
Saat hendak keluar dari dalam gua, Zhang En melihat sesuatu benda yang menempel di mulut gua. Benda itu adalah sebuah tongkat. Di kepala tongkat itu ada ukiran kepala binatang surgawi, matanya merah padam, memancarkan tekanan.
Melihat ini, Zhang En mendekat dan meraihnya, saat memegangnya, kehangatan menyebar di telapak tangannya. Memutar-balikkan tongkatnya ke atas dan ke bawah saat dia mencoba mencari tahu asal-usul tongkat itu, dia tidak menemukan informasi apapun. Meskipun dia tidak bisa mengetahui asal-usul tongkat itu, Zhang En merasa bahwa tongkat ini sama sekali tidak sederhana.
Setelah dia mendapatkan tombak emas dan tongkat yang dia belum tau kegunaanya, Zhang En sekali lagi menyebarkan kesadaran spiritualnya memeriksa setiap sudut goa mencoba untuk melihat apakah dia bisa menemukan sesuatu selain kedua benda itu. Karena tidak melihat apa-apa, pada akhirnya, Zhang En meninggalkan gua dan muncul diatas danau.
Pada saat itu, Zhang En tidak lagi ingin tetap tinggal di dasar lembah harimau, melihat Gunung Dewa Emas yang sedang melayang diudara, Zhang En mengulurkan tangannya ke depan, Gunung Dewa Emas yang sebelumnya besar, pelan-pelan mengecil menjadi sebesar seukuran telapak tangan. Dia lalu meraih Gunung Dewa Emas yang sudah menyusut dan menyimpannya kembali ke dalam tubuhnya, setelah itu dia terbang ke atas langsung menuju ke tepi celah Lembah Harimau.
Sebelumnya, Zhang En menggunakan lebih dari sepuluh jam untuk mencapai dasar celah dari atas saat pertama kali melompat dari atas lembah, tetapi sekarang, dalam perjalanan untuk kembali, kecepatannya menjadi dua kali lipat. Dengan kecepatan terbang yang sangat luar biasa, Zhang En semakin dekat untuk mencapai bagian atas Lembah Harimau.
Di saat yang sama, di atas tepi lembah, dua sosok sedang duduk disana sambil meditasi. Mereka tidak lain adalah orang-orang yang datang sebelumnya yang tertarik saat mendengar auman naga dan tetap ada disitu untuk menjaga kemungkinan adanya harta karun yang akan segera muncul dari lembah harimau, Mereka adalah sepasang guru dan murid, Feng Gong dan Dai Li.
Beberapa bulan sebelumnya hingga saat ini, mereka telah lama menantikan dan berjaga di dekat tepi celah lembah harimau untuk menunggu harta karun yang mereka pikir akan segera muncul. Feng gong menatap ke bawah celah yang terlihat gelap dan tak berdasar, penantian berbulan-bulan lamanya telah melemahkan kesabarannya.
“Tuan, mungkin kita bisa mencoba turun kebawah?” Dai Li bertanya.
Feng Gong mengangguk setuju dan berdiri, memutuskan untuk turun. Dia tidak mau pergi dari tempat ini begitu saja tanpa hasil apa-apa.
Tapi, saat dia sudah bersiap untuk melompat dari tepi lembah, suara angin yang menusuk datang dari bawah, mengejutkan kedua orang itu. Sesaat kemudian, mereka melihat siluet seseorang yang terbang keluar dari celah dengan kecepatan tinggi. Ketika mereka menyadari itu adalah manusia, baik Feng gong maupun Dai Li terpana sekaligus merasa terkejut.
Selama berbulan-bulan mereka berada di sini, mereka tidak pernah melihat siapa pun yang memasuki celah lembah tersebut. Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang masuk akal di pikiran mereka adalah orang ini turun kebawah sebelum mereka tiba di tempat ini.
Sementara keduanya tenggelam dalam keraguan dan keterkejutan, tubuh Zhang En melesat melewati tepi celah, mendarat dengan lembut di tanah setelah dua berbelok untuk menginjakkan kakinya ke tanah. Merasakan sinar matahari yang hangat mengenai kulitnya, Zhang En menarik napas dalam-dalam, berkata "Sangat menyegarkan!"
Setelah sekitar tujuh hingga delapan bulan, dia akhirnya kembali ke permukaan lembah harimau, rasanya seperti seumur hidup dia telah berada di bawah dasar lembah itu.
Kemudian Zhang En melihat ke arah Feng Gong dan Dai Li. Melihat Zhang En melihat ke arah mereka, keduanya pulih dari keterkejutan mereka dan Feng Gong diam-diam merasa lega ketika dia melihat kultivasi pemuda itu hanya di ranah pendekar Dewa Bintang Empat.
__ADS_1
"Guru, harta karun di dasar celah, mungkin orang ini mengetahuinya ..." Dai Li beringsut mendekati Feng Gong, berbisik di telinganya.
