dari dirinya adalah rasa dingin yang menyelimuti pupil matanya ketika Wang Biao menyuruhnya berlutut dan memohon belas kasihan.


Zhang En lalu mencibir, "Hanya satu serangan.!"


Semua murid yang menonton di luar arena bingung dengan kalimat yang keluar dari mulut Zhang En, tetapi ketika akhirnya mereka menyadari arti kata-katanya, seluruh arena tampak seolah-olah akan terbelah menjadi dua karena reaksi orang banyak.


“Satu serangan? Apakah Zhang En ini mengatakan bahwa dia hanya perlu satu serangan untuk mengalahkan Wang Biao... ?!”


Ketika Zhang En mengatakan bahwa Wang Biao bukan lawannya pada awalnya, dan malah menyarankan Du Leng untuk bergandengan bekerjasama untuk melawannya, kerumunan murid itu sudah marah dengan kesombongan Zhang En. 


Dimata mereka, Zhang En sepertinya tidak enak dipandang lagi.


Dan sekarang, klaim berlebihan Zhang En untuk mengalahkan Wang Biao dalam satu serangan telah benar-benar menarik kemarahan orang banyak. Ini menyebabkan mereka berada dalam suasana hati yang sangat buruk.


Beberapa di antara mereka ada yang marah sampai melupakan identitas Zhang En, menembakkan tatapan ganas kepadanya. Bahkan mereka yang telah mendukung Zhang En pada awalnya merasa bahwa arogansi Zhang En telah melampaui batas.


Tetua Zhang Huan bahkan tidak menyembunyikan kekecewaannya, menggelengkan kepalanya juga. Memang, Zhang En ini adalah seorang jenius yang luar biasa, bakat yang layak untuk dipelihara oleh sekte mereka, tetapi dalam sudut pandangnya, temperamen sombong Zhang En ini membutuhkan sedikit lebih banyak pengajaran.

__ADS_1


Du Leng bahkan mendengus jijik pada kata-kata Zhang En, dia juga merasa bahwa harga diri Zhang En telah mencapai kesombongan mutlak. Dia bahkan tidak percaya diri untuk bisa mengalahkan Wang Biao. Apa lagi mengalahkannya hanya dalam satu serangan, perkataan Zhang En itu sangat menggelikan baginya.


Setelah menenangkan diri sejenak, Wang Biao mengarahkan jarinya ke arah Zhang En dan tertawa terbahak-bahak. Tawa itu menyembunyikan kemarahannya yang tak bisa di bayangkan oleh siapapun.


"Bagus!" Mata Wang Biao merah seperti darah, "Zhang En, jika kau benar-benar dapat mengalahkanku dalam satu serangan, aku akan berlutut dan memohon belas kasihan di hadapanmu!" 


Tidak menunggu lebih lama lagi, sosok Wang Biao melesat dan tinjunya mengarah kepada Zhang En.


Di udara, sosoknya berkedip dengan cara yang tidak terduga, meninggalkan lebih dari selusin bayangan di lokasi yang berbeda. Dari luar arena, Wang Biao tampak seperti kunang-kunang ilusi yang mengandung niat membunuh yang mengerikan. Energi tak terlihat juga bergegas menuju Zhang En.


"Itu adalah teknik Langkah Kunang-kunang!"


Saat kerumunan berseru, kekuatan di tinju Wang Biao telah meledak, menyerang Zhang En.


“Tinju Dewa yang Tak Tergoyahkan!”


Tinjunya bersiul di udara, masing-masing diselimuti bola api menakutkan yang berdesir di angkasa. Pada titik ini, tinju Wang Biao bukan lagi tinju biasa, itu seperti meteor bencana yang jatuh dari langit, membawa ekor api yang menghanguskan dan kekuatan penghancur yang mengerikan, memancarkan aura yang akan membunuh sialapun yang menghalangi. Satu-satunya tujuan Wang Biao sekarang adalah meledakkan Zhang En menjadi jutaan keping dalam satu serangan.


Kerutan wajah Tetua Zhang Huan semakin dalam saat dia melihat dari jauh. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri 'Haruskah dia ikut campur? Jika serangan ini mengenai targetnya, meskipun Zhang En tidak akan mati, dia akan menderita luka parah. Bagaimana dia harus menjelaskan ini kepada Master Sekte nanti? Selain itu, bahaya besar tidak boleh menimpa Zhang En.


Namun, aturan melarang siapa pun untuk ikut campur selama turnament. Sebagai pengawas, jika dia yang melanggar aturan, maka dia akan di hukum.


Sementara Tetua Zhang Huan terjebak dalam dilema, tinju Wang Biao hanya beberapa meter lagi dari Zhang En. Saat dia semakin dekat dengan Zhang En, cahaya brutal berkedip di mata Wang Biao saat dia berteriak, "Zhang En, MATI KAU..!'

__ADS_1


Menyaksikan tinju Wang Biao hendak menyerang Zhang En, tiba-tiba energi besar dan luar biasa melonjak keluar dari tubuh Zhang En. Sebelum gelombang energi ini meledak, langit bergetar hebat seolah-olah bumi akan tenggelam.


__ADS_2