
Zhang En diam-diam mendengarkan perkataan Li Qiuping dari Kota Naga Salju dan berbagai komentar sinis lainnya dari kejauhan yang di tunjukkan padanya. Sedangkan ekspresi Zhao Chen menjadi suram saat dia melihat Zhang En, dia juga tidak melewatkan untuk mendengarkan semua komentar orang banyak yang sedang melihat mereka .
Dia tahu kekuatan Zhang En yang sebenarnya lebih dari pada semua orang yang ada di sini. Zhang En melarikan diri terakhir kali saat mereka bertarung sebelumnya dan Zhang En juga telah mempermalukan dirinya di depan bawahannya. jadi dia benar-benar tidak boleh membiarkan Zhang En melarikan diri untuk kedua kalinya, jika tidak, di depan Li Qiuping dan para jenius lainnya, wajahnya akan hilang jika hal itu kembali terulang.
Tekanan Zhao Chen meningkat saat dia mempersempit jarak, tekanan berat menyelimuti tubuh Zhang Eb. Li Qiuping, Wang Lin, dan Guo Dehui, yang sedang berbicara di antara mereka sendiri, memperhatikan ada sesuatu yang aneh dengan suasana pertarungan yang akan terjadi di depan mata mereka, pembicaraan santai mereka menghilang, bertukar pandang di antara mereka sendiri. Masing-masing saling melihat karena kebingungan mereka.
Jelas terlihat, tidak ada dari mereka yang mengerti mengapa Zhao Chen bertindak seolah-olah sedang menghadapi musuh yang hebat.
“Bukankah dia hanya seorang bocah?” Li Qiuping menggelengkan kepalanya diam-diam, "Apakah dia perlu terlihat begitu serius?"
Tepat ketika Li Qiuping dan yang lainnya berpikir bahwa Zhao Chen berlebihan, api biru naik dari tubuh Zhao Chen, menari dengan liar saat burung biru berkepala dua muncul di atas kepalanya.
Burung biru berkepala dua ini adalah roh bela diri kelas dua belas Zhao Chen, Burung Api Biru berkepala dua.
Melihat bahwa Zhao Chen benar-benar memanggil semangat bela dirinya untuk menghadapi puncak Pendekar Dewa Bintang Empat, Li Qiuping, Wang Lin, Guo Dehui, dan yang lainnya yang ada di alun-alun merasa sangat terkejut.
Namun, itu tidak berakhir di situ. Pada saat berikutnya, api biru yang menyelimuti Zhao Chen menyala terang dan lapisan bulu berwarna biru menutupi tubuhnya seperti baju besi. Di sisi lengannya, bulu yang seperti paku biru seperti baja berdiri di ujungnya.
Zhao Chen tidak hanya memanggil semangat bela dirinya, dia bahkan mengubah jiwanya dengan melakukan transformasi jiwa.
Mata Li Qiuping, Wang Lin, dan Guo Dehui melotot karena terkejut. Zhao Chen berurusan dengan seorang bocah yang terlihat secara pribadi cukup mengejutkan bagi mereka, tetapi sekarang, bahkan sebelum Zhao Chen melakukan serangan pertama, dia bahkan sudah memanggil semangat bela diri dan menggabungkan jiwanya dengan spirit roh beladirinya.
__ADS_1
"Seorang ahli Pertapa Dewa Awal membunuh seorang pendekar dewa Bintang Empat, bisa hanya dengan satu jentikan jari saja. kenapa harus melakukan transformasi jiwa?" ucap salah satu dari antara orang banyak.
Sementara murid-murid Kota Naga Salju, Kota Suku Dewa, dan Kota Iblis Hijau masih terkejut dengan tindakan Zhao Chen, semburan cahaya menyilaukan lainnya bersinar dari tubuh Zhao Chen saat gua besar seperti jurang biru muncul di udara.
“Ruang Pembunuh!” Hampir semua orang berseru, terperangah. Tatapan mata mereka bergeser dari tidak bisa dijelaskan menjadi tidak percaya. Kalau saja mereka tahu bahwa Zhang En berhasil melarikan diri dari Zhao Chen terakhir kali bahkan setelah dia menggunakan kekuatan penuhnya, apa yang akan mereka pikirkan?.