Feng gong mengangguk, pikirannya sama dengan apa yang dipikirkan oleh muridnya.
“Anak muda, aku punya beberapa pertanyaan untukmu, jika kau menjawabnya dengan jujur, aku bisa melepaskanmu. Namun, jika kau salah memberi jawaban, lembah ini akan menjadi tempat pemakamanmu!" Feng Gong menunjuk celah di belakangnya, menyatakan kalimatnya dengan nada merendahkan.
Dia adalah Pendekar Dewa Bintang Lima, setengah langkah ke ranah Pertapa Dewa, membunuh pendekar satu tingkat di bawahnnya dia merasa cukup mudah.
Sejak Zhang En turun ke dasar lembah, dia telah menemukan Tombak Emas Raja Dewa Kuno, menelan buah api, menerap ikan energi spiritual yang membuat kekuatannya meningkat secara drastis, sehingga dia dalam suasana hati yang baik saat ini. Mendengar perkataan Feng Gong tidak membuatnya marah sedikitpun, diam-diam Zhang En tersenyum di dalam hatinya, ia menatap Feng Gong, “Apa yang ingin kau ketahui?”
“Berapa lama kau sudah ada di bawah?” Feng Gong bertanya.
Zhang En merenung, lalu menghitung waktunya dengan cepat dan menjawab, "Kira-kira tujuh bulan."
"Tujuh bulan!" Feng Gong dan muridnya saling pandang, keduanya tercengang di dalam hati.
“Apakah kau memiliki harta karun yang bisa memblokir elemen dingin ekstrim yang ada di bawah lembah ini?!” Mata Feng Gong membara dengan keserakahan saat dia menatap tajam ke arah Zhang En.
Zhang En memperlihatkan senyum tipis melihat ekspresi kedua orang ini di depannya, "Benar."
Siluet Feng Gong menghilang begitu dia mendengar jawaban Zhang En. Kedua tangannya membentuk sebuah cakar, dia tiba di depan Zhang En dalam sekejap, mencengkeram bahu Zhang En, matanya tajam seperti ujung pedang saat dia meminta, “Katakan apa benda itu dan serahkan kepadaku. Jika tidak…!"
Zhang tetap acuh tak acuh, membiarkan cakar pria itu mencengkeram bahunya. Cahaya menyilaukan bersinar dari telapak tangan Zhang En saat sebuah gunung emas kecil muncul di tengah telapak tangannya.
Energi Buddhisme yang melimpah segera meledak, memancarkan lingkaran cahaya keemasan yang memesona. Gunung kecil itu tidak lain adalah Gunung Dewa Emas.
Feng Gong terpesona saat melihat benda yang ada di telapak tangan Zhang En, mata yang sudah berapi-api menari-nari di matanya, “Ini… ?!”
__ADS_1
Meskipun dia gagal mengenali benda ajaib itu, dia tahu bahwa gunung emas kecil yang ada di telapak tangan Zhang En itu sangat luar biasa.
Zhang En tertawa saat melihat sikap Feng Gong, "Pernahkah kau mendengar tentang Harta Karun Surgawi?"
"Harta Karun Surgawi?!" Feng Gong dan Dai Li berseru pada saat bersamaan.
"Kau bermaksud mengatakan bahwa ini adalah Harta Karun Surgawi?!" Feng Gong menatap tajam melihat Gunung Dewa Emas yang sudah mengecil di telapak tangan Zhang En, napasnya semakin berat. Tentu saja dia pernah mendengar tentang Harta Karun Surgawi, setiap Harta Karun Surgawi mengandung kekuatan hebat dan kekuatan yang misterius.
Tangan Feng Gong gemetar saat satu tangannya digerakkan kedepan dan mengulurkan tangannya ingin mengambil Gunung Dewa Emas yang muncul di telapak tangan Zhang En.
Melihat dengan tenang saat jari-jari Feng Gong hendak menyentuh Gunung Dewa Emas kecil, Zhang En tiba-tiba membalikkan telapak tangannya ke bawah dengan gerakan kecil, menyebabkan jari-jari Feng Gong mengenai di udara kosong.
Feng Gong, yang sudah merasa sangat gembira berpikir bahwa Harta Surgawi akan menjadi miliknya, menjadi terkejut sesaat. Tepat ketika dia akan bertindak untuk membunuh Zhang En dan mengambil Harta Karun Surgawi, Zhang En berbicara, “Tidakkah kau ingin bertanya tentang harta karun yang ada di dasar lembah? Apa kau tidak penasaran harta karun apa yang aku ambil dari sana?"
Feng Gong menghentikan aksinya, tertegun sejenak.
Pada saat iru, kekuatan yang kuat melonjak keluar dari tubuh Zhang En dan tangannya langsung memukul mundur tubuh Feng Gong, membuat pria paruh baya itu terhuyung mundur lebih dari sepuluh meter.
"B4jingan... Kau!"
-
-
-
Jangan lupa Like & Vote!
__ADS_1