
Tidak sampai kedua orang itu mendekat dalam jarak seratus meter, Zhang En secara bertahap mengakhiri latihannya. Menyatukan aliran Qi Teknik Naga Dewa Iblis di dalam tubuhnya, dia kemudian mengamati dua orang pria yang mendekat ke arahnya, satu dari depan dan satu lagi di belakangnya.
Zhang En sudah memperhatikan dan mengetahui mereka saat mereka muncul di puncak lain, namun, karena keduanya hanya ranah pendekar Dewa bintang satu, Zhang En tidak memperdulikan mereka lebih jauh.
Pada saat ini, kedua pria paruh baya itu menghentikan langkah mereka sepuluh meter dari Zhang En.
Mata pria berwajah bekas luka itu memeriksa Zhang En dari atas ke bawah sementara bibirnya melengkung tersenyum ramah, "Nak, bolehkah kami tahu dari sekte mana kau berasal?"
Meskipun pria berwajah bekas luka itu sudah berencana untuk menangkap Zhang En dan memaksa untuk meminta keterampilan jurusnya, dia tidak terburu-buru melakukannya sebelum dia berpikir untuk mengetahui latar belakang Zhang En, misalnya, di mana sekte Zhang En berasal.
Jika dia salah memprovokasi keberadaan latar belakang sedeorang yang memiliki dukungan kuat di belakang pemuda itu, sebelum melakukan tindakan, dia harus mencari tau hal itu, bisa-bisa akan menjadi resiko buat mereka berdua menyinggung orang yang memiliki latar belakang yang hebat.
Zhang En sudah tahu apa yang dipikirkan kedua orang ini dari raut wajah mereka. Mencibir diam-diam ke dua pria itu didalam hatinya dan dia mengulangi pertanyaan itu dengan diam-diam, "Murid sekte mana?"
Pria berwajah kuda itu memperlihatkan senyuman ramah, "Ya, siapa tahu, mungkin kau adalah teman lama Tuan kita ..."
"Kamu terlalu banyak berpikir, aku tidak berasal dari wilayah ini dan bukan juga anggota sekte mana pun, aku hanyalah seorang pemgembara." Zhang En menyela perkataannya, "Jadi, kalian tidak perlu khawatir setelah membunuhku."
Pria paruh baya berwajah bekas luka dan berwajah kuda sedikit terkejut dengan jawaban Zhang En. Mereka saling bertukar pandangan dan ada sedikit keraguan di mata mereka saat perhatian mereka tertuju pada Zhang En sekali lagi.
Mereka berdua mengerutkan kening saat mereka menatap Zhang En, rasa kebingungan dan kewaspadaan melonjak saat mereka bertukar pandangan. Namun, tidak ada yang bergerak sedikitpun dari antara mereka berdua.
Zhang En menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis melihat keragu-raguan dari wajah kedua orang itu. “Apakah kalian berdua tidak ingin mengetahui bahwa aku sedang berlatih jurus tingkat tinggi? Aku memberitahu kalian sekarang bahwa itu memang keterampilan jurus tingkat tinggi.”
Mata mereka bersinar terang mendengar langsung perkataan Zhang En. Mereka sudah bersiap untuk menyerang pemuda itu sekarang. Keserakahan terlihat dari tingkah mereka berdua.
"Aku berikan kalian kesempatan.. Kalian menyerang ku terlebih dahulu atau aku yang akan duluan menyerang kalian?"
Ke dua pria itu kembali menatap satu sama lain. Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, Zhang En melompat ke udara, kedua tangannya membentuk cakar dan menebas ke arah yang berlawanan. Dari serangan Zhang En, dua bayangan cakar hitam yang besar merobek udara, kabut hitam bergulung saat selusin roh kematian menjerit dengan ganas.
__ADS_1
Menyaksikan dua telapak tangan hitam besar yang menargetkan mereka, pria paruh baya berwajah bekas luka dan berwajah kuda itu merasa bahaya dan langsung melompat mundur untuk menghindar, melepaskan Qi pertempuran mereka pada saat yang sama, mengepalkan tinju mereka berdua untuk menahan serangan Zhang En.
"Tinju Mayat Langit"
Kedua pria itu berteriak pada saat bersamaan.
Serangan mereka diselimuti oleh aura kematian yang dapat dilihat, disertai dengan gelombang kematian di udara, mirip dengan bau mayat busuk. Dalam hitungan detik, Jurus yang keluar dari tangan mereka bertabrakan dengan jurus Cakar Zhang En.
BOOMMM-!
Bentrokan dan ledakan keras bergema. Arus udara berguncang dengan hebat, meledak ke empat arah, pasir dan debu naik saat garis retakan berliku-liku di permukaan puncak, semakin dalam membuat celah pada permukaan tanah.
Mereka berdua terkejut setelah melihat serangan Cakar Naga Dewa Iblis Iblis Zhang En tidak menghilang setelah serangan mereka beradu di udara, sebaliknya serangan Zhang En terus menuju ke arah mereka.