Meski begitu, tidak ada dari mereka yang tahu atau mengerti mengapa Zhao Chen berperilaku begitu berlebihan sampai-sampai memanggil rih jiwa beladirinya dan bertransformasi. Mereka semua mengalihkan pandangan penasaran mereka kearah Zhang En, namun mereka tidak bisa melihat apa yang begitu istimewa dari pria muda itu berambut hitam itu yang mendorong Zhao Chen bertindak sejauh ini.
Detik berikutnya, Zhao Chen meluncurkan serangan sambil berteriak, telapak tangannya mendorong ruang yang diselimuti api biru dan itu melesat ke langit, memancarkan gelombang panas terik yang melanda Zhang En.
“Zhang En, kematianmu sudah dekat!” Niat membunuh meledak di mata Zhao Chen. Kali ini, dia ingin mengambil nyawa Zhang En hanya dalam satu serangan untuk mencuci rasa malu sebelumnya saat berhadapan dengan Zhang En di Kota Suku Dewa.
Seperti waktu mereka bertarung seperti sebelumnya, sebelum gelombang panas yang menyengat mendekatinya, Zhang En sudah merasa seolah-olah dia akan terbakar menjadi abu, namun, kali ini, Zhang En tidak mengelak.
Telapak Buddha Kebenaran!
Satu demi satu, patung Buddha muncul dari tanah, terbang ke angkasa dengan cahaya Buddha yang menyilaukan. Patung-patung Buddha ini berbeda dari sebelumnya, setiap patung Buddha diselimuti oleh nyala api suci yang kuat yang tampaknya mengalahkan api biru dari ruang pembunuh Zhao Chen. Menghancurkan gelombang panas api biru yang menyengat dari serangan Zhao Chen, patung Buddha melesat ke depan menuju api biru Zhao Chen.
Api suci yang menyelimuti patung Buddha adalah energi api esensi sejati Zhang En yang menggabungkan api esensi sejatinya mengalir ke telapak Buddha Kebenaran menambahkan jubah api di sekitar patung, seolah-olah itu adalah avatar Tapak Buddha Api.
BOOOMMMM!
__ADS_1
Tapak Buddha Kebenaran milik Zhang En bertabrakan dengan api biru Zhao Chen. Udara dan tanah berguncang akibat ledakan dan bahkan gedung istana Raja Hantu bergetar hebat.
Pelayan Feng dan bawahan Zhao Chen lainnya yang mengelilingi Zhang En terlempar akibat dari gelombang kejut yang menerpa mereka, bahkan hantu raksasa Feng Yang yang ada di samping Zhang En dipaksa mundur ke belakang beberapa tombak.
Li Qiuping, Wang Lin, dan yang lainnya merasakan efek ledakan dari serangan mereka, dan di detik berikutnya, mereka menyaksikan serangan Zhang En dengan membentuk banyak avatar patung Buddha yang di selimuti api suci berwarna putih menerobos lautan api biru dan bertabrakan dengan serangan ruang pembunuh Zhao Chen.
Zhao Chen merasa seolah-olah sebuah gunung menabrak ruang pembunuhnya, menyebabkan tubuhnya bergetar hebat. Api biru dari tubuhnya menyebar saat Zhao Chen dengan paksa didorong mundur.
Gelombang panas menyengat menyebar di udara untuk waktu yang lama. Keheningan terlihat dari semua orang yang sedang melihat pertarungan di depan alun-alun istana Raja Hantu.
Mata Li Qiuping, Wang Lin, dan Guo Dehui hampir keluar saat mereka menatap Zhao Chen benar-benar didorong ke belakang.
Meskipun berhasil memukul mundur Zhao Chen, Zhang En juga terlempar terhuyung-huyung mundur kebelakang terkena dampak serangan Zhao Chen. Dari permukaan mungkin tampak bahwa keduanya bertarung secara setara.
Tidak hanya Zhao Chen bertransformasi jiwa, ia bahkan telah menggunakan kartu trufnya sedangkan Zhang En masih belum melakukan transformasi jiwa.
Li Qiuping, Wang Lin, dan yang lainnya menarik kembali tatapan mereka dari Zhao Chen menatap Zhang En sebagai gantinya. Masing-masing semua orang diam-diam menarik napas kasar, dalam benak mereka, bagaimana jika jiwa Zhang En berubah, bukankah itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa Zhang En lebih kuat dari Zhao Chen?.
-
-
__ADS_1
-
Jangan lupa like & vote!