Tepat ketika mereka ingin menghindar, bayangan cakar hitam sudah ada di depan mata mereka kemudian menghantam tubuh mereka. Kedua pria itu jatuh ke tanah dan menimbulkan debu dan pasir mengotori udara setelah mereka terjatuh.
DUUAAARRRR-!
Zhang En mendekat perlahan, mengabaikan keterkejutan di wajah mereka, suara dinginnya terdengar, "Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku telah memberi kalian kesempatan untuk menyerang lebih dulu."
Mereka berusaha untuk bangun dan buru-buru mundur kebelakang dengan wajah panik.
“Kau, apa yang ingin kau lakukan?!” Wajah bekas luka menekan ketakutan di dalam hatinya, bertanya pada pemuda itu dengan keras.
“Apa yang ingin aku lakukan?” Zhang En mencibir, "Tidakkah kalian ingin menangkapku untuk mengambil Teknik Seni Pedang Naga Dewa Iblis milikku?"
Karena niat mereka terungkap dengan begitu jelas, keraguan jelas melintas di mata mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Zhang En sudah mengetahui rencana jahat mereka sejak awal.
Pria berwajah kuda itu memaksakan senyum canggung, "Adik kecil, kami, kami ..."
__ADS_1
Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataanya, siluet Zhang En kabur dalam sekejap dan menghilang di udara. Detik berikutnya, dia muncul tepat di depan mereka, tangannya telah siap untuk memberikan serangan lanjutan, tetapi kedua pria itu terlambat menyadari hal itu, telapak tangan Zhang En sekali lagi menghantam dada mereka dan mengirim mereka terbang.
Dua sosok tubuh itu lalu menghantam dinding tebing tidak jauh dari tepi puncak gunung itu dan berguling ke bawah bersama kerikil dan batu. Zhang En mendekati kedua pria paruh baya itu.
“Adik kecil, kami salah, kami memiliki mata tetapi tidak melihat, kami mohon, maafkan kami.” Pria paruh baya berwajah kuda itu menangis menyedihkan dengan suara gemetar. Terlepas dari apakah mereka percaya atau tidak, kekuatan Zhang En jauh melampaui harapan dan kekuatan mereka.
"Memaafkan kalian?" Zhang En berkata, “Dengan tidak membunuh kalian beruda, adalah pilihan yang bisa kita negosiasikan.”
Kedua pria itu menatap Zhang En dengan rasa menyesal. Awalnya, keduanya mengira mereka pasti akan mati, karena tidak mungkin bagi Zhang En untuk melakukan negoisasi dengam mereka.
“Kau… tidak akan membunuh kami?” Wajah yang memiliki bekas luka di wajah nyamemberanikan diri dengan hati-hati.
"Benar sekali." Zhang En menjawab dan seperti terlihag tidak peduli dengan mereka.
Pria berwajah bekas luka itu ragu-ragu sebelum berkata, "Kau. Apakah kau ingin kami tunduk padamu?" Tidak ada kemungkinan lain selain hal ini yang bisa membuat Zhang En mengampuni mereka.
Zhang En mengangguk dengan acuh tak acuh, menyebabkan keduanya berpikir dalam diam. Zhang En menunggu jawaban mereka dengan sabar dan tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan.
Dia telah berpikir untuk membangun kekuatan dengan pihak lain dengan cara memerintah kedua orang ini ketika mereka muncul, sebagai batu loncatan untuk mengambil alih sekte mereka. Jika keduanya tidak berguna untuk tujuannya, mereka pasti sudah mati.
"Aku setuju." Beberapa saat kemudian, pria paruh baya berwajah kuda yang pertama berbicara, "Aku bersedia tunduk kepada Tuan Muda."
Setelah itu, pria berwajah bekas luka itu mengucapkan kata-kata yang sama, bersedia tunduk pada Zhang En.
"Baik. Sekarang, buka lautan jiwa kalian, Aku akan menandai lautan jiwa kalian berdua dengan tanda jiwa." Kata Zhang En sambil menganggukkan kepalanya.
"Tanda jiwa!" Kedua pria itu berseru kaget saat wajah mereka menjadi lebih pucat.
Melihat reaksi mereka, Zhang En mencibir dalam hati, bagaimana dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan keduanya sebelumnya. Pertama, mereka akan setuju untuk tunduk dan yang kedua mereka pulang ke Sekte mereka dan berniat akan memberitahu informasi tentang kejadian yang mereka alami serta mengumpulkan pasukan sekte untuk mengepung dirinya.
__ADS_1
"Apa kalian tidak setuju, jika tidak ada baiknya aku akan membunuh kalian?” Tatapan mata Zhang En yang terlihat dingin menatap mereka berdua.
Jangan lupa like, vote dan berikan koment nya. See you next chapter!